LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 119


__ADS_3

Happy reading....


🎑🎑🎑🎑🎑


Dua insan yang baru saja berbagi kenikmatan dunia hakiki yang berakhir dengan kelegaan, berikut kepuasan dengan peluh yang menghiasi tubuh keduanya, kini sedang mengatur nafas mereka yang masih sedikit terengah-engah.  Putra masih belum beranjak dari posisinya.


“Maaf Tuan, mau sampai kapan anda ada diatasku seperti ini? ...”


Putra spontan terkekeh mendengar ucapan Gadis barusan.


“Sepertinya aku enggan beranjak, Nona...” Jawab Putra dengan tersenyum meledek.


“Apa anda tidak sadar jika anda begitu berat, Tuan Putra? ...”


“Benarkah aku seberat itu, Nona Gadis? ..” Balas Putra. “Hem... tapi tunggu ...”


“Kenapa?”


Putra tidak langsung menjawab pertanyaan Gadis.


“Aku pikir kamu sudah harus mengganti namamu sekarang ...”


“Mengganti namaku? ...” Gadis mengernyitkan dahinya.


“Hemmm”


Putra manggut-manggut.


“Apa? Menjadi Nyonya Putra, begitu? ...”


 Putra mengulum senyumnya sembari menatap Gadis.


“Tidak sabar menjadi istriku, hem? ..”


Putra menggoda jahil. Dan Gadis pun berdecak.


Putra sontak terkekeh kecil.


“Kamu tahu kamu menggemaskan jika memasang wajah seperti itu?”


“Wajahku memang menggemaskan dalam keadaan apapun...” Sahut Gadis.


Putra kembali terkekeh kecil. “Dan itu yang membuatku tak bisa menahan diri..”


Putra membingkai wajah Gadis dengan tangannya.


“Maafkan aku untuk itu...”


“............”


“Maaf karena aku tak bisa menahan diriku untuk tak menyentuhmu sebelum kita menikah...”


“............”


“Tapi tenang saja, aku akan bertanggung jawab”


Gadis langsung saja mendengus geli mendengar ucapan Putra barusan.


“Ya tentu saja kamu harus bertanggung jawab! Kamu kan sudah ...”


Gadis menggantungkan kata-katanya dan nampak menggigit bibirnya sendiri.


“Sudah apa, hem?”


Putra melemparkan tatapan jahilnya.


“Sudah apa?..”


Lalu Gadis mencebik sebal.


“Apa perlu aku katakan dengan detail?!”


Kemudian Gadis mendelik dan sedikit melirik kearah tubuhnya yang masih dihimpit Putra yang berada diatasnya, dengan wajah cemberut pada Putra yang spontan terkekeh geli.


“Itulah mengapa sebabnya aku pikir kamu harus mengganti namamu, Nona Gadis”


“Ya tentu saja aku akan merubah nama belakang atau sebutanku jika benar kamu akan bertanggung jawab atas perbuatanmu ini!”


Putra terkekeh lagi.


“Kamu ini...”


Putra menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gadis.


“Jikapun yang baru saja terjadi tidak terjadi, aku akan tetap menikahimu ...”


Kemudian Putra mengangkat wajahnya lagi dan menatap Gadis setelah sesaat menghirup aroma tubuh Gadis dengan sisa-sisa titik keringat yang masih menempel di ceruk leher Gadis itu.


“Maksudku kamu harus mengganti namamu itu, yang tadinya ‘Nona Gadis’, menjadi ‘Nona Tidak Gadis Lagi’...”


“Putraaa!...” Gadis memekik sebal sembari memukul-mukul pelan bahu Putra yang mengejeknya barusan.


Dimana Putra langsung tergelak geli karena wajah Gadis langsung merona atas ejekannya.


“Sudah sana awas!”


Gadis berusaha mendorong tubuh Putra yang masih nampak sangat betah berada diatasnya dengan miliknya yang masih bersarang di sebuah gua yang lembab, juga betah berada di sana macam pemiliknya.

__ADS_1


“Badanmu berat, tahu tidak?!....”


Sembari Gadis mengeluarkan protesnya.


‘Lagipula ....’


Gadis mulai sadar jika sesuatu miliknya masih ‘tersumbat’ oleh sesuatu dibawah sana.


‘Apa dia tidak sadar jika itu-nya membuatku sesak apa?! ....’


