LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 160


__ADS_3

Happy reading..


************


“Get retired then ..... ( Pensiunlah kalau begitu ) .....”


“Hahahaha! I already thinking about that ( Aku sudah memikirkan hal itu )”


“Good. You can live with us than you have to stay alone at Netherland ( Bagus. Kau bisa tinggal bersama kami daripada kau tinggal sendiri di Belanda )”


“You absolutely right ..... I don’t want to become rusty and die with no family around me which I don’t have there ..... ( Kau sangat benar ..... Aku tidak ingin menua dan mati tanpa keluarga yang mana memang tidak aku miliki disana ) .....”


“Good if you think like that..... ( Bagus jika kau berpikir seperti itu ) ..... I believe you have some of competent guys, who you can choose one to replace your place ( Aku percaya kau memiliki beberapa orang yang kompeten, yang salah satunya bisa kau pilih untuk menggantikan tempatmu ) .....”


“I already have one..... ( Aku sudah punya pilihan ).....”


“That guy, right? ( Dia, kan? )”


“I’m afraid that I’m far away from worthy to replace Mister Ramone place, Mister Putra ..... ( Rasanya aku jauh dari kata layak untuk menggantikan tempat Tuan Ramone, Tuan Putra ) .....”


“My insting said that you are eligible ( Instingku merasa kau layak )”


“There is someone who more eligible ... ( Ada orang lain yang lebih layak ).....”


“Him? ..... ( Dia? ) .....”


“You ( Kau )”


Ramone menyematkan sebuah cincin yang tadinya bertengger di salah satu jarinya ke salah satu jari Putra.


“I choose you ( Aku memilihmu )” Ucap Ramone saat menyematkan cincin ikonik miliknya di salah satu jari Putra.


Putra nampak sekali sangat terkejut dengan pernyataan Ramone tersebut. “Wait, wait ... ( Tunggu, tunggu ) ... what is this? ... ( Apa ini? ) ...”


“My ikonik ring. A leadership and ascendancy symbol of mine in Netherland ( Cincin ikonikku. Simbol kepemimpinan dan kekuasaanku di Belanda ) ...”


Ramone menjawab pertanyaan Putra.


Putra langsung saja mendengus geli.


“I know that... ( Aku tahu itu )...” Tukas Putra.


Putra kemudian melepaskan cincin yang tadi disematkan oleh Ramone ke salah satu jarinya.


“You know I don’t talk about the ring ..... ( Kau tahu aku bukan bicara tentang cincin )...”


“Wear that ring back ...... I’ve been decided... ( Pakai itu kembali .... Aku sudah memutuskan )....”


“No, I can’t accept it ..... ( Tidak, aku tidak bisa menerimanya )...”


“Yes, you can ( Tentu, kau bisa )”


Ramone menyahut cepat. Putra menggeleng.


“Seriously I can’t ( Aku berkata serius, aku tidak bisa )”


Wajah Putra nampak serius.


“After what happened in Ravenna, what become my aim is to make Jaeden pay for what he did to Rery, Madelaine, Anth, and even all of brothers that were killed in the same day with Rery and Madelaine. To take back everything that Jaeden were took. Giving back everything that supposed to be Anth ...”


“( Setelah apa yang terjadi di Ravenna, apa yang menjadi tujuanku adalah membuat Jaeden membayar apa yang sudah Jaeden lakukan pada Rery, Madelaine, Anth, dan bahkan para saudara kami yang tewas di hari yang sama dengan Rery dan Madelaine. Mengambil kembali apa yang sudah Jaeden rampas. Memberikan semua yang seharusnya menjadi hak Anth )...”


Putra masih menatap Ramone dengan serius. Lalu meraih tangan Ramone, dan hendak menyematkan kembali cincin Ramone di jari si empunya cincin. Namun Ramone menahan tangan Putra.


“Vader ...” Ucap Putra. “I need to concentrate for giving a payback to Jaeden... ( Aku perlu berkonsentrasi untuk membalas dendam pada Jaeden ) ....”


“And that, also become my reason choose you to replace me ( Dan hal itu, yang juga menjadi alasanku memilihmu untuk menggantikanku ) ...” Sahut Ramone.


Ramone memegang bahu Putra yang bersimpuh dihadapannya, yang tadinya hendak menyematkan kembali cincin Ramone di salah satu jari ayah baptisnya itu.


“You said you were looking for me right? .... ( Kau bilang kau mencariku bukan? )..”


Putra menjawab pertanyaan Ramone dengan anggukan. “But because I want to discuss and ask your advices about the plan that me and them were set ( Tapi karena aku ingin berdiskusi dan meminta saran darimu tentang rencana yang sudah aku dan mereka susun )”


Putra menoleh ke arah Garret, Damian dan Addison.


Lalu kembali menatap serius pada Ramone dan tersenyum ironis.


“I really appreciate this. It is really an honor if you trust me to replace your place.. But I can’t accept it”


“( Aku sungguh sangat menghargainya. Sebuah kehormatan bagiku jika kau mempercayakan ku untuk menggantikan tempatmu. Tapi aku tidak bisa menerimanya )”


“But you have to ( Tapi kau harus )”


“Vader ..”


