LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 69


__ADS_3

Happy reading...


********************


“Herbicide (Herbisida)” Garret berkata saat dirinya berikut Putra, Damian dan Addison sudah sampai ke Villa mereka dan tak lama langsung pergi menuju ke perkebunan teh mereka.


Perkebunan pribadi mereka yang sedari awal sudah mereka miliki berikut Villa mereka itulah yang ke empat pria tersebut sambangi paling pertama karena memang berada cukup dekat dari Villa mereka.


“Hem ..”


Putra mengangguk mengiyakan ucapan Garret.


Pak Abdul dan anak lelakinya Suheil, juga turut menemani Putra dan tiga saudaranya itu dengan wajah khawatir serta sedikit takut – takut juga sejak kedatangan semua majikannya itu ke Villa sekembalinya mereka dari Ibukota.


Pak Abdul dan Suheil merasa bersalah atas apa yang terjadi pada perkebunan teh milik majikan mereka itu. “Maafkan kami Tuan Putra, kami lalai” Ucap Pak Abdul yang nampak menyesal baik wajah maupun suaranya. Namun Putra malah tersenyum padanya.


“Bukan salahmu atau Suheil..” Sahut Putra.


Putra menepuk – nepuk Pak Abdul dan tersenyum juga pada Suheil yang berdiri disamping ayahnya itu dan tertunduk.


“Maafkan saya Tuan Putra, saya dan Iswar sudah lengah mengawasi perkebunan milik anda dan keluarga anda ini”


Suheil bersuara.


Ada pria yang sebaya dengan Suheil yang berdiri dibelakangnya dengan tertunduk juga.


Putra kembali tersenyum.


“Tenanglah Suheil, kami tidak menyalahkanmu dan temanmu untuk ini”


Kemudian Putra menatap pria muda seusia Suheil yang berusia dibawah Putra itu dan berbicara padanya.


“Iswar” Panggil Putra.


“Iy - ya, sa - ya, Tu - an” Jawab pria muda bernam Iswar itu dengan suara yang terdengar sangat gugup, bahkan ia menjawab sembari masih tertunduk, nampak takut.


Kemudian Putra mendekati Iswar, sementara Garret, Addison dan Damian masih menapaki perkebunan teh mereka, mengecek semua pohon teh yang memang rusak berat semuanya itu.


“Jangan takut. Aku tidak menyalahkanmu” Ucap Putra. “Tenanglah dan jangan gemetar seperti ini”


“Iy – ya Tu – an ..” Sahut Iswar dengan suara yang masih terdengar bergetar. Membuat Putra geleng – geleng melihatnya.


“Hei Iswar..”


Kembali Putra menyebut nama pria muda bernama Iswar itu yang nampak sedikit berjengkit mendengar Putra memanggilnya, membuat Putra sedikit heran.


“Angkat kepalamu”


“Iy – ya Tu – an ..”


“Katakan, mengapa kau nampak begitu takut sekali padaku?..”


“Sa – ya ta – kut Tu – an hu – kum ..” Jawab Iswar.


“Sudah kubilang aku tidak menyalahkanmu. Jadi tidak ada hukuman apapun yang akan kuberikan padamu, jadi tenanglah”


“Te – rima ka – sih Tu – an ..”


Iswar masih terdengar gemetar dan kembali membuat Putra geleng – geleng.


Putra juga mendengus.


“Dulu dia bekerja pada Baskoro Tuan, dia selalu dipukuli habis – habisan oleh tukang pukulnya Baskoro jika dia membuat kesalahan. Bahkan kakinya yang seperti itu juga karena perbuatan tukang pukulnya Baskoro itu”


Suheil yang mendengar dengusan Putra dan wajah sedikit heran Tuannya melihat sikap Iswar itu memberikan penjelasan pada Putra.


“Ternyata begitu ..”


Putra menyahut.


“Iya Tuan, makanya Iswar sedikit trauma jika dia bekerja pada seseorang dan merasa membuat kesalahan. Saya mengajaknya bekerja disini untuk membantu merawat perkebunan karena setelah Iswar dibuat cacat oleh mereka, dia disuruh keluar dari pekerjaannya tanpa diberikan upah sepeserpun, bahkan upahnya dibulan sebelumnya juga tidak dibayarkan oleh Baskoro sementara istrinya mau melahirkan bulan depan”


“Istri?” Tanya Putra. “Semuda ini sudah menikah?” Tanya Putra lagi. Suheil mengangguk. ‘Wow! Usianya baru dua puluh tahunan tetapi sudah menikah dan mau punya anak?’ Putra membatin takjub. ‘Wah, sepertinya aku kalah hebat dari seorang bocah!..’


Kembali Putra membatin. Meski pun Putra sendiri juga masih berusia kurang lebih seperempat abad, namun tetap saja ia merasa Iswar yang berbeda lima tahun di bawah usianya itu sudah mengalahkannya soal memiliki pendamping hidup.

