
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indo,
“Lepaskan ikatan mereka,”
Putra berucap cepat saat Gadis sedikit berpaling darinya, dan istrinya itu sedang terarah pada Damian setelah Putra mengestafetkan pisau di tangannya kepada salah satu saudara angkatnya itu.
Namun setelah Putra berkata barusan, Gadis yang tadinya tegang dan merentangkan tangannya menutupi ibu dan saudari tirinya di belakang tubuhnya itu dimana keduanya masih tampak terikat, kini ketegangannya mulai mengendur.
Gadis langsung menoleh pada Putra dengan sedikit binar dan senyuman tipis yang ia lemparkan pada suaminya yang kemudian terdengar bicara lagi, namun ucapannya lebih kepada sebuah gumaman. “Waktuku sudah banyak terbuang.”
“Te – terima kasih Putra.”
Gadis berterima kasih pada suaminya itu kemudian.
“Te – terima – kasih, Tuaan ..” ucapan terima kasih juga terdengar dari mulut ibu tiri Gadis yang disusul oleh anak perempuannya.
Dimana keduanya sedang dilepaskan ikatan tangannya, dan Gadis sedang memeluk tubuh Putra.
Putra tak membalas pelukan Gadis tersebut, namun ia melirik Damian penuh arti yang kemudian mengangguk samar pada Putra.
Lalu setelahnya Damian melirik ke arah sampingnya sekejap sebelum ia melangkah menuju ibu tiri Gadis yang telah dilepaskan ikatan tangannya.
Yang walau tangan wanita paruh baya itu telah terlepas ikatannya, namun dia dan anak perempuannya belum dibiarkan pergi begitu saja.
Karena Damian dan satu anak buahnya dan keluarga yang bertugas sebagai bodyguard itu, masing – masing memegangi ibu dan saudari tiri Gadis yang telah berdiri.
Dimana Putra juga memandang kepada ibu dan saudari tiri Gadis yang sudah dilepaskan ikatannya itu serta juga telah berdiri dan dipegangi oleh Damian serta satu anak buah mereka.
“Ayo kita pulang,“ ajak Gadis pada Putra, sambil ia mendongak memandang kepada suaminya itu yang juga sedang memandang padanya, dan mengatakan sesuatu yang membuat Gadis mengernyit.
***
“Terserah ..” begitu kata Putra, sambil ia memandang pada Gadis dan memegang kedua bahu istrinya itu. “Kamu membenciku seumur hidup aku tidak peduli ..”
“Putra?” ucap Gadis dengan ekspresi yang nampak heran.
“Tapi apa yang sudah aku putuskan, akan tetap seperti itu.”
Putra lalu menggeser tubuh Gadis, hingga posisinya jika dilihat dari arah depan Putra dan menyerong, Gadis berada di belakang Putra – sambil Putra lagi berkata seraya ia melangkah dengan cepat ke arah depannya.
“Mereka yang menghancurkan kebahagiaanku pantas mati ..”
“Pu –“
***
Gadis yang merasa heran itu bersuara hendak bertanya.
Namun belum selesai ia dengan kalimat pertanyaannya untuk Putra karena ia tak mengerti dengan sikap Putra yang juga menggumamkan kalimat yang tidak Gadis pahami maksudnya selain samar,
DUK!
DUK!
Bunyi sesuatu yang membentur, terdengar jelas dan tergambar jika benturan itu dilakukan dengan tenaga yang kuat.
Dimana didetik yang sama ketika sesuatu yang membentur itu terdengar akibat sebuah dorongan yang kuat dari suatu benda,
“AAA!! ..”
“IBUU! AAA –“
Teriakan yang tajam dan kencang pun terdengar dan bersahutan dari dua orang.
Yang perlahan hilang berganti suara sesuatu yang terjatuh dengan keras dengan seretan.
Dan bersamaan dengan itu, lengkingan suara histeris Gadis juga terdengar.
