LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 231


__ADS_3

Happy reading...


*********************


Satu hari sebelum keberangkatan Putra....


Putra melangkahkan kakinya menyusul Gadis yang sudah lebih dulu masuk ke kamar mereka, setelah dari kamar Anthony.


Dimana bocah tampan kesayangan itu telah terlelap dari sejak seluruh penghuni utama Villa bercengkrama selepas makan malam, jadi Putra langsung mengangkat tubuh Anthony untuk dibawa ke kamar.


Tadinya Putra hendak menidurkan Anthony bersamanya dan Gadis di kamar mereka, karena rasanya Putra ingin tidur bersama Anthony dan Gadis malam ini, mengingat ia akan meninggalkan Villa dan negeri tempatnya tinggal selama ini untuk beberapa lama.


Bahkan untuk waktu yang tidak dapat Putra sendiri tentukan, walau ia memiliki target estimasi waktu untuk menyelesaikan urusannya dengan pria yang bernama Jaeden. Pria yang menjadi alasan terbesarnya untuk pergi, dan ia habisi.


Namun saat Putra dan Gadis telah membawa Anthony ke kamar mereka, Anthony mendusin dan minta untuk tidur di kamarnya sendiri.


Jadi Putra dan Gadis mengikuti keinginan bocah tampan tersebut untuk dibawa ke kamarnya, lalu Putra meletakkan Anthony di atas ranjang pribadinya, setelah lebih dulu Gadis rapihkan.


Setelahnya, Putra meminta Gadis untuk lebih dulu pergi ke kamar mereka.


Dan Gadis mengiyakan.


Lalu Gadis pergi untuk masuk terlebih dahulu ke kamarnya dan Putra, sementara Putra masih berada di kamar Anthony.


Memastikan kenyamanan tidur bocah tampan kesayangan semua penghuni Villa itu, lalu mematikan lampu utama, dan mengganti penerangan dengan lampu tidur yang ada di atas nakas samping tempat tidur Anthony.


Setelahnya, Putra baru meninggalkan kamar Anthony, lalu masuk ke kamarnya dan Gadis melalui pintu penghubung yang ada diantara kamar bocah tersebut dengan kamar Putra dan Gadis.


****


Putra sudah berada di dalam kamarnya dan Gadis.


Putra sudah juga menutup pintu penghubung kamarnya dan Gadis dengan kamar Anthony. Namun tidak ia sangkutkan kuncinya.


Mata Putra tidak menangkap sosok Gadis saat ia memasuki kamar mereka. Namun Putra tidak memanggil, karena pasti jika tidak di kamar mandi, Gadis sedang berganti pakaian di walk in closet.


‘Padahal dia tidak perlu mengganti pakaiannya.’


Putra membatin seraya tersenyum geli.


‘Nanti juga akan aku lepas tanpa sisa!’


Putra tersenyum geli sekali lagi, namun tidak melangkahkan kakinya ke kamar mandi atau ke walk in closet. Melainkan ia berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan kamarnya dan Gadis.


Ada beberapa berkas yang harus Putra rapihkan untuk dipersiapkan dan dimasukkan ke dalam tas yang akan ia bawa esok hari, selain koper berisi pakaian yang telah dirapihkan Gadis pagi tadi sebelum mereka berkeliling dan berjalan-jalan di pusat kota.


“Putra....”


Suara Gadis terdengar dekat di telinga Putra, bersamaan dengan tangan sang istri yang merangkulnya dari belakan dan kini berada di dada Putra, yang baru saja selesai memasukkan berkas-berkas yang akan ia bawa ke dalam tasnya yang berada di atas meja kerja.


Putra menarik sudut bibirnya, dan segera meletakkan tas yang tadi ia pegang, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Gadis yang berada di dadanya. Menggenggam kedua tangan istrinya, lalu melepaskan sepasang tangan itu seraya Putra membalikkan badannya.


“Seharusnya kamu tidak ---“ Putra tidak melanjutkan kalimatnya setelah ia berbalik.


Dan Putra refleks meneguk salivanya saat melihat penampilan Gadis di hadapannya saat ini.


‘Baru aku hendak menggodanya dengan mengatakan seharusnya ia tidak perlu berganti baju.’


Putra yang sedang takjub sekaligus merasakan desiran dalam tubuhnya akibat penampilan Gadis itu membatin.


“Wow.”


