LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 250


__ADS_3

Happy reading....


Leicester, England


“Seems they’re succeed Sir ( Sepertinya mereka berhasil Tuan )..”


Jules yang melihat Garret yang berdiri di depan jalanan masuk menuju gerbang mansion keluarga Damian itu segera bersuara.


Dimana Putra dan Damian segera mencondongkan tubuh mereka dan langsung memperhatikan ke arah selurusan mata mereka melalui jendela mobil bagian depan, bersamaan dengan Jules yang berbicara lagi.


“Yes they are Sir. Mister Garret give a sign for us to move ( Sepertinya memang iya Tuan. Tuan Garret telah memberikan tanda bagi kita untuk bergerak ) ..”


“Then move ( Maka bergeraklah ), Jules,” tukas Damian.


Jules pun segera melajukan mobil secara perlahan untuk sampai ke tempat dimana Garret berada, dan tidak seberapa jauh dari tempat mobil yang dibawah kendalinya itu berhenti saat mobil yang ditumpangi oleh dua Tuan yang lain berada dalam posisi yang telah ditentukan.


Mansion keluarga Damian lebih tepatnya.


**


Tiga mobil rombongan Putra, termasuk yang pria itu tumpangi, telah memasuki pekarangan depan mansion milik keluarga Damian.


Putra dan Damian segera turun dari mobil yang keduanya tumpangi, saat Jules telah membawa mobil yang dikemudikannya masuk ke dalam pekarangan mansion yang sebenarnya adalah milik keluarga Damian tersebut.


“Home sweet home ( Rumahku istanaku ), Hem, Dam?” ucap Putra pada Damian dengan sedikit tersenyum. Damian mendengus sinis.


“Heh! Not sweet anymore!” ketus Damian.


Putra hanya mendengus geli saja, sambil menepuk-nepuk satu pundak Damian.


Lalu berjalan menuju pintu masuk mansion tersebut.


“Where’s Richard? ( Dimana Richard? )” tanya Putra pada Garret.


“He’s not showed up yet ( Dia belum muncul )” jawab Garret.


“Maybe he’s ‘cleaning up’ the side that Mister Damian told him Sir ( Mungkin dia sedang ‘membersihkan’ bagian yang tadi Tuan Damian katakan Tuan )”


“Maybe you’re right ( Mungkin kau benar ), Jules.”


Putra pun menanggapi ucapan salah satu anak buahnya itu.


****


“All clear Richard? ( Semua beres Richard? )”


Putra berkata seraya bertanya pada pria itu, kala ia telah masuk ke dalam pintu masuk mansion milik Damian tersebut.


Dimana sebelumnya, Richard telah lebih dulu melumpuhkan satu orang yang adalah seorang pelayan jika melihat dari pakaian yang orang tersebut pakai saat orang tersebut hendak membukakan pintu masuk utama mansion.


“Clear Sir ( Beres Tuan )” jawab Richard. “There’s only one guard that already ‘took down’, and some maids that me and Stan have ‘took care’ ( Hanya ada satu penjaga yang sudah ‘dilumpuhkan’, dan beberapa pelayan yang telah aku dan Stan ‘bereskan’ )”


Putra pun manggut-manggut.


Dan setelahnya Putra langsung menurunkan perintah pada rombongannya, setelah mereka memasuki area dalam mansion.


“Let’s ‘sweep’ this place ( Ayo kita ‘sapu’ tempat ini )” ucap Putra pada rombongannya. “Gathered them here ( Kumpulkan mereka disini )”


Putra menurunkan perintah pada rombongannya, yang kemudian langsung bergerak cepat dan cekatan, serta tetap berhati-hati.


Putra pun hendak ikut bergerak.


Namun matanya kemudian melirik pada Damian yang sedang memperhatikan dengan seksama bagian mansion milik keluarganya tersebut.


“They’re all totally henpeck everything ( Mereka benar-benar menguasai semuanya )”


Damian berucap dengan dingin, mendengus sinis sebelumnya. Putra menghela pendek nafasnya.


