
Happy reading .....
♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦
Wales, England,
‘Pilihlah lawan yang sesuai dengan diri dan kemampuanmu, maka jika kamu ingin melawannya, ada kemungkinan kemenangan akan berada di pihakmu.'
Sebuah kalimat bijak yang biasa digunakan sebagai tolak ukur, tertulis seperti itu. Entah siapa pencetusnya, namun siapapun itu---kiranya apa yang dikatakan oleh pencetus kalimat bijak tersebut adalah benar.
Namun tidak semua orang yang dapat mengingat kalimat bijak tersebut apabila kepongahan yang diikuti oleh ketamakan sudah menempel dalam diri.
Begitu kiranya yang tepat untuk menggambarkan seorang Jaeden Zepeto.
Kepongahan dan ketamakannya itu membuat Jaeden sama sekali tidak mengingat kalimat bijak tersebut, atau mungkin pria itu tidak pernah tahu.
Tapi apapun itu, kepongahan dan ketamakannya yang membuat dirinya menjadi seseorang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, akhirnya membuat Jaeden harus menghadapi dendamnya seorang Putra Adjieran Vinson---atau Putra Patrick Vinson Junior.
Dendam Putra yang membuat Jaeden harus menelan pil yang sangat pahit dalam hidupnya, akibat tidak sampai berpikir tentang Putra yang akan melakukan hal yang telah pria itu lakukan pada dirinya.
Dan padahal sudah dibuat sehancur sekarang oleh Putra, namun Jaeden seolah melupakan nasib buruknya, yang kini menantang Putra untuk berduel. Atas dasar dirinya yang merasa bisa mengintimidasi Putra, selain pongah pada kekuatan fisiknya.
♦♦
“FIGHT ME ONE BY ONE IF YOU DARE ( HADAPI AKU SATU LAWAN SATU JIKA KAU BERANI )!”
Jaeden yang bersuara dan menantang Putra.
“Sure, why not ( Tentu, kenapa tidak )?”
Dimana tantangan Jaeden itu langsung dijawab dengan cepat oleh Putra.
Yang mana Jaeden pikir sebelumnya, dia akan melihat keraguan di wajah Putra.
Namun nyatanya Putra menanggapi dengan cepat sekali tantangannya, membuat Jaeden merasa was-was barang sesaat.
Tapi hanya sesaat, karena kepongahan kemudian menguasai Jaeden lagi atas dirinya yang kelewat percaya diri dan bahkan berani meminta pada Putra sebuah imbalan apabila dia menang.
“If I win, you have to let me go ( Jika aku menang, kau harus melepaskanku )”
Serta,
“And I want black on white for that ( Dan aku ingin ada hitam di atas putih untuk itu )”
Yang mana tantangan dan permintaan Jaeden itu ditanggapi sinis oleh mereka yang bersama Putra. Namun Putra sendiri, nampak santai saja.
“Just give what he wants ( Berikan saja apa yang dia mau ), Edgard,” ucap Putra setelah ia dapat terka jika Jaeden telah selesai dengan permintaannya atas dasar rasa percaya diri pria itu yang begitu besar, dan Putra dapat menangkap kepongahan Jaeden itu.
Tersenyum miring saja menghadapi tantangan dan sikap percaya diri Jaeden yang masih saja bisa merasa pongah padahal dia sudah sebentar lagi akan benar – benar hancur, namun Putra salut juga pada Jaeden yang otak liciknya tetap saja berjalan walaupun sudah banyak sekali kehilangan di luar harta yang keluarga almarhum Rery yang ia rampas dengan cara yang sangat kotor.
“Anything else? ( Ada lagi? )” tanya Putra pada Jaeden setelah pria itu juga meminta cap dari Holmes di atas surat perjanjian yang ia minta sebagai pengesahan apabila menang, karena memang cap dari Holmes itu dapat menjadi tiketnya untuk bebas mengingat kekuasaan yang Holmes miliki.
__ADS_1
“How about fight ‘till death? ( Bagaimana kalau bertarung sampai mati? )” jawab Jaeden dengan menyeringai.
“Heemm –“
“Dare? ( Berani? ) ...”
“Sepertinya dia yakin sekali akan menang darimu.” Adalah Addison yang berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah mulai baik, tepat setelah Jaeden mengeluarkan penegasan akan tantangannya pada Putra.
“Sepertinya begitu.”
Putra menjawab ucapan Addison itu juga dengan bahasa Indonesia, dimana Jaeden mengernyit karena tak paham.
Sementara Putra terkekeh remeh setelah menjawab Addison yang sama terkekeh remeh kemudian bersama Danny dan Devoss yang juga sudah paham bahasa Indonesia.