Satu kata itu saja yang keluar dari mulut Putra.


Satu kata, namun menggambarkan betapa Putra selain menyukai penampilan Gadis saat ini, namun Putra juga merasa sangat takjub, karena Gadis yang nampak begitu seksi menggoda dalam balutan baju tidur yang sangat tipis, dengan belahan dada yang sangat rendah, dan panjangnya yang hanya setengah paha Gadis.


Sungguh membuat api gairah di tubuh Putra mulai berkobar, sampai entah sadar atau tidak Putra berkali-kali meneguk salivanya sendiri.


“Kenapa?.... Aku tidak pantas ya mengenakan gaun tidur ini?. Atau kamu tidak suka dengan modelnya?” tanya Gadis yang tersenyum sembari melingkarkan tangannya di leher Putra.


“Entah aku gila atau aku buta jika mengatakan kamu tidak pantas mengenakannya, atau aku tidak menyukainya....”


Putra berucap dengan suaranya yang sudah mulai terdengar serak, lalu menarik tubuh Gadis agar menjadi sangat rapat dengannya.


Dan tanpa menunggu lama, Putra segera menyambar bibir sensual milik istrinya itu.


Dimana Gadis menyambut ciuman Putra yang nampak tidak sabar sudah. “Pintu – penghubung, sudah dikunci?. Takutnya - Anthony bangun?....”

__ADS_1


Gadis mengurai ciuman Putra yang memburu itu, karena teringat pada pintu penghubung kamarnya dan Putra dan Anthony. Semata-mata, karena Gadis tidak ingin jika Anthony tiba-tiba mendusin dan melihat adegan yang seharusnya tidak bocah itu lihat.


Putra menarik sudut bibirnya. “Baiklah akan aku kunci dulu....”


Lalu Putra melepaskan tangannya dari pinggan Gadis.


“Tapi ingatkan aku untuk melepaskan kuncinya kembali jika kita telah selesai nanti. Aku takut Anth bangun dan ingin tidur dengan kita malam ini.”


“Iya....”


Gadis pun mengiyakan.


Putra kemudian berjalan menjauhi Gadis untuk mengunci pintu penghubung kamar mereka.


“Bisa kita mulai sekarang?....”


Putra sudah berada dibelakang Gadis yang baru saja mengecek pintu utama kamar mereka.


Bertanya pada Gadis, namun tak memberikan kesempatan pada Gadis untuk menjawab pertanyaannya, karena sudah dengan cepat, mulut Gadis Putra bungkam dengan ciuman.


Dimana dengan sigap Putra mengangkat tubuh Gadis tanpa susah, dan mendorong pelan hingga punggung sang istri menempel pada daun pintu kembar yang tertutup rapat itu. Dengan dada Gadis dan Putra yang juga sudah sama rapatnya dengan daun pintu yang tertutup.


Sesaat Putra mengurai ciumannya. Menatap Gadis dengan teduh, namun nafas Putra sudah terdengar memburu.


Gadis juga sama menatap Putra dengan tatapan yang teduh sembari satu tangannya mengusap kepala Putra dengan lembutnya seraya ia tersenyum memandangi suaminya itu.


Sesaat saja, dua pasang netra itu saling melemparkan tatapan teduh, namun dengan irama jantung yang mulai berdetak cepat. Dan didetik berikutnya, dua pasang bibir itu kembali saling bertautan, saling membuai.


*


******* nafas yang memburu ter-sumber dari satu sudut dalam kamar pribadi Putra dan Gadis saat ini.


Bukan di atas ranjang, kamar mandi, walk in closet, atau bahkan sofa. Tempat-tempat dalam kamar mereka yang sudah pernah keduanya jajaki untuk memadu kasih berpeluh dengan saling memberi kenikmatan.


Kali ini diatas meja kerja Putra, ia dan Gadis memadu kasih berpeluh mereka. Dengan Gadis yang Putra dudukkan di atas meja kerjanya, dan Putra yang mengukungnya tanpa jeda hingga saat dirasa apa yang ingin keduanya gapai, sebentar lagi sampai.


Hantaman Putra Gadis rasakan kian cepat, dan tubuh mereka bergerak tak beraturan namun ritme seolah terpasang otomatis dalam gerakan tak beraturan itu terjalin menjadi suatu gerakan intens yang membuat kedua insan tersebut mendongakkan kepala mereka, saat apa yang ingin di raih telah sampai pada titiknya, selain tubuh mereka yang sedikit kejang.


