LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 137


__ADS_3

Happy reading.....


“Jika kamu tahu tentang alasanku berada disini, kebenaran tentangku, tentang siapa sebenarnya diriku ... Apa kamu akan memintaku melepaskanmu? .....”


“Jadi katakan ... apa alasan kamu berada disini? Termasuk, kebenaran tentangmu, tentang siapa sebenarnya dirimu, Putra ....”


Putra langsung tercenung melihat refleksi seseorang dari cermin yang berada di dinding wastafel dan kini sudah berada didekatnya.


“Gadis..” Ujar Putra pelan sembari menatap Gadis dari cermin wastafel. Gadis pun sama. Dan untuk sesaat keduanya tak ada yang berbicara.


“Jangan katakan kalau kamu mata-mata dari negara lain yang ditugaskan untuk mengawasi tokoh tertinggi di negeri ini dan mencari celahnya dan ingin menjajah negara ini lagi”


Dimana Putra langsung mendengus geli, dan senyuman lebar Putra terbit hingga barisan gigi Putra yang rapih dan bersih itu tampak.


“Antara kamu terlalu meresapi sebuah buku, atau kamu baru-baru ini habis menonton film?” Ucap Putra. Lalu ia terkekeh kecil sembari mengeringkan wajahnya dengan sebuah handuk kecil.


“Aku serius Putra..”


“Akupun serius”


Putra tersenyum sebentar pada Gadis kemudian memiringkan tubuh untuk mengambil piyamanya.


“Putra ...”


Gadis menyebut nama Putra, namun kemudian tatapan Gadis terkunci pada sebuah bekas luka di bagian punggung Putra yang baru Gadis perhatikan dengan seksama.


“Ini..”


“Luka bekas tembakan”


**


Putra sudah keluar dari kamar mandi, setelah Gadis sudah lebih dulu keluar dari sana saat Putra hendak mengganti pakaiannya.


“Kamu yakin ingin membahasnya sekarang?” Tanya Putra dengan suara yang pelan pada Gadis sesaat setelah ia muncul dari dalam kamar mandi dan  menutup pintunya dengan perlahan.


Gadis yang duduk disisi ranjang itu pun langsung mengangguk.


“Apa kamu tidak lelah dan mengantuk?..”


“Sudah tidak lagi ....” Gadis kemudian menggeleng sembari berucap dengan pelan. “Atau kamu sendiri yang sudah ingin tidur?. Kalau memang begitu, ya sudah besok saja”


Putra melengkungkan bibirnya ke atas. Kemudian mengulurkan tangannya pada Gadis dan menggandeng tangan Gadis, membawanya untuk duduk di sebuah sofa panjang dalam kamar pribadi Putra itu.


“Kemarilah” Putra menepuk-nepuk pahanya. “Letakkan kepalamu disini ..” Ucap Putra sembari membawa kepala Gadis dengan lembut untuk direbahkan diatas salah satu pahanya. Gadis tak memberikan penolakan.


Putra membelai lembut surai Gadis sembari menatap teduh berikut senyumannya pada Gadis yang berbaring lurus dengan wajah yang menghadap pada Putra.


“Jadi ceritakanlah..”


“Apa yang harus aku ceritakan?”


“Semua. Semua tentang kamu yang belum aku tahu, dan memang aku tidak tahu, selain kamu adalah seorang pria tampan kaya raya yang memiliki seorang anak lelaki yang juga tampan”


Putra menyunggingkan senyumnya dengan masih menatap pada Gadis. “Yang jelas aku bukan mata-mata dari suatu negara yang hendak menjajah negeri ini” Ucap Putra.


“Haahh syukurlah..”


Putra mendengus geli melihat ekspresi wajah Gadis yang wanita itu buat menjadi sedikit menggelikan.


“Dan aku bukan seorang penjahat”


“Haahh aku lebih bersyukur lagi ..”


“Tetapi aku juga bukan orang baik”


Dimana Gadis kemudian terdiam dan tercenung menatap Putra, masih dengan posisinya yang menjadikan paha Putra sebagai bantalan kepalanya.

__ADS_1


“Hidupku sedikit rumit... Terlebih setelah orang tua Anth tiada. Aku sendiri yang menempatkan tanggung jawab diriku pada Anthony..”


