LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 122


__ADS_3

Happy reading .....


🔲🔲🔲🔲🔲🔲🔲🔲


Putra menggerakkan jarinya kala melihat Gadis yang menyusulnya ke ruang kerja.


Gadis pun menuruti maksud Putra agar dia masuk dan mendekat pada pria yang sedang berbicara di telepon itu.


“Sudah siap?” Tanya Putra selepas ia selesai berbicara di telepon dan meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya.


Gadis pun mengangguk.


“Apa kamu ingin bertanya dengan siapa aku berbicara di telepon?” Tanya Putra pada Gadis yang sudah mendekat padanya itu.


Gadis menggeleng.


“Ingin tahu sih, tapi aku tidak mau bertanya karena aku tidak mau dianggap jika aku adalah orang yang ingin tahu urusan orang lain ....”


“Kamu ini ....”


Putra berdiri dari kursi kerja tempatnya duduk, lalu mengusap pelan kepala Gadis.


“Aku ini bukan orang lain, Gadis ....”


“Oh iya, aku lupa....”


Gadis menarik sudut bibirnya keatas.


“Kamu kekasihku kan ya?” Gadis membentuk raut wajah yang menggemaskan.


Dan Putra mendengus geli karena.


“Calon suamimu!” Tukas Putra.


Gadis terkekeh kecil. “Jadi karena kamu adalah calon suamiku, berarti aku boleh tahu setiap urusanmu?”


“Tentu saja” Jawab Putra cepat.


“Baiklah....”


“Aku baru memperhatikan ini ....”


Putra mengangkat satu tangan Gadis.


“Kenapa?”


“Kamu masih memakainya ternyata ....”


Putra memperhatikan sebuah cincin yang tersemat di jari manis Gadis.


“Memang selalu aku pakai ....” Tukas Gadis. “Tidak pernah aku lepas, selain jika aku mandi ....”


Putra menarik sudut bibirnya ke atas.


“Bahkan tidur pun aku pakai ....”


“Kamu pakai juga saat bekerja?”


“Ya iya! Aku memakainya saat kamu membawaku dari JP semalam. Jadi seharusnya kamu tidak perlu marah-marah, karena setiap orang yang memperhatikan cincin ini ada di jariku, aku yakin mereka pasti tahu jika aku sudah bertunangan ....”


Gadis berbicara sambil merungutkan wajahnya.


“Bahkan aku bangga memakainya, tahu?....”


Putra semakin melengkungkan bibirnya keatas.


“Terima kasih ya?”


“Iyaa....” Sahut Gadis. “Makanya jangan langsung marah-marah ....”


“Yaaa namanya pria yang sedang cemburu.... Jadi harap dimaklumi saja ....”


“Ya.... Ya....”


Gadis manggut-manggut sembari mengerucutkan bibirnya.


Cup!.


Membuat Putra tak tahan untuk mengecup bibir yang sedang mengerucut itu.


“Ih! Kamu ini! Selalu saja suka mencium sembarangan!”


“Salahkan bibirmu yang menggoda itu!” Goda Putra.


“Memang otak kamu saja yang mes*m!”


Putra pun tergelak.


Cup!.


“Aku mencintaimu,” Ucap Putra setelah mencium dengan lembut bibir Gadis yang kemudian melengkungkan bibirnya keatas.


“Akupun begitu”


Gadis mengalungkan tangannya di leher Putra yang duduk landai di meja kerja dalam ruangan tersebut dengan kedua tangannya yang kini berada di pinggang Gadis.


“Apanya yang begitu?” Ucap Putra sembari menarik Gadis agar lebih rapat dengannya.


“Mencintaimu....” Balas Gadis. "Sangat ...."


Putra menarik lagi sudut bibirnya keatas.


Untuk sejenak Putra dan Gadis saling menatap teduh lewat pancaran netra keduanya.


Hingga kemudian dua pasang bibir itu sudah bertaut, kemudian bergerak lembut dan teratur.


Tenggelam dalam suatu momen kesyahduan dan hampir saja akan berlanjut ke sebuah ciuman yang lebih menuntut, jika saja ....


“Ehem! Ehem!....” Arthur tidak datang ke ruang kerja dan mengganggu kesyahduan antara Putra dan Gadis.


