
Happy reading....
Salisbury, Inggris....
“So who’s place is this? ( Jadi ini tempat siapa? )....” Damian mengulang pertanyaannya yang sebelumnya.
“Mine ( Tempatku )”
Putra merangkul satu pundak Damian seraya berjalan masuk menuju bangunan yang nampak sedikit agak tua itu.
“Yours? ( Tempatmu? ) ....”
Damian kembali bertanya. Dan Putra mengangguk.
“I don’t know if you have this place? ( Aku tidak tahu jika kau memiliki tempat ini? )....”
Damian berucap.
“Long story ( Ceritanya panjang )”
Putra dengan cepat menyahut.
“Beside, don’t you were ‘busy with ladies’?....”
( Lagipula, bukankah kau selalu ‘sibuk dengan para wanita’?.... )
Putra menyambung ucapannya, dan Damian pun mendengus geli.
“Come, I’ll take you guys around ( Ayo, aku ajak kalian berkeliling )”
****
Putra mengajak Damian, Garret serta Devoss berkeliling pada bangunan yang tampak sedikit tua namun terawat, dimana bangunan tersebut pernah Putra tinggali bersama kedua orang tuanya selama beberapa waktu.
Beberapa orang anak buah Ramone, yang notabene adalah anak buah Putra juga, mengingat jika Putra telah menggantikan posisi Ramone sebagai Kepala Keluarga dalam lingkup Kerajaan Ramone yang telah dialihkan secara langsung pada Putra, diminta Putra untuk saling membagi waktu untuk beristirahat.
Dan mereka yang tidak sedang mendapat giliran untuk beristirahat sudah berdiri dengan sigap dengan menempatkan diri mereka masing-masing di beberapa sudut luar pada bangunan yang pernah menjadi tempat tinggal Putra dan kedua orang tuanya tersebut.
“So you really ever lived here? ( Jadi kau benar-benar pernah tinggal disini? )” tanya Damian, setelah Putra selesai mengajaknya, Garret dan Devoss berkeliling bangunan yang adalah sebuah mansion tua yang pernah ditinggali oleh Putra itu.
Damian bertanya, karena dibeberapa sudut dinding dan meja pajangan dalam mansion tersebut ada banyak foto Putra dan orang tuanya yang terpajang disana, berikut juga foto-foto kebersamaan Putra, berikut Kingsley. Ayah kandung Rery.
“Yes ( Iya ).”
Putra menyahut lugas.
Sembari Putra memandangi foto-foto yang berjejer rapih di atas sebuah meja kayu berpintu dan terpajang dalam pigura-pigura foto.
Ada senyuman tipis yang terpatri di sudut bibir Putra saat ia sedang memperhatikan foto-foto yang ada di hadapannya tersebut, yang satu-satu Putra angkat sebentar dan diperhatikan untuk beberapa saat.
“When you were lived here? ( Kapan kau pernah tinggal disini? )....” tanya Damian pada Putra, saat ia, Putra, Garret dan Devoss sedang duduk di ruang tamu mansion milik Putra dan orang tuanya tersebut.
“When I was a teenager ( Saat aku masih remaja )”
“I see ( Begitu ) ...” Damian pun manggut-manggut.
“You were still lived with your grandfather and grandmother at Norweg that time if I’m not mistaken ( Kau masih tinggal bersama kakek dan nenekmu kala itu di Norwegia jika aku tidak salah )”
“Ya, you were right ( Iya, kau benar ).”
***
Kini Putra telah bergabung duduk dengan Damian, Garret dan Devoss di ruang tamu mansion milik Putra dan orang tuanya, yang sudah lama Putra tidak datangi.
“So this mansion was empty all this time? ( Jadi selama ini mansion ini kosong? )” tanya Garret.
“Yes.”
Putra menjawab seraya menganggukkan kepalanya.