**


Dan kini keduanya sedang mengatur ritme nafas mereka yang tersengal, dengan tubuh yang masih menyatu.


Putra dan Gadis sama-sama menempelkan dahi mereka, dan saling merasakan terpaan nafas masing-masing di wajah mereka yang sedang berhadapan.


Tak ada kata yang terucap dari Putra dan Gadis untuk beberapa saat, hanya sorot penuh cinta dan saling mendamba dalam pancaran mata keduanya yang saling berpandangan itu.


“Lelah, hem?....” Putra kemudian bersuara seraya bertanya pada Gadis yang masih bergelayut manja padanya itu.


“Tidak.” Gadis menyahut seraya menggeleng.


“Hati-hati dengan ucapanmu Nyonya Putra....” kekeh Putra. “Kamu tahu suamimu ini pria yang sangat mesum jika sudah bersamamu, apalagi jika kamu terus memancingku....”


Gadis terkekeh kecil. “Aku tidak takut,” sahut Gadis dan Putra ikut terkekeh. Lalu didetik berikutnya kembali Putra menatap Gadis, memindai setiap wajah wanita yang sangat ia cintai itu.


“Rapihkan dirimu sebentar.... aku ingin menunjukkan sesuatu padamu....” ucap Putra kemudian.


“Apa itu?....”


“Nanti kamu akan tahu....”


Putra membebaskan miliknya dari dalam Gadis, lalu meraih celana dan kaos rumahannya setelah ia merapihkan gaun tidur Gadis yang bagian atasnya tadi sudah diturunkan Putra hingga sebatas pinggang, serta bagian bawahnya yang juga sudah berada di pinggang Gadis.


“Jangan lupa mengenakan ini,” Putra mengulum senyumnya saat ia juga telah meraih kain segitiga berenda milik Gadis yang lagi-lagi Putra robek saking tidak sabar.


Dan untuk itu Gadis sudah menyiapkan banyak stok, mengingat sang suami yang hobi merobek satu kain penutupnya yang tipis itu.


“Bagaimana mau dikenakan kalau sobek begini?....” Gadis mencebik. Dan Putra terkekeh.


“Kan sudah beli banyak stok untuk yang satu ini?” ucap Putra. Dan Gadis terkekeh kecil.


“Aku rasa kamu satu-satunya pria yang menghabiskan banyak uang hanya untuk dalaman istrinya....”


Putra pun terkekeh lagi. “Ya sudah rapihkan dirimu,” ucap Putra, dan Gadis mengangguk.


Lalu Putra melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dengan menggandeng Gadis juga.


Putra dan Gadis Benar-benar hanya sedikit membersihkan diri dan kembali berpakaian saja di dalam kamar mandi, tanpa Putra menyerang Gadis lagi.

__ADS_1


Karena seperti yang Putra katakan sebelumnya, jika ada sesuatu yang ingin Putra tunjukkan pada wanita tercintanya itu.


*


“Apa kita akan keluar Villa, Putra?”


Gadis bertanya pada Putra saat mereka berdua berada di dalam kamar mandi.


“Tidak. Ganti saja gaun tidur profokatif mu ini dengan piyama atau gaun tidur yang lebih panjang dan tidak menerawang seperti ini,” jawab Putra.


Gadis tersenyum geli.


“Oke, Tuan Putra.”


Kemudian Gadis melangkah masuk ke dalam walk in closet yang terhubung dengan kamar mandi mereka itu, sementara Putra memakai kembali kaos dan celana rumahannya yang tadi ia pakai sebelum dilepaskan kala memacu Gadis di atas meja kerjanya.


*


Putra dan Gadis telah melangkah keluar dari kamar mereka.


Dengan menggandeng tangan Gadis, Putra menyusuri lorong di lantai tempat dimana kamar-kamar utama berada. Hingga sampai pada suatu sudut yang sedikit menjorok kedalam, berada tidak jauh dari ruang kerja, lalu Putra menghentikan langkahnya dan melepas gandengan tangannya dari Gadis.


Gadis mengernyit, karena dihadapannya adalah sebuah dinding dengan ruang kecil yang tertempel lukisan, serta sebuah meja di bawah lukisan yang menempel pada dinding tersebut.


