LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 108


__ADS_3

Happy reading ..


Waktu telah menunjukkan jam lima sore saat Putra membuka matanya. Selepas menghubungi Gadis siang tadi Putra jatuh terlelap.


Putra mendengus geli saat melihat Arthur sedang duduk manis di ruang santai saat Putra sudah keluar dari kamarnya dan hendak mengambil minum di dapur.


“I thought I told you to take some rest ( Sepertinya aku menyuruhmu istirahat ) , Arthur?!” Ucap Putra. “Don’t tell me you worry about me .. ( Jangan katakan kau khawatir padaku.. )”


Arthur yang sedang duduk sembari menonton televisi yang suara volumenya tidak terdengar itu menoleh sekaligus  terkekeh kecil dengan celotehan Putra.


“Let’s say that I have a kind of responsible feeling due my Bos safety or at least he might be need me if he get berserk? .. ( Bisa dibilang kalau aku punya rasa tanggung jawab untuk keselamatan Bosku atau setidaknya mungkin saja dia membutuhkan bantuanku andai dia mengamuk? .. )” Celoteh Arthur sembari mesam-mesem.


Putra spontan tergelak. Arthur cengengesan saja. Dan Putra kemudian meneruskan langkah untuk mengambil minum sebelum duduk di dekat Arthur.


****


“What is it? ( Apa ini? )” Tanya Putra saat Arthur menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat padanya.


“Some things that you might be needed ....... ( Sesuatu yang mungkin kau perlukan ).......” Jawab Arthur. Putra pun menerima dan membuka amplop yang diberikan Arthur barusan.


Sebuah foto dan selembar kertas ada didalam amplop coklat besar tersebut.


“Who is he? ( Siapa dia? )”


Putra memperhatikan selembar foto dari seorang pria asing tersebut lalu langsung menanyakannya pada Arthur karena Putra tidak mengenal pria yang fotonya sedang ia pegang dan lihat itu.


“Frans Ruben”


Arthur menjawab dengan menyebut sebuah nama.


“And? ....... ( Dan? ) .......” Tanya Putra lagi.


“He’s the owner of JP...... ( Dia pemilik JP )......”


Arthur memberikan jawabannya lagi sembari Putra membaca kertas yang ada bersama foto tersebut.


“And a fugitive in Netherland. His real name is Hidde Devoss ( Nama aslinya adalah Hidde Devoss Dan seorang buronan di Belanda ).....”


“Then, why you telling me info about this guy?.... ( Lalu, mengapa kau memberikanku informasi tentang pria ini? ..... )”


“He was escape from Netherland, and come here with a different id, also change his appereance and built up some business here ...... Pubs and Nightclub”


“( Dia melarikan diri dari Belanda, dan datang kesini dengan identitas yang berbeda, juga merubah penampilannya dan membangun beberapa bisnis disini ....... Beberapa Pub dan tempat hiburan malam )”


Putra masih mendengarkan penjelasan Arthur. “And? ( Dan? ) ......” Tanya Putra.


“You want to go to JP tonight, don’t you? ..... ( Kau hendak pergi ke JP nanti malam, bukan begitu? ) .....”


“Heeeemm.....”


“Hidde was stay here quite long, he known as a ‘big guy’ here due his business.... Your Lady, is have a special schedule to entertaint his close friend event, and Hidde is known as a person who will make a tally to a person that he think as a disturbance....”


“( Hidde sudah lama tinggal disini, dia dikenal sebagai ‘orang besar’ disini sehubungan dengan bisnisnya.... Kekasihmu, memiliki jadwal khusus malam ini untuk menghibur di acara teman dekatnya, dan Hidde dikenal sebagai orang yang akan membuat perhitungan pada orang yang ia anggap sebagai gangguan... )”


“........”


“In this case, if you insist to meet your Lady who entertaint his close friend event, then you will consider as a disturber..... ( Dalam hal ini, jika kau memaksa untuk bertemu dengan kekasihmu yang sedang menghibur diacara teman dekatnya itu, maka kau akan dianggap sebagai pengganggu ) ....”


“And you afraid that he’s going to kill me? ( Dan kau takut jika dia akan membunuhku? )”


Arthur terkekeh kecil. “I’m afraid you get tired for something unnecessary ...... ( Aku khawatir kau merepotkan dirimu untuk sesuatu yang tidak penting )....”


