LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 88


__ADS_3

Happy reading ....


♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦


“Arthur” Ucap Putra setelah sosok berikut wajah orang yang datang dari arah jalanan akses masuk ke lingkungan tempat rumah kontrakan Gadis berada itu sudah kian jelas.


Arthur tersenyum.


“I thought I told you to wait inside the car ( Rasanya aku menyuruhmu untuk menunggu di mobil )”


“Let’s say, I’m a little bit worried to my Boss?.... ( Katakan saja, jika aku sedikit khawatir pada Bos ku? ) ....”


Putra mendengus geli. Arthur pun sama.


Arthur sedikit celingukan.


“Curious, who’s house is this?  ....”


“( Penasaran, rumah siapa ini? ) ....”


“Hehehe”


Arthur cengengesan, karena memang tepat sekali perkiraan Putra kalau dirinya memang sedikit penasaran. Dari sejak Putra minta diantar ke daerah tempat mereka berada sekarang pun Arthur memang sudah penasaran.


Dan lagi Putra tadi dia lihat nampak tertegun didepan sebuah rumah yang sangat sederhana sekali, di lingkungan yang lebih padat daripada lingkungan di tempat mobil yang mereka tumpangi terparkir.


“My woman ( Wanitaku )” Ucap Putra yang sudah kembali menatap sebuah rumah sederhana didepannya itu.


“Your, woman? .... ( Wanita, mu? ) ....”


“Heemmm ....” Sembari Putra manggut – manggut.


Arthur cukup terkejut juga mendengar ucapan Putra yang mengartikan jika Pria yang katakanlah Arthur anggap sebagai Bosnya itu sudah memiliki kekasih.


Soalnya selama ini Arthur belum sekalipun melihat Putra bersama seorang wanita.


Dan lagi rumah yang sedang Arthur lihat sekarang sangat sederhana sekali, untuk ukuran wanitanya seorang Tuan Muda macam Putra.


“Your woman lives here? .... ( Kekasihmu tinggal disini? )....”


“Heemmm ....”


Putra kembali manggut – manggut.


“Did you just stand here since you came? ( Apa kau hanya berdiri saja disini sedari tadi sejak kau datang? )”


“Heemmm ....” Lagi – lagi Putra hanya menjawab dengan deheman kecil sembari kepalanya juga manggut – manggut.


“Why don’t you get in? ( Kenapa kau tidak masuk? )....” Tanya Arthur.


“Maybe she’s already fall asleep. And I don’t want to disturb ( Mungkin dia sudah tertidur. Dan aku tidak ingin mengganggu )”


“I see ( Sepertinya begitu )”


“Come, let’s go from here ( Ayo, kita pergi dari sini )”


“Okay” Sahut Arthur pada Putra yang sudah mengayunkan langkah menjauh dari rumah sederhana tersebut.


***


Pagi hari


“Ad ....” Sapa Putra setelah Ad membuka pintu kamarnya selepas Putra mengetuknya.


“Putra....” Balas Addison yang nampaknya masih tidur saat Putra mengetuk pintu kamarnya, karena suara Addison terdengar parau.


“Sorry disturbing you this early ( Maaf mengganggumu sepagi ini ), Ad”


“It doesn’t matter ( Tidak masalah )” Sahut Addison. “What is it? ( Ada apa? )”


“You and Garret just heading off to Villa first, if I still not comeback when two of you want to leave. I want to re – charge my belonging ....”


“ ( Kau dan Garret kembali saja ke Villa lebih dulu, jika aku masih belum kembali saat kalian sudah siap untuk pergi. Aku ingin mengisi ulang kerinduanku dulu.... )”


Addison spontan terkekeh.


“Ya Ya Ya ....” Sahut Addison yang paham dengan maksud Putra tentang ingin mengisi kerinduannya.


Putra tersenyum lebar saja.


