LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 76


__ADS_3

Happy reading.......


Tidak butuh waktu lama bagi Putra dan semua yang bersamanya, sampai ke depan sebuah bangunan dapat dikatakan lumayan besar dan luas.


Meski jalanan yang ditempuh cukup sepi dan sedikit curam, namun itu tidak menjadi kendala. Bangunan yang ada di hadapan Putra ini memanglah khas bangunan tempat tinggal di daerah pegunungan dan perbukitan.


Sama seperti Villa milik Putra dan keluarganya, bangunan itu tidak berpagar. Meski memang tidak sebesar Villa milik Putra dan keluarganya.


Bahkan Villa kediaman Putra dan keluarganya itu lebih besar dari yang terlihat dari luar luas sebenarnya.


Benar seperti yang dibilang Arthur kalau Villa milik Putra dan keluarganya itu lebih mirip sebuah kastil kecil.


Putra mengedarkan pandangannya, pada sebuah bangunan di hadapannya serta sekelilingnya yang didominasi persawahan.


Daerah itu tidak sesepi Villa milik Putra dan keluarganya. Ada beberapa rumah penduduk yang dapat dihitung dengan jari, namun jauh juga dari bangunan yang sedang Putra lihat itu.


Dan rumah – rumah yang tadi dilewati Putra dan mereka yang bersamanya sangat kontras dengan bangunan yang cukup bagus yang ada di hadapannya itu. Putra menghentikan mobilnya berjarak dari bangunan yang bisa dikatakan sebuah Villa juga itu.


Mobil yang dikendarai Damian juga berhenti berikut sepeda motor yang membawa dua orang anak buah Arthur.


“Seems that he has  guest? .... (Sepertinya dia sedang ada tamu?)”


Addison yang memang berada di satu mobil yang sama dengan Putra dan duduk di kursi penumpang samping Putra itu ikut memperhatikan dan berucap kemudian.


“Hemm ........”


“Want to wait or what?”


“(Ingin menunggu atau bagaimana?)”


“You think? (Menurutmu?)” Putra melirik pada Addison.


“I don’t think fire can wait to burn (Aku rasa api tidak bisa menunggu untuk membakar)”


****


Mobil Putra yang berada paling depan, dihentikan oleh dua orang yang penampilannya mirip-mirip beberapa pria yang dibawa Arthur, dan kini sudah dianggap sebagai anak buah Putra dan keluarganya, bekerja untuk mereka.


Putra menghentikan laju mobilnya dan dua orang itu mendekat pada mobil yang dikendarai Putra. Dua orang itu memperhatikan mobil Putra yang memang nampak mentereng itu, lalu mobil hitam dibelakangnya yang juga cukup membuat takjub karena rasanya mungkin mereka belum pernah melihatnya dan satu sepeda motor yang mengangkut dua orang.


“Maaf permisi, anda – anda ini siapa dan ada keperluan apa?” Tanya salah seorang pria yang menyuruh Putra untuk menghentikan laju mobilnya terlebih dahulu. Ia bertanya dengan sopan, karena menilai orang – orang yang ada di hadapannya itu bukan orang biasa, melihat dari dua mobil yang mereka gunakan.


Namun tetap, adalah tugas dua orang itu yang memang harus bertanya selaku penjaga pintu depan, meski Villa itu tak berpagar. Hanya saja, tidak ada pemberitahuan dari majikan mereka tentang tamu yang baru datang ini.


Majikan mereka memang sedang menunggu tamu, tapi tamu yang ditunggu sudah datang dan tidak ada pemberitahuan tentang tamu tambahan. Jadi mereka harus memastikan.


Putra memperhatikan kedua orang penjaga Villa tersebut, yang salah satunya sedikit merundukkan badannya saat ini di dekat kaca mobil disisi kiri Putra. Kedua orang itu rasanya bukan yang saat itu ikut bersama majikan mereka ke Villa milik Putra dan keluarganya.


“Baskoro ada?”


Putra bersuara.


“Bapak ada, tapi sedang menerima tamu ... kalau boleh tau anda siapa ya? ... soalnya Bapak ga ada pesan bilang ada tamu lagi selain Pak Dalu....”


Putra menatap datar pada pria yang sedang berbicara itu.


“Katakan padanya Putra Adjieran datang untuk bertemu dengannya”


“Putra .... Ajiran? ...”


Putra mengangguk sekali pada pria itu.


“Lalu keperluannya?”


“Meminta ganti rugi”


“Ganti rugi?...” Penjaga itu tertegun sejenak.


“Katakan saja itu padanya!”


Putra sedikit tak sabar.


