
Happy reading ...
“Apa kamu ada di rumah semalam?. Karena aku tidak bisa menemukan rumahmu”
“Iyyaa, aku ada di rumah semalam..”
“Heemm..”
“.......”
‘Apa alasanmu berbohong padaku, Gadis?..’
“Lain kali katakan sebelumnya jika mau berkunjung, Putra ...”
“Jadi kamu mengharapkan ku untuk datang berkunjung ke rumahmu, hem? ...”
Gadis mendelik. Menjadi sedikit kikuk kemudian. “Yaaa – bukan begitu juga maksudku!”
“Menurutku seperti itu” Sahut Putra santai, namun otak dan hatinya masih terus berpikir dan bertanya – tanya perihal ketidak jujuran Gadis padanya.
“Bukan!... Maksud aku itu, kalau kamu mengatakan padaku, setidaknya kamu tidak membuang waktu seperti itu untuk menjemputku karena tidak tahu rumahku, jadi kedatanganmu itu sia-sia dan membuang waktu bukan?”
Putra menyunggingkan senyum.
“Apa itu suatu undangan untuk berkunjung?”
“Terserahlah!”
“Hem? ...”
“Aku kan selalu kalah jika berdebat denganmu ...”
“Baguslah jika kamu menyadarinya Gadis ...”
“Tentu saja aku sadar betul Tuan Tidak Menerima Penolakan ...”
“Kamu ini ....”
Gadis spontan menoleh, karena Putra menyentuh lembut kepalanya seraya tersenyum.
Membuat Gadis merasakan kehangatan yang menjalar di relung hatinya.
“Aku rasa sudah saatnya aku bergegas ke Rumah Sakit sekarang. Tidak apa-apa, kan?”
Putra mengangguk.
“Tak apa” Sahut Putra.
“Ya sudah. Kamu masih mau disini?”
Putra menjawab dengan gelengan kepalanya.
“Aku akan kembali ke rumah setelah mengantarmu sampai ke lobby...”
“Kamu sudah terlalu repot Putra.... tidak perlu mengantarku pun tak apa”
“Tidak masalah. Lagipula mobilku juga di parkir di sana, bukan?”
“Oh iya, ya. Ya sudah, ayo?”
“Sebentar Gadis,”
“Ya?”
“Apa kamu ada acara selepas pulang kerja nanti?”
“Euumm tidak sih...”
“Baguslah. Karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat”
“Kemana?” Tanya Gadis.
“Kamu akan tahu nanti”
Gadis tersenyum.
“Bukankah seharusnya kamu menanyakan kesediaanku dulu untuk pergi bersamamu?”
Sambil Gadis melirik pada Putra yang baru saja menyelesaikan pembayaran. “Aku rasa tidak perlu”
Gadis mendengus geli. “Dasar pemaksa!” Mencibir kemudian.
“Mau kucium?”
“Jangan macam-macam!”
“Mencium hanya satu macam”
__ADS_1
“Putra!”
“Menggemaskan sekali....”
“Sudah cepat! Aku hampir terlambat!” Gadis jadi salah tingkah akibat sikap Putra yang sedang menggodanya itu.
“Baiklah..” Putra mempersilahkan Gadis untuk berjalan duluan. “Sayang ....”
Sambil Putra mengerlingkan satu matanya pada Gadis sembari tersenyum jahil.
‘Oh Tuhan, kemana perginya Tuan Putra yang penuh wibawa itu???!.....’
Gadis berkomentar dalam hatinya atas sikap Putra akhir-akhir ini. Tapi entah, Gadis tak mengerti kenapa hatinya merasa senang. Membuat sudut bibirnya sedikit tertarik.
“Sepertinya kamu senang aku panggil Sayang, hem?” Putra yang menyadari senyuman simpul Gadis itu menggoda perawat cantik itu lagi.
“A-apa maksudmu??? ....” Ucap Gadis sedikit tergagap.
“Kamu tersenyum saat aku memanggilmu Sayang”
“Mana ada!...”
Gadis berkelit.
Putra mengembangkan senyumnya. “Atau kau tersenyum karena mengingat ciumanku, hem?”
Gadis serta merta mendelik dan menoleh pada Putra yang barusan berbisik di telinganya. “Ka-kamu!....”
Gadis menatap sebal pada Putra, sementara Putra tersenyum lebar melihat Gadis yang nampak kesal, namun ada semburat merah jambu di wajah putihnya.
