
Happy reading .....
***************
Indonesia ...
“Now let’s go to sleep ( Sekarang ayo kita tidur )” Ada Putra yang bersuara, berbicara pada bocah tampan kesayangannya yang ada di atas pangkuannya.
“Ah Papa, this is christmas night ( Ah Papa, ini kan malam natal )”
Dimana bocah tampan yang bukan hanya kesayangan Putra itu langsung mencebik, menyergah ucapan Putra yang menyuruhnya untuk segera tidur.
Yang mana sergahan Anthony itu langsung ditimpali Putra.
“So? ( Lalu? )—“
“Ish Papa... Have you forget if I can stay late every christmas night, when all we’re still in Ravenna? ( Ish Papa... Apa Papa lupa jika aku boleh terjaga sampai larut saat malam natal, waktu kita masih di Ravenna? )...” balas Anthony.
“Hoaamm— But I already feel sleepy ( Tetapi aku sudah mengantuk )” tukas Putra.
‘Cih! That’s just his ploy to take Gadis into their room for sure! ( Cih! Itu pasti hanya akal – akalannya saja untuk membawa Gadis ke kamar mereka! )’
Dimana Putra yang menguap dan bilang jika ia mengantuk itu langsung mendapat sahutan yang berupa cibiran sinis di hati para saudara Putra yang paham sekali gelagat pura – pura pria dingin itu pada Anthony.
Dimana Putra yang dingin itu, kini sudah mengerti kegenitan setelah mengenal Gadis, ditambah sudah memperistri si mantan suster cantik tersebut.
“Liar Papa ( Dasar Papa pembohong )”
Putra sontak mengangkat satu alisnya ketika Anthony melontarkan cibiran padanya itu.
“Excuse me?...” kata Putra kemudian. “You dare to say that I’m a liar? ( Kau berani mengatakan jika aku seorang pembohong? )”
Sambil Putra memajukan wajahnya lebih dekat ke wajah Anthony.
Sekedar akting saja, dan Anthony tahu itu ---- makanya bocah tampan itu malah tersenyum lebar alih – alih takut.
🌻
“Of course I dare, because it’s true... I know you’re not sleepy yet ( Tentu saja aku berani, karena itu benar... aku tahu Papa itu belum mengantuk )—“
“And how do you know that? ( Dan bagaimana kau mengetahuinya? )”
Putra menyelidik tak serius.
“Because your eyes still looks very clear.”
( Karena mata Papa masih terlihat jernih )
Gantian Anthony yang nampak sedang menelisik Putra, dimana Putra kemudian tersenyum lagi.
“And because I’m a great man, I’m sure know if there’s someone lie to me. Especially you Papa, because I know you that well ( Dan karena aku pria yang hebat, aku pasti tahu jika ada yang sedang berbohong padaku. Terutama dirimu Papa, karena aku mengenalmu dengan sangat baik )”
Putra lalu tersenyum geli dan lainnya terkekeh.
__ADS_1
🌻
“Papa!—“
“Yes, Anth?...”
“Is that piano could be played? ( Apa piano itu dapat dimainkan? )...”
Anthony menunjuk sebuah piano yang ada di sudut dekat jendela dalam ruangan tempatnya berada bersama keluarganya itu.
“I think yes ( Sepertinya iya )...”
“But it wasn’t the old piano at my house in Ravenna? ( Tapi bukankah itu piano lama yang ada di rumahku yang berada di Ravenna? )”
“It is ( Iya memang )”
Putra mengiyakan pertanyaan Anthony.
“Daddy Rery said it’s still okay, so he told me to bring it here because the new one is quite big ( Daddy Rery mengatakan jika itu masih baik kondisinya, jadi dia memintaku untuk membawanya ke sini karena yang baru itu cukup besar )”
Lalu Putra sedikit menerangkan.
🌻
“Play it ( Mainkan itu ), Papa!”
Anthony loncat dari pangkuan Putra, lalu langsung meraih tangan Papa angkat kesayangannya itu.
“Hem?”
( Papa kan sering bermain piano untukku dulu, bergantian dengan Daddy Rery dan Mommy Madelaine )
“Kamu bisa bermain piano?” Gadis spontan bertanya dengan tatapan tak percaya pada Putra selepas mendengar ucapan Anthony.
“Huh, aku bahkan piawai memainkannya. Apa yang aku tidak bisa?...”
Putra menjawab pongah pertanyaan Gadis, dimana yang bersangkutan langsung mencebik sebal.