“......”


“Aku meneruskan tugas ayahku yang menjadi abdi setia keluarga ayah Anth.. Dulu, kakeknya Anth sangat mempercayai ayahku. Hingga untuk semua keputusan yang ingin kakeknya Anth ambil, akan dia tanyakan dulu pada ayahku..”


Gadis serius mendengarkan.


“Dan saat aku lahir, kakeknya Anth langsung saja mengesahkan ku sebagai anak angkatnya. Bahkan memberikanku beberapa aset untuk jaminan masa depanku. Makanya aku dekat sekali dengan almarhum ayahnya Anth. Namun begitu, aku tetap memperlakukan ayahnya Anth sebagai Tuan-ku, dan ayahnya Anth itu rasanya sudah ribuan kali memarahiku jika aku memanggilnya Tuan...”


Putra tersenyum tipis, seraya mendengus geli. Nampak bersitan adegan memori melintas di pikiran Putra dengan spontan.


“Semua berjalan dengan baik, bahkan sampai ayahku meninggal dunia dan ayah Damian yang menggantikan posisinya.... Ya, semuanya berjalan dengan baik, sampai seseorang bernama Jaeden masuk dalam hidup kakeknya Anthony..”


Putra kemudian menceritakan segalanya dengan panjang lebar pada Gadis.


“Sebaik apapun kita memelihara ular, ular tetaplah ular. Suatu saat dia pasti akan menggigit orang yang memeliharanya, menusukkan bisanya, hingga kita mati. Dia membunuh kakeknya Anth, saat kami sudah pindah dan hidup di Italia, dia membunuh juga ayah Dami dan semua orang disekeliling kakeknya Anth yang kontra dengannya...”


“......”


“Dan dia juga.. yang membunuh kedua orang tua Anthony...”


Putra menjeda ucapannya.


Ada geram yang nampak di wajahnya.


“Dan itu yang menjadi penyesalan seumur hidup untukku. Aku sedang berada di negeri ini, saat nyawa Rery, Madelaine bahkan Anth dalam bahaya. Dan aku terlambat untuk menyelamatkan orang tua Anthony ....”


Dan geram di wajah Putra kini bercampur sendu.


“Dia bahkan mencoba membunuh Anth dengan menenggelamkannya. Jika orang-orang di dermaga Ravenna tidak menolongnya. Aku mungkin sudah kehilangan Anth juga ..”


“Ya Tuhan ..” Gadis bangkit dari posisinya, lalu duduk menghadap pada Putra yang memandang nanar ke arah lurus didepan matanya.


“Meski selamat, tetapi Anth sempat koma dalam waktu lama. Membuatku tersiksa dalam kekhawatiran dan ketakutan tak berujung”


Tangan Gadis terulur ke atas kepala Putra lalu membelainya lembut.


“......”


“Tapi kelegaanku tidak berlangsung lama.... Karena setelah terbangun dari koma, Anth macam mayat hidup... dia tidak bicara, pun tidak merespon segala komunikasi yang coba kami bangun padanya. Hingga kemudian ada suatu kesempatan, kami yang tersisa datang ke negeri ini seperti rencana semula dengan kondisi Anth yang masih tetap seperti mayat hidup. Anth bahkan sering berteriak histeris secara tiba-tiba dengan wajah ketakutan, menangis berikut tubuhnya yang gemetar.  ”


Putra menolehkan wajahnya pada Gadis.


“Lalu kami mencari bermacam cara untuk mengobati Anth, hingga sampailah kami ke rumah sakit tempatmu bekerja. Dan yah Dokter Ilse direkomendasikan karena katanya dia psikolog terbaik disana ... Tapi Anth menunjukkan respon yang lambat, hingga aku sadari Anth mulai menunjukkan kemajuan setelah ia bertemu denganmu. Gadis....”


Gadis menarik sudut bibirnya.


“Aku tidak sampai hati rasanya membayangkan penderitaan Anthony selama ini...”


“Tapi wajah Anth berangsur ceria, setelah ia mengenalmu”


“......”


“Dan aku sangat berterima kasih padamu untuk itu Gadis”


Gadis menggeleng pelan seraya tersenyum tipis.


