LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 397


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


England,


“What are you guys waiting for?! Shot him! Where the hell is Rogerson?! ( Apa yang kalian tunggu?! Tembak dia?! Dan dimana Rogerson?! )” adalah Jaeden yang berseru dengan dia yang menatap tajam ke arah dua pria yang dia kenal, dimana keduanya belum lama muncul di hadapan Jaeden yang kini sedang saling todong senjata dengan salah satu anak buah Putra.


Bang!


Bang!


Dua letusan senjata api lalu terdengar.


Tepat setelah Jaeden berseru tajam kepada dua orang yang ia kenal tersebut.


Lalu dua orang yang Jaeden tanya dengan pria itu berseru tajam, tak lama tumbang setelah dua suara letusan senjata itu terdengar.


*****


Bang!


Satu suara letusan senjata terdengar lagi, tak lama setelah dua pria yang diserukan Jaeden itu tumbang dengan darah yang mulai mengucur dari kepala mereka.


Yang mana suara letusan senjata itu adalah bunyi dari pistol yang dipegang oleh Jaeden, ketika pria yang merupakan anak buah Putra dan saudaranya itu mencoba merampas senjata api yang sedang dipegang Jaeden disaat perhatian pria itu teralih darinya setelah mendengar dua suara letusan senjata sebelumnya.


“*F*k!” adalah umpatan kesal yang keluar dari mulut Jaeden, karena pistol yang tadi ia pegang telah terlepas dari pegangannya. Lalu pistol itu telah diamankan oleh satu anak buah Putra lainnya, yang kini telah mengepung Jaeden dengan menodongkan senjata api yang ada di tangan para anak buah Putra dan para saudaranya itu.


Brugh!


*****


Suara yang seperti sebuah benda besar dilempar ke atas lantai, terdengar.


Membuat Jaeden yang tadi mengumpat sambil memegang tangannya dengan memandangi geram anak buah Putra yang telah melumpuhkannya --- membuat perhatian Jaeden teralih ke sumber suara.


“Was him the one that you looking for? ( Apa dia orang yang tadi kau cari? )...” Damian yang berucap, dengan dirinya yang sudah berdiri angkuh di samping sesuatu yang tadi ia lempar dari luar ke ruangan tempatnya berada.


*****


Jaeden langsung nampak membelalak ketika Damian membalikkan jasad yang tadi ia lempar ke atas lantai ruangan tempatnya berada --- dengan kaki jenjang Damian. Dimana wajah dari jasad yang barusan Damian balikkan dengan kakinya jadi jelas terlihat.


“He’s dead by the way ( Dia sudah mati ngomong – ngomong )”


Damian berbicara lagi dengan wajahnya yang nampak tersenyum mengejek pada Jaeden.


“Also every man who came with him ( Juga setiap orang yang datang bersamanya )” sambung Damian. “And after them ( Dan setelah mereka )...”


Damian menggerakkan dagunya ke arah dua pria yang sudah ditumbangkan Putra dengan ditembak kepalanya itu.


“No one left ( Tidak ada yang tersisa )----“


“*F*k you!“ tukas Jaeden dengan mengumpat.


Sementara Damian kembali tersenyum mengejek pada Jaeden----sama halnya seperti Accursio, Putra tersenyum miring di tempatnya. “We’re in hurry ( Kami sedang terburu – buru )...”


Tak lama suara Putra terdengar.


“So I should finish the thing that was delayed ( Jadi aku harus menyelesaikan apa yang tadi telah tertunda )----“


“Cih!”


Jaeden meludah ke arah Putra.


Yang tentu saja loncatan ludahnya itu tak sampai pada Putra yang berdiri cukup berjarak dari Jaeden.


*****

__ADS_1


“Mister Damian, would you do the honor? ( Tuan Damian, apakah anda ingin mengambil kesempatan yang terhormat itu? )...” ucap Putra setelah Jaeden di gantung dengan tangannya yang terikat di atas kepala, pada sebuah sangkutan dari sebuah alat yang tersedia di dalam kapal yang sudah mulai berjalan menjauh dari pelabuhan.


Namun kaki Jaeden masih menyentuh lantai geladak kapal.


“How can I refuse something that have a lot of fun? ( Bagaimana aku bisa menolak sesuatu yang sangat menyenangkan? )”


Damian menjawab dengan menyeringai.


“Well please then----“


*****


Putra mengulurkan tangannya ke arah Jaeden sambil tersenyum geli pada Damian, dimana pria itu nampak antusias dengan apa yang hendak ia lakukan --- karena tindakan yang akan Damian lakukan itu adalah perwujudan geram Damian yang teramat sangat pada Jaeden yang secara tidak langsung telah membuat ayah dan kakak lelakinya tewas.


Jadi, meski Putra yang akan menghabisi Jaeden pada akhirnya. Tapi setidaknya Damian diberikan kesempatan oleh Putra untuk menyalurkan segala geram dan sakit hatinya pada Jaeden, dengan membuat pria itu sebagai samsak tinju.


“Let’s see how strong your punch is ( Mari kita lihat seberapa kuat tinjumu )” celetuk Accursio. “Let me know if you get tired before he become black and blue ( Beritahu aku jika kau merasa lelah sebelum dia babak belur )” tambahnya dengan tersenyum geli.


“Haha sure I will ( tentu saja )” kekeh Damian menanggapi celetukan Accursio.


Sementara Putra tersenyum geli seperti Accursio.


*****


“Cih!”