“But seems this place is maintained. Are you ever rented this mansion? ( Tapi sepertinya tempat ini terawat. Apa kau pernah menyewakan mansion ini? )”
Damian berucap seraya bertanya.
Putra menggeleng.
“Someone I hired to maintain this place.... I sometimes come here also before we move to Ravenna ( Seseorang aku pekerjakan untuk merawat tempat ini.... Aku terkadang datang kesini sebelum kita pindah ke Ravenna )....”
“I see.”
Damian bergumam seraya manggut-manggut.
***
Seorang pria berusia sekitaran lima puluh tahunan dengan ditemani dua orang wanita beda usia, datang menghadap pada Putra, setelah salah seorang pengawal pribadi yang berjaga di bagian luar mansion mengatakan pada Putra jika ada dua orang yang ingin bertemu dengan Tuan Vinson Junior.
Putra menyuruh si pengawal yang menyampaikan pesan itu untuk membiarkan ketiganya masuk, karena orang yang dimaksud dengan Tuan Vinson Junior adalah dirinya. Dan pengawal pribadi yang menyampaikan pesan itupun mengangguk patuh, lalu menjalankan perintah Putra untuk membiarkan ketiga orang yang ingin bertemu dengannya itu masuk dan menemuinya.
Pria berusia sekitar lima puluh tahunan itu, berikut dua wanita beda usia yang datang bersamanya itu disambut baik dengan Putra. Dan memperkenalkan ketiga orang tersebut pada Damian, Garret dan Devoss, karena satu pria dan dua wanita yang datang menemui Putra, adalah satu keluarga yang dipekerjakan oleh orang tua Putra untuk mengurus mansion tempat Putra berada sekarang.
__ADS_1
Mansion yang pernah di tinggali oleh Putra, selain mansion yang merupakan tempat tinggal utamanya bersama kedua orang Putra yang berada di London.
“Better we take a rest for a while now, while they’re preparing some food for us ( Sebaiknya kita istirahat untuk sejenak sekarang, sambil menunggu mereka menyiapkan makanan untuk kita )” ucap Putra, setelah memperkenalkan satu keluarga yang selama ini mengurus mansion tempatnya berada sekarang.
Jika biasanya satu keluarga yang terdiri dari dua orang paruh baya dan satu orang wanita berusia sekitar dua puluhan itu hanya datang beberapa kali dalam satu minggu untuk membersihkan mansion tersebut, kini selama Putra dan mereka yang bersamanya berada disana, satu keluarga itu akan tinggal dalam mansion untuk melayani Putra dan lainnya selama mereka berada di mansion tersebut.
Sesuai dengan pembicaraan Putra dengan tiga orang pengurus mansion yang selama ini dipekerjakannya.
“Okay.” Sahut Damian, Garret dan Devoss.
Lalu ketiga orang tersebut diantar ke kamarnya masing-masing setelah tiga orang pengurus mansion selesai merapihkan kamar untuk Damian, Garret dan Devoss, berikut juga kamar pribadi Putra.
***
“Hey, hem, what’s your name? ( Hei, hem, siapa namamu? ) ...”
Damian bertanya pada salah satu dari tiga orang yang diperkerjakan Putra dalam mansion lama miliknya yang berada disalah satu kota di Inggris yang bernama Salisbury, yang Damian temui saat ia keluar dari kamarnya.
Pekerja yang merupakan seorang wanita berusia kisaran dua puluh tahunan itupun segera menyahut pada Damian, seraya mendekat dengan bersikap sopan. “I’m Gilda, Sir ( Saya Gilda, Tuan )”
“Ah ya, Gilda... Have you seen Putra? ( Ah iya, Gilda... Apa kau melihat Putra? ) ...” tanya Damian lagi.
Salah seorang saudara Putra itu bertanya pada si pekerja wanita tersebut mengenai Putra, yang barusan Damian coba sambangin di kamarnya, namun sepertinya Putra tidak berada dalam kamar pribadinya tersebut.