**


Berbeda dengan Putra yang nampak geli dan sesekali terkekeh, Gadis seringnya menundukkan kepala setelah Arthur memergoki dirinya dan Putra sedang berciuman di ruang kerja dalam kediaman Putra.  Dan sesekali juga, Gadis mencubit pinggang Putra karena pria itu memang terus saja meledeknya.

__ADS_1


Putra sudah memboyong Gadis masuk kedalam mobil yang akan ditumpanginya untuk kembali ke Villa miliknya dan keluarga yang berada di luar kota itu.


Arthur juga ikut bersama Putra dan Gadis menuju ke Villa dalam mobil yang sama dengan kedua sejoli itu tumpangi dengan seorang anak buah Putra yang menyetir.


“Putra....”


Pada akhirnya Gadis pun bersuara, sesaat setelah mobil yang ia tumpangi itu mulai melaju dari tempatnya.


“Hemm?”


“Mengenai pekerjaanku ....”


“Jika aku tidak salah dengar, tadi kamu bilang sudah mengerti kalau aku tidak akan membiarkanmu kembali ke Pub....”


“Bukan! Bukan soal pekerjaanku yang di JP. Tapi di Saint....”


“Maaf, tapi kamu pun harus keluar dari sana”


Putra langsung memberikan jawaban tegas namun tak keras.


Gadis menghela nafasnya kemudian menanggapi ucapan Putra.


“Begitu ya?....” Gadis tertunduk lesu. Dimana Putra langsung membawa kepala Gadis bersandar di dadanya.


“Aku sudah memohon maaf karena sudah terlalu mengatur hidupmu. Tapi sudah kukatakan juga alasannya padamu bukan?.... Jika kamu merasa aku mengekangmu, aku pun mohon maaf untuk itu.... Tapi itu sudah menjadi keputusanku, karena kamu akan segera menjadi istriku ....”


Gadis tak menyahut.


“Kamu tidak perlu bekerja, karena hidupmu tidak akan kekurangan bersamaku....”


“Bukan soal itu Putra ....” Potong Gadis.


Gadis mengangkat kepalanya dari dada Putra.


“Iya aku yakin, hidupku akan terjamin bersamamu. Tapi aku bekerja di dua tempat untuk sebuah alasan, selain bekerja sebagai perawat aku jalani sejak aku merantau ke Jakarta....”


“Katakan kalau begitu.... Apa alasanmu?....” Potong Putra.


Gadis tak langsung menjawab. Ia melirik ke arah bagian kursi depan mobil.


“Katakan saja. Arthur dan Ray adalah orangku juga. Dan mereka yang juga yang akan membantuku untuk menyelesaikan beberapa urusan....”


Putra menyadari kesungkanan Gadis.


“Jadi, katakan saja tak perlu sungkan pada Arthur dan Ray”


Gadis pun mengangguk pelan. “Aku perlu banyak uang ....”


“Apa kamu berhutang pada seseorang? ....” Potong Putra.


“Tidak seperti itu sih .... Tapi anggaplah begitu....”


“Bicara yang jelas Gadis, aku kurang memahami maksudmu ....”


Gadis menghela nafasnya sejenak. “Yaaaa anggaplah begitu. Anggaplah aku punya hutang pada seseorang, jadi aku sampai bekerja di dua tempat....”


“Berapa banyak?”


“Tabunganku mungkin....”


“Banyak sekali ....” Gadis menjawab dengan pelan.


“Katakan saja berapa nominalnya?”


“Entah ....” Sahut Gadis dan Putra mengernyitkan dahinya.


“Kamu membuatku bingung Gadis,” Kata Putra.


“Ya aku tidak tahu sudah berapa sekarang jumlah yang harus aku bayarkan selama kurun waktu bertahun-tahun ini, aku hanya mengira-ngira harga sebuah perkebunan dan sebuah rumah berikut bunganya setelah kurang lebih lima tahun ini ....”


“Apa kamu berhutang pada seorang rentenir?”


Gadis mengangguk lemah dan Putra mendengus pelan.


“Mengapa kamu sampai berhutang pada seorang rentenir Gadis?”


