LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 427


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“May I try it ( Apa aku boleh mencobanya )?”


Adalah Anthony yang bersuara dan bertanya pada Gadis yang sedang menyesap minuman yang Gadis katakan adalah teh rempah sebelumnya.


Gadis baru saja melepaskan pinggiran cangkir yang sedang ia pegang itu dari bibirnya. Dimana didetik berikutnya Gadis berucap sambil menampakkan gurat penyesalan pada Anthony.


“Aduh, I’m sorry Anthony, Mama drink it all ( Aduh, maaf Anthony, Mama sudah menghabiskannya )”


Kesahan Anthony seketika terdengar, dan Gadis langsung meringis salah tingkah---dan Putra mengulum senyumnya.



Melihat Anthony menaruh minat pada teh yang sudah dihabiskan Gadis, Putra yang sebelumnya sempat bertanya---kembali melontarkan pertanyaan pada istrinya itu. “Apa bisa Anthony meminumnya?” tanya Putra dan Gadis langsung menjawabnya.


“Bisa saja sih.”


Lalu Gadis bicara lagi, dengan dirinya yang kini memandang pada Anthony.


“But this tea is bitter ( Tapi teh ini pahit ), Anthony sayang.”


Dimana ucapan Gadis padanya itu, dengan cepat mendapat tanggapan dari Anthony.


“Then I don’t want ( Kalau begitu aku tidak mau )”



“You can continue what you want to say to papa Putra ( Kamu bisa melanjutkan apa yang ingin kamu katakan pada papa Putra ), Anthony ....” ucap Gadis setelah sempat ia dan Putra mengulum senyum karena ekspresi lucu Anthony saat menyatakan penolakannya untuk tidak jadi mau mencoba minuman yang sebelumnya Gadis minum.


“Oh yes!”


Anthony pun langsung merespons Gadis.



Pertanyaan keluar dari mulut Anthony setelahnya.


“Papa, when you go back here from England, did the bad guy already dead? Because I really wish he is already dead in the horrible way ( saat papa kembali ke sini dari Inggris, apakah orang jahat itu sudah mati? Karena aku sangat berharap kalau dia sudah mati dengan cara yang mengerikan )”


“Anthony ....”


Gadis langsung menggumam agak lirih.


Pasalnya pertanyaan Anthony berikut ucapan bocah tampan itu setelahnya tersebut, selayaknya tidak ditanyakan dan dikatakan oleh bocah seusia Anthony---dalam pandangan Gadis.



Agak terdengar kasar bagi Anthony---menurut Gadis, jika bocah seusianya menanyakan seseorang sudah tiada, namun dengan bahasa yang tidak halus.


Terlebih wajah Anthony nampak datar saja saat bertanya dan berbicara dengan kalimat seperti bocah tampan itu barusan ucapkan pada Putra, yang langsung menoleh pada Gadis dan berkata lewat pandangan matanya kepada istrinya itu yang seolah bilang,


“Tak mengapa.“


Anthony menyimpan dendam.


Lalu Gadis teringat pada salah satu ucapan Putra padanya.


‘Aku prihatin anak seusia Anthony sampai sudah bisa merasa seperti itu ....’


Lalu Gadis membatin.


‘Tapi jika mengingat cerita Putra dan lainnya tentang apa yang sudah Anthony lalui, aku hanya bisa memakluminya.’



“He’s dead already ( Dia sudah mati ) ....”


Suara Putra yang sudah memandang kembali pada Anthony—terdengar.


Sambil Putra mengusap pelan kepala Anthony yang terlihat berbinar matanya—bersamaan sebuah senyuman senang yang terbit di wajah bocah tampan itu.

__ADS_1


“Really ( Benarkah ), Papa??!! ....”


Dimana didetik berikutnya, pertanyaan antusias Anthony langsung terdengar dengan wajah Anthony yang berseri.



“Yes, Anth. He’s dead already and I make it with my own hand. And also saw it with my eyes.”


( Iya, Anth. Dia sudah mati dan aku sendiri yang membuat itu terjadi dengan tanganku. Dan juga melihatnya dengan mataku )


Putra berkata kemudian untuk menjawab pertanyaan Anthony.


“Daddy Dami also saw it ( Daddy Dami juga melihatnya )” sambung Putra.


“Was he suffer before dead? ( Apakah dia menderita sebelum dia mati? ) –“


‘Ya ampun Anthony.’ Gadis langsung saja membatin setelah mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Anthony.


Rasanya ngeri sekali mendengar Anthony berkata seperti itu bagi Gadis. Karena bagi Gadis, pertanyaan itu bermakna jika Anthony mendukung sebuah kekejaman dan bocah itu nampak antusias.



“Of course! ( Tentu saja! )” Putra menjawab langsung pertanyaan Anthony sebelumnya tentang apakah Jaeden—sebagai orang jahat dalam pendapat Anthony, menderita sebelum pria itu mati.


“How? ....”