Lalu Putra menikmati waktu berjalan di samping Gadis yang sudah mengatup bibirnya sampai mereka berdua tiba di lobi Rumah Sakit tempat Gadis bekerja. Kemudian berpisah setelah Gadis berpamitan untuk masuk kedalam setelah membuat janji untuk bertemu saat makan siang dengan membawa serta Anthony.
****
Matahari kian meninggi, Putra sudah membawa Anthony untuk makan siang bersama Gadis seperti biasa. Lalu setelahnya, setelah berpamitan dengan Gadis karena esok pagi Anthony dan para orang tua angkatnya akan kembali ke Villa mereka yang berada di luar kota, Putra membawa Anthony kembali ke tempat tinggal mereka saat ini.
Dan Putra sudah kembali ke Rumah Sakit untuk menjemput Gadis yang waktu kerjanya sudah selesai.
“Kalian ada hubungan apa memangnya?”
Langkah Putra terhenti di salah satu koridor Rumah Sakit saat melihat sosok Gadis yang berdiri dan sudah membawa tasnya. Hendak memanggil Gadis namun urung karena mendengar suara lain dan sepertinya sedang bertanya pada Gadis.
Suara dari seorang wanita yang Putra kenali.
“Maksud Dokter Ilse?..... hubunganku dengan siapa?”
“Kamu dan Putra! Kalian ada hubungan apa?!”
“Aku rasa itu bukan urusanmu!” Putra langsung menyambar sebelum Gadis menjawab pertanyaan Dokter Ilse yang berada berhadapan dengan Gadis itu.
“Pu-Putra????!!!...”
Dokter Ilse jelas saja terkejut dengan kehadiran Putra saat ini dan pria itu melemparkan tatapan yang kurang bersahabat.
“Tapi berhubung anda ingin tahu, Dokter Ilse. Akan aku katakan apa hubunganku dengannya”
Putra lanjut bicara menggunakan Bahasa Indonesia pada Dokter Ilse yang sudah nampak gugup sekarang.
“Gadis ini kekasihku!”
Putra menegaskan, seiring dengan tangannya yang merengkuh posesif pinggang Gadis.
Gadis pun tak berusaha menghindar. Entah mengapa, dia tidak mau melakukannya.
Canggung sih, tapi ada rasa yang membuat Gadis menghangat mendengar Putra mengatakan dengan lantang kalau dirinya adalah kekasih ayah muda nan tampan itu di depan Dokter Ilse, selain sedikit hati jahatnya Gadis sedang ingin memberi pelajaran pada Dokter Ilse yang akhir – akhir ini kerap mengganggu kenyamanannya saat di Rumah Sakit.
“Apa anda mengerti kata-kataku?”
“A-aku ....”
“Dia, ‘Gadis’ ku!”
***
‘Maaf ya Dokter Ilse, aku sungguh tidak enak hati padamu. Bukan aku sok pamer, toh aku juga tidak tahu pasti apa dia serius dengan ucapannya. Tapi kali ini aku tidak kuasa menolak perlakuannya padaku didepanmu tadi’
Gadis membatin.
Gadis mengikuti langkah Putra yang membawanya menjauh dari Ilse setelah Putra mengatakan kalau dia adalah ‘Gadis’nya Putra. ‘Dokter Ilse pasti akan semakin menunjukkan ketidak sukaannya padaku setelah ini.....’
Gadis membatin lagi.
Bukan tanpa alasan hatinya berkata seperti itu, setelah sempat melirik betapa sinisnya Dokter Ilse saat melihat Putra membawa Gadis pergi dari hadapan Dokter wanita itu dengan merengkuh pinggang Gadis.
Bahkan menurut Gadis, Dokter yang selalu bersikap ketus pada Gadis itu nampak geram wajahnya melihat Putra yang merangkul Gadis dan meninggalkannya begitu saja setelah Putra berkata ketus dan bersikap sinis pada Ilse.
Sebenarnya juga Gadis merasa tidak enak hati, selain hatinya yang ia rasa sedikit berbunga? .... karena Putra mengatakan bahwa dia adalah ‘Gadis’nya.
__ADS_1
‘Dia memang sudah menciumku ...’ Batin Gadis. ‘Tapi apa benar kalau Putra sungguh-sungguh menyukaiku?. Aku dan dia sungguh jauh berbeda’ Gadis memilin bibirnya sembari melirik Putra yang membawanya menuju mobil Putra.
