
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Author's Pov
Tujuan utama Putra berikut mereka yang berkaitan langsung dengan hidup Rery akan mencapai finalnya tidak lama lagi, yakni mengakhiri hidup Jaeden.
Dimana kondisi pembunuh langsung Rery dan istrinya serta juga sempat ingin melenyapkan nyawa Anthony dengan menenggelamkannya di perairan dalam agar tidak ada yang menemukan jasad bocah pewaris kekayaan keluarga Rery yang fantastis jumlahnya itu, sudah lah cukup mengenaskan.
Sebelumnya Jaeden diikat tergantung pada sebuah kail alat berat dengan tubuh bagian atasnya terbuka, padahal suhu udara sedang cukup dingin.
Dan Jaeden pun sudah babak belur karena dijadikan samsak tinju oleh Damian.
Lalu setelahnya, Jaeden diturunkan dari gantungannya. Namun bukan dibebaskan oleh Putra, melainkan sedikit diberikan tambahan siksaan oleh Putra—dimana siksaan itu sungguh cukup mengerikan, walau tanpa lama Putra menyediakan waktunya untuk menyiksa Jaeden.
Author's Pov--End
🔵
Inggris,
“You guys get to the boat at first ( Kalian saja yang duluan pergi ke perahu )...” Putra yang bicara, setelah ia selesai menyiksa Jaeden, dengan menusuk tangan Jaeden.
Dan kemudian, Putra memotong satu tangan Jaeden sebatas pergelangannya.
Dimana Jaeden sudah nampak sangat payah saat ini.
Namun pria itu masih dapat bertahan hidup.
Walau tidak akan lama lagi.
Karena Putra sudah sangat bersiap untuk menyelesaikan dendamnya karena Rery yang dibunuh langsung oleh Jaeden.
“Give it to me ( Berikan itu padaku )” kata Putra lagi, menyambung ucapannya tadi yang menyuruh Yona, Damian dan Accursio untuk naik ke sebuah perahu duluan.
Yang mana perahu termaksud itu adalah sebuah kapal kecil yang nantinya akan membawa Putra dan rombongan kembali ke pelabuhan. Karena kapal besar yang sedang Putra tumpangi sekarang, akan Putra bakar habis bersama Jaeden di dalamnya.
🔵
“But ( Tapi )—“
“I need to see by myself how he burn here before burn at hell ( Aku perlu melihat sendiri bagaimana dia terbakar di sini sebelum terbakar di neraka )”
Yona hendak menyergah ketika Putra menggerakkan tangannya kepada Yona, dengan melirik jerigen yang sedang dipegang oleh Yona, namun Putra sudah dengan cepat bicara lagi.
Sambil tangan Putra tergantung di udara. Menunggu Yona mengestafetkan jerigen ditangannya kepada Putra.
“But we need to be far from this ship while it’s burning because of the bombs will explode once the fire touch it ( Tapi kita harus berada jauh dari kapal ini saat sudah mulai terbakar karena bom akan meledak saat tersambar api )”
🔵
“Just get on the boat ( Naik saja ke perahu ), Yo,” kata Putra menanggapi ucapan Yona yang serupa mengingatkan Putra akan satu hal itu.
“Come ( Ayo ), Yo...“ Accursio memegang satu lengan Yona, setelah ia menangkap wajah Putra yang keinginannya tidak boleh diinterupsi.
“But ( Tapi )...“
🔵
__ADS_1
Tadinya Yona ingin bertahan di dalam kapal dan membantah lagi ucapan Putra.
Namun Accursio memberikan penekanan pada Yona melalui sentuhan tangan agar Yona melakukan saja apa yang Putra katakan. Membiarkan Putra melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Dan karena penekanan dari Accursio yang juga berupa kode itu, Yona lalu menghela berat nafasnya.
“Don’t let yourself get burn or blow ( Jangan sampai kau terbakar atau meledak )” kata Yona pada Putra.
Sambil Yona mengestafetkan jerigen yang sedari tadi sudah dia pegang itu. Dimana Putra langsung menerima jerigen tersebut.
🔵
Yona sudah digeret Accursio untuk hengkang dari hadapan Putra yang telah memegang jerigen berisikan bahan bakar yang mudah terbakar.
“You too ( Kau juga ), Dami,” ucap Putra pada Damian, setelah Yona dan Accursio telah melangkah pergi dari hadapannya.
“I’ll stay to make you sure that you’re not get burn, and this mtherfucker doesn’t bothering you ( Aku tetap disini untuk memastikan kau tidak terbakar, dan kparat ini tidak merepotkanmu )...“
Putra mendengus geli saja mendengar ucapan Damian barusan.
🔵
“Any last words? ( Ada kata-kata terakhir? )—“
“Fck You!”* tukas Jaeden dengan mengumpat dan memandang tajam pada Putra.
“Heh!”
Putra dan Damian sama-sama berdecih sinis.
Lalu Putra tak lagi bicara.
🔵
Putra langsung mengambil pemantik miliknya setelah ia membuang jerigen berisikan bahan bakar tersebut selepas ia menghabiskan semua bahan bakar dalam jerigen ke tubuh Jaeden--ke sembarang arah.
“Say ‘Hi’ to hell ( Katakan ‘Halo’ pada neraka )”
Putra berkata dingin setelah dengan pemantik yang sudah terbuka tutupnya.