“TIDAAAAKKK!! –“
***
Putra masih membelakangi Gadis yang terdengar berteriak dengan suara melengking di tempatnya. Masih nanar Putra memandangi ke arah jurang di bawah tempatnya berdiri.
Namun tentu, Putra mendengar jeritan Gadis yang bercampur tangis kemudian itu – tapi Putra menulikan saja telinganya untuk itu, lagipun Putra masih memiliki sedikit kekesalannya pada Gadis yang tadi sempat mengancamnya lagi setelah sebelumnya Gadis juga sempat mengancamnya ketika masih di vila.
Sebelum Putra pergi ke tempatnya berada sekarang.
“Silahkan saja kamu membenciku seumur hidupmu setelah ini,” bisik Putra pada Gadis setelah ia menjauh dari bibir tebing yang menjorok pada jurang, tempatnya berdiri tadi. “Setidaknya aku puas menghabisi orang – orang yang sudah mencari masalah denganku, terlebih sudah membuat harapanku terbayang akan hancur ke depannya –“
“Kamu .. Kejam .. Putra ..”
Gadis yang sudah terduduk lemas di tempatnya berdiri tadi itu, kemudian melirih saat Putra telah kembali berada di dekatnya setelah sempat menggeser dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
***
“Kejam? .. ini belum seberapa dari kekejaman yang dapat aku lakukan,” kata Putra dengan datar. “Akupun sanggup menjadi kejam padamu, jika kamu begitu mengecewakanku. Gadis ..”
Putra menambahkan ucapannya, dengan dirinya yang kini sedang memandangi Gadis. Dimana istrinya itu masih terduduk lemas di tempatnya.
“Silahkan saja jika kamu ingin mencobanya. Atau penasaran seberapa mampu aku bersikap kejam padamu. Anth pun tidak akan menjadi pertimbanganku untuk berlaku kejam padamu andai kamu mengecewakanku.”
Sekali lagi Putra mencetuskan kalimat pada Gadis. Dimana Putra kini telah setengah berjongkok di hadapan Gadis.
“Sekarang bangunlah,” ucap Putra kemudian.
Putra mengulas senyuman tipis pada Gadis.
“Aku sudah mengantuk.”
***
“Kamu tidak ingin berada di sini terus – terusan, bukan?”
Putra berucap lagi pada Gadis.
“Pun jika kamu ingin terus ada di sini, itu tidak akan membuat dua wanita keparat itu merangkak naik ke dalam jurang karena aku pastikan mereka berdua telah mati.“
Namun Gadis tidak menanggapi ucapan Putra.
Gadis hanya memandangi Putra dengan wajahnya yang basah dengan air mata, sembari ia menggeleng samar -- Tak habis pikir dengan tindakan Putra yang Gadis anggap kejam.
Dan Putra nampak tenang saja setelah membunuh dua orang sekaligus, yang entah bagaimana nasib jasad keduanya yang jatuh ke dalam jurang itu.
“Tadi kamu mengajakku pulang, bukan?” kata Putra lagi. “Sekarang ayo kita pulang,” sambung Putra. “Karena kamu sudah nampak kacau, Gadis .. Perlu beristirahat –“
Tash!
Gadis menepis segera tangan Putra yang meraih sejumput rambutnya dan hendak Putra selipkan ke belakang salah satu telinga istrinya itu.
Namun begitu, Putra menarik sudut bibirnya.
***
Gadis pada akhirnya berdiri dari posisinya.
“Aku bisa sendiri.”
Dimana sebelumnya Gadis menolak uluran tangan Putra yang hendak membantunya berdiri. Lalu sekali lagi, Putra menarik sudut bibirnya.
“Tidak perlu .. aku tidak merasa kedinginan ..”
Dengan menolak jaket yang dikenakan Putra, kemudian pria itu lepaskan dari dirinya.
Untuk Putra pakaikan kepada Gadis.