“Hmmmm.... ya sudah tunggu sebentar kalau begitu, saya bilang Bapak dulu”


“..............”


Pria itu pun bergegas ke area dalam Villa dan penjaga satunya berdiri didepan mobil Putra seolah menghalangi jalan.


Tak berapa lama........


“Maaf Tuan, Bapak bilang, ganti rugi apa Bapak ga ngerti! .... Lagian Bapak katanya sedang sibuk sekarang... Anda – anda disuruh datang lagi besok! .... Jadi, silahkan pergi!... Bisa muter balik disini! ....” Ucap pria penjaga yang sudah kembali dari dalam rumah.


**


Beberapa menit kemudian..


“Loh?!” Pria berperut buncit yang merupakan pemilik rumah nampak terkejut seraya membulatkan matanya dan menunjuk ke arah dimana Putra sudah berdiri sembari menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya.


“Apa kau mengingatku?”


“Y-ya ingat! ... Tapi kenapa kowe masuk seenaknya ke rumah orang?!” Baskoro mengarahkan lagi telunjuknya pada Putra, sedikit nampak gusar sembari celingukan ke arah belakang Putra.


“Aku ingin meminta ganti rugi!”


“Siapa dia Bas?...”


Seorang pria berjas yang sedang berada di ruangan bersama laki-laki bernama Baskoro itu bertanya kala ia juga ikut berdiri dan memperhatikan Putra serta orang-orang yang datang bersamanya.


“Iki loh, yang barusan aku ceritain ke kowe!.... Ini si Gurnito sama si Kasiman buego banget! Udah dibilang jangan dikasih masuk!”


Wajah Baskoro sudah nampak tak senang.


“Dar kowe liat itu dua orang bego diluar! Kerjane opo!”


Tangan Baskoro yang telunjuknya mengacung itu menunjuk-nunjuk ke arah anak buah yang ia panggil barusan juga menunjuk ke arah pintu.

__ADS_1


“Dibilang jangan dikasih masuk! Malah dibiarin wae mereka selonong seenak udel masuk rumah orang!”


Disaat yang sama dua orang anak buah Putra menyusul masuk. Yang satu sedang berada di pintu depan saat mereka masuk tadi setelah melumpuhkan dua penjaga yang ada disana.


Baskoro menyungging remeh.


Satu anak buah Arthur yang melihat anak buah Baskoro yang barusan diperintahkan ke depan itu hendak menyusul, namun Arthur mengkodenya untuk tinggal. Berjaga-jaga jika terjadi keributan yang sampai pada tahap baku hantam, karena Arthur merasa mereka kalah jumlah.


“Hah! Punya jongos juga toh!”


Kini Baskoro berkacak pinggang dengan masih menyungging remeh.


“Dua aja?! Cih!”


Membiarkan si Baskoro itu mencerocos, Putra datar saja. Ia masih nampak tenang saja menyesap rokoknya.


Baskoro masih saja terus bersikap angkuh.


“Kowe ga liat iki aku punya anak buah?!.... kalian ndak ada apa-apanya sama anak buah aku ini! ....”


Enam orang yang berperawakan bak tukang pukul yang empat diantaranya baru saja muncul dari arah belakang itu kemudian nampak mengepalkan satu tangan mereka sembari menggerakkan dagu mereka di hadapan Putra.


Membuat Putra yang melengos pada Addison itu berdecih sembari menyungging miring yang disambut dengan dengusan geli oleh Addison.


Tamu Baskoro yang sedang bersamanya itu belum bersuara.


Laki-laki itu masih sibuk memperhatikan Putra yang nampak santai saja meski Baskoro sudah memamerkan enam tukang pukulnya.


“Lebih baik kalian semua pergi dari sini sekarang kalo ndak mau dibikin babak belur sama orang-orangku ini!”


“Aku tidak akan pergi sebelum aku mendapatkan keinginanku”


“Cuh! Ndak ada urusan!”


“Keinginan apa, maksud anda?”


Sementara Baskoro berdecih seolah sedang membuang ludah, tamunya itu bertanya pada Putra.


“Seperti yang kukatakan tadi. Aku ingin meminta ganti rugi” Sahut Putra datar.


“Ganti rugi untuk apa?”


“Untuk hasil panen lahan perkebunan milikku dan keluargaku yang ia hancurkan”


“Apa anda punya bukti kalau Baskoro yang melakukannya? ...” Tanya tamu Baskoro itu.


Putra tersenyum miring.


“Jika tidak, sebaiknya anda pergi dan jangan cari ribut disini, atau saya tidak akan segan! ... Kalian-kalian orang asing jangan cari masalah disini kalau tidak mau menyesal!”