Paham dengan maksud Damian jika mansion keluarga salah seorang saudara angkatnya itu tentang ‘mereka benar-benar menguasai semuanya’.


Karena di area tempatnya dan Damian berada, Putra tak lagi melihat foto-foto Damian dan keluarganya barang satupun.


Dan sekarang Damian sedang berada dalam posisi sedih dan juga geram.


Namun didetik berikutnya, geram yang begitu mendominasi Damian. Hingga kemudian ia melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju ke lantai dua mansion milik keluarganya tersebut.


Putra pun mengikuti langkah Damian yang menuju ke kamar utama milik orang tuanya. Dimana tak lama kemudian Putra dan Damian berpapasan dengan dua anak buah mereka, serta Garret, yang masing-masing telah memegangi satu orang dengan menodongkan pistol di kepala masing-masing sandera mereka.


**


Tersungging senyuman, miring dan sinis tentunya, berikut decihan jijik dari mulut Damian saat menatap pada pria paruh baya yang berada dalam cekalan Garret. Dimana pria yang berada dalam cekalan tangan Garret itu membelalak dengan sempurna saat melihat Damian.


Dan tak hanya pria yang sedang berada dalam cekalan Garret itu saja yang terbelalak saat melihat Damian. Namun juga dua orang yang berada dalam cekalan Richard dan Stan. Dan Damian juga melemparkan tatapan sinis kepada dua orang tersebut, seperti halnya tatapan sinis yang Damian berikan pada pria yang sedang dicekal oleh Garret.


“Da-mian???!!!”


Ketiga orang yang berada dalam cekalan Garret, Richard dan Stan itu spontan menyebut nama Damian saat melihat keberadaan pria itu di hadapan mereka saat ini. Menyebut nama Damian dengan keterkejutan, selain takut-takut.


Yang mana tergambar jelas di raut wajah ketiga orang tersebut.


“Feeling good by enjoying my family’s wealthy ( Merasa enak dengan menikmati kekayaan keluargaku ), huh?”


Damian berkata dengan sinis, dan memandang dengan cara yang sama kepada tiga orang tersebut.


Lalu Damian melangkah sekali kedekat pria yang di cekal Garret. “But that’s enough now ( Tapi sekarang sudah cukup )”


Bugh!.


Sebuah tinju mendarat di perut pria paruh baya yang sedang dicekal dan cengkram oleh Garret itu dari Damian.

__ADS_1


“Arrgh!” spontan saja pria paruh baya itupun mengaduh karena kencangnya hantaman tinju Damian di perutnya.


Seketika dua orang lain yang merupakan seorang wanita memanggil histeris pria paruh baya yang perutnya ditinju oleh Damian itu.


Namun mulut kedua wanita itu keburu dibekap oleh Richard dan Stan, sebelum mereka menjerit lebih keras lagi.


“Bring them down ( Bawa mereka turun )” Ucap Damian pada Garret, Richard dan Stan. Yang mana ketiga orang tersebut langsung mengiyakan ucapan Damian tersebut, yang langsung membawa paksa ketiga orang dalam cekalan mereka untuk pergi ke lantai bawah.


Dan Damian mengekor dibelakang ke enam orang tersebut.


**


Damian telah duduk santai sambil menopangkan kakinya kala tiga orang telah dipaksa berlutut di hadapannya saat ini.


“Argh!”


Sebuah suara mengaduh terdengar dari arah tangga tak berapa lama.


Bercampur dengan suara isakan seorang wanita.


Dan pemandangan yang tertangkap adalah, seorang wanita hamil sedang berada dalam cekalan Devoss, dan seorang pria berada dalam cekalan Putra yang berjalan dibelakang Devoss.


Bukan dicekal lebih tepatnya. Namun diseret oleh Putra, dengan Putra yang mencengkram kuat rambut si pria yang terlentang. Dimana Putra menarik pria tersebut melalui rambutnya dengan kuat, dan menyeret pria yang bertelanjang dada itu secara kasar menuruni tiap undakan tangga.


