
Happy reading ....
*
“It’s just a beginning ( Ini baru awalnya saja )...”
Putra berucap penuh arti, dengan perasaan cukup puas yang ia bawa malam ini untuk kembali ke mansion miliknya dan orang tuanya yang berada di Salisbury.
Pembalasannya dendam Putra sudah dimulai malam ini, tidak hanya pada Jaeden, namun juga pada orang-orang yang terlibat baik langsung atau tidak langsung dengan kehidupan pria itu.
**
Author’s POV
Putra dan rombongan telah sampai di mansion pribadi milik Putra dan orang tuanya yang masih Putra pertahankan pada sebuah kota yang bernama Salisbury. Namun mereka yang terpencar dengan menumpangi mobil yang berbeda itu, tidak datang secara bersamaan.
Bahkan tiga mobil yang di tumpangi Putra dan rombongannya itu, menempuh jalur yang berbeda. Dan hal itu dilakukan, hanya untuk menciptakan alibi jika ada yang melihat keberadaan mereka saat di Newcastle tadi. Tepatnya pada sebuah bar yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dari kelompok tertentu.
Dimana daerah tersebut memang sudah dikenal menjadi sarang, maupun tempat bertransaksi banyak bisnis ilegal dengan beragam jenis.
Bar berikut sebuah bangunan tua yang sudah Putra dan rombongannya porak porandakan, sekaligus dihancurkan dengan bahan peledak itu diyakini Putra adalah tempat pertemuan bagi mereka yang berbisnis kotor dengan Jaeden dan sekutunya yang memiliki sebuah tempat pembuatan sekaligus penampungan dari sebuah sebuah zat sintetis yang memicu metabolisme sel menjadi sangat cepat.
Sebuah zat adiktif yang dapat membuat ketergantungan karena memiliki efek stimulan bagi penggunanya.
Merupakan jenis narkotika yang dikenal menjadi narkotika favorit-nya kaum elite.
Dimana hal tersebut menjadi sebuah jalan bisnis bagi mereka yang memiliki modal dan koneksi untuk menjual bahkan membuat zat adiktif yang tergolong mahal harganya itu.
Dan hal itu dimanfaatkan Jaeden untuk menambah kekayaannya dari pihak keluarga Rery, setelah bertemu dengan seorang kepala sindikat di sebuah kota terbesar di negara bagian Amerika Serikat.
Dari informasi yang Putra dapat, kekayaan keluarga Rery yang berada di tangan Jaeden berdasarkan hasil rampasannya secara licik itu dimanfaatkan Jaeden sebagai upaya untuk mempertahankan kekayaan, sebelum rencananya untuk menguasai harta keluarga Rery secara keseluruhan tercapai.
Jadi Jaeden mempertaruhkan harta yang ia miliki di tangannya, selain memang ‘jatah’ hartanya sendiri yang diberikan oleh almarhum ayah Rery dalam beragam bisnis yang dapat mendulang uang dengan banyak dan juga cepat. Namun salah satu bisnis Jaeden yang merupakan satu dari dua sumber uang terbesarnya sudah di porak porandakan oleh Putra dan rombongannya.
Dan dipastikan kerugian yang sangat besar Jaeden berikut sekutunya yang Putra dan mereka yang bersamanya sebut dengan ‘The Chicago Man’, setelah pabrik pembuatan serta penampungan narkotika jenis kokain milik mereka itu telah Putra ledakkan dengan puluhan dinamit yang sudah benar-benar dipersiapkan, setidaknya akan cukup memukul telak mental keduanya. Toh memang tidak main-main kerugian yang Jaeden dan sekutunya itu derita dari kehilangan satu dari sumber uang terbesar mereka.
Untuk langkah awal ini pembalasan dendamnya pada Jaeden ini, Putra cukup puas. Dan Putra yakin, setelah ini, hidup Jaeden akan mulai tidak tenang. Membuat Putra merasa senang hanya dengan membayangkan Jaeden akan gusar setengah mati saat Putra menghancurkan hidupnya secara perlahan terlebih dahulu, sebelum Putra membuat nyawa pria itu melayang.
Author’s POV off
***
Salisbury, Inggris
Malam kian bergulir semakin gelap.
Namun masih ada tanda-tanda kehidupan aktif di mansion milik Putra dan orang tuanya di kota tersebut.
Hanya, keaktifan dalam mansion Putra dan kedua orang tuanya itu tidak dapat terlihat dari luar.