Putra mendengus geli.


“I know him! ( Aku mengenalnya! ). If you really want to go to JP and get your Lady, then I will talk to him ..... ( Jika kau memang ingin pergi ke JP untuk menemui kekasihmu, maka aku akan bicara padanya ) ....”


Putra manggut-manggut, sedikit ia menyungging miring.


“Netherland, huh?! ( Belanda, ya?! )”


Putra terdengar menggumam juga.


“Go and talk to him. Tell him about me and what I want, also tell Ramone Zeeman says his greeting .... ( Pergi dan bicaralah padanya. Katakan padanya tentangku dan apa keinginanku, juga katakan padanya Ramone Zeeman kirim salam ) ....”


***


Putra sudah berdiri di depan sebuah tempat, yakni Pub yang menjadi langganannya dan para saudara lelakinya untuk bersantai.


Ada empat orang yang perawakannya seperti tukang pukul, selain dua orang pengawal pribadi yang datang bersama Putra dan Arthur.


Empat orang pria tersebut berdiri didekat pintu masuk yang kemudian sama-sama merundukkan sedikit kepala dan tubuh mereka, saat Putra menyebutkan nama, lalu mempersilahkan Putra untuk masuk dengan penuh hormat.


Mereka mengarahkan Putra ke sebuah jalur eksklusif dimana ada tangga khusus selain dari tangga yang biasa Putra lewati jika sedang mengunjungi tempat tersebut.

__ADS_1


“Kalian akan membawaku kemana?”


Putra menghentikan langkahnya sejenak seraya bertanya pada dua orang pria dari empat yang menyambutnya di depan pintu masuk Pub, saat hendak masuk ke sebuah lorong dengan interior yang mewah.


“Tuan Frans meminta kami untuk menempatkan anda di ruangan khusus Tuan, jika beliau sedang ada disini Tuan ...”


Putra kemudian mengangguk.


“Beliau juga titip salam, dan memohon maaf karena tidak dapat menjamu anda, dikarenakan saat ini Tuan Frans sedang berada di luar kota...”


“Heemm...”


Putra manggut-manggut.


“Dimana wanita yang ingin aku temui?” Tanya Putra datar.


“Masih berada di tempat Tuan Eric, Tuan ... Tapi anda jangan khawatir, kami akan segera memanggil Nona Delima untuk menemui anda”


“Dimana dia? Aku ingin melihatnya”


Dua dari pria yang tadi menyambut Putra saling tatap sejenak.


“Sebelah sini, Tuan...”


Lalu salah seorang merentangkan tangannya untuk mempersilahkan Putra untuk menaiki sebuah tangga dan mengarahkan ke sebuah ruangan dengan pintu kembar dimana terdengar sayup-sayup keriuhan dari dalamnya.


“Dia didalam?”


“Nona Delima?”


“Iya”


“Iya Tuan, Nona Delima ada didalam ruangan ini. Anda ingin masuk, Tuan? Saya akan bicara dengan Tuan Eric”


Putra menggeleng pelan. “Tidak. Buka saja sedikit pintunya, aku hanya ingin memastikan” Titah Putra.


“Baik, Tuan”


‘Lelah, Heh?!’


Putra membatin sinis saat salah seorang dari dua pria yang mendampinginya, itu membuka salah satu pintu kembar dari ruangan yang berada di hadapan Putra.


Wajah dingin Putra mendominasi, kala melihat orang yang ingin ia temui nampak sedang berdansa dengan salah seorang pria dengan tawa yang menghiasi wajah orang tersebut.


“Antarkan aku ke ruangan yang kau bilang tadi....” Ucap Putra setelah memalingkan wajahnya dari pemandangan yang membuatnya sedikit geram.


“Baik, Tuan”


***


“Memang siapa sih tamunya?. Maksa banget mau ketemu aku?. Ga bilang kalau aku sedang mengisi acara khusus malam ini?”


Putra langsung memandang ke arah pintu yang selurusan dengan matanya, kala ia mendengar sayup-sayup suara seorang wanita.


Dan ekspresi wajah Putra kini sudah nampak dingin.


