LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 123


__ADS_3

Happy reading..


Mobil yang ditumpangi Putra dan Gadis , termasuk Arthur dan satu anak buah Putra yang menjadi supir, sudah melaju menuju ke suatu tempat.


“Kenapa kita kesini, Putra?” Tanya Gadis karena saat ini mobil yang ia tumpangi, memasuki kawasan suatu pusat perbelanjaan dimana Putra pernah membawanya kesana dan membelikannya beberapa potong pakaian mahal.


“Membeli beberapa pakaian untukmu,” Jawab Putra.


Putra mengulurkan tangannya ke arah Gadis yang masih berada di dalam mobil, sesaat setelah Putra keluar dari mobil terlebih dahulu. Gadis pun menerima uluran tangan Putra, kemudian keluar juga dari mobil. Lalu Putra menggenggam tangan Gadis untuk membawanya berjalan memasuki pusat perbelanjaan tersebut.


‘Daripada dia menghamburkan uang untuk membelikanku pakaian di tempat ini, lebih baik dia mengantarku ke JP untuk mengambil tasku, lalu pergi ke kontrakanku dan mengambil pakaianku yang berada disana..’


Gadis membatin.


‘Iya! Lebih baik aku katakan itu pada Putra’


Namun tepat sebelum Gadis membuka mulutnya..


“Jangan protes,” Putra sudah bersuara duluan. “Atau aku pastikan jika aku akan mengurung mu di kamarku tanpa sehelai benang pun”


Gadis tidak jadi membuka mulutnya. Bahkan kedua bibirnya langsung Gadis rapatkan dan ia lipat kedalam.


****


“Kalian berdua silahkan saja jika ingin tetap berada disini, Ar, Ray”


“Kami akan ikut kalian masuk,” Sahut Arthur. “Just in case you might need someone to bring some shopping bag. ( Siapa tahu saja kau membutuhkan seseorang untuk membawakan tas belanja )..”


Putra sontak mendengus geli. “Baiklah, jika kau memaksa”


“Tidak apa, Tuan Arthur.. tidak perlu repot begitu” Sela Gadis yang merasa tak enak pada Arthur.


Gadis paham dialog yang Arthur ucapkan dengan menggunakan bahasa Inggris pada Putra barusan.


Dan Gadis merasa tak enak hati pada Arthur yang sudah ia tahu profesinya.


“Tidak perlu sungkan, Nona Gadis..” Jawab Arthur seraya tersenyum. “Silahkan ..”


Arthur merentangkan tangannya untuk mempersilahkan Gadis dan Putra berjalan lebih dulu didepannya untuk memasuki area Pusat Perbelanjaan yang sedang mereka sambangi itu.


“Putra..”


“Hem?..”


Gadis mengkode pada Putra agar sedikit merundukkan tubuhnya kala ia dan Putra sudah baru saja keluar dari sebuah toko pakaian wanita di Pusat Perbelanjaan terbesar dan ternama di Ibukota.


Gadis ingin berbicara namun berbisik pada Putra.


Namun karena tubuh Putra yang tinggi menjulang itu, maka Gadis meminta Putra merundukkan tubuhnya seraya mendekatkan telinganya pada bibir Gadis.


“Apa kamu ingin menciumku?” Goda Putra. “Hem?..”


Dan godaan Putra padanya itu, sontak membuat Gadis gemas untuk mencubit pinggang Putra yang kemudian terkekeh.


“Kamu ini! aku ingin bertanya serius juga..” Gadis dengan tampang sebalnya pada Putra.


“Ya sudah, ada apa?”


“Mengenai Tuan Arthur..”


“Kenapa dengannya?..”


“Jika aku tidak salah, dia itu seorang konsultan yang cukup punya nama disini bukan?”


“Benar”


“Tapi kenapa dia mau repot-repot mengikuti kita seperti ini? Padahal pasti banyak orang kalangan atas yang menjadi kliennya bukan?”


“Ar!”


Alih-alih menjawab pertanyaan Gadis, Putra yang sudah kembali menegakkan tubuhnya itu memanggil Arthur.


“Yes?. ( Ya? )”


“Calon istriku bertanya mengapa kau yang seorang konsultan ternama disini mau repot mengikutiku dan dia saat ini”


Dan Putra mengulang pertanyaan Gadis yang tadi bertanya dengan berbisik padanya soal Arthur.


