LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 70


__ADS_3

Happy reading ....


“I’ll stand by you Anth, even the world divide two, I’ll stand by you ( Aku akan selalu berada disisimu Anth, meskipun dunia terbelah dua, aku akan selalu bersamamu )”


“Promise? ( Janji? )”


Putra mengurai pelukannya perlahan dan kemudian tersenyum pada Anthony.


“One hundred thousand promises! ( Janji seratus ribu kali! )”


“So many.... Hard for me to count ( Banyak sekali ...... Aku sulit menghitungnya ), Papa ..”


Putra pun terkekeh kecil sembari menyeka sudut mata Anthony yang basah.


“Don’t be sad no more hem? ... ( Jangan bersedih lagi hem? )”


“Yes Papa ... ( Iya Papa )....”


“Now tell me, what did you want to ask from me? ( Sekarang katakan padaku, apa yang tadi kamu ingin minta dariku? )”


“I want a bedroom for my own.... May I? ( Aku ingin punya kamar sendiri .... Bolehkah?)”


“Really? ( Benarkah? )”


“Yes Papa.....” Anthony menganggukkan kepalanya dua kali. “May I ask you to build a new room for me? ( Bolehkah jika aku memintamu membangunkan satu kamar baru untukku? )”


“Sure! ( Tentu! )” Sahut Putra yang kembali tersenyum pada Anthony sambil mengacak pelan rambut bocah tersebut.


“Really Papa???!!!! ( Benarkah Papa?????!!!! )”


Putra mengangguk.


“You know? ( Kamu tahu? ).....”


“Know what Papa????? ( Tahu apa Papa????? )”


“Actually, you already have a room here.... ( Sebenarnya, kamu sudah memiliki kamarmu sendiri disini ) ...”


“Really???”


“Hu’um ... a room for your Daddy and Mommy..... also for you, was prepared already since your Daddy told me to buy this house ...”


“( Kamar untuk Daddy dan Mommy – mu.... juga kamar untukmu, sudah dipersiapkan sejak Daddy mu menyuruhku untuk membeli rumah ini ) ....”


“Can I see it now? .. ( Bisakah aku melihatnya sekarang? ..... )”


“Sure! ( Tentu! )”


“Hoo ray!!!” Anthony nampak begitu senang sampai ia bersorak kecil.


*****


Putra membawa Anthony ke bagian sudut paling ujung di lantai dua.


Berada tak begitu jauh dari kamar Putra, namun terpisah oleh sebuah ruang dimana ada set sofa dan meja. Ada dua pintu dengan warna yang berbeda disana.


Pintu yang merupakan bagian dari dua kamar. Kamar untuk almarhum Rery dan Madelaine, serta kamar untuk Anthony.


“Is this my room? ... ( Apakah ini kamarku?.... )” Tanya Anthony antusias.


“Indeed ( Benar )” Jawab Putra dengan senyuman.


“Let’s go in Papa! ( Ayo kita masuk Papa! )”


“Okay!”


**


Kamar yang pintunya berwarna putih itu sudah di masuki oleh Putra dan Anthony.

__ADS_1


Tetapi kamar yang memang terlihat rapih dengan barang–barang yang nampak sudah lengkap mengisi kamar tersebut, semuanya tertutup kain putih.


Putra yang menyuruh Pak Abdul untuk menutupi barang-barang dalam kamar yang memang di peruntukkan untuk Anthony sebelumnya, karena saat mereka menempati Villa mereka itu kondisi Anthony tidak memungkinkan untuk ditempatkan sendirian dalam sebuah kamar.


Hal yang sama pun di lakukan pada barang-barang yang berada dalam kamar milik almarhum Rery dan Madelaine.


“I will tell Pak Abdul to clean up this room if you really want to use this room... ( Aku akan meminta Pak Abdul untuk membersihkan kamar ini jika kamu memang mau menggunakan kamar ini .... ), Anth..”