Lalu Putra menghempaskan pria itu secara kasar ke dekat kaki Damian. Dimana Damian langsung menyeringai menatap pada pria yang nampak syok dengan wajahnya yang sudah babak belur itu saat melihat Damian, setelah sebelumnya dia juga syok saat melihat Putra yang kemudian memukulinya di kamar pria tersebut kala Devoss sudah lebih dulu menyandera wanita hamil yang tadi Devoss cekal.


Damian menurunkan kakinya, sedikit merundukkan dirinya yang tangannya sedang memegang sebuah pistol itu – yang kemudian Damian tempelkan ujung larasnya di bawah dagu pria tersebut, dengan satu tangan Damian yang lain yang menjambak kasar rambut pria yang berada dihadapannya itu, seperti halnya Putra tadi.


“Shocked ( Kaget ), heh?!”


Damian berbicara pada pria yang sedang ia jambak sekaligus ia todongkan senjata.


Lalu pria tersebut berbicara dengan terbata menyebut nama Damian. “Damia – an ... I ( A ) --”


Dak!


“I didn’t tell you to talk! ( Aku tidak menyuruhmu untuk bicara! )”


Damian berucap setelah melayangkan kakinya ke dada pria tersebut yang kemudian terjungkal ke belakang.


“Less, what my family gave to all of you ( Kurang, apa yang keluargaku berikan pada kalian? ), heh?!”


Damian berdiri dari duduknya.


“UNTIL YOU ALL KILLED MY FATHER AND BROTHER?! ( SAMPAI KALIAN MEMBUNUH AYAH DAN KAKAK LELAKIKU?! )”


Bruak!!.


Damian berteriak kesal sambil tangannya yang sudah meraih sebuah asbak kayu ke arah pria yang tadi menggunakan mobil kesayangan ayahnya.


“Then you all took ours with no shamed! ( Lalu kalian mengambil semua milik kami dengan tanpa malu! )”


“It wasn’t us who killed them ( Bukan kami yang membunuh mereka ), Damian!”


Damian menyeringai kemudian.


“It was Jaeden who killed them by sending his men! ( Jaeden lah yang membunuh mereka dengan menyuruh anak buahnya! )”


Pria paruh baya itu berbicara lagi dengan berseru namun dengan wajahnya yang pucat. Damian menyeringai lagi. “And you all didn’t stop it? ( Dan kalian tidak menghentikannya? )....”


“I ( A ) –“


“Of course not ---“


Disaat pria paruh baya itu terbata, Damian segera menyambar untuk lagi berbicara.


“Because this all your son’s plan, and you all know it! ( Karena itu semua adalah rencana anakmu, dan kalian semua mengetahuinya! )” pekik Damian sambil kembali menjambak kuat pria yang bernama Locko tersebut.


Yang tadi sudah sempat berada dekat istrinya yang sedang hamil itu, dan sudah dibuat berlutut seperti tiga orang yang lainnya.


Yang kemudian wajahnya di hempaskan kasar ke lantai oleh Damian, lalu pekikan dari para wanita mengiringi disela isakan keras mereka.


Dimana Locko kembali mengaduh kesakitan, lalu berusaha membela dirinya dan keluarganya di hadapan Damian, yang tentu saja tidak Damian hiraukan.


Damian menegakkan dirinya, dan meletakkan satu kakinya di tengkuk Locko.


“Now, who’s gonna be the first I send to meet my father and brother? ( Sekarang, siapa yang pertama akan aku kirim untuk menemui ayah dan saudara lelakiku? )”


“For God Sake ( Demi Tuhan ) –“ Wanita hamil yang diperkirakan adalah istri dari Locko itu mencoba mengiba pada Damian yang sedang menganiaya keras suaminya itu.


Plak!.


“Akh!”


Dimana satu tamparan langsung Damian layangkan ke pipi istri Locko itu dengan cepat, seiring dengan tubuh si wanita yang terhuyung dalam berlutut nya, seraya ia mengaduh kesakitan.