“There are still some food in the refrigerator ( Masih ada makanan dalam kulkas ), but if you want something else, you can ask our two men to buy something outside ( tapi jika kalian menginginkan sesuatu yang lain, kau bisa menyuruh dua orang itu untuk membelikan kalian sesuatu diluar )....”


Putra berkata kemudian.


Addison mengangguk. “You don’t have to worry about that ( Tak perlu khawatir soal itu )”


“Alright then... I will go now ( Baiklah kalau begitu ... aku pergi dulu )”


“Heemmm...”


“Bye now ...”


Putra mengangkat tangannya lalu langsung berlalu dari hadapan Addison yang hendak melanjutkan tidurnya sebentar lagi.


***


Ada rasa senang di hati Putra saat ini. Seiring senyuman yang ia kulum di bibirnya saat menyusuri jalanan yang Putra susuri semalam. Hanya saja suasananya yang sedikit berbeda.


Jika semalam sunyi dan sepi, pagi ini sebaliknya. Meski tidak ramai juga.


Belum banyak orang yang berlalu lalang, namun Putra melemparkan senyum tipis pada sesiapa yang berpapasan dengannya, dan tersenyum pada Putra sembari menggerakkan pelan kepala mereka.


****


Ada senyum tipis yang terurai di bibir Putra kala ia sudah berada didepan sebuah rumah sederhana yang juga sempat ia datangi semalam.

__ADS_1


Sama juga seperti semalam, Putra terdiam sebentar di depan pagar rumah tersebut.


“Selamat pagi ....” Putra spontan menoleh kala sebuah sapaan terdengar dari sampingnya.


Putra pun tersenyum pada seorang pria paruh baya yang menyapanya itu.


“Eh, Gut morning Mister....” Pria itu kembali menyapa Putra, karena melihat wajah Putra yang nampak seperti warga negara asing meski warna rambutnya hitam legam, dan pria itu meralat perkataannya, karena warna bola mata Putra bukanlah hitam atau coklat seperti halnya warga pribumi.


“Good morning ....” Putra membalas sapaan pria paruh paya tersebut.


Pria paruh baya tersebut menunjukkan rentetan giginya pada Putra.


Putra masih tersenyum ramah padanya.


“Anu.... waaaattt .... wat ar....”


“Silahkan berbicara saja dengan Bahasa, Pak”


Putra yang paham kalau pria paruh baya itu hendak bertanya padanya dengan bahasa Inggris namun nampak kesulitan itu, langsung saja menyambar.


“Oh jadi Mister ngerti bahasa Inlander?! ....” Pria paruh baya itu nampak sumringah. Putra menjawab dengan anggukan pertanyaannya. “Sukur kalo gitu ....”


***


“Ngomong-ngomong, Mister cari siapa?”


“Gadis”


“Mister kekasihnya Gadis?” Ada seseorang lain yang bertanya dari arah sisi Putra yang lain, hingga membuat Putra kembali dengan spontan menoleh.


“Eemm ....”


“Wah Gadis, diem-diem pacarnya wong londo ternyata!” Sebuah celetukan terdengar sebelum Putra sempat menjawab pertanyaan dari pria yang bertanya padanya tentang siapa yang sedang Putra cari.


“Hebat yo?!” Seseorang lagi, menyahut celetukan orang yang barusan nyeletuk tadi.


Putra tersenyum canggung, karena kini beberapa orang lain sudah mendekat padanya.


Sebenarnya Putra merasa sedikit risih, namun ia tetap berlaku ramah menanggapi pertanyaan berikut celetukan dari beberapa orang tersebut.


“Gadis yang perawat itu kan ya Mister?”


“I....”


“Ya memang ada lagi perempuan yang namanya Gadis selain Gadis tetangga kita itu?! .... Cuma satu perempuan yang namanya Gadis disini, ya Gadis si perawat cantik jelita itu! Siapa lagi coba???”


“Hehehe .... iya juga ya?? ....”