Laki-laki itu setengah mengancam dengan berdiri pongah di depan Putra yang lebih tinggi dari padanya itu.


Sementara itu Baskoro menyeringai. “Kowe denger itu?! Dalu ini punya banyak koneksi pejabat sampe ke petinggi keamanan di negara ini! ... Jadi kalian-kalian ini wong londo yang cuman numpang disini jangan belagu!”


“Sudah kukatakan aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan keinginanku”


Pria bernama Dalu itu mendengus kasar, karena Putra nampak bergeming, tidak terlihat terpengaruh oleh ancamannya. Ia memposisikan dirinya lebih tegak di hadapan Putra yang hanya meliriknya dengan menurunkan sudut matanya saja, karena pria bernama Dalu itu lebih pendek darinya.


“Aku tak perduli siapa dirimu. Urusanku dengannya” Ucap Putra sembari menggerakkan dagunya yang mengarah pada Baskoro.


“Oh, nantang anda ya?!”


Pria bernama Dalu itu berkacak pinggang kini.


“FATTAH! ARYO! BAYU! BAMBANG!”


Pria bernama Dalu itu menyebut empat orang nama dengan kerasnya yang kemudian sosoknya datang tergesa dari arah pintu depan.


Yang membuat suasana menjadi sedikit tegang bagi Arthur dan dua orang anak buah mereka, karena Suheil disuruh menunggu di dalam mobil saja oleh Putra.


Tapi tidak untuk Putra dan Addison yang sempat melirik kedatangan empat orang tadi, dan saat ini posisi mereka dikepung oleh sepuluh tukang pukul dari Baskoro dan Dalu.


Putra dan Addison nampak tenang saja. Arthur dan dua anak buahnya itu saling tatap. Sedikit cemas.


“Masih ada enam orang lagi aku punya tukang pukul di belakang! Mati kowe semua kalo aku panggil tukang pukul ku semuanya!”


Putra menyungging miring saja.


“Saya kasih kesempatan terakhir! Silahkan pergi kalo ga mau mati atau saya kirim kalian ke penjara biar menderita seumur hidup di dalam sana!”


Putra bergeming.


“Nantang beneran ya?!”


Dalu mendorong tubuh Putra. Para tukang pukulnya dan Baskoro sudah bersiap tinggal menunggu perintah untuk maju.


“Bad move... (Tindakan yang salah ...)”


Addison menggumam disaat Dalu mendorong tubuh Putra yang tidak bergeming juga sebenarnya.


Dan memang gumaman Addison itu bukan sekedar gumamannya saja.


Karena setelahnya ....


Kraakk!!!


“ARGGHH!!....”


“DALU!!!!!”


“PAK!!!”


Suara tulang tangan yang patah terdengar bersamaan dengan teriakan dari yang punya tangan serta teriakan Baskoro dan orang-orang mereka.


Putra entah bagaimana sudah memelintir satu tangan pria bernama Dalu itu hingga patah dan membuat pria itu kini sudah bertekuk lutut didepan kakinya.

__ADS_1


Apa yang sedang Putra lakukan pada pria bernama Dalu itu sontak saja membuat Baskoro bergidik ngeri dan terkejut setengah mati.


“MAS! PANGGIL YANG LAIN DI BELAKANG!” Baskoro menyuruh cepat satu anak buahnya untuk memanggil anak buahnya yang lain.


“HA-BISI MEREKA!-!!” Teriak Dalu yang masih meringis kesakitan itu dan masih dalam cengkraman Putra.


Pria itu nampak begitu emosi dan sengit disela ia meringis merasakan sakit dari tangannya yang dipatahkan Putra.


Sembilan tukang pukul Baskoro dan Dalu pun sudah mulai maju, namun ....


DOR!


DOR!


DOR!


Beberapa peluru dari pistol milik Putra dan Addison hanya sebentar saja merobohkan kesembilan tukang pukul tersebut.


Arthur dan kedua anak buahnya lumayan terkejut sampai mereka berjengkit ditempatnya karena sembilan orang meregang nyawa dengan begitu cepatnya dihadapan mereka.


Kini hanya tinggal Baskoro yang sudah begitu ketakutan menatap Putra yang menyeringai, lalu lempar tatap dengan Dalu. Putra belum berkata apa-apa hanya menyeringai menatap Baskoro sembari masih mencengkram Dalu yang berlutut itu.


“Ya, aku menantangmu. Lalu?”