“Sebenarnya bukan aku yang berhutang secara langsung....”


“Orang tuamu?”


“Ibu tiriku dan putrinya....”


“Ibu tiri mu dan putrinya yang berhutang pada rentenir, mengapa harus kamu yang repot membayarnya?” Kata Putra seraya bertanya.


“Ibu tiriku dan Putrinya langsung menguasai harta ayah, termasuk sepetak perkebunan dan rumah kami setelah ayah meninggal. Aku tidak tahu bagaimana, tapi setelah ayah meninggal, mereka menunjukkan jika semua harta ayah sudah atas nama Ibu tiriku dan putrinya itu ....”


“Lalu mereka mengusirmu dan memintamu menebus dengan membeli harta keluargamu sendiri, begitu?”


“Bukan seperti itu ....”


“Lalu?” Tanya Putra.


Gadis menghela nafasnya.


“Aku tetap tinggal disana selepas kematian ayahku .... Tapi suatu hari Ibu tiriku itu bilang kalau ayah suka berjudi dan punya banyak hutang dimana-mana dan bilang, jika perkebunan dan rumah itu sebenarnya sudah digadaikan ayah pada seorang rentenir. Jadi kata mereka itu tanggung jawabku untuk menebusnya....”


Putra terdengar mendengus sedikit kasar.


“Dan dengan bodohnya kamu mengiyakan?”


Dan dengan polosnya juga Gadis mengangguk.


“Haish! Gadis ....”


Putra geleng-geleng.


“Ternyata bodoh sekali kamu ini....”


Gadis terdiam dan menundukkan kepalanya. Putra kemudian meraih dagunya dan mendongakkan kepala Gadis agar wajahnya menghadap pada Putra.


“Mereka itu sudah membodohi mu, tahu?!....” Ucap Putra.


“Iya aku tahu. Aku akhirnya tahu, jika Ibu tiriku lah yang suka berjudi, dan saat dia sudah kehabisan uang tunai, lalu memakai juga uang hasil perkebunan sampai uang beberapa pekerja juga tidak dibayarkan, aku kemudian bilang jika aku sudah mengetahui kalau bukan ayah yang suka berjudi, tapi dirinyalah sendiri....”

__ADS_1


“Lalu?”


“Ya dia tidak terima ....”


“Dan kemudian dia mengusirmu? ....” Tanya Putra lagi.


Gadis menggeleng. “Aku, kabur....”


“Kabur? ....” Putra sedikit kurang paham.


“Melarikan diri....” Jawab Gadis.


“Kenapa?”


“Karena saat aku menolak untuk bertanggung jawab menebus perkebunan dan rumah yang kata Ibu tiriku itu sudah digadaikan pada seorang rentenir, dia mengancam akan menukar diriku untuk diberikan pada rentenir itu sebagai penebus perkebunan dan rumah kami....”


“Kurang ajar sekali!”


Putra nampak geram.


“Jadi aku memutuskan kabur dengan dibantu seorang temanku waktu itu. Dengan uang tabunganku yang aku simpan diam-diam, aku pergi ke Ibukota, daerah pinggiran saat pertama aku sampai kesana, karena aku pikir ibu tiriku juga tidak sampai mengejarku dan menemukanku....”


“..........”


“Tapi aku salah, ternyata ibu tiriku sampai ke tempat tinggalku yang sebelumnya, sebelum aku pindah ke tempatku sekarang. Hari itu dia dan putrinya membawa satu orang pria untuk membawaku pulang.... dan mengatakan pada semua orang yang ada ditempatku itu jika aku punya kelainan jiwa hingga aku diusir hari itu juga dari tempat kos-ku .....”


“Benar-benar kurang ajar ibu tirimu itu!”


Putra nampak semakin bertambah geram.


“Lalu kamu bisa melarikan diri lagi? ....”


“Aku mencuri-curi kesempatan saat ibu tiri serta putrinya dan laki-laki yang membawaku itu mampir untuk isi bensin .... Aku langsung berlari keluar dari mobil, dan untungnya aku bertemu dengan Lina dan suaminya yang langsung membawaku pergi menggunakan sepeda motor”


“Lina itu siapa?....”