“Raise your hand if you agree with my decision.... ( Angkat tangan kalian jika kalian setuju dengan keputusanku )..”


Ramone tak menggubris rasa keberatan Putra. Ia melemparkan tatapan pada semua orang yang ada didekatnya saat ini, termasuk mereka yang datang bersama Putra.

__ADS_1


“Seriously?? ... ( Yang benar saja?? ) ..”


Wajah Putra menyiratkan ketidak percayaan, kala ia menoleh dan menemukan jika Garret, Damian dan Addison, termasuk juga Danny dan Arthur mengangkat satu tangan mereka.


“We believe that your Godfather has a strong reason about his decision ( Kami percaya jika ayah baptis mu memiliki alasan kuat untuk keputusannya ) ...”


Damian berkomentar.


“But.. ( Tapi ) ....”


“So it’s been decided ( Jadi sudah diputuskan )..”


Putra berkesah. “God ...”


“We’re working to build our power, having army. You know what I mean”


“( Kita sedang bekerja untuk membangun kekuatan kita, memiliki pasukan. Kau paham maksudku )”


“Smart ( Pintar )”


Ramone memuji Addison yang baru saja berucap.


Putra nampak sedang berpikir. Ia sedang menelaah ucapan Addison barusan. “Just take it ( Ambil saja kesempatan itu )” Tutur Damian dengan menggerakkan kepalanya pelan, namun penuh arti kepada Putra.


“Now you have no reason to refuse ( Sekarang kau tidak punya alasan untuk menolak )”


“I need to think about this ... ( Aku harus memikirkan ini ) ..”


“No time ( Tidak ada waktu )” Sambar Ramone.


“He’s right ( Dia benar ) ..”


Garret menimpali.


“No time to think. Jaeden is getting closer to his aim di England, remember? ......”


“( Tidak ada waktu untuk berpikir. Jaeden sudah semakin dekat dengan tujuannya di Inggris, ingat? ) ..”


“Take my offer then you are freely to meet Accursio ( Ambil tawaranku dan kau leluasa bertemu dengan Accursio )”


“Accursio ....”


“I know that Rery never want to get too close with him.... ( Aku tahu Rery tidak pernah ingin terlalu dekat dengannya ) ....”


“.......”


“But trust me, this time you can count on him to help you reach your aim ( Tapi percaya aku, kali ini kau dapat mengandalkannya untuk membantumu mencapai tujuanmu )....”


“.......”


Putra terdiam, nampak sedang berpikir.


“Means that he close to you.... Why don’t you choose him?.... ( Berarti dia dekat denganmu .... Mengapa kau tidak memilihnya saja? )....”


Kemudian Putra berucap sembari menatap Ramone.


“You know? .... I ever talked with Accursio about how if I’m thinking to ‘retired’.. And the first name he directly said, is you.... Right before I told him that I am thinking about you.... ( Kau tahu? Aku pernah bicara dengan Accursio tentang bagaimana jika aku berpikir untuk ‘pensiun’ .... Dan nama pertama yang langsung dia sebut adalah namamu .... Bahkan sebelum aku mengatakan jika memang aku memikirkan tentangmu ) ....”


“Really? ( Oh ya? )”


“Hu’um....”


Ramone manggut-manggut.


“Trust me or not, but Accursio admire you. And I have a feeling that both of you could become a great team to make you both power stronger by your own portion.... ( Percaya atau tidak, tapi Accursio mengagumimu. Dan aku punya


firasat jika kalian berdua dapat menjadi tim yang bagus untuk membuat kalian


menjadi lebih kuat dalam porsi masing-masing )....”


Putra kembali terdiam. Ia kemudian menatap pada Garret, Addison dan Damian.


“So? ( Jadi? )....”


Putra kemudian menatap pada Ramone setelah tiga saudara lelakinya yang barusan ia tatap itu memberikan kode yang sama dengan gerakan kepala mereka.


“This is your unilateral decision I believe that. Are your men in Netherland could accept it? .... ( Aku percaya ini keputusan sepihak darimu. Apa orang-orangmu di Belanda dapat menerima keputusanmu ini? )....” Jawab Putra.


“You don’t need to worry about it.... ( Kau tidak perlu khawatir soal itu )....” Ucap Ramone. “Right Dev? Frans?....”


“Of course ( Tentu saja )”


“We heard so many things about you. And yes, I agree with Mister Ramone decision ( Kami sudah mendengar banyak tentangmu. Dan ya, aku setuju dengan keputusan Tuan Ramone )”


“So am I ( Begitu juga denganku )”


Devoss dan Frans mendukung Ramone.


“Beside, I get everything that I have now by my own hand. Those in Netherland just helping because they also have benefits that I gave to them ( Lagipula, aku mendapatkan apa yang aku punya sekarang dengan tanganku sendiri.

__ADS_1


Mereka yang berada di Belanda hanya membantu karena mendapatkan keuntungan yang aku berikan pada mereka )...” Kata Ramone.