“Sure, I want Papa.... ( Tentu, aku mau Papa ).....”


“Alright, then ( Baiklah, kalau begitu )”


***


“What door is it Papa? ... it is similar with the door at my room in our house at Ravenna ... ( Itu pintu apa Papa?... Seperti pintu di kamarku pada rumah kita yang berada di Ravenna )...”


Anthony menunjuk sebuah pintu geser di sudut dinding lain dalam kamarnya.


“It is has the same function actually.... ( Memang sebenarnya itu memiliki fungsi yang sama ) ...”


“So my room here, it is connecting with Dad and Mom’s room? .... ( Jadi kamarku ini, berhubungan dengan kamar Dad dan Mom? ) ....”


Putra tersenyum tipis. Ada sedikit getir di hatinya, jika Anthony menyebut kedua orang tuanya itu.


Jika Jaeden tidak membunuh keduanya, pastilah Anthony akan sangat berbahagia.


Karna disetiap pagi Anthony akan disapa oleh ucapan selamat pagi dan kecupan manis dari Rery dan Madelaine. Begitupun saat malam dan waktu tidur Anthony tiba, Anthony akan mendapat ucapan selamat malam dan kecupan berikut dongeng sebelum tidur.


Putra menghela berat nafasnya.


“Do you want to see, your Dad and Mom’s room? .... ( Apa kamu mau melihat, kamar Dad dan Mom-mu?...... )”


“Yes, Papa...”


“But promise you won’t be sad, hem? ( Tetapi janji kalau kamu tidak akan bersedih, hem? )”


“Alright, then ( Baiklah, jika begitu )”


***


“Knock! Knock! ( Tok! Tok! )”


Suara ketukan di pintu berikut suara Garret yang terdengar membuat Putra dan Anthony spontan menoleh.


“May we come in? ( Boleh kami masuk? )”


Addison, Damian dan Bruna juga menyertai Garret.


“Padre! Madre! Dad Dami! Dad Garret! Have you seen my rooom??? ( Apa kalian sudah melihat kamarkuuuu???? )”


Anthony begitu antusias berkata pada ke empat orang yang disebutkannya itu.


“Yes, we are! ( Iya, kami sudah melihatnya! )”


“Papa allowed me to sleep here! ( Papa mengijinkanku untuk tidur disini! )”


Anthony nampak begitu gembira saat ini. Membuat Putra dan empat orang lainnya tersenyum bahagia melihat keceriaan Anthony yang kini perlahan sudah mulai kembali.


“He is?.... ( Benarkah? ) ....”


“Yes, he is! ( Iya, benar! )”


“But later, okay?.... ( Tapi nanti, oke?.... )”


Putra menyela.


“This room need to clean up first, also we will take a look if there another thing that has to be change... then you may to occupy this room, Anth ( Kamar ini harus dibersihkan terlebih dahulu, kita juga akan melihat jika ada yang perlu dirubah nanti ... baru kamu bisa menempati kamar ini, Anth )”


Anthony mengangguk antusias menjawab ucapan Putra barusan.

__ADS_1


Putra senang melihat Anthony yang gembira karena kamarnya itu. Namun, ada sesuatu yang sedikit mengusik Putra perihal Anthony yang ingin mulai tidur di kamarnya sendiri bila kamar Anthony itu sudah siap nanti.


“Anth ....” Panggil Putra.


“Yes, Papa? ....”


“Even if your room is ready to occupy later, but better you still sleep with me at night until you becoming bigger than now, hem? ..... ( Meskipun kamarmu ini sudah siap ditempati nanti, tetapi sebaiknya kamu tetap tidur bersamaku saat malam sampai kamu sedikit lebih besar dari sekarang, hem?.... )”


“But, why Papa?... ( Tetapi, kenapa Papa? )....” Tanya Anthony sembari memperhatikan wajah Putra.


Addison, Damian, Bruna dan Garret juga ikut memperhatikan Putra. Putra kemudian berjongkok di hadapan Anthony.