Anthony kembali bertanya pada Putra.


Bocah tampan itu nampak penuh minat untuk tahu seperti apa papa Putra membuat orang jahat pembunuh kedua orang tuanya bahkan juga hampir Anthony tewas karena ditenggelamkan oleh orang jahat yang Anthony dengar kalau Jaeden adalah nama orang jahat yang begitu Anthony benci itu, menderita sebelum papa Putra kesayangan Anthony itu menghabisi Jaeden.



“After I ( Setelah aku ) ....”


Putra kemudian mulai bercerita.


“Daddy Dami made him as an punching bag at first before I broke his leg ( Daddy Dami lebih dahulu membuatnya menjadi samsak tinju sebelum aku mematahkan kakinya ) ....”


Gadis dapat memahaminya secara keseluruhan cerita Putra tersebut yang walaupun keseluruhannya menggunakan bahasa Inggris—karena Putra bercerita dengan tanpa tergesa.


“I also cut his hand ( Aku juga memotong tangannya ) ....”


‘Ya Tuhan aku benar – benar merinding mendengarnya. Tapi Anthony malah terlihat senang.’


Monolog Gadis dalam hatinya yang ngeri mendengar cerita Putra tentang bagaimana suaminya itu menyiksa seseorang dan membunuhnya.



“Thank you, Papa ....”


Anthony berucap sambil menangkup wajah Putra setelah Putra menutup ceritanya tentang bagaimana ia telah mentutaskan untuk menghilangkan pembunuh Rery dan istrinya, dari muka bumi.


“For making that bad guy paid what he did to daddy Rery and mommy Madelaine. Thank you so much ( Untuk membuat orang jahat itu membayar apa yang sudah dia lakukan pada daddy Rery dan mommy Madelaine. Terima kasih banyak ), Papa ....”


Dimana ucapan Anthony, jadi membuat suasana di dalam kamar Putra dan Gadis yang diselimuti keharuan.


“I love you, Papa Putra .... I love you as same as I love daddy Rery ( Aku menyayangimu, Papa Putra .... Aku menyayangimu sebagaimana aku menyayangi daddy Rery ) –“


‘Oh Anth ....’ haru Putra dalam hatinya. Yang membalas pelukan Anthony, yang setelah berucap barusan langsung memeluk Putra. “I love you too, My Boy ....“ ucap Putra penuh sayang pada Anthony kemudian.


Gadis mengulas senyuman haru melihat interaksi Anthony dan Putra saat ini.


“No more crying from now on? Because we will live happy after now and forever ( Jangan menangis lagi mulai sekarang? Karena kita akan hidup bahagia seterusnya hari ini dan selamanya )” ucap Putra lagi yang sudah mengurai pelukannya dan Anthony, sambil Putra menghapusi air mata Anthony dan dibantu juga dengan Gadis.



“I promise I won’t be a whimp boy because I want to grow up as a strong man like you ( Aku berjanji aku tidak akan menjadi anak yang cengeng karena aku ingin tumbuh menjadi pria kuat sepertimu ), Papa.”


Anthony menjawab ucapan Putra selepas Putra dan Gadis selesai menghapusi air mata Anthony yang sedikit mengalir dari pelupuknya.


Dimana Putra sontak tersenyum bersama Gadis, selepas mendengar ucapan Anthony yang barusan. Namun tak lama Putra dan Gadis tertawa setelah mendengar kelanjutan dari ucapan Anthony.


“But don’t be too dramatic, Papa .... we’re human. And human don’t live forever. It’s an oology, don't you know? ( Tapi jangan terlalu dramatis, Papa .... kita ini manusia. Dan manusia tidak hidup selamanya. Itu ada dalam ilmu pengetahuan, memang Papa tidak tahu? ) ....”


“Haha! Oh my .... how can I forget it? ( Ya ampun .... bagaimana aku bisa melupakannya? )” kekeh Putra. Lalu Anthony dan Gadis juga ikut terkekeh.

__ADS_1


Selanjutnya, Putra menanyakan kembali pada Anthony dan Gadis, apakah mereka menginginkan sesuatu. Karena jika tidak, Putra menyarankan keduanya untuk beristirahat saja sampai waktu makan malam tiba.


Dan baik Anthony ataupun Gadis, memilih untuk beristirahat sejenak saja. Berleha-leha di atas ranjang pribadi Putra dan Gadis.


Namun pada akhirnya, Anthony dan Gadis tidak hanya berleha-leha.


Melainkan jatuh tertidur.



Putra tidak tertidur seperti Anthony dan Gadis.


Dimana Putra memang tidak mengantuk. ‘Better I go to the den to check those things that Garret has been worked ( Sebaiknya aku ke ruang kerja untuk memeriksa apa saja yang sudah Garret selesaikan ) ....’


Putra yang sudah beringsut dari atas ranjangnya dan Gadis itu bermonolog dalam hatinya, selepas ia memperhatikan dengan gemas dua orang yang dicintainya yang sudah tertidur itu. Dimana tak lama kemudian, Putra berbalik untuk keluar dari kamarnya dan Gadis tersebut lalu pergi ke ruang baca.