__ADS_1


Sementara Putra sendiri, baru menjalin hubungan dengan seorang wanita sekarang. Gadis seorang, itu pun baru sampai tahap melamar.


“Kau berani mengambil tanggung jawab sebagai seorang suami di usia semuda ini, Iswar?”


“Iy – ya Tuan .. ibu sama bapak saya nyuruh buru – buru nikah waktu tau saya deket sama istri saya ini Tuan..”


“Hum ..”


“Tapi kau masih muda sekali” Ucap Putra. “Dia seusiamu kan Suheil? Sekitar dua puluh tahun?”


“Iya Tuan”


“Disini tidak aneh Tuan. Jika memang rasanya si pria dan wanita sudah sama – sama mau ya buru -  buru


dinikahkan. Bahkan ada yang sudah menikah di usia delapan atau sembilan belas tahun, selama si pria nya bilang mau dan sanggup, ya wes dinikahkan kalau sudah punya pilihan selain dijodohkan”


“I see .. ( Begitu ) ..” Putra manggut – manggut sembari menggumam. “Lalu bagaimana perasaanmu menikah diusia muda, Iswar?” Tanya Putra  yang menunggu Garret, Damian dan Addison selesai mengecek perkebunan.


“Ya-.. gimana ya Tuan, wes ndak ada perasaan apa – apa sih. Cuman iya seneng. Ada yang urusi. Kalau malem ada yang nemenin tidur sambil dipeluk Tuan. Kadang juga mandi berduaan Tuan .....” Jawab Iswar polos, membuat Putra mengangkat alisnya.


‘Aku harus segera menikahi Gadis kalau begitu’


**


“Herbicide also (Herbisida juga?)” Tanya Putra setelah kini ia berada di lahan perkebunan yang belum lama dibelinya untuk dijadikan aset keluarga dari beberapa orang pemilik perkebunan teh itu sebelumnya.


“Yes it is ( Iya )” Sahut Addison sembari mengangguk. “They put very lot of it, that’s why these teas were dead with total damage ( Mereka menggunakan dengan jumlah yang sangat banyak, itulah mengapa semua teh ini mati dan rusak total )”


Putra manggut – manggut setelah menyentuh beberapa helai daun teh di perkebunan terakhir yang gagal panen itu, lalu memetik dan mengendusinya sesaat. “Pak Abdul” Panggil Putra pada asisten rumah tangga kepercayaannya itu.


“Saya, Tuan” Jawab Pak Abdul yang berdiri lebih mendekat pada Putra dan Addison, lalu Garret dan Damian juga sudah datang mendekat setelah menyusuri barisan pohon tea yang rusak seperti di dua perkebunan sebelumnya.


“Bagian perkebunan ini lebih luas dari yang lain, jadi kurasa satu atau dua tidak cukup untuk membereskannya. Orang – orang yang tadinya akan dipekerjakan untuk memanen hasil kebun dibudidayakan saja terlebih dahulu untuk membersihkan semua pohon teh yang rusak ini”


Pak Abdul mengangguk patuh.


“Baik Tuan..” Jawab Pak Abdul.


“Tambahkan satu orang untuk membantu Suheil dan Iswar di perkebunan utama, lalu tambahkan empat sampai lima orang minimal untuk disini dan di perkebunan sebelumnya ..”


“Baik Tuan ..”


Kembali Pak Abdul mengangguk patuh.


“Tell him to ask people to clean up this first, and report when they finish the work. I will cek it after to make sure that the new seeds are okay to plant ( Katakan padanya untuk membersihkan semua ini dulu, dan laporkan jika sudah selesai. Aku akan mengecek lagi dan memastikan jika memang bibit baru bisa mulai ditanam )”


Garret yang memang paham soal pertanian dan hal – hal yang berhubungan dengan itu berbicara pada Putra agar menyampaikan ucapannya pada Pak Abdul.


“Okay” Sahut Putra.


Kemudian Putra menyampaikan kembali ucapan Garret, dan apa yang Garret minta untuk lakukan pada Pak Abdul yang menanggapi dengan baik setiap ucapan Putra dan apa yang diperintahkan salah seorang majikannya itu.


“Baik Tuan, saya akan segera melaksanakannya”


“Ya sudah. Kita kembali ke Villa sekarang..”


“Silahkan, Tuan”


Pak Abdul mempersilahkan Putra dan tiga Tuannya yang lain untuk berjalan lebih dulu.


Garret, Putra, Addison dan Damian kemudian melenggang santai untuk kembali berjalan ke Villa yang jaraknya lumayan kalau dari perkebunan terakhir yang mereka sambangi ini.


Meski begitu ke empat pria yang bisa dikatakan Tuan Muda itu memilih untuk berjalan kaki untuk sampai ke perkebunan sembari menikmati pemandangan, sekaligus melihat – lihat beberapa tempat di sekitar.