Dan pekikan pun segera lagi terdengar dari empat orang lainnya yang memohon agar Damian tidak menyakiti istri Locko yang sedang hamil itu.


“Don’t say God’s name while you’re same as dirty as your husband and them! ( Jangan menyebut nama Tuhan sementara kau sama kotornya dengan suamimu ini dan mereka! )”


Damian mengabaikan pekikan dan permohonan ke empat orang yang kembali dicekal tubuhnya, melalui leher mereka masing-masing.


Hanya tiga orang saja yang diperlakukan seperti itu, kala mereka hendak menolong istri Locko yang telah ditampar keras oleh Damian itu. Hingga pipi wanita tersebut memerah, dan sudut bibirnya nampak robek juga berdarah.


Locko sendiri masih dalam posisinya yang telungkup tak berdaya, karena kaki Putra kini menggantikan kaki Damian di tengkuk pria tersebut.


Damian merunduk dan mendekatkan wajahnya pada istri Locko tersebut dan memandang nanar padanya. “I really don’t care if you a pregnant woman. Cause for me, you same as discusting like him and his family ( Aku sungguh tidak perduli jika kau adalah seorang wanita hamil. Karena bagiku, kau sama menjijikkannya dengan suami dan keluarganya ini )”


Damian mencengkram dagu istri Locko tersebut.

__ADS_1


“Because it’s impossible you don’t know who’s the owner of this Mansion ( Karena rasanya tidak mungkin kau tidak tahu siapa pemilik Kediaman ini )”


“......”


“You know it very well. You know how your husband and his family took all of this from mine. And you just enjoy it ( Kau tahu itu dengan baik. Kau tahu cara suamimu dan keluarganya mengambil semua ini dari keluargaku. Dan kau tetap menikmatinya ), Cih!”


Damian berdecih. Lalu ia menyeringai, dimana istri Locko itu tak mampu berkata-kata untuk membela dirinya.


“Well, how about you become the first one, to ‘visit’ my father and brother? ( Kalau begitu, bagaimana jika kau yang duluan, untuk pergi ‘mengunjungi’ ayah dan kakak lelakiku? )”


Disaat dimana Damian mengarahkan pistolnya ke kepala istri Locko itu, lalu menarik pelatuknya, untuk membuka kunci selongsong peluru, dengan satu jari Damian yang sudah siap di tuas pemantik pistolnya tersebut.


Dan dalam masa itu ke empat orang yang menjadi sandera Damian dan rombongan memekik histeris seraya memohon pada Damian agar jangan melakukan apa yang ingin ia lakukan. “I will tell you every people who betrayed to your father, also Kingsley! ( Akan aku beritahukan dengan detail siapa saja yang telah mengkhianati ayahmu, dan juga Kingsley! )”


Locko berseru panik dan ketakutan, dengan mengajukan penawaran.


“But please, don’t kill my wife ( Tapi tolong, jangan bunuh istriku ) ....” lirih Locko.


“Then talk! ( Maka bicaralah! )”


Damian pun menjauhkan pistolnya dari kepala istri Locko.


Kemudian Putra menarik kasar tubuh Locko hingga pria itu berlutut.


Sementara Damian berjalan ke satu arah dimana ada sebuah gramaphone yang berada di atas sebuah meja kayu.


Putra menyuruh Locko untuk mulai bicara, dan pria itu melakukannya. Damian nampak manggut-manggut saja, dengan ia yang memunggungi Locko.


“Also, we will return everything that supposed to be yours ( Juga, kami akan mengembalikan semua yang seharusnya menjadi milikmu ), Damian..” ucap Locko setelah ia berbicara panjang lebar tentang semua informasi yang ia ketahui pada Damian.


“We burried your father and your brother in the properly way at Soms.. so please.. give us mercy ( Kami memakamkan ayah dan kakak lelakimu dengan layak di Soms.. jadi tolonglah.. ampuni kami ) ..” pria paruh baya yang merupakan ayah kandung Locko itu kemudian bersuara dan memohon dengan sangat lirih.


