LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 355


__ADS_3

Happy reading....


Inggris .....


Putra kini sedang berdiri di hadapan beberapa orang yang merupakan para pelayan di mansion milik keluarga almarhum Rery.


Namun para pelayan itu bukanlah para pelayan yang Putra kenal sebelum ia bertolak ke Italia bersama almarhum Rery berikut istri Rery yang kini juga sudah tiada, serta orang – orang yang memilih setia pada Rery.


“I --- I’m sor, ry --- Sir, I --- I, just like all my partners here --- we’re all been afraid ( Sa --- Saya mo, hon maaf --- Tuan, Sa --- ya, sama seperti rekan – rekan saya disini --- kami semua merasa takut ) –“


“You’re all supposed to ( Memang sudah seharusnya seperti itu )” sambar Yona dengan nada suara dan ekspresi wajah yang dingin, menatap pada perwakilan para pelayan di mansion milik Kingsley Smith itu.


Sedari beberapa saat yang lalu, Putra menginterogasi para pelayan itu sendiri untuk melihat kejujuran orang – orang tersebut.


Dimana wajah kesemua orang yang sekarang ini katakanlah dipekerjakan Jaeden itu, sangat asing bagi Putra.


“Collect all of the identity of your partners include you and ( Kumpulkan identitas semua rekanmu termasuk dirimu dan ) –“


“I --- beg your pardon, Sir ( Mohon --- maafkan saya, Tuan )..”


“How dare you interrupt ( Beraninya kau menyela bicara ) –“


“Yo...”


Putra bersuara.


Menyergah sekaligus mencegah Yona untuk melangkah maju dengan wajahnya yang nampak tak senang.


“Never mind ( Biar saja ), Yo.”


Putra merentangkan satu tangannya ketika Yona hendak maju sambil ia menggeram dan menatap tajam pada pria yang mewakili rekan – rekan sejawatnya untuk bicara, kala pria berkulit gelap itu memotong ucapan Putra.


Yona yang tadinya ingin memberi pelajaran pada pria tersebut yang ia anggap lancang pun akhirnya menghentikan urung melakukan hal yang tadinya ingin Yona lakukan pada perwakilan para pelayan Jaeden tersebut.


“Now continue what you want to say to me before ( Sekarang lanjutkan apa yang tadi ingin kau katakan padaku )” ucap Putra yang sudah kembali beralih ke perwakilan para pelayan Jaeden dalam mansion Kingsley Smith itu


***


Dia yang menjadi juru bicara rekan - rekan sejawatnya, menjawab lugas setiap pertanyaan Putra meski suaranya tergagap sesekali. Efek rasa takut yang dirasakan oleh orang tersebut karena aura Putra, selain banyaknya anak buah yang dimiliki Putra.


Yang mana sepengetahuan mereka para pelayan yang dipekerjakan oleh Jaeden itu setelah Kingsley Smith meninggal dunia, majikan mereka tersebut --- Jaeden. Tidak sampai sebanyak itu anak buahnya.


Jadi wajar saja jika pria yang sedang mewakili rekan - rekan sesama pelayannya itu, dirundung rasa takut pada Putra.


***


Putra mendengarkan seksama penjelasan yang dikatakan oleh pria yang mewakili keseluruhan rekan sesama maid alias pelayannya di mansion Kingsley Smith, dimana kebanyakan dari mereka nampak seperti bukan orang Inggris.


Sambil juga memperhatikan setiap orang yang merupakan pelayan dimana kesemuanya adalah maid – maid baru, dan tidak ada satupun maid lama yang ada diantara mereka.


“Where are the former maids? ( Dimana para pelayan yang lama? )” tanya Putra setelah perwakilan beberapa maid yang bagi Putra adalah orang – orang baru itu tandas memberikan penjelasannya yang Putra nilai adalah penjelasan sekaligus pengakuan yang jujur.


Dan jawaban tidak tahu Putra dapat dari si perwakilan maid yang sebelumnya menanyakan satu – satu rekannya perihal pertanyaan Putra tentang para maid lama. Putra tidak langsung menyahut untuk menanggapi jawaban tidak tahu itu.

__ADS_1


“It’s true, Sir .. we really don’t know about the former workers before .. not even one maid we’re all seen while we brought here ( Itu benar, Tuan .. kami sungguh tidak tahu tentang para pekerja sebelumnya .. bahkan tidak ada satupun pelayan yang kami semua lihat saat kami dibawa kesini ) ..”


“Heemm ..”


Putra lalu berdehem samar.


Sambil Putra memperhatikan lagi satu – satu orang yang dipekerjakan secara ilegal sebagai maid di mansion milik Kingsley Smith oleh Jaeden.


Dimana diantara beberapa orang itu ada juga dua orang anak kecil yang seusia Anthony dan dua orang remaja.


“Actually I still have some more questions to ask to all of you ( Sebenarnya aku masih ingin menanyakan beberapa hal pada kalian )” ucap Putra.


Dimana orang – orang yang sedang duduk bersimpuh dengan kedua kaki mereka yang terlipat kebelakang itu menatap dengan mengiba pada Putra.


“But my time is so narrow now ( Tapi waktuku sangat terbatas sekarang ini )” ucap Putra lagi.


“Pl --- please, don’t kill us, Sir ( To --- tolong, jangan bunuh kami, Tuan )..” lalu suara lirihan yang bercampur isakan permohonan terdengar bersahutan.