“Seems that he’s not in his room ( Sepertinya dia tidak berada di kamarnya )” sambung Damian. Pria itu tidak tahu dengan pasti apakah Putra berada di kamarnya dan tertidur begitu lelap hingga tidak mendengar suara ketukan pada pintunya, atau memang Putra tidak sedang berada di dalam kamar pribadinya itu.
Damian juga tidak membuka pintu Putra, karena menjaga privasi seseorang jika berada dalam kamar pribadi mereka.
“Mister Vinson Junior, is that what you mean, Sir? ( Apakah Tuan Vinson Junior yang anda maksud, Tuan? )”
“Yes.”
“Mister Vinson Junior is in his palliate room, Sir ( Tuan Vinson Junior ada di dalam kamar pemulihannya, Tuan )...”
“His palliate room? ( Kamar pemulihannya? )...” tanya Damian. Keningnya mengernyit dalam.
Gilda mengangguk.
“Yes, Sir.”
“What kind of palliate room is that? ( Kamar pemulihan bagaimana? )...”
“Palliate room for a mental disorder of mine ( Kamar pemulihan untuk gangguan kejiwaan yang aku miliki )”
Damianpun sontak menoleh ke sumber suara, begitu juga Gilda.
***
Putra yang tadi sempat dicari oleh Damian itu, telah muncul saat Damian sedang berbicara pada salah seorang pekerja mansion.
Setelah sempat terkejut dengan kemunculan Putra yang membawa sebuah kayu dapat didefinisikan sebagai senjata tajam, kini Damian sudah berjalan menuruni tangga bersisian dengan Putra, sembari memegang kayu bergerigi yang Putra bawa.
“Who stuff is this? ( Milik siapa ini? )...” tanya Damian sambil memperhatikan kayu bergerigi yang sedang ia pegang itu.
“Mine ( Milikku )” jawab Putra. Damian manggut-manggut.
“Where you get this stuff? ( Dimana kau dapat barang seperti ini? )” tanya Damian lagi.
“I made that ( Aku yang membuatnya )” jawab Putra dengan santai, dan Damian dengan cepat menoleh padanya.
“Woah!” Damian berdecak kagum. “Maybe you should open a store to sell weapon for gangsters and mobs ( Mungkin seharusnya kau membuka satu toko untuk menjual senjata bagi para gangster dan mafia )” kelakar Damian.
Putra mendengus geli.
“But what for you made this kind of weapon? ( Tapi untuk apa kau membuat senjata seperti ini? )”
“Tortured a girl ( Menyiksa seorang perempuan muda )..” Dan jawaban Putra, membuat Damian menghentikan langkahnya.
Damian terperanjat.
“What do you mean? ( Apa maksudmu? )”
“You don’t know what the word of ‘torture’ means?”
“( Kau tidak tahu arti kata ‘menyiksa’? )”
Putra menjawab pertanyaan Damian dengan sebuah pertanyaan juga.
“I was ‘sick’ ( Aku pernah ‘sakit’ ), Dami...” ucap Putra. “Very ‘sick’ ( Sangat ‘sakit’ )”
Putra menekankan kata sakit dalam kalimatnya sembari menatap penuh arti pada Damian.
“So, something about mental disorder of yours, it’s a serious thing for real? ( Jadi, apa yang kau katakan mengenai gangguan kejiwaan yang kau punya, itu benar-benar adalah hal yang nyata? ).....”
Putra tersenyum kecil. “For real ( Benar )”
Lalu Putra membenarkan ucapan yang berupa dugaan dari Damian yang terlihat terkejut itu.
‘Hell No! ( Yang benar saja! )’
__ADS_1
Damian membatin, setelah Putra membenarkan dugaannya.
Putra tersenyum memang, tapi raut wajah saudara angkatnya itu nampak tidak sedang bercanda.