***
Setelah menegaskan pada Ilse tentang hubungannya dengan Gadis dengan begitu percaya dirinya tanpa memberikan kesempatan Ilse untuk bicara lebih banyak, Putra langsung memboyong Gadis menuju mobil yang ia kendarai sendiri. Putra nampak sedikit kesal.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Putra saat ia sudah duduk dibelakang kemudi dengan Gadis yang sudah duduk di kursi penumpang sebelah Putra. Gadis mengangguk.
“I – iya.....”
“Ya sudah”
Putra berkata datar, lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya keluar dari parkiran Rumah Sakit.
“Ma – maaf ya?....” Gadis sedikit tergagap.
“Maaf untuk?” Ucap Putra seraya bertanya.
“Karena aku, hubungan kamu dan Dokter Ilse jadi tidak baik tadi .....”
“Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa”
“I – iya, maksudku kalian kan pernah berhubungan baik saat Anthony melakukan konsultasi dan terapi dengannya ... tapi tadi kamu jadi ketus padanya ... aku jadi tak enak hati, Putra...”
“Tidak perlu merasa seperti itu”
“Iya, sudah ...” Sahut Gadis.
“Apa dia sering mengganggumu?” Tanya Putra.
“Maksudmu mengganggu? ...” Gadis balik bertanya.
“Seperti tadi. Kuanggap itu sebagai gangguan kenyamanan untukmu dengan sikapnya yang seolah sedang menginterogasi mu. Bukankah sikap yang ditunjukkan Ilse padamu itu membuatmu merasa tidak nyaman? Setidaknya aku merasa seperti itu dan ekspresi wajahmu tadi juga menunjukkannya”
Putra menoleh sesaat pada Gadis sembari mencerocos datar.
“Sejak saat Anth menyambangi mu di Restoran, saat aku dan Anth memang sedang makan siang bersama Ilse, aku sudah memperhatikan sikap Ilse padamu”
‘Wow! Dia pemerhati sekali!’
Gadis membatin. Sejenak kemudian dia tersenyum tipis lalu menghela nafasnya yang terdengar sedikit berat.
“Apa kamu memiliki atau pernah bermasalah dengan Ilse?”
“Yaa kalau dibilang aku memiliki masalah dengannya, sepertinya tidak. Aku hanya fokus pada pekerjaanku saja selama ini. Tapi kalau dari apa yang aku rasakan, Dokter Ilse sepertinya memang tidak terlalu menyukaiku dari sejak awal kami bertemu. Akupun tidak tahu mengapa?. Dia selalu ketus padaku”
Putra mendengarkan baik-baik ucapan Gadis meski dirinya fokus pada kemudi dan jalanan. “Karena dia iri padamu!”
Gadis serta merta langsung menoleh pada Putra dan menatapnya. “Iri?”
“Hem” Sahut Putra singkat.
“Padaku?”
Gadis menunjuk dirinya sendiri.
“Ya” Sahut Putra.
Gadis spontan mendengus geli karena ucapan Putra yang mengatakan kalau Dokter Ilse iri padanya.
“Memang seperti itu kenyataannya”
Putra meyakinkan.
“Kamu ini Putra .... Apa yang membuat Dokter Ilse harus iri padaku?. Yang benar saja!...”
Gadis terkekeh kecil. Ia tak habis pikir kenapa Putra bisa mengatakan Dokter Ilse iri padanya.
“Karena kamu jauh lebih cantik darinya, Gadis ... sebagai seorang wanita kamu memiliki sesuatu yang tidak Ilse miliki... setidaknya ... seperti itu, kamu di mataku”
Dan sontak saja ucapan Putra barusan membuat munculnya semburat merah di pipi Gadis, yang membuat Putra tersenyum karena melihat Gadis yang nampak tersipu malu.
“Ehem! ... Ngomong-ngomong... kamu, katanya mau ajak aku ke suatu tempat?” Gadis mengalihkan pembicaraan.
“Iya”
“Kemana?”
“Sebuah tempat dimana aku bisa bicara dengan tenang berdua saja denganmu” Ucap Putra lugas.
“Eeeeuuummm.... kalau boleh tahu.... kamu.... mau membicarakan soal apa sampai harus mengajakku ke tempat khusus?”
“Kita”
***
To be continue ....
__ADS_1