LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 52


__ADS_3

Happy reading...


‘Mengapa hari ini papanya Anthony begitu menyebalkan sekali?’


Gadis membatin saat sesekali mencuri lirik pada Putra yang sedang menikmati makan siangnya.


“Apa ada sesuatu di wajahku Gadis?”


“Ah-eum”


Gadis menjadi salah tingkah dan hampir tersedak minuman yang sedang ia sesap saat tiba – tiba Putra yang tadinya nampak tenang memakan makanannya dan fokus mengiris bebek panggang di piringnya itu, tahu – tahu berbicara dan nampaknya Putra menyadari kalau Gadis sering mencuri lirik padanya.


Gadis berdehem.


“Ada sesuatu di wajahku?”


“Eum, tidak ...” Sahut Gadis, lalu memalingkan pandangannya pada gado – gado yang tersaji di piringnya.


“Benarkah?”


“Huum ...” Gadis menyahut hanya dengan menggumam, tanpa berani menatap mata Putra yang ia sangat yakin sedang memandanginya saat ini. ‘Bisa – bisa jantungku ini berdebar dengan kencang lagi nanti, kalau aku memandang papanya Anthony saat ini’


Putra hanya makan siang bersama Gadis dan Anthony, karena selepas ia memutuskan untuk tinggal menunggu Gadis hingga jam istirahatnya tiba bersama Anthony, Putra meminta Damian dan Garret untuk pulang saja terlebih dahulu dan meminta agar Danny saja yang menjemput mereka nanti.


Memang benar dugaan Gadis kalau Putra sedang memandanginya saat ini. Tambahan, ada senyuman jahil di bibir Putra yang tak dilihat Gadis. Menyadari, sepertinya Gadis sedang sedikit salah tingkah.


“Jika memang tidak ada sesuatu di wajahku, mengapa sedari tadi kamu menatapku?”


“Hah?!”


Gadis sedikit terperanjat.


‘Ih bagaimana dia tahu sih?. Setahuku sedari tadi papanya Anthony hanya diam dan fokus pada makanannya saja. Apa dia memperhatikanku sampai sebegitunya?’


“Katakan, mengapa kamu sering memandangiku sedari tadi, hem?”


“Ah, tidak. a – aku tidak sedang memandangi mu. Ti – dak sengaja” Gadis nampak kikuk.


Putra menarik sudut bibirnya, menatap Gadis yang masih menundukkan pandangannya. Yang bahkan nampak sekali mencoba agar matanya tidak bersibobok dengan mata Putra, dengan berinteraksi dengan Anthony yang sedang menikmati makanannya.


“Tapi kamu nampak gugup?”


“Gu – gup? ..” Tanya Gadis dengan kikuk dengan menoleh sebentar pada Putra lalu kembali lagi, berlagak menyeka mulut Anthony. “Aku tidak merasa gugup”


“Lalu mengapa kamu berusaha untuk memalingkan wajahmu dariku sekarang?” Tanya Putra.


Gadis terdiam sesaat. “Itu hanya perasaanmu saja” Jawab Gadis kemudian, seolah masa bodoh. Namun bibir Putra menyimpulkan senyum tipisnya lagi yang seolah menggambarkan ada kesenangan sendiri untuknya melihat sikap Gadis saat ini, yang nampak menghindari kontak mata dengannya.


“Kalau begitu, kamu bisa mengarahkan wajahmu padaku sekarang jika memang itu hanya perasaanku saja”


“Un – tuk apa...??”


“Agar aku tahu kau sedang berbohong atau tidak”


“Aku memang tidak berbohong... aku, hanya sekilas saja melihat. Bukan memandangimu dengan sengaja”


“Tidak sopan berbicara, tanpa melihat pada lawan bicaramu” Ucap Putra yang nampaknya terdengar santai.


Hingga pada akhirnya Gadis menolehkan wajahnya pada Putra yang sudah memposisikan wajah dan matanya agar bersibobok dengan mata Gadis saat Putra menyadari gelagat Gadis yang kemungkinan besar akan menunjukkan wajahnya pada Putra.