***


“Siapa sih?”


“Tamu super eksklusif, guanteng, royal pula! Dia udah beberapa kali juga kok dateng kesini”


“Siapa?. Aku pasti hafal lah sama tamu regular disini”


“Putra!”


“........”


“Putra Adjieran!”


“........”


“Selamat malam... Gadis... Oh bukan, Delima, maksudku ...”


******


*“**What information that you want to give to me**( Informasi apa yang ingin kau berikan padaku ), Ar?”*


*“**It’s about Gadis**( Ini tentang gadis )”*


“Tell me then ( Katakan padaku kalau begitu )”


“Eum, may I ask one thing to you before? ( eum, boleh aku tanya satu hal padamu sebelumnya? )”

__ADS_1


“Please ( Silahkan )”


“How far you know her? ( Seberapa jauh kau mengenalnya? )”


“Just, she lived at the Capital for few years, live alone, has no family, and she’s a nurse ( Hanya, dia sudah tinggal di Ibukota selama beberapa tahun, tinggal sendiri, tidak punya keluarga, dan dia seorang perawat )”


“Just it? ( Hanya itu? )”


“Ya, so far ( sejauh ini ) also, she’s an orphan ( juga, dia seorang yatim piatu )”


“Hmm ...”


“Now tell me, what have you got? ( Sekarang katakan padaku, apa yang kau dapat? )”


“I don’t know if you already know about this yet or not .. ( Aku tidak tahu apa kau juga sudah mengetahui ini sebelumnya atau belum.. )


“About what? ( Tentang apa? )”


“Her profession ( Profesinya )”


“What’s wrong with that? ( Apa yang salah tentang itu? ) ..”


“Eeuumm...”


“Just talk clearly Arthur ( Bicaralah dengan jelas Arthur )”


“Your lady is not only a nurse, do you know about it? ( Kekasihmu itu bukan hanya seorang perawat, apa kau tahu soal itu? )”


“Means that she.. ( Artinya dia.... )”


“Working at JP ( Bekerja di JP )


“What?... ( Apa? .. )”


“She’s one of regular singer in that place ( Dia penyanyi tetap disana )”


“She, what?... ( Dia, apa? )..”


“Your lady is a singer in that place ( Kekasihmu itu adalah penyanyi wanita di tempat itu )”


“Really? ( Benarkah? )” Desis Putra.


“She is ( Iya )”


“Have you make sure? ( Sudah kau pastikan? )”


“When my man told about that, I directly make sure with my ownself to JP. And yes that’s right ( saat orangku mengatakan hal tersebut, aku langsung memastikannya sendiri ke JP. Dan ya itu benar )


“Heemm .....”


“Your Lady known as Delima ( Gadismu dikenal sebagai Delima )”


******


“Selamat malam... Gadis... Oh bukan, Delima, maksudku ...”


Suara Putra datar dan dingin saja, berikut raut wajahnya.


Namun mata Putra menyorot tajam, pada wanita yang berdiri membeku dan terpaku dan masih berada di depan pintu ruangan yang sudah terbuka lebar tersebut.


“Pu ... Pu – tra....”


Wanita itu tergagap, nampak meneguk salivanya dan wajahnya nampak memucat.


“Masuklah”


Putra bersuara.


“Ar, aku tidak ingin ada orang lain selain aku dan dia” Ucap Putra pada Arthur dengan bahasa Indonesia.


“Baik Tuan” Sahut Arthur dengan bahasa yang sama, lalu menyuruh pelayan khusus dalam ruangan keluar dari sana dan Arthur juga ikut keluar dari sana.


“Bagaimana aku harus memanggilmu? Gadis .... atau Delima?”


Putra kembali berbicara pada wanita bergaun hijau yang masih bergeming di tempatnya.


“Siapapun namamu, yang terpenting sekarang aku sudah membayar pada Bos Besarmu, agar kau bisa menghiburku saat ini”


“Silahkan masuk Nona Gadis....” Arthur mempersilahkan.


Namun Gadis tetap bergeming, seolah kakinya terpaku di tempatnya.


“Apa kau tuli?!!” Seru Putra dengan nada suara yang meninggi.

__ADS_1


***


To be continue ....


__ADS_2