“In other word, they can’t impliedly for every Mister Ramone’s decision and must to accept it no matter they like it or not ( Dalam kata lain, mereka tidak dapat ikut campur untuk setiap keputusan yang Tuan Ramone buat dan harus


menerimanya suka atau tidak suka )“


Devoss menimpali ucapan Bosnya yang sedang tersenyum jumawa.


Putra kemudian berdecih geli saat melihat senyuman jumawa sang ayah baptis seraya orangnya manggut-manggut.


“Nothing to lose, if you replace me, Putra ....”


“( Tidak ada ruginya, jika kau menggantikanku, Putra )....”


Kini Ramone kembali menatap serius pada Putra sembari kembali memegang pundak anak baptisnya itu.


“But I have stipulations ( Tapi aku punya syarat-syarat )” Jawab Putra.


Dimana Ramone langsung saja tersenyum lebar. “Means you agree to replace me?.... ( Itu artinya kau setuju untuk menggantikanku? ) ....”


Putra mengangkat telunjuknya sembari menggoyangkannya dihadapan Ramone. “Not before I told you the stipulations that I have .... And you not before you say you agree with that.... ( Tidak sebelum aku mengatakan persyaratan yang aku punya.... Dan tidak sebelum kau mengatakan jika kau menyetujuinya ) ....”


“You agree, that is first .... ( Kau setuju, itu yang utama )....”


Lalu mengambil kembali cincinnya yang dipegang Putra, yang kemudian ia sematkan lagi di jari anak baptisnya itu.


“Am I Right?! ( Aku benar bukan?! )”


Lalu Ramone beralih tatapan pada yang lainnya yang kemudian menyahut, mengiyakan dengan antusias.


“Go get a bottle of the best wine, Dev ( Ambil sebotol anggur yang terbaik, Dev )”


Devoss segera mengangguk untuk mengiyakan permintaan Bosnya itu. Lalu ia memanggil salah seorang dari staff hotel yang berseragam rapih dan berbicara pada staff tersebut yang kemudian mengangguk sigap seraya tersenyum profesional.


Putra mendengus geli saja melihat pada Ramone sembari menggeleng pelan, setelah Ramone menyematkan cincin ikonik miliknya itu di salah satu jari Putra.


“Now you listen of the stipulations that I have ( Sekarang kau dengarkan persyaratan yang aku punya )”


Ramone pun manggut-manggut.


“First, do not ask me to do those kind things consider you business before I finish my own thing. My main aim ( Pertama, jangan memintaku untuk mengurus segala hal terkait dengan bisnismu sebelum aku menyelesaikan urusanku. Tujuan utamaku )”


“Then? ( Lalu? ) ....”


Ramone menyahut seraya bertanya.


Pelayan yang tadi berbicara dengan Devoss tak lama kembali dengan dua staff yang lain, yang masing-masing membawa sebuah nampan di tangan mereka.


Dengan satu nampan perak dimana ada dua botol wine di atasnya, dan dua nampan lagi berisikan gelas red wine, sejumlah para Tuan yang sedang berada di dalam ruangan.


“Second, I’m not living in Netherland ( Kedua, aku tidak mau tinggal di Belanda )” Sambung Putra dengan tegas.


Ramone menarik sudut bibirnya kemudian, sembari memegang gelas berbentuk bulat dengan tangkai yang kecil yang sudah ia ambil dari atas nampan saat salah seorang staff hotel menyodorkan nampan tersebut pada Ramone, berikut Putra yang berdiri di sisi Ramone.


Putra juga mengambil gelas dari atas nampan yang kemudian dituangkan oleh staff lain minuman yang berupa wine dengan kadar rasa yang lebih lembut, yang biasanya memang dikonsumsi untuk bersulang di siang hari.


“How is it? ( Jadi bagaimana? )” Tanya Putra. Dan tak mau berpaling dari menatap Ramone sebelum ia mendapatkan jawabannya.


“Well, you’re the Boss now! ( Yah, sekarang kau Bosnya! )”


Ramone tersenyum lebar penuh arti pada Putra.


“Right?! ( Benar kan?! )”


Lalu Ramone melayangkan pandangannya pada yang lain.


“Right! ( Benar! )”


Jawaban kompak dari para pria perlente yang bersama Putra dan Ramone sontak terdengar.


“Salute!”


Ramone mengangkat gelasnya untuk mengajak bersulang.


Diikuti mereka semua yang berada bersamanya dan masing-masing telah memegang gelas burgundy di tangan mereka.


Putra yang terakhir mengangkat gelasnya.


“Salutee!!....”


Seruan bersulang yang terdengar antusias kemudian mengudara dengan gelas burgundy berisikan wine di dalamnya yang sudah terangkat ke udara.


Kemudian masing-masing meneguk wine yang ada dalam gelas mereka masing-masing.


Putra menyunggingkan senyuman saat Ramone memberikan pelukan antar lelaki padanya dengan tersirat kelegaan didalamnya, selain Ramone memang punya kebanggaannya sendiri pada Putra, anak baptis kesayangannya itu.


‘Jaeden, we’ll meet soon .... ( Jaeden, kita akan bertemu secepatnya )....’ Batin Putra.


****

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2