Pun sekali lagi, Putra menarik kecil sudut bibirnya.
Tersenyum tipis.
***
“I’ll go in the same car with you ( Aku pergi dengan mobil yang sama denganmu ), ya Bru?”
Gadis bicara pada Bruna setelah ia berdiri dari posisinya dan memberikan penolakan pada Putra.
“Eum ..” namun Bruna tidak segera mengiyakan permintaan Gadis itu, nampak ragu. Sambil Bruna memandang pada Putra. “Come, then.” Tak lama kemudian suara Bruna terdengar mengiyakan permintaan Gadis tersebut, setelah Bruna memandang pada Putra dan saudara angkatnya itu mengangguk samar.
‘Mungkin Putra akan mengurus jasad ibu dan Madya,’ batin Gadis kala ia telah masuk ke dalam mobil bersama Bruna dan melihat Putra tetap berdiri di tempatnya. ‘Setidaknya Putra masih punya hati nurani setelah dengan kejam membunuh ibu dan Madya,’ batin Gadis lagi. ‘Ya Tuhan .. suamiku benar – benar memiliki sisi monster dalam dirinya.’
Gadis berkesah frustasi dalam hatinya.
Sambil Gadis melirik ke arah Putra berdiri dari jendela mobil yang Gadis tumpangi dan sudah mulai melaju.
***
Putra terus tetap berdiri di tempatnya, sampai mobil yang ditumpangi Gadis dan Bruna serta dua anak buah mereka telah hilang dari pandangannya.
“She might totally afraid of you after this ( Dia bisa jadi akan menjadi sangat takut padamu setelah ini )”
Lalu Damian angkat suara selepas mobil yang ditumpangi Gadis dan Bruna serta dua anak buah mereka, sudah tak tak ada lagi dalam pandangannya yang berdiri bersisian bersama Putra dan Devoss.
Sama – sama menatap mobil tersebut sampai tak lagi ketiganya lihat. Dan ‘dia’ yang dimaksud Damian adalah Gadis.
“Could be hate you also as she seen your mean side with her own eyes ( Bisa juga membencimu setelah dirinya melihat sisi kejammu dengan matanya sendiri )”
“I know,“ sahut Putra. “Let it be.“
“I’m sorry for interrupted ( Maaf jika aku menyela )”
Suara Devoss terdengar.
__ADS_1
“How about that two women ( Bagaimana dengan dua wanita itu )?”
Devoss berkata lagi, sambil sedikit memiringkan tubuhnya dan menunjuk ke arah jurang di belakang dirinya, Putra dan Damian.
Putra dan Damian pun langsung spontan memiringkan tubuh mereka dan menoleh ke arah yang ditunjuk Devoss.
***
“Apa ada kemungkinan mereka berdua selamat, Ray? ...”
Putra bertanya pada satu anak buahnya yang biasa dipanggil Ray itu. Dimana pria itu langsung dengan cepat menjawab pertanyaan Putra, setelah sebelumnya Ray menggeleng. “Dari bagaimana mereka jatoh, engga mungkin mereka selamat, Tuan. Masih ada batu – batu besar dan tebing curam juga di bawah sana.”
“Lalu di bawah sana, jurang yang sangat dalam atau berujung?”
“Berujung sih, Tuan. Tapi jaraknya dari atas sini lumayan jauh,” jawab Ray lagi.
Putra lalu manggut – manggut. “Ujungnya dapat dilalui orang? ...”
“Bisa sih Tuan, tapi medannya sulit. Dan memang setahu saya jarang sekali ada orang yang sampai ke bawah sana, kecuali orang kurang kerjaan ...”
***
***
Hari telah sampai di esok, Putra dan Gadis berada di dalam kamar mereka berdua.
Dimana Gadis yang semalaman sulit tidur, kemudian langsung bicara ketika Putra yang ia sadari tidak ada di dalam kamar mereka hingga pagi menjelang, saat suaminya itu telah masuk ke dalam kamar mereka dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk beberapa saat.
