LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 401


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“What did you want to say before then? ( Apa yang tadi ingin kamu katakan sebelumnya? ) ..” Bruna yang berucap, seraya bertanya pada Gadis yang sebelumnya nampak ingin mengatakan sesuatu.


Namun terjeda, karena Garret angkat suara.


“Tidak Bru, aku hanya ingin bertanya saja,” sahut Gadis. “Daerah tempat perkebunan yang kamu bilang itu, di daerah mana?” Yang mengatakan hal yang ingin ia katakan sebelumnya.


***


“Ala - something? ..”


Bruna yang paham pertanyaan Gadis dengan menggunakan bahasa negeri kelahiran istri Putra itu, langsung menjawab Gadis.


Namun Bruna menjawab dengan ekspresi keraguan, atas dasar memang dia lupa-lupa ingat nama daerah yang Gadis tanyakan tadi – selain memang agak sulit lidah Bruna menyebutkan nama daerah yang sedang mereka tuju itu.


Dimana di bagian kursi depan mobil, Garret yang juga sedikit kesulitan mengucapkan nama daerah yang Gadis tanyakan – bertanya pada Suheil. Pekerjanya dan keluarganya itu yang sedang menyupiri mobil yang ia-Anthony-Bruna dan Gadis tumpangi saat ini, tentang nama daerah yang sedang mereka tuju.


***


Dan Suheil nampak hendak menjawab Garret yang bertanya padanya, namun Gadis keburu bersuara di belakang. “Alamendah?“ sebut Gadis.


“Ah ya! It is! Right, Ad?” lalu Bruna langsung berucap antusias, setelah mendengar satu kata yang merupakan nama satu daerah yang akan mereka tuju itu.


Sambil Bruna menepuk pelan bahu Garret untuk lebih meyakinkan jika nama daerah yang tadi Gadis sebut adalah memang tujuan mereka, dan Garret langsung menanggapi istrinya itu.


“Yes it is ( Iya benar )” jawab Garret. Seraya ia mengangguk. Lalu setelah Bruna yang sempat mencondongkan tubuhnya ke depan itu menarik dirinya kembali dan beralih lagi pada Gadis, Garret kembali fokus pada jalanan dan mengobrol kecil dengan Anthony.


“You know that area ( Kamu tahu daerah itu )?..” Bruna yang sudah beralih kembali kepada Gadis itu, kemudian langsung bertanya pada Gadis yang langsung mengangguk pelan—mengangguk agak ragu lebih tepatnya.


“That.. my village ( Itu.. desaku ) ..”


Gadis berujar setelahnya. Namun suaranya agak samar.


***

__ADS_1


‘Bagaimana jika aku bertemu dengan Ibu dan saudara tiriku itu?..’ batin Gadis yang menjadi was-was seketika, setelah mengetahui daerah yang akan dia tuju saat ini bersama Bruna, Garret, Anthony juga Suheil. Yang ternyata daerah tersebut adalah desa tempat kelahiran Gadis.


“If I’m not mistaken, I heard you said that the area is your village? ( Jika aku tidak salah, aku mendengar kamu mengatakan jika itu adalah desamu? )” Pertanyaan Bruna membuat Gadis segera terkesiap.


“Iya Bru.. Aku lahir dan besar di sana..”


“Really??—“


“Iya—“


“Is there any family you have? ( Apakah masih ada keluarga di sana yang kamu punya? )”


‘Putra sudah cerita masalahku pada Bruna dan Garret belum ya?..’


“Because Putra ever said that you are an orphan ( Karena Putra pernah mengatakan jika kamu adalah yatim piatu )..”


“Just like me! ( Sama seperti aku! )” namun sebelum Gadis menjawab pertanyaan Garret barusan, Anthony langsung saja menyambar.


Membuat Gadis, Bruna dan Garret langsung spontan menoleh ke arah Anthony dengan serempak.


Karena sedikit banyak, ada rasa mencelos di hati mereka karena ucapan Anthony yang barusan menyambar perkataan Garret itu.


***


Dimana ucapan Anthony yang ceria itu, membuat tiga orang tua yang bersamanya—yang tadinya wajah mereka sempat menyendu, kini jadi tersenyum lebar.