Hingga Gadis sedikit mendelik pada Putra yang cengengesan.


‘Ish Putra ini! Aku bertanya dengan berbisik padanya karena takut menyinggung Tuan Arthur, malah dia menanyakannya secara gamblang langsung pada orangnya’


Gadis menggerutu sebal dalam hatinya sembari melirik Putra.


‘Dasar Papa Putra!’ Batin Gadis.


“Kenapa?..” Tanya Putra yang sadar jika Gadis sedang mendelik padanya.


“Aku bertanya dengan berbisik ke kamu, karena aku tidak mau Tuan Arthur mendengar lalu tersinggung dengan pertanyaanku. Malah kamu tanyakan langsung pertanyaanku padanya..”


Gadis merungut sebal dan Putra terkekeh kecil, sementara Arthur menunjukkan senyuman. “Jangan khawatir Nona Gadis, aku tidak tersinggung dengan itu..” Ucap Arthur.


Gadis tersenyum canggung pada Arthur.


“Maaf ya Tuan Arthur, aku hanya penasaran soalnya” Sahut Gadis. “Habis, anda itu kan hitungannya orang penting juga .. karena aku yakin klien anda dari kalangan atas pasti banyak, tapi kenapa anda berkenan mendampingi kami dengan kegiatan tidak penting ini ..”


Arthur kemudian terkekeh, begitu juga Putra.


“Aku tidak sehebat itu Nona Gadis”


Arthur merendah.


“Tapi bukankah anda mengenal Tuan Eric?” Tanya Gadis memastikan.


“Eric Sander?”


“Iya”


Arthur kemudian mengangguk. “Iya, aku mengenalnya”


“Jika mengenal Tuan Eric, pastinya bukan orang sembarangan juga. Mengingat siapa itu Tuan Eric”

__ADS_1


Kemudian Putra terdengar berdecak dengan wajahnya yang nampak terlihat sebal. “Ada calon suamimu disampingmu, tapi kamu malah terang-terangan memuji pria lain didepanku”


“Aku tidak memuji Tuan Eric, tapi aku bicara kenyataan. Dia itu kan pengusaha asing yang cukup ternama disini. Dia memiliki Perusahaan besar, dan sangat kaya”


“Cih!” Putra berdecih sinis. “Dia itu kan pria yang merangkulmu saat aku menemukanmu?!”


“.............”


“Aku melihatmu berdansa dengannya dengan tertawa bahagia”


Putra masih nampak sinis.


“Pria itu bukan yang kamu maksud?”


“Iya benar ..”


“Heh!”


“Jadi benar kamu melihat aku di acaranya Tuan Eric ya?..”


“Heh!”


“Jadi sinis begitu padaku..”


“Salahmu yang memujinya didepanku!”


“Kan aku sudah bilang aku tidak memujinya, aku hanya bicara kenyataan ..”


“Kenyataan .. heh!” Putra masih sinis. “Kamu bicara kenyataan dengan meninggikannya! Apa itu jika bukan


memuji?!”


“Aduh, begitu saja marah Tuan Putra ..” Goda Gadis. “Cemburu ya?..”


Putra mendengus sebal. Sementara Arthur mengusap tengkuknya yang tak gatal, juga merasa geli dalam hati melihat seorang Putra yang punya sisi kejam, kini nampak merajuk macam anak kecil.


Sungguh Arthur tidak menyangka, jika seorang perempuan biasa macam perempuan yang bernama Gadis itu bisa membuat Putra yang selalunya nampak dingin itu kini nampak seolah merajuk seperti itu.


“Sudah! berhenti membicarakan pria itu! Hanya memiliki Perusahaan saja apa hebatnya?” Gerutu Putra. “Aku yakin aku jauh lebih kaya darinya!” Tambahnya. “Bukan begitu Ar?!” Putra beralih pada Arthur.


‘Tentu saja Tuan Putra jauh lebih kaya’ Batin Arthur. ‘Jika Nona Gadis melihat berapa banyak emas batangan yang dibawa Danny dari Inggris, yang setengahnya adalah milik Tuan Putra pribadi, aku yakin Nona Gadis pasti akan


pingsan!’


“Ha, Arthur?!”


“Ya?”


Arthur terkesiap.