Lalu setelah Putra selesai di kamar mandi dan sudah berpakaian, baru Gadis mengajaknya bicara.
“Nanti, setelah jasad ibu dan Madya kamu minta anak buah kamu angkat dari jurang tempat mereka .. jatuh .. kirim saja jasad mereka ke desa kelahiranku. Dan biarkan aku mengurus pemakaman mereka,“ buka Gadis pada Putra yang setelah selesai mandi dan berpakaian, kemudian duduk di kursi meja kerja yang ada di dalam kamar mereka berdua.
“Kamu tidak perlu mengurus apa – apa.” sahut Putra.
“Biar bagaimanapun aku tetap keluarga mereka meski aku hanya anak dan saudari tiri –“
“Kamu tidak perlu mengurus apa – apa karena jurang tempat aku membuat mereka berdua ada di sana sudah sekaligus menjadi kuburan mereka –“
“Jadi maksud kamu .. kamu akan membiarkan saja jasad ibu dan Madya berada di tempat itu tanpa mendapat penguburan yang layak?? ..”
“Ya –“
“Kamu benar – benar kejam, Putra –“
“Berhenti mengkhawatirkan orang yang tidak pantas kamu khawatirkan –“
“Kamu sungguh tidak punya perasaan! –“
“Berhenti Merutukiku!” sambar Putra yang suaranya agak meninggi.
“Bagaimana aku tidak merutuki kamu .. kalau setelah dengan kejam kamu membunuh ibu dan Madya .. kamu membiarkan saja jasad mereka terbengkalai –“
“Mereka pantas untuk itu! –“
“Seburuk apapun perbuatan mereka, mereka tetap manusia dan kamu bukan Tuhan yang berhak mengambil nyawa seseorang. Kamu terlalu congkak, Putra .. Hanya karena – “
“Aku? Congkak katamu?? –“
“Ya! Hanya karena mereka berlaku buruk padaku dan padamu –“
“Hanya karena katamu?“ potong Putra.
Sreekk!
“Lihat dan baca itu baik – baik!”
“.....”
“Ceritamu padaku, surat tanah dan rumah orang tuamu digadaikan pada si keparat bernama Baskoro itu, bukan?? .. kenyataannya surat – surat itu sudah ada di tangan ibu tiri sialanmu itu karena anak perempuannya menjadi gundik dari lintah darat yang sudah aku bunuh mati itu! Dan kamu, dijadikan alat tukar tambahan untuk sejumlah uang yang bahkan tidak lebih banyak daripada harga pakaianku! –“
“Ini ..“
“Dan apa yang ada di dalam map itu adalah hasil pemeriksaanmu secara lengkap. Biar kuberitahu seperti apa laporan pemeriksaanmu itu.”
“.....”
“Rahimmu bermasalah. Kandunganmu telah lemah sejak awal. Kamu tahu kenapa? Karena sedari dulu dua wanita keparat itu telah meracunimu dengan minuman yang kamu katakan sebagai teh rempah itu! Bahkan mereka mengaku kalau mereka berdua yang menyebabkan kamu terjatuh dari tangga!”
“Ti – dak mungkin –“
“Dua wanita keparat yang kamu khawatirkan itu sampai kamu berani mengancam dan merutukiku, telah menyebabkan kamu .. kemungkinan besar .. kamu, tidak akan pernah bisa hamil lagi.“
“Ya – Tuhan ..”
“Kamu katakan aku kejam, tak berperasaan dan congkak .. heh! .. lalu setelah kamu ketahui kelakuan menjijikkan dan sial ibu dan saudari tirimu itu, apa bisa aku yang merutukimu sekarang? .. bahwa selain naif .. kamu begitu bodoh, Gadis.”
********
__ADS_1
To be continue ..
Terima Kasih Masih Setia.