Jaeden yang berdecih setelah mendapat satu hantaman tinju Damian di perutnya yang dibuat tidak menggunakan penutup apapun dalam udara yang lumayan dingin dengan dirinya yang tergantung pada sebuah alat itu.


“That’s all what you got? ( Cuma segitu kekuatanmu? )” ejek Jaeden pada Damian kemudian.


Sambil Jaeden tersenyum mengejek juga pada Damian.


*****


Tubuh Jaeden memang cukup berotot.


“Don’t worry that was just a trial ( Jangan khawatir itu hanya percobaan )” balas Damian atas ejekan Jaeden padanya tadi.


“Heh!”


Jaeden menanggapi sinis dan remeh ucapan Damian barusan yang menanggapi ejekannya itu.


“And now ( Dan sekarang )----“


BUGH!!!!


“I’m serious ( Aku serius )...”


*****


“That’s... for Rery ( Yang tadi itu... adalah untuk Rery )...”


BUGH!!!!


“That one, for Madelaine ( Yang satu itu, untuk Madelaine )”


BUGH!!!!


“For Anth ( Untuk Anth )”


BUGH!!!!


BUGH!!!!


“Then for my dad and brother ( Lalu untuk ayah dan kakakku )”


*****

__ADS_1


Walau sudah Damian sebutkan untuk siapa saja tinju utama yang dia berikan pada Jaeden, namun Damian tidak berhenti melayangkan tinjunya pada bagian atas tubuh Jaeden yang bertelanjang dada.


Termasuk wajah Jaeden yang tak luput dari hantaman keras tinju Damian. “That would be enough ( Sudah cukup ), Dami...” lalu Putra mendekati Damian. Sambil dirinya memegang satu sisi pundak Damian yang nampak masih bernafsu memukuli Jaeden.


BUGH!


Satu tinju penutup dari Damian, sampai ke perut Jaeden. Karena setelahnya Damian sedikit memundurkan tubuhnya sambil meludah.


Namun tetap tajam memandang pada Jaeden.


Dimana Jaeden yang sempat nampak masih kuat menerima pukulan Damian, kini sudah nampak cukup payah.


“So ( Jadi )...”


Putra yang kini berhadapan dengan Jaeden, dengan sedikit jarak.


“How was my brother’s power? ( Bagaimana kekuatan saudaraku? )”


“Cih!” decih Jaeden.


Pria itu meludah ke arah Putra.


Mengenai Putra. Karena dekatnya jarak mereka.


Namun ludah Jaeden yang bercampur darah itu hanya terpercik ke mantel Putra saja.


*****


“Argh!” Suara pekikan Jaeden yang sebelumnya tidak terdengar, kemudian membahana setelah Putra memukulkan sebuah balok sepanjang tongkat kasti ke kaki Jaeden dengan tenaga penuh.


Beberapa kali Putra memukulkan balok tersebut ke kedua tungkai kaki Jaeden secara bersamaan, lalu setelahnya Putra mengkode anak buahnya untuk menurunkan Jaeden dari gantungan yang membuat Jaeden tak kuasa membela dirinya sendiri dari hantaman tinju Damian dan pukulan balok di kakinya dari Putra.


Jaeden di jaga oleh anak buah Putra, karena Putra mengkode dua anak buah yang menurunkan Jaeden itu untuk membiarkan saja dia tergeletak di atas lantai geladak kapal tempat Putra dan kawanannya berdiri sekarang.


Jaeden tidak mungkin bisa berlari untuk kabur, atau bahkan mencoba menyerang Putra. Karena hantaman beberapa kali dari balok yang dipegang Putra ke kedua kaki Jaeden beberapa menit sebelumnya, rasanya membuat Jaeden bahkan sulit untuk berjalan.


*****


“All you need to do was just feel satisfied for what you get from Kingsley’s charitable ( Yang seharusnya kau lakukan adalah merasa puas dengan apa yang kau dapat atas kemurahan hati Kingsley )...” ucap Putra setelah Jaeden tergeletak di atas lantai geladak kapal.


“Yeah, maybe you can live happily ever after with your beloved wife and son ( Ya, mungkin kau bisa hidup bahagia selamanya bersama istri dan anak lelaki tercintamu )” timpal Damian.


Didetik dimana Jaeden yang kesakitan itu langsung menatap tajam pada Damian dan juga Putra, namun sayangnya dia sudah cukup kehabisan tenaga.


“Hem.”


Suara samar deheman Putra menimpali celetukan Damian tadi.


“Well...” Putra terdengar lagi bersuara. “Which hand that you used when you shot Rery and Madelaine? ( Tangan mana yang kau gunakan saat kau menembak Rery dan Madelaine? )”


“....”


“Ah ya, you are a lefthanded ( kau itu kidal )...”


Tanpa berminat mendengar jawaban Jaeden, Putra menjawab sendiri pertanyaannya.


“So ( Jadi )----“


STAB!


Putra yang sebelumnya telah menempatkan kakinya di atas dada Jaeden itu, langsung menusukkan pisau miliknya yang selalu ia selipkan di kaus kaki—ke tangan kiri Jaeden yang masih terikat itu. Dengan Putra yang sedikit merunduk. Dan tak ayal, pekikan Jaeden terdengar lagi. Karena pisau milik Putra memanglah amat sangat tajam.


Lalu Putra tersenyum miring dengan tatapan bengis.


“Have you seen your own entrails? ( Apakah kau pernah melihat ususmu sendiri? )...


******

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2