Namun baru setengah berbalik, Putra kemudian menoleh ke atas nakas di samping tempat tidur pada sisi Gadis. ‘ I think I’m going to try this tea ( Aku rasa aku ingin mencoba teh ini )’ batin Putra sambil meraih cangkir bekas Gadis, lalu ia bawa serta cangkir tersebut saat dia memantapkan langkah untuk keluar dari kamarnya dan Gadis.



“Not this one ( Bukan yang ini ) ....”


Putra sudah berada di dapur villa yang kini sepi keadaannya.


Pria itu sedang membuka tempat penyimpanan minuman kering.


Dimana Putra mengendusi beberapa kemasan teh yang ada di stoknya di tempat penyimpanan tersebut—mencari teh yang sebelumnya di minum Gadis dan belum Putra temukan teh dengan aroma yang sama dengan sisa teh dalam cangkir bekas Gadis yang Putra bawa bersamanya.


Lalu kegiatan Putra terhenti saat kehadiran salah seorang asisten rumah tangganya.



“Terima kasih, Ibu Marsih ....” ucap Putra santun pada satu asisten rumah tangganya itu, selepas mereka bercakap kecil setelah dipastikan bahwa teh yang dicari Putra tidak ada dalam jajaran teh stok yang ada di dapur villa Putra dan keluarganya itu.


Dan ucapan terima kasih Putra pada salah seorang asisten rumah tangga villa itu, Putra katakan setelah Putra memintanya untuk membuatkan kopi lalu mengantarnya ke ruang kerja utama villa. “Sama – sama, Tuan.” dan asisten rumah tangga yang biasa dipanggil Ibu Marsih oleh Putra dan keluarganya itu pun langsung menjawab santun ucapan terima kasih Putra padanya.


“Jangan diambil.”


Suara Putra lalu terdengar, setelah Ibu Marsih permisi padanya untuk mengambil cangkir yang ada di dekat salah satu majikannya itu.


“Tapi ini kotor, Tuan ....” Ibu Marsih lantas berujar dengan hatinya yang sebenarnya sedikit merasa heran pada Putra yang tidak memperbolehkannya mengambil cangkir yang ingin Ibu Marsih segera cuci itu.


Dimana sebuah senyuman tipis namun berkesan ramah terbit di wajah Putra, dan ia segera menyahut setelahnya. “Tak apa .... Aku ingin mencari tahu, teh macam apa ini.“


Sambil Putra melirik ke dalam cangkir bekas Gadis yang kini sudah ia pegang, lalu undur diri dari hadapan Ibu Marsih tak lama kemudian.



Putra kini sudah berada di ruang kerja utama villa, dimana tidak ada orang di sana.


‘Smells more like foliage than spices ( Aromanya lebih kepada dedaunan daripada rempah – rempah )’


Putra yang sudah mendudukkan dirinya di kursi yang berada pada meja kerja besar dalam ruang kerja utama villa itu bermonolog sambil kembali mengendusi ke dalam cangkir bekas Gadis yang ia pegang dan kini sudah Putra dekatkan ke hidungnya itu.


‘It’s really more taste like foliage marinade than seasoning tea ( Ini lebih kepada seperti rendaman dedaunan daripada teh rempah )’


Monolog Putra lagi dalam hatinya, setelah ia mencicipi sisa teh Gadis dengan memasukkan terlebih dahulu jari telunjuknya ke dalam sisa teh dalam cangkir bekas Gadis itu.


Selanjutnya Putra yang hanya sendirian dalam ruang kerja utama villa itu terdiam, dimana ia sedang berpikir.


‘I remember I’ve tried a lot of food and drinks with those kinds of spices .... But I think I never taste spice like this. And there’s no stock of this tea in the kitchen storage .... kind of suspicious ( Aku ingat aku telah mencoba banyak makana dan minuman yang memiliki cita rasa rempah di dalamnya .... Tetapi aku tidak pernah merasakan yang seperti ini. Dan tidak ada persediaan teh seperti ini di dalam lemari penyimpanan dapur .... mencurigakan ) ....’


Putra menyandarkan dirinya di sandaran kursi kerja kemudian, setelah ia bermonolog.


‘Where I put that? ( Dimana aku meletakkannya, ya? )’ Putra lalu bertanya sendiri dalam hatinya, ketika ia teringat pada suatu benda.


Sambil Putra melirik ke arah sebelah kanannya, dimana laci meja kerja ada di sana. Kemudian Putra merundukkan tubuhnya dan hendak memeriksa beberapa laci meja kerja di dekatnya itu.


Tok .... Tok ....


Namun apa yang ingin Putra lakukan terhenti ketika suara ketukan pintu ruang kerja tempatnya berada itu terdengar.


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


To be continue ......

__ADS_1


__ADS_2