
Happy reading....
“Fleta Jelin Smith, supposed to know me ( Fleta Jelin Smith, seharusnya mengenalku )” ucap Putra sambil memandang lekat pada wanita yang merupakan istri dari Jaeden itu.
“W-what ( A-apa )?” istri Jaeden itu masih tergugu, dengan cecaran Putra atas keraguan pada identitasnya.
Putra menyungging miring. “But you’re not ( Tapi kau tidak )”
Lalu Putra mendengus sinis, sementara istri Jaeden yang Putra sudah ketahui identitasnya itu menelan sulit salivanya.
Wanita itu menatap Putra was-was.
“So you are not Fleta Jelin Smith, am I right? ( Jadi kau bukanlah Fleta Jelin Smith, apa aku benar? )” tuding Putra dengan santai.
Putra mengangkat ujung bibirnya hanya beberapa senti saat ia melontarkan dugaannya yang seratus persen akurat pada wanita yang merupakan istri Jaeden, dengan identitas palsu. Identitas yang merupakan milik kembarannya sendiri, yang Putra kenal orangnya.
Putra memandangi wanita dihadapannya yang kini nampak bertambah kegugupannya itu, yang kemudian berbicara.
“I am Fleta Jelin Smith.”
Istri Jaeden tersebut mengangkat kepalanya, memandang tegas pada Putra. Menunjukkan sikap percaya dirinya.
Putra masih menatap pada istri Jaeden itu, yang ia ketahui bahwa wanita tersebut sedang mencoba terlihat percaya diri bahwa dia adalah wanita yang bernama Fleta Jelin Smith.
Tapi sayangnya Putra sudah tahu identitas diri istri Jaeden itu yang sebenarnya, dan untuk itu Putra kembali menampakkan senyuman miringnya. Memandang remeh pada istri Jaeden.
“Then how could you don’t know who I am ( Lalu mengapa kau bisa tidak tahu siapa aku )?” ucap Putra kemudian, dan istri Jaeden itu meneguk salivanya lagi.
“That’s ---“
“That’s because you are not Fleta Jelin Smith. You are her twin. Unrecognized twin. The wasted one.”
“( Itu karena kau memang bukan Fleta Jelin Smith. Melainkan kau adalah kembarannya. Kembaran yang tidak diakui. Anak buangan )”
Di detik dimana wanita yang merupakan istri Jaeden itu melotot kepada Putra dengan wajah yang menampakkan amarah. “Watch the way you talk! ( Jaga bicaramu! )”
“Hahahaha ---“
“I swear, if my husband caught you, I will tell him to give you a woful torturer! ( Aku bersumpah, jika suamiku menangkapmu, aku akan mengatakan padanya untuk memberikanmu siksaan yang mengerikan! ) ---“
“I’m, the one who give him a more than just woful torturer ( Aku, yang akan memberikannya siksaan yang lebih dari sekedar mengerikan )” ucap Putra yang kembali mencengkram wajah istri Jaeden itu, dan cengkraman Putra lebih kuat dari sebelumnya.
Walhasil wanita itu meringis merasakan rematan kuat tangan Putra di garis rahang wajahnya tersebut.
Sejenak perhatian Putra yang memandang tajam istri Jaeden teralih ke arah pintu kamar hotel yang terbuka, dimana Garret langsung memposisikan satu tangannya yang bebas langsung ke arah pintu – setelah meraih satu senjatanya yang lain dari balik mantel tebalnya.
Sementara Putra membekap mulut istri Jaeden dengan kuatnya, sembari satu tangannya juga sudah mengeluarkan senjata dari balik mantel tebalnya, sama halnya seperti Garret. Namun sikap siaga Putra dan Garret kemudian terhenti, karena yang masuk adalah satu dari tiga anak buah dari kenalan Putra yang bernama Tommy.
“Sir ( Tuan ) ...”
Anak buah pria bernama Tommy itu langsung berbicara saat ia telah membuka pintu kamar hotel tempat Putra dan Garret berada tersebut, berikut istri Jaeden yang sedang mereka sandera itu.
“His husband will starting in few minutes ( Suaminya akan mulai dalam beberapa menit )”
__ADS_1
Putra dan Garret langsung mengangguk pada pria yang hitungannya saat ini adalah anak buah mereka juga.
“Now ( Sekarang )”
Putra beralih lagi pada istri Jaeden.
“Tell me, Miss wasted daughter of Jelin Smith family ( Katakan padaku, Nona dari keluarga Jelin Smith yang terbuang ) ...”
Putra berucap seraya memandang remeh pada wanita yang kembali menatap Putra dengan geram itu. Berusaha menyakiti Putra dengan tangannya yang bebas kala Putra masih mencengkram wajahnya, namun keburu Putra dorong dada wanita itu dengan kakinya.
Bukan tendangan memang yang Putra layangkan ke dada wanita itu, namun kaki Putra menahannya cukup kuat, hingga wanita itu terdesak ke sandaran sofa.
“What you did to the real Fleta Jelin Smith ( Apa yang telah kau lakukan pada Fleta Jelin Smith yang asli )?” tekan Putra pada istri Jaeden tersebut. “Miss, Lusia ...”
“You ( Kamu ) ---“
“How pathetic ( Miris ) ...” remeh Putra. “Even your father didn’t give you his family name ( Bahkan ayahmu tidak memberikanmu nama keluarganya )”
“.........”
“Ah ya, you’re not as ‘perfect’ as Fleta since you were born ( Ah iya, kau tidak sesempurna Fleta dari sejak kau lahir )”
Putra melirik ke arah kaki istri Jaeden dengan pandangan sedikit remeh. Dimana ada kecacatan yang wanita itu miliki di kakinya.