Putra merundukkan tubuhnya, yang kemudian menatap Dalu yang ia buat menghadapnya sembari Putra menyeringai.


“Am-pun...” Dalu sudah sangat ketakutan kini. Terlebih dia melirik pistol yang ada dalam satu tangan Putra. "Sa-ya lan-cang ..."


“MAS! MASNO!” Tahu-tahu Baskoro berteriak lagi.


Pria buncit itu mengingat kalau tadi menyuruh satu anak buahnya untuk memanggil beberapa orang lagi yang bertugas di luar rumah dan sekitar persawahan miliknya yang mengelilingi tempat tinggal Baskoro itu.


Membuat Putra, dan empat orang yang bersamanya melengos pada Baskoro.


“P-ak..”


Nampak seorang pria yang bersuara lirih muncul dari belakang dengan dua orang di belakangnya yang menyunggingkan senyum di wajah mereka.


Pria itu adalah pria yang disuruh Baskoro untuk meminta bantuan tadi. Wajahnya sudah babak belur sekali. Baskoro semakin membulatkan matanya, sampai ia tak sadar mundur lagi.


“Ma-na yang lainnya Nnoo?? ...”


Suara Baskoro sudah terdengar bergetar.


“Ma-mati ... P- ...”


DOR!


Belum sempat anak buah Baskoro itu melanjutkan kalimatnya.


Garret sudah keburu menyarangkan satu peluru di kepala laki-laki tersebut.


Kembali membuat yang Baskoro, Dalu, bahkan Arthur dan dua orangnya itu berjengkit.


Baskoro dan Dalu sangat ketakutan, Arthur dan dua anak buahnya yang kemudian datang satu lagi bersama Suheil tercengang melihat empat orang yang baru saja membantai beberapa orang itu. Dan kesemuanya sudah terkapar dengan gelimangan darah di kepala, tubuh dan lantai.


Ada dua orang lagi yang kemudian diseret Garret dan Damian karena dua orang itu nampak mengintip dari arah dapur, namun hanya ditahan dan disuruh berlutut, tidak langsung dihabisi karena dianggap bukan merupakan ancaman.


Putra mendekat pada dua orang paruh baya yang nampak sangat ketakutan itu. Setelah ia menghempaskan Dalu yang kemudian diambil alih oleh Addison dan tetap dibuat berlutut itu.


Sementara Damian dan Garret mengamankan Baskoro dengan dibuat berlutut juga, dengan ujung pistol yang ditempelkan di kepala Dalu, namun Addison belum menarik pelatuknya sebelum Putra menyuruhnya.


“Am-puun Tu-aan..... Ja-ngan bu-nuh ka-mi....” Dua orang paruh baya itu berkata dengan sangat lirih seraya memohon.


“Kalian bekerja disini?”


Dua orang yang ditanya Putra itu mengangguk takut seraya menunduk.


Putra menoleh ke arah kirinya.


“Suheil!”


Suheil yang juga nampak syok dan sedikit gemetar itu langsung menghampiri sang Tuan dengan takut-takut.


“Sa-ya Tuan...” Ujar Suheil.


“Amankan terlebih  dahulu mereka di luar ...”


“I-ya Tuan ....” Jawab Suheil sembari berbicara pada dua orang paruh baya itu agar ikut dengannya.


“Kau!” Menunjuk dan berucap ke arah dua anak buahnya. “Salah satu dari kalian temani Suheil. Sisanya, kalian cek seluruh tempat ini apa masih ada orang lain yang bersembunyi!”


“Ba-ik Bos!”


“Should we kill him now? ... (Apakah kita bunuh dia sekarang? ....)”


Putra yang sudah kembali berdiri tegak itu mengalihkan pandangannya pada Damian yang sudah menempatkan ujung pistolnya di salah satu sisi kepala Baskoro yang nampak sangat ketakutan dan memohon ampun berkali-kali itu.


Sama seperti Dalu yang tak hanya merintih namun juga terdengar memohon agar tidak dihabisi.


“Heh!”


Putra mengabaikan dulu Dalu. Ia kini memandang remeh pada Baskoro yang seluruh tubuhnya nampak gemetar itu.


“Not Now maybe (Mungkin tidak sekarang)” Sahut Putra yang menjawab pertanyaan Damian tadi.


Putra menyeringai. Seringai iblis miliknya yang sudah lama tidak terlihat.


“I want to make him an example first, for everyone who try to disturb us (Aku mau menjadikannya sebagai contoh terlebih dahulu, untuk setiap orang yang mencoba mengganggu kita)”


**


To be continue ......


LIKE & VOTE Jika berkenan

__ADS_1


__ADS_2