LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 417


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“Maaf ya, aku jadi lalai mengurus Anthony .. merepotkan kalian, Bru, Gar.” Adalah Gadis yang berucap pada Bruna dan Garret, saat Gadis menyambangi kamar Anthony.


“Me and Garret are his parents, okay? ( Aku dan Garret orang tuanya juga, oke? ) ..” cetus Bruna.


“Indeed. Dan sebelum kamu datang, we did the duty to take care of Anth ( Kami sudah melakukan tugas untuk mengurus Anth )”


Gadis pun tersenyum setelah mendengar cetusan Bruna yang kemudian ditimpali oleh Garret.


Begitu juga Bruna dan Garret yang tersenyum kemudian. “Now better you take a rest ( Sekarang sebaiknya kamu beristirahat ), Gadis,” cetus Bruna lagi.


**


“Tidak, Bru, Gar .. kalian saja yang beristirahat, biar aku yang menjaga Anthony.”


Gadis lalu menanggapi cetusan Bruna.


Dimana Bruna langsung saja mendengus setelah Gadis berucap barusan.


**


“Do not stubborn, please? ( Tolong jangan keras kepala? )” ucap Bruna kemudian. “Remember you’re pregnant woman ( Ingat kalau dirimu ini adalah wanita hamil ) –“


“Dan dari apa yang aku dengar, kamu, sempat jatuh bukan?”


Sekali lagi Garret menimpali ucapan Bruna, dan Gadis pun mengangguk.


“Then it’s you, yang seharusnya lebih beristirahat than us,” cetus Bruna dengan campuran bahasa, dan Gadis tersenyum.


“Bru’s right. Masih ada cukup waktu for us untuk beristirahat sebelum dinner. Dan aku berpikir jika I will spend time di kamar Anth, sampai waktu makan malam tiba.”


Begitu juga Garret yang menimpali ucapan Bruna, dengan pria itu yang menggunakan campuran bahasa Inggris dan Indonesia.


“Baiklah kalau begitu, Gar, Bru –“


**


Waktu makan malam tiba, dan Gadis yang sebelumnya sudah mengistirahatkan dirinya sebentar selepas berendam dengan dibantu oleh Bruna, beranjak dari ranjangnya.


Kemudian melangkah menuju pintu penghubung kamarnya dan Anthony, lalu membukanya dengan sangat perlahan dan hati –hati. Takut mengganggu Anthony berikut Garret yang memilih beristirahat di kamar Anthony.


Namun saat pintu penghubung terbuka, sudah ada Bruna di sana dengan Garret yang sudah juga terbangun.


“You wake up ( Kamu sudah bangun ), Gadis?”


Bruna langsung menegur Gadis yang sudah nampak di ambang pintu penghubung kamar Gadis – Putra dan Anthony saat pintu itu terbuka.


“Iya, Bru ... belum lama sebelum aku kesini.”


**


“I’ll take my dinner here ( Aku akan makan malam di sini )” Garret berujar.


Bruna pun mengangguk, lalu berkata, “I’ll tell Pak Abdul to bring food for you here then ( Kalau begitu aku akan meminta Pak Abdul mengantarkan makananmu ke sini )”


Gantian Garret yang mengangguk seraya mengiyakan ucapan Bruna barusan.


“No, Gar,” sergah Gadis kemudian. “Let me the one who’s eat here ( Biar aku yang makan disini )”


Garret lalu tersenyum, sebelum ia menanggapi ucapan Gadis.


“Have you forget that your step mother here ( Apa kamu lupa kalau ada ibu tiri kamu disiini )? Kamu harus menemaninya makan malam, bukan? –“


“Oh iya, ya. I forget about her ( Aku lupa tentangnya ) –“


“So better you and Bru go to the dining room now ( Jadi sebaiknya kamu dan Bru pergi ke ruang makan sekarang ) ...”


“Gar was right. Perhaps your step mother already get hungry. And we should treat our guest that good, especially if they’re family that you accept ( Gar benar. Mungkin ibu tirimu sudah lapar. Dan kita harus memperlakukan tamu kita dengan baik, terutama jika mereka adalah keluargamu yang kamu terima )”


Gadis pun mengangguk seraya tersenyum setelah mendengar penuturan Bruna.


“Thanks, Bru, Gar –“


“Stop being formal to us ( Berhenti bersikap kaku pada kami ), Gadis –“


**


Gadis dan Bruna lalu melangkah keluar dari kamar Anthony setelah mencukupkan pembicaraan dengan Garret, dan tak lama Pak Abdul menyambangi mereka untuk memberitahukan jika makan malam sudah siap.