“Apa pria yang dia bicarakan jauh lebih hebat dariku?!” Putra melontarkan pertanyaan dengan melayangkan sedikit tatapan tajamnya pada Arthur, sembari menunjuk pada Gadis dengan kepalanya, berikut wajah Putra yang nampak merungut.


Sudut bibir Arthur melengkung keatas. “Jika dia lebih hebat darimu, mana mungkin aku ada disini bersamamu dan sering mengekorimu, Tuan Putra”


Arthur berkata.


“Eric tidak ada apa-apanya dibandingkan calon suamimu ini, Nona Gadis” Tambah Arthur lagi.


Dengan pongah Putra berkata sembari menatap sebal berikut pongah pada Gadis yang kemudian terkekeh kecil.


“Iya, iya .. memang calon suamiku yang paling hebat..” Puji Gadis.


“Aku tidak suka memamerkan kekayaanku. Tapi jika aku mau, aku bisa membeli Pusat Perbelanjaan ini!” Seru Putra.


Kemudian Putra berdecih.


“Sudah ayo!” Putra menarik lengan Gadis untuk kembali berjalan.


“Katanya tidak suka pamer..” Gumam Gadis. “Lalu barusan apa namanya jika bukan pamer kalau dia bisa membeli tempat ini?..”


Gadis tersenyum geli melihat sikap Putra yang sepertinya sedang cemburu hingga kini menjadi nampak sedikit kesal. Namun begitu wajah Putra serta tingkahnya yang seperti itu terlihat cukup menggemaskan di mata Gadis.


“Apa senyum-senyum melihatku seperti itu?” Tanya Putra yang merasa jika Gadis sedang memperhatikannya hingga Putra kemudian melirik pada Gadis.


“Hanya sedang mengagumi ketampanan calon suamiku,” Jawab Gadis.


“Aku memang sudah tampan dari sejak lahir!” Ketus Putra “Bahkan pria yang tadi kau puji-puji itu tidak sampai satu persen menyamai ketampanan ku!” Tambah Putra dengan pongahnya.


Gadis sontak saja bertambah geli hingga ia tergelak.


“Jangan tertawa!”


Putra berucap ketus dan Gadis manggut-manggut.


Hanya menutup mulutnya saja dan mengecilkan tawanya.


“Berani sekali memuji pria lain didepanku ..” Putra masih menggerutu.


Sementara Arthur dan anak buah yang sedang menjinjing tas belanja itu kemudian saling tatap.


“Iya sudah aku minta maaf..”


“Aku sudah terlanjur kesal!”


“Tunggu sebentar!” Gadis menyentuh lengan Putra dan menghentikan langkahnya.


“Apalagi?”


“Tundukkan kepalamu sedikit”


“Untuk apa? Mau bertanya lagi soal Arthur atau mau langsung memuji pria yang kau puji itu langsung di telingaku?!”


Putra ber cerocos dengan masih bertampang sebal dengan melirik pada Gadis.


“Sudah menunduk sedikit saja ..”


Putra berdecak kemudian.


Namun Putra tetap menundukkan sedikit kepalanya dengan posisi miring tapi. Nampak malas-malasan.


Cup!

__ADS_1


Sebuah kecupan mendarat di pipi Putra dari Gadis.


“Permintaan maafku”


Gadis berujar. Pada Putra yang sontak menolehkan wajahnya pada Gadis.


“Sudah jangan marah-marah lagi” Tambah Gadis. “Nanti berkurang ketampanan calon suamiku ini”


Dimana Putra nampak langsung mengulum senyumnya.


“Jadi aku tampan di matamu?”


“Sangat!”


Dimana Putra kemudian mesam-mesam setelah mendengar ucapan Gadis.


Dan dua orang dibelakang Putra dan Gadis, yakni Arthur dan anak buah mereka yang bernama Ray, langsung saling lempar tatap sejenak.


“Tuan Putra, seperti bukan Tuan Putra ya, Bos?. Saat di JP semalam, raut mukanya kayak pembunuh berdarah dingin waktu datang, sekarang seperti anak kecil yang senang diajak ke teater mobil..”


Ray berbisik pada Arthur.


“Jaga mulutmu. Jika masih senang bekerja padaku dan Tuan Putra, lebih baik kau diam saja jika melihat Tuan Putra seperti itu”


Arthur menjawab ketus ucapan Ray dengan juga berbisik. Padahal dalam hati Arthur merasa geli juga kalau melihat tingkah Putra saat ini.