Sambil dirinya menatap tajam pada Jaeden. Lalu Damian menurunkan tangan Putra yang tadinya sudah siap untuk mengerakkan roda pemantik.
“Your hand spread by the fuel. You may get burn if you turn it on ( Tanganmu terkena bahan bakar. Kau akan terbakar saat menyalakannya )” Damian mengingatkan.
Lalu Damian mengambil pemantiknya sendiri.
“Step back ( Mundurlah )” ucap Damian, dengan dirinya yang maju selangkah lalu membelakangi Putra.
🔵
“Enjoy the fire ( Nikmati apinya )...”
Damian yang berujar pada Jaeden sambil ia menyeringai.
Dengan Damian memundurkan tubuhnya sedikit, dan langsung melemparkan pemantik miliknya ke arah Jaeden yang bergerak untuk menjauh menggunakan punggungnya di atas lantai geladak kapal dengan sisa-sisa tenaganya.
Damian langsung berbalik tanpa lagi memperhatikan sekelilingnya, setelah ia melempar pemantiknya yang menyala ke arah dekat Jaeden dan api pun mulai muncuk di satu titik lalu menjalar.
Damian pikir Putra sudah lebih dulu keluar dari kapal besar tempat mereka menyiksa Jaeden itu, dan sudah menaiki kapal kecil yang sudah dinaiki Accursio, Yona dan anak buah mereka yang sejak awal menyertai Putra-Damian-Accursio dan Yona dari pelabuhan.
__ADS_1
Namun saat Damian hendak mencapai pinggir kapal,kepalanya tertoleh begitu saja—lalu mendapati Putra yang ternyata masih berdiri di dekat area yang mulai terbakar itu. “COME PUTRA! THIS SHIP WILL BLOW UP NOT SO LONG! ( AYO PUTRA! KAPAL INI AKAN MELEDAK TIDAK LAMA LAGI! )” Damian pun segera berseru kencang dari tempatnya kepada Putra.
🔵
“I’LL CATCH UP! ( AKU AKAN MENYUSUL! )”
Putra menjawab seruan kencang Damian dengan seruan juga.
Dengan mata Putra yang tetap tertuju pada Jaeden.
Dimana pria itu sedang terus bergerak dengan punggungnya di atas lantai geladak kapal.
Guna menghindari api yang sedang mengejar Jaeden itu.
“I Must To Make Sure That He Really Burn And Die! ( Aku harus memastikan Jika Dia Benar-Benar Terbakar Dan Mati! )”
“Ck!”
Membuat Damian berdecak sebal pada satu saudaranya yang keras kepala itu.
“He’ll die. His body will become pieces not so long when he get burn right after this ship blow up.”
“( Dia pasti mati. Tubuhnya akan menjadi kepingan-kepingan tidak seberapa lama setelah ia terbakar tepat saat kapal ini meledak )”
🔵
Damian yang sudah melangkahkan kakinya lagi mendekati Putra, sudah memegang tangan Putra untuk ia tarik pergi.
Dimana Putra sempat bertahan di tempatnya. Dengan mata Putra yang tak putus memandangi Jaeden yang sedang bergerak macam hewan melata.
Namun tak lama Putra menggerakkan kakinya setelah melihat Jaeden mulai terbakar dan berteriak.
Dan bersama Damian turun secara bergantian untuk masuk ke kapal kecil yang sudah menunggu mereka.
“MOVE NOW! ( JALAN SEKARANG! )”
Accursio langsung memberi perintah pada anak buahnnya untuk menggerakkan kapal kecil yang sudah mereka tumpangi itu, ketika Putra dan Damian telah menyusul mereka di kapal tersebut.
Dan tanpa menunggu lama, satu anak buah yang sudah siap siaga di kemudi kapal, langsung menggerakkan kapal kecil tersebut yang memang sudah disiagakan mesinnya terus menyala dari sejak kapal kecil itu datang mendekat ke kapal besar yang kini sudah mulai terbakar geladaknya.
Kapal kecil yang kini ditumpangi Putra dan kawanannya telah melesat cepat menjauhi kapal besar yang sudah terlihat di lalap api besar bagian geladaknya itu.
Dan seiring kapal kecil yang sekarang ia tumpangi, mata Putra tak putus memandangi kapal besar yang mulai sedang terbakar hebat itu.
Hingga setelah cukup jauh dari kapal besar tersebut, suara ledakan besar terdengar bersamaan api yang kian berkobar dari kapal besar yang sebelumnya Putra dan kawanannya itu tumpangi.
BLAARR!!!
Suara ledakan kemudian terdengar beruntun, bersamaan kapal yang mulai hancur.
Rasanya dengan kondisi Jaeden saat ia tinggalkan tadi, pria pembunuh Rery itu benar-benar menemui mautnya.
Dan mengingat apa yang Damian katakan, Jaeden pasti sudah menjadi potongan seiring kapal besar itu meledak dengan dahsyat.
“Now you both can totally rest in peace ( Sekarang kalian berdua benar – benar dapat beristirahat dengan tenang ), Rery... Madelaine...” gumam Putra sambil memandangi kapal yang baru saja meledak dengan hebat itu.
🔵🔵
To be continue...
__ADS_1