“Heemm..”


Kembali Putra berdehem samar.


“We really don’t know who is Mister Jaeden and his wife are .. They’re even never gave us any payment since all of us worked here, also some of us got some physical abuse from them ( Kami sungguh tidak tahu siapa itu Tuan Jaeden dan istrinya .. Mereka bahkan tidak pernah membayar kami selama kami bekerja di sini, dan juga beberapa kami kerap mendapatkan siksaan fisik dari mereka ) ..”


“Please .. Sir .. have a mercy .. don’t kill us ( Mohon .. Tuan .. berbelas kasihlah .. jangan bunuh kami ) ..” lirih salah seorang diantara para maid baru tersebut setelah satu rekannya kembali memberikan keterangan pada Putra dengan melirih dan memelas. Dimana satu orang yang barusan berbicara ini memeluk salah satu bocah perempuan dari dua yang Putra lihat, dimana bocah perempuan itu sudah menangis sedari tadi.


Putra menghela nafasnya sedikit panjang.


“As I said, I still have some more questions to ask to all of you ( Seperti yang aku katakan tadi, sebenarnya aku masih ingin menanyakan beberapa hal pada kalian )” ucap Putra kemudian.


“....”


“....”


“But I’m afraid I also can’t let all of you go ( Tapi sayangnya aku juga tidak dapat membiarkan kalian semua pergi )”


***


“Yo –“


“Yes.”


Yona menyahut pada Putra yang memanggilnya.


Dimana Putra kemudian menggerakkan kepalanya kepada Yona untuk sedikit menyingkir dari tempat mereka dan berbicara secara pribadi.


“Then what are you going to do with them after?”


“( Lalu apa yang akan kau lakukan pada mereka setelahnya? )”


Yona bertanya setelah Putra mengatakan padanya untuk melakukan sesuatu pada orang – orang yang merupakan para pelayan baru di mansion Kingsley Smith, dimana mereka semua dipekerjakan oleh Jaeden setelah dibeli dari seseorang yang memperjualbelikan manusia secara ilegal.


“Later I will think about itu, you know we don’t have much time now ( Akan aku pikirkan soal itu nanti, kau tahu jika kita tidak punya banyak waktu sekarang )”

__ADS_1


Yona pun langsung mengangguk setelah mendengar jawaban Putra.


“Well, excuse me then ( Kalau begitu, aku permisi )” ucap Yona kemudian.


“But still, even we hold them inside the dungeon, told our men that you choose to watch them for giving those people proper food.”


“( Namun tetap, meskipun kita menahan mereka di penjara bawah tanah, katakan pada orang kita yang kau pilih untuk mengawasi mereka agar tetap memberikan orang – orang itu makanan yang layak )”


“Okay. I'll try ( Oke. Akan aku usahakan )”


Yona mengangguk paham.


“Dank je , Yo.”


“Geen dank, Putra.”


Yona menjawab ucapan terima kasih sebelum ia undur diri untuk membawa para pelayan ilegal yang dipekerjakan Jaeden ke sebuah penjara bawah tanah yang memang ada di mansion milik keluarga almarhum Rery itu dari sejak bertahun – tahun yang lalu.


Penjara bawah tanah yang memang sudah ada dalam mansion tersebut bahkan dari sebelum Rery lahir ke dunia.


Dimana dulunya penjara tersebut memang dijadikan tempat untuk menyimpan budak oleh para pendahulu Rery dalam keluarga Kingsley Smith yang memang sejak lama sudah besar namanya di Inggris.


Namun saat ayah Rery berdiri sebagai pewaris, penahanan budak sudah tidak ada dan para pekerja yang bekerja di dalam mansion tersebut adalah pekerja legal semua.


Kemudian penjara bawah tanah tersebut hanya digunakan untuk menginterogasi atau bahkan mengeksekusi orang – orang yang dianggap sebagai pengganggu oleh ayah kandung Rery.


“What?...” Putra sontak bertanya pada Accursio yang nampak sedang tersenyum aneh di mata Putra saat ia tak sengaja melirik pada salah satu saudaranya dalam asuhan Ramone itu.


“Just thinking, seems that I Nero Fuoco is becoming Grey Fire now ( Hanya berpikir, sepertinya Sang Api Hitam kini sudah menjadi Api Abu – Abu sekarang ), hem?” ujar Accursio sambil sedikit tersenyum geli.


Dimana Putra terkekeh kecil karenanya, karena paham maksud ucapan Accursio yang secara tidak langsung mengatakan jika Putra yang dulunya tak punya belas kasih pada siapapun dalam lingkup kehidupan musuh – musuh Rery ataupun Ramone --- kini sedikit melembut.


“Wrong ( Salah )” sahut Putra. “It becomes a Warm Fire ( Yang benar adalah menjadi Api Yang Hangat )”


Putra menambahkan.


“But just a little bit ( Tapi hanya sedikit saja )”


Lalu Putra dan Accursio sama – sama terkekeh.


Sebelum pada akhirnya Putra tersenyum penuh arti.


“A woman with a very soft heart makes me ( Seorang wanita dengan hati yang sangat lembut yang telah membuatku seperti itu )”


***


( Dank Je = Terima kasih – informal  )


( Geen dank = Sama – sama )


---- Bahasa Belanda ----


******

__ADS_1


To be continue ...


Terima kasih masih setia baca ...


__ADS_2