Bruna yang lebih dulu pergi ke ruang makan, sementara Gadis menyambangi kamar tamu yang sedang ditempati ibu tirinya itu untuk mengajaknya serta makan malam bersama dirinya dan Bruna.


“Bu –“


“Duh Dis, kamu kemana aja sih?! Ibu tungguin dari tadi!”


**

__ADS_1


“Ibu tuh laper, Dis! Tadi keluar kamar terus nyium bau masakan makin laper. Eh pas ibu mau nyendok makanan di atas meja, malah dilarang sama para jongos di dapur!” Ibu tiri Gadis merepet seenaknya.


Gadis melipat bibirnya, lalu menanggapi ucapan ibu tirinya itu.


“Kebiasaan di sini, Bu. Makan saat waktunya tiba, dengan semua anggota keluarga yang ada berkumpul untuk makan bersama –“


“Duh ribet banget sih Dis?!” potong ibu tiri Gadis. “Udah mana songong – songong lagi itu jongos di sini! Ga bilang kamu sama mereka siapa ibu ini buat kamu? Biarpun ibu tiri, ibu ini kan ibu kamu juga yang harus para jongos itu hormati!”


“Aku memang belum sempat mengatakan pada mereka siapa ibu.”


Gadis lalu berujar setelah ibu tirinya merepet.


“Tapi mohon maaf sebelumnya ya, Bu. Tolong ibu jaga tutur kata ibu di sini, karena aku juga menumpang hitungannya.”


**


“Dan lagi, para asisten rumah tangga di sini, hanya menjalankan tugas seperti biasa mereka melakukan tugasnya, sesuai dengan kebiasaan yang sudah dilakukan dan berlaku di villa ini bahkan sebelum aku datang dan menjadi bagian dari keluarga suamiku yang tinggal di tempat ini. Jadi selayaknya pendatang, ya kita harus ikut aturan. Ibu tolong menyesuaikan saja, ya? –“


“Iya iya ... Sekarang udah bisa makan belum? Ibu udah mau pingsan saking laper,” tukas ibu tiri Gadis.


“Aku ke sini memang ingin mengajak ibu untuk makan malam bersamaku dan saudara iparku.”


Gadis menanggapi ucapan ibu tirinya itu.


Yang kemudian Gadis ajak menuju ke ruang makan.


**


Gadis menduga, jika kemungkinan ibu tirinya tidak paham yang namanya table manner, dan ia pun menyampaikan pada Bruna perihal kondisi itu seraya meminta ijin dan memohon maaf sebelumnya andai sikap ibu tirinya saat makan, tidak mengikuti etika yang terterap dalam villa sebelumnya.


Dimana setahu Gadis, baik Putra dan keluarga barunya itu --- memang sudah terbiasa dengan yang namanya table manner saat makan.


Berbeda dengan dirinya yang berasal dari kalangan biasa, namun Gadis mendapatkan pengetahuan soal table manner sejak ia tinggal di ibukota.


Dan Gadis menduga jika ibu tirinya tidak memiliki pengetahuan itu, karena sejauh yang Gadis ingat bagaimana dulu saat mereka masih sering makan bersama di meja makan saat almarhum ayah Gadis masih hidup, tidak ada yang namanya table manner di setiap sesi makan mereka.


Lagipun, makanan yang biasanya Gadis konsumsi sebelum mengenal Putra hanya memerlukan satu buah sendok saja. Bahkan biasanya makan tanpa menggunakan sendok, yakni langsung menggunakan tangan untuk menyuap nasi dan lauk pauk seadanya langsung ke dalam mulut.


Dan untuk kebiasaan itu, makanya Gadis mengatakan sekaligus meminta ijin dulu pada Bruna yang ternyata mau memaklumi dan tidak mempermasalahkan hal tersebut.


**


Bruna dan Gadis makan dengan tertib tanpa ada obrolan yang tercipta.


Yang mana ibu tiri Gadis makan dengan tertib juga hitungannya, karena ia tidak juga bicara selama ia makan.


Hanya terkadang suaranya terdengar bertanya, “kalo ibu mau nambah boleh engga, Dis? – lauk yang ini entar ibu bawa ke kamar boleh ga kalo ga abis? Takut ibu laper malem – malem.”


“Silahkan saja, Bu ...” jawab Gadis semata agar ibunya itu tidak terlalu ribut saat makan.