“Too bad that unperfect you have, not only physically but also mentally ( Sayangnya, ketidaksempurnaan yang kau punya, tidak hanya secara fisik tapi juga mental )...”
“.........”
“That’s why Jelin Smith totally throw you away ( Itulah kenapa Jelin Smith benar-benar membuangmu ) –“
Istri Jaeden mengumpat pada Putra dengan tatapan nyalang. Putra hanya tersenyum miring.
“If you want to tell Jaeden that I’m not the real Fleta, you just wasting your time! ( Jika kamu ingin memberitahukan Jaeden bahwa aku bukan Fleta yang sebenarnya, kamu hanya membuang waktumu! ) ....”
“Sure I won’t wasting my time ( Tentu saja aku tidak ingin membuang waktuku ), Lusia. I want you to give message to your husband ( Aku ingin kau menyampaikan pesan pada suamimu ) ....”
Putra menjauhkan dirinya dari wanita yang bernama asli Lusia itu. Yang kemudian leher belakangnya di cengkram oleh Garret.
“Also, I have to give a homage for your father who really loyal to Kingsley smith include all of Jelin Smith, since I know that all of them was dead because of you impleadly helping your ****n’ husband to slay them. Include, Fleta.*”
“( Juga, aku harus memberi penghormatan pada ayahmu yang sudah setia pada Kingsley Smith berikut keluarga Jelin Smith yang lain, karena aku tahu bahwa kematian mereka semua karena kau ikut andil membantu suami sialanmu untuk membantai mereka, termasuk Fleta )”
Putra kemudian benar-benar menjauhkan dirinya dari Lusia, dan sekilas melirik pada Garret.
“Even she’s become annoying sometimes, but she’s a good woman ( Walaupun terkadang dia menyebalkan, tapi dia wanita yang baik )”
Putra tersenyum miring.
“So for that Jelin Smith family who’s I respect, I want you to help me give a message for your husband from me. I hope you don’t mind with that ( Jadi untuk keluarga Jelin Smith yang aku hormati, aku ingin kau memberikan pesan untuk suamimu dariku. Aku harap kau tidak keberatan dengan itu ) ...”
Lalu Putra menyeringai.
“Since you are consider as an treator too just like Jaeden Zepeto ( Karena kau sama-sama pengkhianat juga hitungannya seperti Jaeden Zepeto )”
__ADS_1
Dimana Lusia kemudian memandang horor pada Putra, selain ia sudah mulai kelihatan sangat takut dan terisak.
“D-Don’t kill me, please ... I’m pregnant now ( Ja-Jangan bunuh aku, aku mohon ... Aku sedang hamil sekarang ... )”
Putra mendengus sinis.
“No pregnant woman drink alcohol ( Wanita hamil tidak meminum alkohol )”
Putra berucap sambil meletakkan satu gelas bening di atas meja, yang dia ambil dari tempat sampah kering dalam kamar hotel tempatnya berada itu, dimana ada cetakan lipstik di pinggiran gelas tersebut.
“I-I will go far away until you never see me again, I promise. But please ... Don’t kill me ( A-Aku akan pergi sejauh mungkin sampai kau tidak akan pernah melihatku lagi, aku berjanji. Tapi aku mohon ... Jangan membunuhku ) ...”
Lusia melirih dengan sangat, selepas ia terkejut dengan gelas yang memang sempat ia gunakan untuk menenggak minuman beralkohol yang selalu ia konsumsi dibelakang Jaeden yang tahunya jika Lusia sedang hamil.
“Gar, prepare ‘the message’ ( siapkan ‘pesannya’ ) –“
“Sure.”
Garret menyahut dengan cepat ucapan Putra yang mengabaikan perkataan Lusia.
“Fast or slow way ( Cara cepat atau lambat )? ....”
“Any.”
Putra menjawab pertanyaan Garret seraya ia berjalan menuju pintu kamar hotel.
“No, please ( Tidak, tolong ) –“
“Well, Mrs. Jaeden, you’re lucky that I don’t like to torture a woman ( Kalau begitu, Nyonya Jaeden, kau sangat beruntung karena aku tidak suka menyiksa wanita ) ....”
Hanya percakapan itu yang terakhir Putra dengar antara Garret dan istri Jaeden sebelum ia keluar dari kamar hotel tempatnya berada tadi, sebelum ia menutup pintunya.
****
“What a big smile he had, heh?”
“( Senyumnya lebar sekali, heh? )”
Garret yang telah menyelesaikan tugasnya, kini telah bersama Putra yang berdiri dari suatu sudut menatap pada satu titik dimana ada keramaian disana yang kiranya semacam seperti jumpa pers.
Salah satu saudara angkat Putra itu mengeluarkan komentar sinis dari mulutnya sambil memandang pada keramaian macam jumpa pers tersebut.
“We’ll see if he can keep smiling after this ( Kita lihat saja apa dia masih dapat tersenyum setelah ini ) –“
“It’s time ( Ini sudah waktunya ) ....”
Garret berucap ketika kerumunan itu kemudian hening dan orang-orang dalam kerumunan itu menoleh ke satu arah, dimana ada sudah ada Hizkia disana.
Dimana Hizkia terdengar baru saja menginterupsi dengan lantang orang yang sedang berbicara dengan wajah sumringah penuh percaya diri sambil menunjukkan beberapa hal kepada para jurnalis di depannya itu.
Putra mengangguk, sambil menggerakkan kakinya menuju titik kerumunan, dimana ada seseorang yang sangat ingin Putra ambil nyawanya dengan cara yang paling menyakitkan.
*****
__ADS_1
To be continue .....