“Itu, tetanggaku yang pernah ketemu kamu saat kamu ke rumahku hari itu”


Putra kemudian manggut-manggut.


“Baik sekali dia ....”


Gantian Gadis yang kini manggut-manggut, mengiyakan pendapat Putra.


“Lina dan suaminya memang baik sekali. Waktu aku bertemu dan bilang pada mereka kalau aku sedang dikejar-kejar orang jahat, mereka langsung tanpa pikir panjang menolongku .... bahkan pekerjaanku sebagai perawat saja, mereka yang carikan lewat saudara mereka”


“Dan selama ini ibu tirimu itu tidak bisa menemukanmu?”


Gadis menggeleng.


“Tempatku di Ibukota yang sekarang ini, memang cukup jauh sekali dari tempat pertamaku saat datang ke Ibukota, jadi aku rasa dia tidak sampai berpikir aku tinggal di pusat kota. Dulu juga dia sampai menemukanku karena ada kenalannya yang ternyata tahu tentang diriku dan dia mungkin melihatku.... jadi dia sampaikan informasi itu pada ibu tiriku ....”


Putra manggut-manggut sekaligus menghembuskan nafasnya pelan.


“Tapi kenapa kamu sampai mengumpulkan uang untuk menebus perkebunan dan rumah ayahmu itu jika kamu melarikan diri dari ibu tirimu?. Seharusnya kamu kan sudah bisa hidup tenang tanpa harus repot mengumpulkan uang sampai bekerja di dua tempat”


“Perkebunan dan rumah itu, adalah peninggalan orang tuaku Putra. Peluh mereka dari titik nol ada disana. Banyak kenanganku disana, dan rasanya aku tidak rela jika itu sampai jadi milik orang lain.... jadi aku berniat menebusnya kembali dan memindahkan semua atas namaku setelah uang tabunganku aku rasa mencukupi”


“Gadis .... Gadis ....” Putra geleng-geleng sembari menggerakkan pelan kepala Gadis.


“Kenapa?”


“Kamu ini terlalu naif”


Gadis menatap Putra dengan wajah yang menyiratkan ketidak-pahaman.


“Naif bagaimana maksud kamu?”


“Lalu setelah uang tabunganmu kamu rasa sudah cukup untuk menebus perkebunan dan rumah orang tuamu, kamu akan pergi menemui ibu tirimu atau rentenir itu? ....”


“Kira-kira begitu....”


Gadis mengiyakan ucapan Putra dengan raut wajah polosnya.


“Kamu itu naif dan bodoh, Gadis ....” Ejek Putra.


“..........”


“Apa kamu pikir jika kamu datang kembali ke hadapan mereka, meski kamu membawa uang yang cukup untuk menebus perkebunan dan rumah orang tuamu itu mereka akan begitu saja membiarkanmu pergi?....”


“Memangnya?....”


“Mereka akan mengambil uangmu dan menahan juga dirimu.... mengingat betapa liciknya ibu tirimu jika ku simpulkan dari ceritamu. Apalagi jika kamu hanya datang seorang diri”


“Aku tidak sampai berpikir kesitu ....”


“Kan sudah aku katakan, selain kamu mungkin polos, kamu itu naif, juga bodoh!”


Gadis langsung mencebik.


“Selalu seenaknya saja mengataiku”


Dan Putra langsung terkekeh kecil. “Memang kenyataannya seperti itu!....”


“Ya, ya, aku memang bodoh!....”


“Untung saja kamu bertemu denganku ....”


“Bagaimana bisa dikatakan untung?.... Kamu malah menyuruhku berhenti bekerja dari dua tempatku bekerja itu, lalu bagaimana bisa cukup terkumpul tabunganku untuk menebus perkebunan dan rumah orang tuaku???!”


“Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan tentang itu ....”


“Bagaimana tidak bisa aku pikirkan? .... Aku kan ingin sekali memiliki kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, meski aku harus mengorbankan banyak hal dan uang untuk itu ....”


Gadis lalu berkesah dan wajahnya nampak lesu.


“Sudah aku katakan, jangan kamu pikirkan tentang itu ....”


“..........”


“Aku akan menyelesaikan masalahmu itu .... Dengan caraku”


***

__ADS_1


To be continue..


Jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2