Putra menarik satu sudut bibirnya saat Gadis sudah menatapnya. “Sekarang kamu bisa puas memandangiku” Ucap Putra sembari menautkan jarinya dan kemudian menopangkan wajahnya dihadapan Gadis, yang tak lama wajahnya nampak merona.


‘Oh Astaagaa!’


**


“Terima kasih Putra” Ucap Gadis setelah dirinya selesai makan siang bersama Putra dan Anthony yang kini sudah mengantarnya sampai dengan lobi depan Rumah Sakit. Danny juga sudah datang untuk menjemput Putra dan Anthony.


“Terima kasih kembali”


“Thank you Anthony” Gadis beralih pada Anthony.


“Yo-u are welcome Gadis” Sahut Anthony.


“Selamat siang Nona Gadis” Sapa Danny yang baru saja muncul setelah memarkirkan mobil yang ia kendarai pada Gadis yang kemudian mengurai senyum ramahnya.


“Selamat siang Tuan Danny”


“Kamu silahkan kembali bekerja Gadis, kami juga akan segera pergi”


“Tidak apa – apa kalau aku tinggal?” Tanya Gadis.

__ADS_1


“Tidak masalah. Anth pasti mengerti” Jawab Putra.


Gadis mengangguk lalu merundukkan tubuhnya dan memberikan pengertian pada Anthony seraya berpamitan.


Anthony pun mengangguk dengan tersenyum setelah Gadis memberikan penjelasan singkat  pada Anthony, kalau


dirinya harus kembali bekerja.


“Ah iya Putra”


“Ya, ada apa?”


“Bisa bicara sebentar?”


“Tentu” Sahut Putra, lalu Gadis mengajaknya sedikit menjauh dari Danny.


***


“Putra”


“Hem?”


“Mohon maaf sebelumnya, tapi mohon jangan tersinggung dengan apa yang mau aku katakan ini”


“Ada apa?”


Putra menelisik Gadis dengan tatapannya, membuat Gadis kembali nampak sedikit gugup.


“Begini.... aku tidak sedikitpun merasa keberatan dikunjungi oleh Anthony meskipun setiap hari...”


“Lalu?”


“Tapi setidaknya ... lain kali.... tidak perlu menunggui ku seperti tadi ....”


“Jadi kamu merasa terganggu?”


“Bukan begitu ...”


“Lalu?”


“Aku disini bekerja Putra, ada tata tertib yang harus senantiasa aku patuhi”


“Apa menerima tamu di jam kerja melanggar peraturan?”


“.......”


“Tapi jika saat kedatangan tamu aku sedang lowong sebenarnya tidak masalah jika hanya sebentar”


“.......”


“Tapi ... jika seperti tadi, kamu dan Anthony menunggui ku seperti itu, rasanya aku merasa risih sendiri... aku tidak enak dengan yang lain”


“.......”


“Jadi tolong mengertilah .....”


“.......”


“Aku tidak ingin bermasalah dalam pekerjaanku, jika sewaktu waktu ada yang melaporkan ku bahwa aku seenaknya dijam kerjaku”


Putra terdiam sesaat.


“Bisa tolong mengerti itu?”


Putra pun manggut – manggut.


“Lagipula, sewaktu – waktu staff bahkan kepala yayasan Rumah Sakit ini bisa saja datang dan menginspeksi para staff perawat saat jam kerja. Dan aku bisa saja terkena surat peringatan bahkan pemecatan jika mereka melihat aku nampak seenaknya menerima tamu di jam kerjaku”


“Tapi aku dan Anth bukankah tidak mengganggumu tadi?. Kami membiarkanmu bekerja tanpa sedikitpun mengganggu karena kami hanya menunggu di ruangan tempat para perawat beristirahat, bukan?”


“Iya memang, tapi tolonglah mengerti posisiku Putra .....”


Setelah terdiam sesaat sembari menatap Gadis dengan tatapan yang sulit Gadis artikan, Putra pun akhirnya mengangguk.