“Also, I will have a little brother or sister ( Juga, aku akan mempunyai seorang adik! )” tambah Anthony. “How lucky I am, right? ( Aku sangat beruntung, bukan? )..”


Dan bocah tampan itu terlihat berbinar senang saat kembali berkata.


“Yes, you are!..”


Dengan serempak, Bruna-Garret dan Gadis menanggapi ucapan ceria Anthony, membuat mereka yang bersamanya jadi lupa bahasan mereka sebelumnya.


Karena Anthony selanjutnya mengoceh tentang dirinya yang akan menjadi kakak yang baik untuk calon adiknya. Termasuk mengajak Gadis untuk berbelanja pakaian-pakaian bayi secepatnya.


Lalu meminta jika kamar adik bayinya nanti itu, dibuat agar berada di kamarnya saja.


Jadi alih-alih meneruskan bertanya tentang keluarga Gadis di desanya, yang ternyata menjadi tujuan Garret dan Bruna dimana Gadis tidak tahu juga ada urusan apa sepasang suami istri tersebut pergi ke tempat kelahirannya itu—ketiga orang itu sibuk melayani ocehan Anthony sepanjang jalan.

__ADS_1


Dan Gadis juga jadi melupakan rasa takut yang lebih kepada perasaan was – was, yang sebelumnya menyelinap di dalam hatinya, setelah mendengar jika daerah tujuan Garret dan Bruna adalah desa kelahiran dan tempat Gadis menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sana, sampai setelah beberapa waktu selepas meninggalnya sang ayah.


***


“Kita sudah sampai, Tuan-Tuan Muda-Nyonya.”


Suheil bersuara, ketika ia menghentikan laju mobilnya di sebuah jalanan, dimana di sisi kiri dan kanannya terbentang persawahan hijau yang menyejukkan mata.


Garret dan Bruna mengangguk mengiyakan ucapan Suheil barusan, sementara Gadis nampak celingukan di tempatnya.


Mengamati persawahan yang masih ia lihat dari balik jendela mobil di sampingnya.


‘Ya Tuhan.. betapa aku merindukan tempat ini,’ lalu Gadis membatin.


***


“Apakah.. ini tempatnya, Suheil?..”


Suara Garret menarik Gadis dari lamunannya.


“Iya, Tuan Ge.rret. Ini desa yang Tuan tanyakan pada saya dan bapak semalem. Tapi seperti yang bapak sampaikan semalem juga, kalo kami ga terlalu kenal daerah ini. Jadi saya berhentikan mobil di sini dulu, soalnya ga tau di bawah situ ada jalanan buat mobil lewat atau engga..”


***


“Kita memang harus berhenti di sini, Suheil..”


Gadis langsung menyambar untuk berbicara, selepas Suheil berujar sebelumnya.


“Karena jika memang belum berubah, agak ke depan itu turunan yang jalanannya mengecil dan tidak bisa dilalui mobil setelahnya..” sambung Gadis, yang meski sudah lama ia tidak datang ke desanya itu—namun kiranya Gadis masih mengingat setiap area di desa kelahirannya tersebut.


Juga seperti yang Gadis katakan, jika desa kelahirannya itu belum mengalami banyak perubahan dari sejak ia tinggalkan—karena kabur dari ibu dan saudari tirinya yang saat itu hendak berniat buruk padanya, selepas meninggalnya ayah Gadis. Dengan menjadikan Gadis sebagai barteran rumah dan kebun orang tua Gadis yang diambil alih oleh ibu tirinya, lalu digadaikan ke seorang lintah darat yang Gadis dengar sangat licik, selain hobi main perempuan.


Tapi kejadian buruk itu tidak sedang Gadis pikirkan sekarang.


Karena Gadis lebih sedikit penasaran dengan maksud Garret menyambangi desa kelahirannya itu.


“Kalau boleh tahu, Gar..” kata Gadis yang bertanya pada Garret. Dimana ia dan empat orang lainnya yang berada dalam mobil yang sama itu, masih berada di dalamnya. “Tahu-tahu kamu ke sini, ada urusan apa?..”


***

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2