Karena selain mansion tersebut berada di sebuah tempat yang hampir terpencil-dimana hanya ada satu bangunan itu saja yang berada di sekeliling hutan dan sebuah danau, mansion tersebut juga ditutupi oleh pagar tinggi.
Dan bagian depan mansion tersebut, hanya disinari oleh cahaya lampu yang temaram.
**
Putra dan rombongannya telah berada di bagian dalam mansion.
Namun bukan berada pada bangunan utama mansion milik Putra dan kedua orang tuanya itu.
Melainkan di satu bagian lain, tempat dimana Putra meletakkan senjata-senjata pemberian Accursio, yang Putra memang minta langsung dari saudara angkatnya dalam lingkup ‘keluarga’ Ramone.
Putra langsung mengambil tempat untuk duduk dalam ruangan tempatnya berada saat ini. sebuah ruangan yang dulunya merupakan sebuah gudang anggur koleksi kedua orang tuanya, yang tetap memiliki fungsinya seperti dahulu.
Tak ada yang Putra rubah dari mansion tersebut. Semua yang ada dalam ruang lingkup mansion miliknya dan kedua orang tuanya itu masih tetaplah sama.
Hanya jika ada beberapa barang yang dirasa sudah usang, baru Putra akan menggantinya.
Selebihnya tidak ada yang Putra rubah tatanannya, demi menjaga kenangan yang ada didalamnya.
***
Putra telah memegang gelas anggur yang terisi oleh minuman jenis ‘wine’ yang diambil dari dalam salah satu rak koleksi minuman tersebut di tangannya. Tidak hanya Putra yang menikmati minuman tersebut, tetapi juga mereka yang bersama Putra saat ini. Termasuk para anak buah yang merupakan orang-orang kiriman Accursio yang Putra ijinkan untuk mengambil botol anggur dari rak untuk mereka nikmati.
“This what I found inside the bar, Sir ( Ini yang aku temukan di dalam bar, Tuan ) –“ ucap Thomas, setelah ia meletakkan dua tas hitam di atas meja dalam ruangan yang menyerupai meja bar.
Termasuk satu koper berisikan tumpukan uang yang diamankan dari dalam bangunan yang Putra dan rombongannya sebut sebagai ‘pabrik’.
Putra memperhatikan saja, tanpa menyentuh tas-tas tersebut, berikut sebuah koper berisi uang yang langsung dibuka oleh Devoss, Garret dan Damian.
“Smells good ( Baunya sedap )”
Damian berkelakar setelah ia membuka satu tas berwarna hitam yang sama, seperti yang resletingnya dibuka juga oleh Garret.
__ADS_1
Garret, Devoss, serta Thomas berikut Damian sendiri terkekeh setelahnya. Sementara Putra hanya mendengus geli saja, saat Damian mengambil seraup sesuatu dari dalam tas hitam yang telah dibukanya itu.
Dimana dua tas hitam yang menurut Thomas ia temukan dari dalam bar itu berisikan tumpukan uang, sama seperti isi dalam koper yang ditemukan, lalu mereka amankan dan mereka bawa pulang. Tumpukan uang yang jumlahnya diperkirakan cukup fantastis, mengingat besarnya dua tas hitam tersebut.
*
“Regarding sum of these money, seems that ‘The Chicago Men’ will find out soon to what happen in their place ( Melihat jumlah dari uang-uang ini, sepertinya si ‘Pria Chicago’ itu akan segera tahu dengan apa yang telah terjadi di tempat mereka )” ucap Putra dengan masih duduk di tempatnya.
“Maybe also that m**her**cker ( Kemungkinan juga si keparat itu )” timpal Garret. “Maybe their already know about to what already happened in their place now\, regarding that these money ( Mungkin mereka sudah tahu dengan apa yang terjadi pada tempat mereka saat ini\, jika melihat uang-uang ini )”
Garret menambahkan ucapannya, dan mereka yang mendengarnya manggut-manggut.
“I believe so ( Aku rasa begitu )” sahut Putra. “Nor that ‘Chicago Man’ himself who’s coming there or a man that he send, they’re must be come after we leave to take these money ( Entah si ‘Pria Chicago’ itu sendiri, atau dia mengirimkan seseorang, yang jelas mereka pasti datang untuk mengambil uang-uang ini setelah kita pergi dari sana )”
“And make me feel curious to see how’s their reaction, when they saw to what happen at their big money source ( Dan membuatku penasaran untuk melihat reaksi mereka, saat mereka melihat apa yang terjadi pada tempat yang menjadi sumber uang terbesar mereka )”
“I believe they will get heart attack ( Aku rasa mereka akan terkena serangan jantung )”
Garret dan Damian berkomentar, dan Putra tersenyum miring. “Wait until what we’re going to do to their Casino ( Tunggu saja apa yang akan kita lakukan pada Kasino mereka )”
Putra kemudian berucap. Berkata dengan datar dan dingin, dengan seringai kecil yang menyertai di wajahnya, sembari menatap nanar pada uang-uang yang ada dihadapannya itu.