**


“Tuan ..”


“Ya Pak Abdul?”


“Apa anda ingin menambah orang untuk mengawasi perkebunan saat malam?”


Pak Abdul berucap sekaligus mengajukan saran saat dia dan ke empat Tuannya sudah mencapai pekarangan Villa.


“Bahkan mungkin menempatkan satu dua orang yang terjaga di perkebunan”

__ADS_1


“Rasanya tidak perlu, Pak Abdul ..”


“Ya mungkin nanti Tuan, saat kita sudah menanam bibit baru dan sudah dan sudah siap panen lagi”


“Lihat saja nanti Pak Abdul..”


Putra menjawab santai. “Sepertinya sih memang harus Tuan, karena saya sudah bisa menebak ini perbuatan siapa. Dan saya yakin kalau itu si Baskoro biang kerok yang menghancurkan semua teh di perkebunan kita Tuan ..”


“Kami sudah menduga tentang itu Pak Abdul” Sahut Putra.


“Kalau Tuan mau, saya dan Suheil bisa mencari beberapa orang untuk bekerja sebagai penjaga malam, mengingat si Baskoro itu kan jahat dan licik. Takutnya saat kita mau panen nanti, dia akan kembali membuat teh yang siap


panen itu hancur lagi seperti sekarang..”


“Tidak akan Pak Abdul.. Pak Abdul tenang saja. Hal ini adalah yang pertama dan terakhir, yang dapat dilakukan laki – laki bernama Baskoro pada perkebunan kita.. Aku pastikan itu” Ucap Putra dengan tenangnya sembari memasuki area dalam Villa. ‘Karena setelah malam ini dia tidak akan bisa berbuat apa – apa lagi’


Putra membatin, sembari menyeringai miring.


‘Tidak pada perkebunan, ataupun pada sisa hidupnya’


**


“Papa ..”


Anthony yang kini bicaranya sudah mulai kembali lancar itu berbicara pada Putra yang sedang membantunya berganti pakaian selepas makan, dan kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar yang sejak awal memang mereka tempati bersama sebagai ayah dan anak.


Putra langsung menyahut sembari tersenyum “Yes Anth?”.


“Can I ask you something? .. ( Bolehkah aku meminta sesuatu padamu? )”


“Anything Anth ( Apapun Anth )” Sahut Putra. “You may ask anything from me, even my life ( Kamu boleh meminta apapun padaku, bahkan nyawaku sekalipun )”


“I don’t want your life Papa .. ( Aku tidak ingin nyawamu Papa )..” Kata Anthony. “If I take your life, then I will lose you, I don’t want it happen ..... no .. I don’t want to lose you .. just like I lose Daddy and Mommy .. ( Jika aku mengambil nyawamu, maka aku akan kehilanganmu, Aku tidak ingin itu terjadi.. tidak.. aku tidak ingin kehilanganmu.. seperti aku kehilangan ayah dan ibu.. )”


Wajah Anthony nampak sendu dengan matanya yang berkaca – kaca.


Membuat gurat bersalah di wajah Putra seketika muncul.


Putra langsung saja menarik lembut Anthony dan memeluknya. “Don’t ever leave Papa .. ( Jangan pernah meninggalkanku Papa ) ..”


“I won’t Anth ... I won’t.. ( Tidak akan Anth.... Tidak akan ) ...” Lirih Putra. “Forgive my words that make you sad ( Maafkan kata-kataku yang membuatmu sedih )”


“Promise me... ( Berjanjilah padaku .. )”


“I promise Anth ... I promise.. ( Aku berjanji Anth... Aku berjanji ) ..”


“.....”


“I’ll stand by you Anth, even the world divide two, I’ll stand by you ( Aku akan selalu berada disisimu Anth, meskipun dunia terbelah dua, aku akan selalu bersamamu )”


**


To be continue..


Sekedar info Karya Emaknya Queen:


1.       Bukan Sekedar Sahabat – Published on Noveltoon / Mangatoon on, 4th December, 2020 – Tamat.


2.       Apalah Cinta – Published on NT / MT on, 14th Feb, 2021 – Tamat.


3.       The Smith’s ( Sekuelnya Bukan Sekedar Sahabat ) Published on NT / MT on, 13th June, 2021 – On going ( Masih berjalan hingga hari ini ).


4.       Life of a Man ( Spin-off nya Bukan Sekedar Sahabat ) – Published on NT / MT on, 29th Oct, 2021 – On going ( Masih berjalan hingga hari ini ).


29 Januari 2022,


Loph Loph,


Emaknya Queen


(Mohon maaf ada penjabaran karya, karena menghindari plagiat) – Sekalian promosi. Wkwkwkw.


Harap Maklum,


I Lop Yu Pull Lah Pokoknya buat kalian yang membaca karya ini.

__ADS_1


Dan karya – karya emak yang laen.


Thank you once again!


__ADS_2