Dua orang dari beberapa yang sedang mengerubung di dekat Putra itu ricuh sendiri, bahkan sebelum Putra sempat melayangkan jawaban.


“Bener Gadis yang kerjanya jadi perawat di Rumah Sakit Saint kan ya Mister?”


Putra mengangguk. “Iya ....”


“Nah ini!” Pria paruh baya yang pertama menyapa Putra menunjuk pada rumah sederhana dimana Putra memang sudah berdiri di depannya. “Ini rumah Gadis!”


Putra membatin.


“Iya” Namun begitu, Putra menjawab dengan sopan ucapan pria paruh baya tersebut.


“Tapi masih tidur kayaknya! ....” Celetuk salah seorang ibu-ibu yang sudah berada didekat pagar rumah Gadis seraya celingukan di pagar rumah kontrakan Gadis itu.


“Masuk siang kali makanya belom bangun!”


“Biar ....”


“Dis! Gadis!”


Tiba-tiba ibu-ibu yang berdiri didekat pagar itu berseru dan Putra sontak terkejut karenanya.


“Dis! Gadis! Ada kekasihmu ini!!!”


Ibu itu berseru lagi, nampak begitu antusias, dan membuat Putra sedikit merasa geli karenanya.


Entah mengapa kedatangan Putra ini nampak begitu menggemparkan di daerah tempat tinggalnya Gadis, dan orang-orang yang sepertinya mengenal gadis itu nampak antusias sekali.


***


“Diiiisss!!!!....”


“Iyaa! .... sebentaaaarrr!!....”


Akhirnya suara sahutan pun terdengar dari dalam setelah beberapa menit.


“Ada a ....”


“Ada kekasihmu ini!!”


Salah seorang yang kemungkinan besar adalah tetangganya Gadis itu langsung menyambar ucapan Gadis yang memang tergantung, karena Gadis itu nampak tertegun akibat terkejut melihat sosok seorang pria yang amat sangat dikenalnya itu.


“Pu-Putra???”


Gadis mendesis seraya menatap Putra dengan ekspresi keterkejutannya sembari juga Gadis melangkah mendekati pagar.


“Hai”


“Ha-halo....”


Gadis tergugu.


“Putra, kamu kok....”


“Buka dulu gembok pagermu ini, Dis!”


Salah seorang kemudian menyambar, dan Gadis terkesiap.

__ADS_1


“Kasian ini, kekasihmu udah nunggu dari tadi!”


“Oh, iya iya .... sebentar .... aku ambil kuncinya dulu ....”


****


“Aku bahkan tidak sarapan agar bisa mengejarmu sebelum kamu berangkat kerja, tapi aku hanya dibiarkan terus berdiri saja seperti ini????....” Ucap Putra saat ia sudah berada didepan pintu rumah Gadis, selepas kegemparan dari beberapa tetangganya Gadis tadi.


Gadis memang nampak termangu saat ini.


“Oh! Ma-af.... silahkan masuk.... silahkan duduk juga ....”


Gadis yang masih nampak tergugu itu mempersilahkan Putra yang menyadari kegugupan Gadis yang terkejut akan kedatangan Putra di pagi ini.


Dan Putra mengulum senyumnya seraya mendudukkan dirinya di sebuah kursi kayu yang sederhana. “Terima kasih” Ucap Putra.


“Eeemm, kamu mau dibuatkan kopi atau teh?....”


“Apa saja”


“Santai saja”


“Pintunya aku biarkan terbuka ya?....”


“Silahkan saja.... ini kan rumahmu, Gadis....”


“Maaf jika kamu sedikit merasa kurang nyaman, tapi aku hanya tidak ingin mereka berpikir macam-macam jika ada pria di rumahku dan pintunya aku tutup....”


“Tenang saja.... aku mengerti....” Sahut Putra seraya menatap Gadis dan menyunggingkan senyumnya.