Sisanya yang tak paham bahasa yang digunakan oleh Addison dan Putra dari kubu mereka itu diam saja, terkecuali Damian yang langsung berbisik untuk bertanya pada Danny yang berdiri di dekatnya mengenai percakapan singkat Addison dan Putra.
♦♦
“Just read ( Baca saja )”
Devoss yang berbicara, ketika ia menunjukkan surat perjanjian yang sudah dibubuhi stempel resmi dari Holmes ketika saat Devoss memperlihatkan surat perjanjian tersebut dari luar jeruji besi dimana Jaeden masih di kurung di dalamnya --- Jaeden hendak merampasnya dan Devoss langsung menepis untuk menjauhkan surat itu dari jangkauan tangan Jaeden.
“Let us know if you suffer of a myopic. We’ll send our men to buy an eyewear for you ( Beritahu kami jika kau rabun. Kami akan menyuruh orang kami membelikan kacamata untukmu ) ...” ejek Damian pada Jaeden yang sedang mulai nampak serius wajahnya ketika ia membaca surat perjanjian yang diperlihatkan Devoss padanya dari luar jeruji.
Dan ejekan Damian pada Jaeden itu tentu saja disambut kekehan dari orang – orangnya. Membuat Jaeden sejenak melirik sinis pada Damian.
“After I killed your Boss, how about you the next?! ( Setelah aku membunuh Bosmu, bagaimana kalau kau yang berikutnya?! ) –“
Damian langsung tergelak geli setelah mendengar ucapan Jaeden yang terlihat geram juga padanya.
Sisanya pun terkekeh. Terkecuali Jaeden.
“Finish reading? ( Sudah selesai membacanya? )”
Suara Putra terdengar kemudian.
“’Cause if you found a difficulties, my brother won’t mind to read that for you ( Karena jika kau menemukan kesulitan, saudaraku tidak keberatan membacakannya untukmu )”
Berkata remeh pada Jaeden setelahnya, dimana Jaeden langsung berdecih sinis selepas mendengar ucapan Putra.
“And I’m not wasting my time here ( Dan aku tidak menyia – nyiakan waktu di sini )” sambung Putra.
Jaeden tersenyum miring kemudian.
“So proud ( Sombong sekali ), huh?”
Jaeden mencibir kemudian.
“A servant who act like a master.”
( Seorang pelayan yang bertingkah macam seorang tuan )
__ADS_1
♦♦
“Now I’m very ready to send you to hell ( Sekarang aku sudah sangat siap untuk mengirimmu ke neraka )”
Jaeden menatap tajam pada Putra dari balik jeruji yang ia cengkram lagi dua pilarnya. Dan Putra hanya berdecih malas saja menanggapinya.
♦♦
“Take him out, Edgard. Let’s see what he got.”
( Keluarkan dia, Edgard. Kita lihat kemampuannya )
Putra yang sudah mulai bosan mendengar ocehan Jaeden itu, berbicara pada anak lelakinya Holmes.
“Cih!”
Jaeden terdengar langsung berdecih setelah Putra berbicara pada pria yang bernama Edgard itu.
“I’ll destroy your arrogancy right away ( Akan aku hancurkan kesombonganmu itu secepatnya )” ucap Jaeden tajam.
♦♦
“Ten minutes ( Sepuluh menit )?”
Damian berucap pada Putra saat seorang anak buah Holmes membukakan kunci jeruji yang mengurung Jaeden.
Putra mendengus geli setelah mendengar ucapan Damian barusan. “I’m not an old man ( Aku bukan kakek - kakek )”
Putra menjawab selorohan Damian sambil membuka mantelnya, dan Damian terkekeh sembari ia mengambil alih mantel Putra untuk ia pegangi.
“He was a street fighter, remember ( Dia mantan petarung jalanan, ingat )?”
“We’ll see about it ( Kita lihat saja )” respons Putra pada ucapan Damian yang sekedar iseng saja itu.
♦♦
Putra dan Jaeden kini sudah berdiri berhadapan di dalam ruangan tempat jeruji besi yang mengurung Jaeden berada.
Dan keduanya telah di beri ruang yang cukup untuk bertarung satu lawan satu dengan hanya menggunakan fisik mereka saja.
“Are you ready to die ( Apa kau siap mati )?” remeh Jaeden pada Putra.
“You talk too much. Totally wasting my time ( Kau terlalu banyak bicara. Terlalu membuang waktuku ) –“
“*F*k you!” geram Jaeden yang sudah memposisikan tinjunya dan sudah bergerak untuk menyerang Putra.
♦♦♦♦
To be continue ....
Terima kasih masih setia baca.
__ADS_1