“Tidak perlu berterima kasih untuk itu...”


“Tentu saja perlu. Jika bukan karenamu yang menjadi alasan keceriaan Anth kembali, mungkin sampai detik ini aku akan digelung rasa bersalah ku atas kematian orang tuanya, atau kondisi Anth jika tidak pernah membaik”


“Kalau begitu, aku tidak akan segan lagi menganggap Ann sebagai anakku. Ya?” Gadis menangkup wajah Putra seraya berucap dengan ketulusan yang nampak di wajahnya. Putra pun mengangguk seraya juga tersenyum. Namun kemudian Putra memegang tangan Gadis yang menangkup wajahnya.


“Terima kasih ya?” Putra mengecup kedua tangan Gadis bergantian. “Aku sungguh beruntung bertemu denganmu. Hanya saja, seperti yang aku katakan padamu tadi.. Aku bukan orang baik. Apa yang aku dan ayahnya Anth bangun dengan para saudara kami yang lain di Italia, semuanya, dengan keringat.. dan juga darah....”


Putra menatap serius pada Gadis yang nampak sedikit menegang.

__ADS_1


“Jika aku katakan, dan memang ini kebenarannya. Tanganku tidak bersih Gadis. Sudah banyak darah yang tertumpah disini ... Aku sudah membunuh beberapa orang. Di Inggris, di Italia, bahkan disini ...”


Dimana Gadis menelan salivanya. Pelan, namun bulat. ‘Ya Tuhan’


“Kedatanganku kesini untuk menyelamatkan Anth. Sekaligus membangun apa yang sudah hancur sejak kematian orang tua Anth.....”


“......”


“Aku menghabisi satu orang disini, karena mencari masalah denganku. Dan itu yang aku lakukan pada mereka yang benar-benar mencari masalah denganku. Dengan kami. Karena kami tidak suka berbasa-basi. Dan sampai semua yang ingin ku raih dapat aku dan para saudaraku capai, tangan ini akan kembali bermandikan darah .. Terutama darah dari pria yang bernama Jaeden...”


Gluk!.


“Dan sampai hari itu datang, berharap saja tidak ada lagi yang benar-benar mencari masalah denganku dan keluargaku”


“Mak-maksudmu? ...”


“Ya seperti satu orang yang sudah aku dan para saudara lelaki habisi itu berikut anak buahnya. Benar-benar mencari masalah dengan kami...”


“A-apa jika ada, ka-kamu akan..”


“Memisahkan nyawa dari tubuhnya?”


“......”


“Ya”


Gadis kembali menelan salivanya.


“Dan sekarang aku tanya padamu, Gadis. Setelah mendengar semuanya. Apa kamu masih ingin menikah denganku?”


**


Putra yang menatap Gadis dengan intens namun tanpa pandangan yang tajam itu kemudian menarik sudut bibirnya.


“Tidak perlu terburu-buru untuk menjawabnya...” Ucap Putra seraya tangannya membelai kepala Gadis. “Kita tidak akan menikah dalam waktu tiga hari kedepan”


“Benarkah?..”


“Aku sadar jika aku egois padamu andai aku hanya memutuskan secara sepihak tanpa menanyakan pendapatmu soal itu..”


“Terima kasih Putra..”


“Jangan berterima kasih Gadis”


“......”


“Aku menunggu jawabanmu atas pertanyaanku tadi.. Pikirkanlah baik-baik ...”


“......”


“Jika selama ini aku sering memaksamu, mohon maafkan aku...”


“......”


“Tapi untuk kali ini, setelah pembicaraan kita tadi. Setelah kamu tahu siapa pria ini ..”


Putra menunjuk dirinya.


“Aku membebaskan dirimu ...”


“Mak-sud kamu, Putra? ..”


“Aku membebaskanmu untuk memilih, Gadis.. Jika hatimu merasa berat untuk masuk ke dalam duniaku .... Kali ini aku tidak akan memaksa...”


“Jadi maksudmu..”


“Jika kamu ingin membebaskan dirimu dariku, maka mintalah. Akan aku kabulkan..”

__ADS_1


**


To be continue..


__ADS_2