“Isn’t the Casino that just open at London is belong to Jaeden? ( Bukankah Kasino yang baru dibuka di London itu adalah milik Jaeden? ) ...” cetus Damian seraya bertanya untuk memastikan.
“The one that you’re talking about\, yes. It belong to that m**her**cker Jaeden ... but that ‘Chicago Man’ also have one\, and that’s bigger than Jaeden’s ( Kasino yang kau maksud itu\, iya. Itu memang milik si keparat Jaeden ..\, tetapi si ‘Pria Chicago’ itu juga memiliki satu\, dan Kasino miliknya lebih besar dari milik si keparat Jaeden itu )”
“I see ...”
Damian dan Garret sama-sama menggumam sambil manggut-manggut, begitu juga Devoss dan Thomas.
“And I believe\, that the m**her**cker has put his money in it too ( Dan aku yakin\, jika si keparat itu juga menempatkan uangnya disana )”
Putra menyambung ucapannya. Dan kembali empat orang yang berada didekatnya itu manggut-manggut, selepas mendengar ucapan Putra.
“So, what we’re going to do with these money? ( Jadi, apa yang akan kita lakukan pada uang-uang ini? )” tanya Garret.
“Check each of it, because maybe they put a sign to these money ( Periksa setiap dengan seksama, karena bisa saja mereka menaruh sebuah tanda pada uang-uang ini )...”
“Hemm.” Tanggap Garret.
“And if these money are ‘clean’? ( Dan jika uang-uang ini ternyata ‘bersih’? )”
Damian berucap seraya bersih.
Putra memandang pada Thomas, karena pria itu adalah salah satu orang kepercayaan saudara angkat Putra dari pihak Ramone.
“But before, give our men one bunch for each of them. Give two bunch to them who accompanied us, and you can take more than two bunch ( Tapi sebelumnya, berikan satu bundal untuk setiap anak buah kita. Dua untuk mereka yang telah menyertai kita tadi, dan kau dapat mengambil lebih dari dua bundal ), Thom—“
“I don’t think it’s necessary ( Aku rasa itu tidak perlu ) ---“
Thomas menyela ucapan Putra, kala Putra mempersilahkannya untuk mengambil beberapa bundal bagian uang rampasan mereka itu.
“I insist ( Aku memaksa )”
Putra dengan cepat memotong ucapan Thomas.
“Better you don’t remonstrate what thing he told you ( Sebaiknya kau jangan membantah apa yang ia perintahkan padamu ), Thom...” ucap Garret, yang memberikan peringatan ringan pada Thomas.
“Alright then ( Baiklah kalau begitu )” ujar Thomas kemudian, setelah Garret dan Damian memberikannya isyarat untuk tidak menolak apa yang sudah Putra minta untuk ia lakukan.
“Three of you may take those as much you want, then split the rest after become three part ( Kalian bertiga juga silahkan saja mengambil sebanyak yang kalian mau, lalu setelahnya kalian bagi sisanya menjadi tiga bagian )”
Putra berbicara pada Garret, Damian dan Devoss.
“Give one part for Sio, save one part for us .. then we will take the rest to spend it at Casino tomorrow. Of course, we’re not really spend it ( Berikan satu bagian pada Sio, pisahkan satu untuk kita .. lalu kita akan membawa sisanya untuk dihabiskan di Kasino besok. Tentu saja, kita tidak akan benar-benar menghabiskan uang-uang tersebut )”
Kembali Putra berucap penuh arti, dengan seringai yang kembali nampak di wajahnya.
*
Keesokan harinya
Seolah tidak pernah tidur, Putra sudah keluar dari dalam kamarnya di waktu yang masih dapat dikatakan pagi hari.
Padahal semalam ia dan lainnya baru selesai dan bubar dari tempat mereka berkumpul di waktu yang menunjukkan dini hari.
“What you guys are doing now? ( Kalian sedang apa sekarang? ).....” Putra menggumam. Setelah ia melirik arlojinya.
Lalu Putra menarik sudut bibirnya.