‘So all this time I’ve been lived with a psychopath???!!!... Means if Putra get recurrent sometimes, will he kill me? ( Jadi selama ini aku hidup bersama seorang psikopat???!!!... Artinya jika Putra kambuh sewaktu-waktu, apa dia akan membunuhku? )...’
Damian menjadi was-was. Ia bahkan tidak sadar kalau sudah terpaku dengan matanya yang mengerjap-ngerjap sembari memandangi Putra dengan intens.
‘Oh my ( Ya ampun ) .....’
Batin Damian yang menjadi gelisah.
***
Tak!
Satu sentilan di keningnya, membuat Damian terkesiap.
Putra mendengus geli melihat ekspresi salah satu saudara angkatnya itu.
“What? You think I’m a crazy psychopath? ( Apa? Kau berpikir aku ini psikopat gila? )”
Putra berucap kemudian, lalu terkekeh kecil, karena ekspresi Damian itu.
“Didn’t you say something about a mental disorder of yours? ( Bukankah tadi kau menyinggung soal gangguan jiwa yang kau punya ), huh?..” kata Damian.
“I did ( Iya memang )” tukas Putra.
“Don’t tell me, that you are a madness serial killer ( Jangan katakan, jika kau pembunuh berantai yang gila )”
Tak!
Satu sentilan lagi mendarat di kening Damian dari Putra yang berdecak sebal, lalu mendengus geli.
“Idiot! If I were a serial killer, I already took off your skin from your bone. ( Dasar idiot! Jika aku pembunuh berantai, aku sudah memisahkan kulit dari tulangmu )”
***
“Wow!”
Itu Devoss yang berucap spontan setelah Putra bercerita panjang lebar mengenai satu masa lalunya yang berhubungan dengan mansion milik Putra dan orang tuanya, tempat Devoss dan Putra, berikut Damian dan Garret berada sekarang. Devoss juga menggeleng pelan karena cerita Putra tentang salah satu masa lalunya, yang ternyata pernah terindikasi memiliki sedikit gangguan kejiwaan yang menurun dari sang kakek.
Garret dan Damian juga memberikan respon yang sama seperti Devoss.
“Well, no wonder if that so, why you are too brave walking through to a gangster’s post in Potenza by yourself ( Yah, tidak heran kalau begitu, mengapa kau terlalu berani mendatangi markas sebuah gangster di Potenza sendirian )”
Garret berkomentar.
“You’re such a crazy man! ( Kau memang pria gila! )”
Putra pun terkekeh mendengar komentar Garret.
“And I will bring that madness to Jaeden right away ( Dan aku akan membawa kegilaan itu pada Jaeden secepatnya )” ucap Putra.
“First plan? ( Rencana awal? )”
“Say greeting to our ‘faithful family’ ( Memberi salam pada ‘keluarga setia’ kita )”
Dimana kata yang ditekankan Putra adalah mereka yang bermakna sebaliknya.
Tiga orang yang sedang bersama Putra pun mengangguk paham atas maksud dari ucapan Putra tersebut.
“Only them who really involved or— ( Hanya mereka yang benar-benar terlibat at-- )”
“Vanish all ( Lenyapkan semua )...”
Putra memotong ucapan Damian.
“Do not left any ( Jangan sisakan satupun )” sambung Putra dengan tatapan matanya yang dingin.
"Even their family? ( Keluarga mereka juga? )" tanya Damian lagi.
"Anth lost his family ( Anth kehilangan keluarganya )" jawab Putra. "And those who are involved for it, directly or not, must to pay in the same price ( Dan semua yang terlibat didalamnya, secara langsung atau tidak, harus membayar dengan harga yang sama )"
Putra memandang nanar.
'Mom, Dad, Rery... I'm sorry ( Maafkan aku ) ..'
Putra membatin kemudian.
'This time, I need to let go my humanity ( Saat ini, aku harus melepaskan rasa kemanusiaanku ) ...'
***
To be continue ....
Salam enjoy reading.
Emaknya Queen
__ADS_1