Putra paham jika orang-orang timur ini berbeda kebudayaan dengan masyarakat barat yang memang bebas gaya hidupnya, dan banyaknya tidak akan perduli dengan urusan satu sama lain meski mereka bertetangga.


Gadis menarik sudut bibirnya kemudian pada Putra yang sedang menatapnya itu setelah melepaskan gagang pintu rumahnya .


“Sebentar ya....” Pamit Gadis.


Putra melipat bibirnya seraya mengangguk pada Gadis yang kemudian berjalan masuk ke area belakang rumah kontrakannya itu.


Sementara mata Putra tak luput mengikuti setiap gerak-gerik Gadis yang kini sudah memunggunginya itu.


Jujur saja, melihat Gadis yang sepertinya habis mandi itu membuat Putra sedikit berdesir, terlebih Gadis menggunakan pakaian rumah berlengan buntung dan baju terusannya itu menempel pas di tubuh Gadis yang memang bagus bentuknya itu.


‘Haish Putraaa .... hilangkanlah pikiran kotormu ituuuu....’ Batin Putra.


Putra melirik ke arah pintu rumah Gadis yang terbuka lebar.


‘Jika aku menyusul Gadis ke tempatnya itu, terlihat dari luar tidak ya?’


****


“Mba Gadiissss ....”


Suara seorang perempuan terdengar berteriak dari luar.


“Yaa!! ....” Gadis yang sudah selesai membuat minuman dan sedang berjalan untuk ke ruang tamu kecil dalam rumah kontrakannya dimana ada Putra yang sedang duduk disana, juga menyahut dengan sedikit berteriak.


“Kenalin aku sama kekasih muuuu!!! ....” Teriak perempuan yang ada diluar itu yang suaranya terdengar lebih dekat.


Dan Gadis yang sedang berjalan dengan membawa nampan yang diatasnya sudah ada dua cangkir itu nampak menarik sudut bibirnya.


“Apa sih?” Ucap Gadis pada perempuan yang berteriak tadi saat sosoknya sudah muncul di arah pintu rumah kontrakan Gadis tersebut.


“Orang-orang diluar ribut bilang katanya ada kekasihmu ....”


Dan Putra spontan menoleh saat suara seorang perempuan kemudian masuk dan berseru memanggil Gadis berikut sosoknya yang juga muncul dari arah luar dan kini sudah masuk ke dalam itu.


“Orang ....” Perempuan itu menggantungkan ucapannya saat ia menoleh dan melihat Putra.


‘Sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya....’ Batin Putra.


“Eh? .....”


Perempuan yang baru datang itu nampak sedikit terkesiap saat melihat Putra.


Sementara Gadis sedang menyuguhkan minuman yang sudah ia buat untuk Putra dan dirinya itu.


“Anda kan yang waktu itu cari Mba Gadis malam-malam, waktu Mba Gadis lagi kerja itu kan ya???” Ucap si perempuan yang baru datang itu kemudian pada Putra yang tak lama mengangguk padanya.


“Ap-a?....” Gadis menoleh cepat pada perempuan tersebut seraya berkata pelan.


“Iya loh, Mba. Kekasih Mba Gadis ini pernah cari Mba Gadis malam-malam .... Iya kan?”


Perempuan itu kembali beralih pada Putra setelah berkata pada Gadis.


“Iya ....”


“Ka-mu, pernah malam-malam datang kesini? ....” Tanya Gadis.


“Iya ....” Jawab Putra.


“Kapan?....”


“Saat pertama kali hendak mencari rumah kamu....”


“Oh, ya?....”


“Ya .... dan dia bilang kamu sedang pergi bekerja”


Putra menjawab seraya menatap Gadis dan ada sesuatu yang langsung saja melintas di benak Putra.


“Pertanyaanku, pekerjaan lain apa yang kamu lakukan, selain sebagai seorang perawat?”


Gluk!


****

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2