“Baru sebentar saja rasanya, tetapi aku merindukan kalian Gadis, Anth”
*
__ADS_1
“Boss!”
Tepat saat Putra yang tadinya ingin mengetuk kamar Devoss karena berpikir untuk menggunakan telepon karena teringat pada Gadis dan Anthony namun Putra urungkan karena takut ia jadi tak fokus, lalu berbalik untuk menjauh dari pintu kamar Devoss, si penghuni kamar membuka pintu kamar yang ditempatinya lalu langsung memanggil Putra.
Putra yang memang sudah spontan menoleh saat mendengar pintu kamar Devoss seperti hendak dibuka dari dalam itupun langsung menyahut pada Devoss yang menyapa seraya memanggil Putra. “Yes, Dev? .....”
Putra menghentikan langkahnya, guna menunggu Devoss menghampirinya.
“Have you sleep? ( Apa kau sudah tidur? ) .....” tanya Putra, karena melihat Dev telah terjaga seperti dirinya, dihari yang masih dapat dikatakan pagi.
“Ya, I just wake up half an ago ( aku baru saja terbangun setengah jam yang lalu ) .....”
Devoss menjawab.
“And I just want to knock your door room ( Dan aku tadinya memang ingin mengetuk pintu kamarmu )”
Devoss menyambung ucapannya.
“What is it? ( Ada apa? ) ...”
Putra pun bertanya.
Pasalnya dari ucapan Devoss tadi, Putra menangkap jika ada hal yang ingin disampaikan Devoss padanya.
“Accursio just called right after I wake up ( Accursio menghubungi tepat setelah aku terbangun )....”
“What news? ( Ada berita apa? ) ....”
“Accursio said, that Jaeden is taking his men into the dock to looking Anthony’s body inside the water at the place where that Jaeden ever threw him”
“( Accursio mengatakan, bahwa Jaeden sedang membawa orang-orangnya ke dermaga untuk mencari jasad Anthony di dalam air pada tempat dimana Jaeden pernah membuangnya )”
*
Putra langsung menghubungi Accursio selepas Devoss memberikan laporan padanya.
Perbedaan waktu yang tidak terlalu jauh membuat Putra mudah menghubungi Accursio yang berada di Ravenna.
Komunikasi Putra dan Accursio masih menggunakan telepon di saluran aman, yang memang dimodifikasi sedemikian rupa untuk golongan mereka.
Jika bisa dibilang, untuk mereka yang disebut sebagai ‘mafia’, Ramone memiliki langkah maju di bidangnya, terlebih saat ‘dijamannya’. Membuat Nama Ramone cukup dikenal, tidak hanya di Belanda tetapi juga di beberapa wilayah Eropa.
“Sio ...” sapa Putra saat ia telah tersambung dengan Accursio.
“Ah! Fratello Mio!”
Accursio balik menyapa.
“I heard the first mission of revenge was succeed.”
“( Aku dengar misi balas dendam pertama sukses )”
“Heemm.” Putra berdehem. “Even better ( Bahkan lebih dari sukses )”
“Haha.” Accursio tertawa renyah dari sebrang sambungan telepon. “I forgot if my brother here, is never failed in anything ( Aku lupa jika saudaraku ini, tidak pernah gagal dalam apapun )”
Accursio lanjut bicara, dan Putra hanya tersenyum miring. “I failed once ( Aku pernah gagal satu kali ), Sio,” tukas Putra.
Dengan suaranya yang terdengar datar.
Tidak ada sahutan dari Accursio, karena ia paham kegagalan Putra, yang saudara angkatnya itu maksudkan.
Kematian Rery dan istrinya.
“You know ( Kau tahu ) ...” Accursio bersuara. “I’m sure it’s easy for me to blow his head while he’s here ( Aku yakin mudah bagiku untuk meledakkan kepalanya selagi ia masih disini ) ...”
Lalu terdengar geraman dari Accursio.
“Makes me feel frustrating to make a hole in that bastardo head!”
“( Membuatku gemas untuk membuat lubang di kepala bajingan itu! )”
“No, Sio!” sergah Putra. “No.”
“Ya I get it ( Iya aku mengerti ) ...” tukas Accursio.
“Jaeden must be dead on my hand. No matter what kind of death that I will give to him. But the most important is the process to make him suffer first.”
“( Jaeden harus mati di tanganku. Entah bagaimana nanti cara kematian yang akan aku berikan padanya. Tapi yang paling penting adalah prosesnya untuk membuat dia menderita terlebih dahulu )”
*
To be continue ...
__ADS_1