“I’m a little bit worried, Anth ... ( Aku sedikit khawatir, Anth ).... This room is little bit far from my room.. ( Kamar ini sedikit jauh dari kamarku .. )”


“But I will be brave, Papa. I also sleep alone in my room at Ravenna remember? ( Tapi aku berani, Papa. Aku juga tidur sendiri dalam kamarku di Ravenna )”


“But not really alone .... ( Tapi tidak benar-benar sendiri .... )” Putra sedikit melengos pada kamar yang seharusnya ditempati oleh Rery dan Madelaine jika mereka masih hidup.


Dan Addison, Damian, Garret serta Bruna pun akhirnya memahami kekhawatiran Putra pada Anthony yang ingin tidur di kamar terpisah dengannya.


Terlebih kamar Anthony itu memang sedikit jauh dari kamarnya, karena bersandingan dengan kamar almarhum orang tuanya. Jadi Putra yang menjadi ekstra protektif pada Anthony itu selalu punya kekhawatiran yang kadang berlebihan pada Anthony. Yah, Putra benar-benar menjaga agar Anthony tidak bersedih itu saja.


Mengingat kamar Anthony yang bersandingan dengan kamar orang tuanya, mungkin saja saat malam Anthony akan melindur dan mencari orang tuanya yang tidak akan pernah menempati kamar mereka itu yang bersandingan dengan kamar Anthony. Tersambung dengan pintu penghubung.


“I guess Papa Putra was right, Anth .. ( Aku rasa Papa Putra benar, Anth )..”


Bruna berbicara.


“Your room is a little bit far from his room and ours... How about if you need anything at night, or maybe you having a nightmare?. We won’t know about it and we don’t want you to feel not okay.. ( Kamarmu ini sedikit jauh dari kamarnya dan kami... Bagaimana jika nanti kamu membutuhkan sesuatu saat malam, atau mungkin kamu bermimpi buruk?. Kami tidak akan tahu soal itu dan kami tidak mau kalau kamu merasa tidak baik nantinya .. )”


Bruna memberikan penjelasan yang kiranya dapat dimengerti oleh Anthony.


“I won’t .. ( Aku tidak akan merasa seperti itu.. ), Madre”


“Anth .. I will still ask Pak Abdul to clean up this room for you .... ( Aku akan tetap meminta Pak Abdul untuk membersihkan kamar ini untukmu )...”


Putra kembali mencoba membujuk Anthony.


“You can play here at morning untill you are going to sleep... ( Kamu tetap bisa bermain disini sejak pagi sampai waktu tidurmu tiba.. ). But you still sleep with me at night, in my room... ( Tapi kamu tetap tidur bersamaku di kamarku, saat malam .. ). Okay? ..... Just until you get bigger than now ... I promise ... Hem?.... ( Hanya sampai kamu sedikit lebih besar lagi dari sekarang .. Aku janji... Hem?.. )”


“We agree with Papa Putra Anth ( Kami setuju dengan Papa Putra )”


Damian bersuara untuk mendukung Putra, mewakili juga tiga lainnya yang nampak manggut-manggut pada Anthony.


“Eemm.... Don’t you, can move also Papa? .. ( Bukankah, Papa juga bisa pindah?.. )”


“Heemm..”


Putra berpikir sejenak.


“Alright! I will move here ( Baiklah! Aku akan pindah kesini )”


Putra mengalah.


Demi Anthony, apapun bisa dan akan Putra lakukan.


Namun Anthony menggeleng.


“No, not here ( Tidak, bukan disini ), Papa. But there! ( Tapi disana! )”


Anthony menunjuk kamar yang diperuntukkan untuk almarhum kedua orang tuanya. Kamar yang tersambung dengan kamarnya.


***


To be continue...


Maaf jika masih ada typo bertebaran.


Selebihnya, nikmatin aja dulu.

__ADS_1


__ADS_2