Damian hanya mendengus saja. Ia kemudian memasang sebuah piringan hitam pada sebuah gramaphone yang sedang ditatapnya.


“Please forgive us ( Tolong maafkan kami ), Damian..”


“Hem..” Damian hanya berdehem, dan tak lama sebuah musik mengalun dari corong gramaphone di hadapannya itu.


Baru Damian membalikkan tubuhnya ke arah orang-orang yang berada di ruang tamu kediamannya itu. Tampak sebuah senyuman miring di wajah Damian.


“Mercy ( Ampunan)..”


Damian terdengar berbicara, namun lebih pada sebuah gumaman.


“Just let us go.. we won’t bring anything from here! ( Biarkan kami pergi.. kami tidak akan membawa apapun dari sini! )”


Ayah Locko berbicara dan berseru untuk meyakinkan Damian.


Selain karena suara alunan musik yang terdengar lumayan keras piringan hitam yang Damian setel pada gramaphone, jadi pria paruh baya itu pun menaikkan nada suaranya agar Damian mendengar ucapannya yang berusaha meyakinkan Damian, agar ia dan keluarganya mendapatkan pengampunan dari pemilik tempat tinggal yang selama ini mereka kuasai dan tempati.


“If you say so ( Jika kau berkata begitu )--” Damian berjalan mendekat kepada sanderanya.


“Please, we won’t ever showed up in front of you anymore ( Tolonglah, kami tidak akan pernah lagi muncul dihadapanmu )...”


“Hemm.”


Damian kembali duduk ke tempatnya tadi dengan santai.


Lima orang yang masih berlutut itu menatap penuh harap pada Damian.


Locko telah Putra bangunkan dengan kasar, dan rambut pria itu kembali dicengkram dengan kuat oleh Putra, selain ujung laras pistol Putra tertempel di kepala pria itu.


“Please, Damian...” Satu keluarga yang sedang menjadi sandera itu memohon dengan lirih pada Damian.


“Gar, Richard, Stan...” Damian bersuara. “Give them what they want. Release them ( Berikan apa yang mereka minta. Lepaskan mereka )”


Damian berbicara pada tiga orang yang disebutkannya tadi.


Sementara Putra dan Devoss, masih memegang kuat sandera mereka.


Garret, Richard dan Stan melakukan yang Damian perintahkan.


Mereka melepaskan sandera di tangan mereka. Ketiga orang sandera itu segera berdiri dengan tergesa.


“How about ( Bagaimana dengan )---“


“Just go when you are have a chance for it.”


( Pergilah saat kalian memiliki kesempatan untuk itu ).


Putra segera memotong, saat ayah Locko hendak berbicara pada Damian.


Damian hanya menyungging miring. Dimana Locko bersuara dan menyuruh ayah, ibu serta adik perempuannya untuk pergi saja terlebih dahulu, karena ia yakin ia dapat bernegoisasi dengan Damian.


“Gar! what did I said to you? ( Apa yang tadi aku katakan padamu? )....” Damian bersuara saat ketiga orang keluarga Locko itu menuruti apa yang Locko katakan, berbicara pada Garret.


“Release them! ( Lepaskan mereka! )” sahut Garret dengan berseru seperti halnya Damian dikarenakan musik yang terputar.


“But did not say to let them live, right?! ( Tetapi tidak mengatakan untuk membiarkan mereka hidup, bukan?! )” seru Damian penuh arti.


Dimana Garret memahami maksud Damian tadi, termasuk juga Richard dan Stan.


“NOO!!!!!”


Dan teriakan histeris keluar dari mulut pria bernama Locko berikut istrinya, kala Garret, Richard dan Stan mendaratkan beberapa peluru ke arah tiga orang yang sedang berjalan cepat menuju pintu kediaman keluarga Damian tersebut.


"Eye for eye ( Mata untuk mata )" ucap Damian dingin.


**

__ADS_1


To be continue ..


Terima kasih karena masih setia dan terus lanjut baca.


__ADS_2