**


“Ada apa, Pak Ab – dul? ...”


“Ada seorang perempuan muda di depan yang memaksa masuk, Nyonya –“


“Itu Madya pasti, Dis! –“


**


**


“Aku dikasih kamar sendiri ya, Dis? ...”


“Mohon maaf Madya, aku tidak bisa sembarangan memberikan kamar begitu saja –“


“Yah kan kamu sekarang Nyonya di istana ini, gimana sih? –“


“Ini rumah suamiku dan keluarganya Madya, aku harus meminta ijin mereka dulu, termasuk memberikan kamar tamu untuk kamu –“


“Ya masa aku tidur di ruang tamu kalo aku tinggal disini?”


“Kamu bisa tidur di kamar yang sama dengan ibu. Dan lagi, aku tidak bilang kalian akan tinggal di sini –“


**


“Kita harus tinggal di sini, Bu! Gimanapun caranya!”


“Oh harus itu!”


“Ya udah, Bu. Langsung aja itu di kasih ke si bego Gadis ramuan yang dari dukun kenalan ibu tadi biar cepet mati itu anaknya sekalian sama dianya kalo perlu! Jadi pas suaminya pulang, bisa langsung aku gaet!”


“Iya, nanti ibu kasih minum itu ramuan pas ada kesempatan deketin si Gadis pas dia lagi sendirian –“


“Ga usah nunggu nanti. Sekarang aja. Bawain aja itu ramuan ke kamarnya. Sekalian aku mau liat kamarnya si Gadis. Mau cari kesempatan juga, ambil bajunya yang pasti bagus – bagus dan mahal itu, sekalian sama emasnya.”


“Oh iya betul. Pasti banyak itu emasnya si Gadis yang dikasih sama suaminya –“


**


“Ga beres tuh kayaknya ramuan dari dukun kenalan ibu. Tuh si Gadis buktinya masih sehat – sehat aja walaupun udah ibu sering kasih minum itu ramuan?! –“

__ADS_1


“Sabar. Kenalan ibu bilangnya dua hari efeknya baru bisa diliat. Nah ini pas dua hari, tapi kan belom malem! Tungguin aja dulu!”


“Kalo gitu entar malem kita ngendik – ngendik aja ke kamarnya Gadis, Bu kalo emang efek ramuan belum keliatan. Kita bekep aja si Gadis pake bantel biar mati cepet – cepet.”


“Boleh juga tuh ide kamu!”


**


**


‘Mual sekali rasanya. Tapi sedari tadi tidak ada muntah. Mungkin bayiku dan Putra ingin kudapan, ya?’


Adalah Gadis yang berkata di dalam hatinya, kala ia sudah berada di atas ranjangnya, dengan Anthony yang tidur bersamanya.


Gadis terbangun, karena merasakan ada ketidaknyamanan dalam dirinya. Lalu berpikir, mungkin rasa tidak nyaman yang sedang ia rasakan adalah salah satu efek kehamilannya.


**


Gadis yang merasakan mual di perutnya yang sedikit ia rasakan kram juga, berpikir untuk mengambil kudapan di dapur. Lalu beringsut dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya dengan perlahan. Kemudian Gadis berjalan menuju tangga yang aksesnya dapat sampai langsung ke bagian villa yang dekat dengan dapur.


Tanpa Gadis menyadari, jika ada dua pasang mata yang menangkap keberadaan Gadis dari sejak ia keluar dari kamarnya dan Putra. “Eh Bu, itu si Gadis mau kemana, Bu? –“


“Mau ambil minum kali ke dapur? –“


**


Sementara pemilik dua pasang mata itu sedang berbisik dari jarak yang tidak bisa di dengar Gadis, karena Gadis juga sedang fokus pada dirinya sendiri yang berhenti di ujung anak tangga lantai dua. ‘Kepalaku pusing sekali..’


Sambil Gadis membatin dengan memijat pelan sisi kanan dan kiri keningnya. Dimana dua orang yang sedang memperhatikan Gadis itu melanjutkan bisik – bisik mereka. “Sstt. Dia berhenti tuh Bu ...”


“Kesempatan kita nih kayaknya buat nyelakain dia –“


“Kalo gitu ibu liat situasi. Aku mau dorong dia tuh yang pas banget berdiri deket tangga. Kayaknya juga dia mijet kepalanya.”


“Ramuannya berhasil berarti.”


“Ya udah ibu cepet liat situasi.”