Semakin mengernyit hingga Gadis menganga, saat Putra mengangkat meja kecil yang menempel rapat pada dinding, lalu meletakkannya di tempat yang tidak menghalangi dinding tersebut.


Dimana yang membuat Gadis menganga adalah, saat meja yang tadi rapat pada dinding tersebut telah dipindahkan Putra, ternyata dinding itu terbuka bak sebuah pintu saat Putra menggeser lukisan dan nampaklah sebuah bulatan berangka yang kemudian diputar beberapa kali oleh suaminya itu sampai kemudian Putra selesai memutar lalu Putra mendorong dinding tersebut, hingga nampak sebuah ruang dibaliknya.


Putra menampakkan senyumnya pada Gadis seraya mengulurkan tangan pada sang istri yang sedang melongo itu. “Ayo.”


Putra berucap seraya mengkode Gadis agar menyambut uluran tangannya. Dimana Gadis meraih tangan suaminya itu, dengan masih melongo saja.


Gadis belum berkomentar, sampai Putra membawanya sedikit berjalan, lalu dihadapkan pada sebuah pintu lagi yang kemudian dibuka oleh Putra, dan sebuah ruang nampak lagi, agak lebih lebar dari dinding tempat masuk mereka tadi.


“Hati-hati....” ucap Putra yang menuntun Gadis untuk memasuki pintu yang barusan ia buka itu.


Sebuah tangga kayu membentang saat Putra membuka pintu tadi, dan kini Putra dan Gadis sedang melangkah menuruni setiap anak tangganya.


Tidak gelap memang, cahaya di sekitar tangga yang sedang disusuri Gadis dan Putra itu. Hanya saja kayu pada tangga itu agak licin, serta ada rongga di belakang setiap anak tangganya.


Hingga sampai dimana rangkaian anak tangga itu berakhir, ada satu pintu lagi di hadapan Gadis dan Putra, dalam tempat yang berlorong, namun pendek. Namun pintu dan bagian dinding disampingnya, sudah menggambarkan jika ruangan dibalik pintu kembar tersebut cukup besar.


“I-ni.... ruangan apa, Putra?....”


Gadis bersuara seraya bertanya, saat ia dan Putra telah berada di depan pintu kembar yang berada di dalam sebuah lorong rahasia, yang sepertinya berada di bawah tanah. Di bawah tanah Villa mereka tepatnya.


Karena jarak dari awal tangga hingga sampai di tempatnya dan Putra berdiri sekarang, Gadis rasa cukup panjang.


Putra menarik sudut bibirnya, lalu kedua tangannya Putra tempelkan di gagang pintu kembar yang ada dihadapannya dan Gadis.


Namun sebelum Putra sampai mendorong gagang pintu kembar yang telah ia pegang itu, Gadis menahan tangan Putra. Membuat Putra langsung menoleh dan bertanya kenapa pada Gadis.


“Tempat yang akan kamu buka ini, bukan sebuah penjara bawah tanah kan?”


Gadis was-was.


Memang tempatnya berada sekarang cukup terang penerangannya.


Namun mengingat jalan masuk untuk sampai ke tempatnya dan Putra sekarang begitu rahasia, bahkan rasanya lebih rahasia dari sebuah ruang rahasia berukuran kecil yang ada di dalam ruang kerja Villa, jadi pikiran Gadis sudah kemana-mana.


Mengingat juga betapa misteriusnya suami Gadis ini kadang-kadang.


Dan lagi, Gadis ingat cerita-cerita Putra soal hidupnya yang banyak diwarnai oleh darah musuh-musuhnya dan para saudaranya.


Termasuk juga Gadis mengingat jika Putra itu tega orangnya, jika sudah merasa terusik.


Gadis sempat mengingat kala Putra ingin menolong wanita simpanan Frans di bar kala itu.


Jadi ya terbersit di pikiran Gadis yang was-was, jika ruangan yang Putra hendak buka itu suatu tempat seperti penjara, atau mungkin tempat penyiksaan dimana ada tawanan Putra dan para saudaranya di dalam sana.


“Menurutmu?” Putra menjawab pertanyaan Gadis dengan sebuah pertanyaan, dan menatap pada Gadis, yang menilai jika wajah Putra nampak serius. Dan Gadis sedikit menelan salivanya.


*


To be continue....


Jangan lupa dukungan untuk karya ini yah 😍

__ADS_1


__ADS_2