“Menyesal aku bertanya...” ucap Gadis dalam sebalnya. “Lupa, jika aku punya suami yang kadar kesombongannya tinggi sekali—“
🌻
Gadis antara percaya tidak percaya jika Putra piawai dalam memainkan piano seperti yang disombongkan suaminya itu padanya. Tapi saat Putra mengiyakan Anthony yang terus – terusan memaksa Putra yang pada akhirnya berdiri juga setelah Anthony menarik – narik tangannya, Gadis jadi penasaran juga. Terlebih, selinting cerita yang mengiyakan jika Putra memanglah dapat bermain piano, membuat Gadis jadi tidak sabar ingin melihat Putra memainkan satu alat musik yang biasanya hanya dapat dimainkan oleh orang dalam kalangan tertentu saja, mengingat harga piano itu tidak murah.
“Bernyanyilah untuk kami, Gadis—“
“Aku tidak menguasai lagu barat, Vader. Dan Putra juga pasti tidak tahu lagu – lagu negara ini—“
“Kalau begitu, biar aku yang bernyanyi untukmu.”
“Kamu?... bisa bernyanyi juga, Putra?”
“Sudah aku bilang tidak ada yang tidak dapat aku lakukan, kecuali mengalami period, hamil dan melahirkan.”
__ADS_1
“Ya sudah iya, iya... suamiku memang yang paling hebat...” ucap Gadis, setelah memutar bola matanya malas.
Putra terkekeh, lalu langsung menduduki kursi piano dan membuka tutup tuts piano yang mengkilat karena memang selalu dibersihkan setiap hari oleh para asisten rumah tangga dalam kediaman Putra dan keluarga angkatnya itu secara bergantian.
“You don’t want to sit here? ( Kau tidak mau duduk disini? )...”
Putra bertanya pada Anthony karena anak angkat kesayangannya itu yang paling antusias memintanya bermain piano.
“No, I want to dance ( Tidak, aku ingin menari )—“
“Then what song? ( Lalu ingin lagu apa? )” tukas Putra seraya bertanya.
“Any ( Apa saja )” jawab Anthony, lalu Putra nampak berpikir.
“Mary had a little lamb?... or, Twinkle – twinkle little star?—“
“Ck! I’m not a baby anymore ( Aku bukan bayi lagi ), Papa,” sungut Anthony dan Putra langsung tersenyum geli bersama orang dewasa lainnya.
“Heemm...”
Putra nampak berpikir lagi.
Kemudian ia meletakkan tangannya di atas tuts piano yang Putra lalu tekan sembarang, untuk mengingat nada.
“Alright then...” gumam Putra, dengan kedua tangannya yang kemudian sudah nampak siap untuk memainkan piano yang ada di hadapannya itu. “Bersiaplah untuk jatuh cinta lagi padaku, Gadis.”
“Buktikan—“
“I dedicate this song, for you my lovely wife ( Aku persembahkan lagu ini, untukmu istriku sayang )”
Putra berucap sambil memandang dan tersenyum pada Gadis, sebelum ia memainkan tuts piano yang kemudian mengalunkan irama romantis.
“Wise... man... say,”
Kemudian setelahnya, suara Putra terdengar mulai mengalun lembut seiring permainan pianonya.
“Only fools, rush in... but I can’t help falling in love with you...”
“Ya ampun, Putra...”
Gadis menggumam terpesona. Yang sungguh tak Gadis sangka, jika suaminya yang dingin di awal Gadis mengenalnya dan selalu kaku saja wajahnya, ternyata bisa bermain piano dan juga merdu sekali suaranya.
“Take, my... hand. Take my whole life too... for I, can’t help, falling in love with you...”
Seromantis lantunan lagu yang Gadis paham artinya, romantis juga Putra di mata Gadis sekarang.
Merdu suara dan piawainya permainan piano Putra, sungguh membuat Gadis merasa--- hal itu mencipta aura romantis nan manis yang Putra kirimkan untuknya dengan menyertakan tatapan hangat dari sorot mata Putra.
Dan ya, Putra benar.
Gadis rasanya jatuh cinta pada Putra untuk yang kedua kalinya. Namun beberapa menit kemudian, Gadis merasa jengah pada Putra untuk yang kesekian kalinya, bahkan ratusan -- ketika setelah selesai bermain piano sambil bernyanyi, Putra lalu berbisik padanya.
"Jangan lupa 'hadiah' nya."
__ADS_1
🌻🌻
To be continue...