“Baiklah”


“Terima kasih atas pengertian kamu”


“Ada lagi yang ingin kamu katakan?”


“Tidak. Itu saja”

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu”


Gadis kemudian kembali menghampiri Anthony yang sedang bersama Danny, lalu berpamitan dan mencium kedua pipi Anthony dengan gemasnya serta melambaikan tangannya, dan mengangguk sopan pada Putra dan Danny.


****


“Are you happy now Anth? ( Kamu bahagia sekarang Anth? )”


Putra bertanya pada Anthony sembari mengelus rambut bocah kesayangannya itu setelah Gadis tak terlihat lagi dan Putra kini sudah mengangkat Anthony dalam gendongannya.


“Ye – s Papa! ... ( I – ya Papa! ).....” Jawab Anthony dengan sumringah.


Putra pun menyunggingkan senyumnya kemudian dan membawa Anthony ke mobil yang dikendarai Danny.


***


“Dan”


Putra yang sudah mendudukkan Anthony di kursi penumpang belakang itu tidak langsung masuk ke dalam mobil untuk duduk di kursi penumpang depan.


Putra mendekati Danny untuk membicarakan satu hal dengan anggota baru keluarganya itu.


“Yes Sir? ( Ya Tuan? )”


“Tsk! Stop calling me with ‘Sir’! Just say my name! ( Berhenti memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’! Panggil saja namaku! ). You already become a part of his family! ( Kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini! )”


“But you are my Boss. Big Boss even ( Tapi anda kan Bos ku. Bos Besar malahan )” Ujar Danny menanggapi ucapan Putra barusan.


Putra mendelikkan matanya pada Danny.


Danny pun nyengir kuda. Paham maksud Putra yang mendelik padanya, yang seolah mengatakan ‘Jangan Membantah’!.


“There’s no such a ligation of family bound, you know? ( Tidak ada batasan dalam ikatan keluarga, kau tahu? )”


“.......”


“Even we came from a different family or blood. Once we have connect to a bound called ‘family’, means there is no ligation ( Meskipun kita berasal dari keluarga atau darah yang berbeda. Namun sekali kita terikat dalam ikatan yang disebut ‘keluarga’, tidak sepatutnya ada batasan )”


“.......”


“Especially in this family bound. Me, Dami, Ad, Bruna, Garret even Anth. Now you part of us. So be it ( Terutama dalam ikatan keluarga ini. Aku, Dami, Ad, Bruna, Garret bahkan Anth. Kau bagian dari kami sekarang. Maka jadilah


seperti itu )”


“Okay. I got that ( Baiklah. Aku mengerti )”


“Good ( Bagus )”


***


“I want you to do something for me before you go to England ( Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku sebelum kau pergi ke Inggris )”


“I’ll do my best, Sir.. ( Aku akan melakukan yang terbaik, Tuan ... )”


“Ehem!”


“Ehehe, Putra, I mean ( Maksudku )”


Danny menyengir lagi pada Putra.


“What do you want me to do then, Putra?”


“( Kau ingin aku melakukan apa kalau begitu, Putra? )”


“Make an appointment with this Foundation’s President of this Hospital. I want to meet ( Buatkan janji dengan Ketua Yayasan Rumah Sakit Ini. Aku ingin bertemu )”


Danny pun langsung mengangguk. “If she or he asked of the importance? ( Dan jika dia bertanya ada kepentingan apa? )”


“You find out what this Hospital be required, first .... ( Kau cari tahu dulu apa yang Rumah Sakit ini butuhkan.. )” Sahut Putra. “Then make it the reason ( Lalu jadikan itu sebagai alasannya )”


“Alright ( Baiklah )”


‘I wonder, but I’m sure money can change some rules in this Hospital ( Aku penasaran, tapi aku yakin kalau uang dapat merubah beberapa peraturan di Rumah Sakit ini )’


Putra menyungging miring.


‘Even Rery never rejected me! ( Bahkan Rery tidak pernah menolakku! )’


***


To be continue ....

__ADS_1


Enjooooyyy


__ADS_2