Ray langsung mengangguk paham dan patuh. “Iya Tuan” Sahut Ray dan membungkam mulutnya rapat-rapat, karena tidak mau sampai dipecat Arthur atas perintah Putra, mengingat besarnya bayaran dari Tuan Besarnya itu, yang tidak mungkin bisa Ray dapatkan di tempat lain-Menurut pendapat Ray.


‘Aku saja berpikir mungkin Tuan Putra ini punya kepribadian ganda’


***


“Ingin membeli sesuatu untuk Anthony?”


Gadis bertanya, kala Putra mengajaknya melangkahkan kaki masuk ke dalam sebuah toko mainan.


“Iya” Gadis pun manggut-manggut.


“Bantu pilihkan hadiah untuk Anth, ya?”


“Iya aku mau saja sih ..” Jawab Gadis.


“Tetapi?...” Tanya Putra.


“Aku kan tidak tahu mainan apa saja yang Anthony sudah punya..”


“Pilihkan saja, nanti kamu bisa bertanya padaku” Jawab Putra dan Gadis mengangguk.


***


“Kenapa?”


Putra bertanya pada Gadis yang nampak termangu sejenak dideretan rak tempat mainan anak laki-laki.


Gadis menoleh pada Putra. Ada sedikit gurat sendu di wajahnya. “Aku ingin juga membelikan Anthony mainan, tapi kan dompetku masih ada didalam tasku yang tertinggal di JP..”


Putra mendengus geli.


“Kamu ini, muda dan cantik. Tapi pelupa sekali” Tukas Putra. "Ckckck.."


“Memang apa yang aku lupakan?.....” Tanya Gadis.


“Sekalipun kamu membawa brankas berisi uang saat ini, aku tidak akan membiarkanmu mengeluarkannya sepeser pun” Sahut Putra.


“Oh itu ..”


“Jadi pilih saja mana yang ingin kamu berikan untuk Anth”


“Tapi kan namanya bukan hadiah dariku jika kamu yang membayar Putra”


“Ayolah Gadis, kamu ini rumit sekali..” Tukas Putra. “Jangan membesarkan hal-hal sepele...” Tambahnya.


“Ya bukan seperti itu... hanya saja aku merasa lebih puas jika memberikan Anthony dengan uangku sendiri.....”


Putra kemudian terdengar mendengus sambil menggerakkan pelan kepalanya. “Nah ini”


Putra meletakkan beberapa lembar uang di telapak tangan Gadis setelah Putra mengambil dompetnya dari kantong celananya.


“Sekarang uang ini sudah ada ditanganmu, berarti ini adalah uangmu. Nanti kamu bayarkan mainan yang kamu pilih dengan uang ini.  Sudah ya jangan menyela lagi”


Sembari geleng-geleng Putra menatap Gadis.


“Otak wanita rumit sekali” Gumam Putra dengan wajah yang nampak sedikit sebal dan Gadis mengulum senyumnya. "Haish .."


“Iya, iya, akan aku pilih sekarang..” Balas Gadis. “Wajahmu menggemaskan sekali jika seperti ini”


Gadis mencubit pelan satu sisi Putra lalu menggoyangkannya pelan. Membuat Putra pada akhirnya tersenyum simpul karenanya.


“Sudah ya Gadis, ini yang terakhir kamu seperti ini”


Putra menegaskan.


“Kamu ini calon istriku, jadi mulai saat ini, uangku adalah uangmu”


Putra setengah menggerutu.


“Wah murah hati sekali calon suamiku ini” Goda Gadis dan Putra sontak mendengus geli. “Apa itu berarti seluruh uang dalam dompetmu berikut dompetnya jika aku minta akan kamu berikan padaku?” Canda Gadis.


“Jangankan dompet dan uangku. Seluruh tubuhku anggap saja tubuhmu juga. Jadi kamu bebas mau melakukan apapun pada tubuhku ini saat kita sedang berduaan di kamar nanti”


Dimana Gadis langsung mendaratkan pukulan gemas ke dada Putra dengan mendelikkan matanya pada Putra.


“Dasar Papa Msum!”


**


To be continue...


Semoga selalu enjoy ..


Serta sehat selalu...

__ADS_1


Aamiin ...


__ADS_2