“Sip.”


**


Lalu ketika wanita paruh baya yang adalah ibu tirinya Gadis itu celingak – celinguk pada lantai dua villa yang sepi, dia mengangkat satu jempolnya yang ia arahkan ke satu sudut dimana satu wanita muda yang bersiap untuk melancarkan aksinya mencelakai Gadis --- yang mana wanita muda itu adalah saudara tiri Gadis, wanita itu langsung mengangguk.


Sedetik kemudian, dengan tanpa suara berikut langkah yang lebar namun dengan kehati – hatian, saudari tiri Gadis itu, berjalan ke arah Gadis yang telah selesai memijat kecil kepalanya sendiri, kemudian meneleng sebentar.


Dimana dalam hati Gadis berkata, ‘Sebaiknya aku kembali ke kamar saja ...’ lalu hendak berbalik dari posisinya yang sedang menghadap ke titian anak tangga. Hanya saja sebelum sempat Gadis berbalik badan, dua tangan keburu mendorong Gadis dengan menekan punggung Gadis sekuat tenaga.


Bruuk!


Hingga menyebabkan Gadis yang tak awas itu, jatuh dengan cepat dengan terguling di titian tangga.


Dimana ibu dan saudari tiri Gadis, langsung pergi dari lantai dua, dan bersembunyi karena menyadari Gadis yang sempat berteriak kala terdorong itu, pasti akan membangunkan seisi villa.


Yang mana tepat seperti dugaan keduanya, tak lama setelah teriakan Gadis terdengar --- seluruh penghuni villa keluar dari kamar mereka, terutama yang posisi kamarnya dekat dengan tempat kejadian. Karena teriakan Gadis tentulah memecah kesunyian dalam villa di lewat tengah malam.


Dan disaat semua orang telah berhambur keluar kamarnya masing – masing termasuk juga para bodyguard yang berjaga tepat di luar bangunan utama villa berikut para pelayan yang mendapat panggilan lonceng yang dibunyikan dengan tergesa oleh Bruna saat mendapati Gadis yang tergeletak tidak sadarkan diri di dekat anak tangga paling bawah, dua orang pelaku yang membuat keadaan Gadis seperti sekarang, memanfaatkannya untuk masuk dengan cepat namun berhati – hati ke kamar mereka.




England,


“Bru, how’s Gadis ( bagaimana keadaan Gadis )?!”


Dan kabar mengenai Gadis yang entah bagaimana bisa terjatuh dari lantai dua, telah sampai ke telinga Putra yang tanpa berpikir dan menunggu, langsung menghubungi villa melalui saluran rahasia mereka yang belum lama sebelum Putra tiba di mansion lama milik keluarganya,  telah dipasang oleh satu dari dua orang kepercayaan Accursio.


“Gadis is okay ( Gadis baik – baik saja ) ..”


Bruna yang menerima sambungan telepon dari Putra itu, setelah ia memeriksa keadaan Gadis dengan seksama. Dan beruntung memang Bruna memahami betul soal medis, lalu ia sendiri yang memeriksa keadaan Gadis yang sempat tidak sadarkan diri itu. Kemudian setelah Gadis Bruna pastikan tidak mengalami luka serius yang mengancam nyawanya, Bruna memberikan perawatan kepada Gadis yang kemudian dilimpahkan pada Garret untuk melakukan sisanya, kala Putra menghubungi.


“She has no broken bones, and her head also not seriously injured ( Dia tidak mengalami patah tulang, dan kepalanya juga tidak terluka dengan serius ) ..” lanjut Bruna selepas menjawab pertanyaan Putra sebelumnya. “But she’s shock deeply ( Tetapi dia syok cukup dalam ) ..”


Lalu kalimat Bruna berikutnya terdengar penuh penyesalan.


“Because yours baby .. can’t survive ( Karena bayi kalian.. tidak dapat selamat ) ..“


Putra langsung termangu setelah mendengar ucapan Bruna barusan.


Menghela berat nafasnya, lalu Putra berkata, “Just take care a good of her until I’m home ( Rawat dia dengan baik sampai nanti aku pulang ) –“


**


“Dev, prepare the plane no matter what ( siapkan pesawat bagaimanapun itu )”


Putra lalu bicara pada Devoss setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Bruna.


“I’m heading to Indo by now ( Aku akan kembali ke Indo sekarang juga )”


*****

__ADS_1


To be continue ...


Terima kasih masih setia.


__ADS_2