 Gadis masih membatin dan Putra masih bergeming.


‘Dia menyadari tidak sih, jika adik kecilnya itu tidak kecil???! ....’


“Gadis ....”


‘Oh, ya ampun.... bisa-bisa aku minta dia untuk hilang kendali sekali lagi jika Putra berikut adik kecilnya itu tetap menempel seperti ini....’


Gadis masih meronta pelan.


“Gadis ....”


Putra sudah dua kali menyebut nama Gadis dengan suaranya yang terdengar rendah, saat Gadis sibuk meronta.


Namun sepertinya Gadis tak memperhatikan Putra yang memanggilnya sebanyak dua kali itu.


“Gadis!”


Gadis kemudian terkesiap saat Putra sedikit meninggikan suaranya dan satu tangannya membuat Gadis menatapnya.


“Apa yang, kamu, lakukan?....”


“Ap-a??....” Gadis sedikit tergugu, karena raut wajah Putra nampak aneh, nampak seperti sedang menahan nafas.


“Kamu....” Putra mulai nampak mengatur nafasnya, sembari merasakan sesuatu yang mulai menggeliat kembali dibawah sana. “Men-jepit, ku....”


Tadinya, Gadis tak paham yang Putra maksud. Namun setelah Putra melirik ke arah bawah mereka yang masih menempel itu, Gadis kemudian membesarkan matanya dengan mulutnya yang spontan terbuka.


Gadis baru menyadari kala ia sedang meronta agar Putra membebaskan dirinya dari kukungan rapat pria itu, dan sibuk dengan pikirannya. Gadis tanpa sadar menegangkan otot pinggulnya yang berefek pada gerakan otot di tempat lainnya, dimana itu tentu saja berefek pada sesuatu yang sedang bersemayam disana.


Gadis mendadak gugup, merasakan benda yang tadi diam kini mulai menggeliat dan mulai menghadirkan kembali sengatan di sekujur tubuh Gadis. Dimana sebuah seringai nampak di wajah Putra.


“Kamu membangunkannya, Gadis ....”


‘Habislaahh ....’


***


“Sekali lagi, boleh?....” Putra mengusel diantara telinga dan ceruk leher Gadis.


Namun mulut Gadis tak sinkron dengan hatinya kala Putra sudah memainkan cupingnya, sembari Putra yang entah sengaja atau tidak, menggerakkan adik kecilnya yang berada disuatu lembah tersembunyi.


“Ak-u, letih-Putraa....”


“Ak-u, janji, tidak-akan lama ....”


“Ja-ngan Putraaa ....A-ku, le-lah ...” Mulut Gadis menahan agar Putra tak meneruskan. “Ahh ....”


Tapi nyatanya tangan dan kaki Gadis tak sepakat dengan mulutnya.


Mulut Gadis memang melarang, tapi tangannya mencengkram kuat kepala Putra dengan meremat rambut Putra, yang mulut berikut organ perasa di dalamnya serta tangan Putra yang sudah kembali menjelajahi tubuh Gadis.


Putra nampak berantakan, namun justru membuat Putra nampak makin terlihat tampan dan menggoda dimata Gadis.


Tak hanya tangan Gadis, tapi kakinya sudah melingkar kembali di pinggang Putra, yang membuat Putra kian antusias dan bersemangat untuk mengulang kembali hal yang membuatnya terbang ke awang-awang.


‘Tekutuklah wahai kaki dan tanganku!’


Gadis merutuki dirinya dalam hati.


“Ahh ....”


Sebuah ******* lolos lagi dari mulut Gadis, saat Putra sudah nampak fokus menggerakkan miliknya kembali di bawah sana.


‘Juga mulutku! ....’ Rutuk Gadis lagi yang semakin kian mencengkram kuat tubuh Putra dengan tangan dan kakinya.


**


“Ti-dur-lah, ji-ka, ka-mu, le-tih, dan-mengantukh....”


‘Bagaimana aku bisa tidur jika beginiiiii???!!!...’ Jerit Gadis dalam hati, dengan tubuhnya yang nampak bergoncang dibawah kuasa tubuh Putra.


Gadis meringis. Masih ada perih yang lumayan menderanya di bawah sana. Mengingat betapa sempit miliknya, dan betapa, ehem! Besarnya milik Putra.


Namun tak ayal, kenikmatan yang sedang menggulung tubuhnya saat ini karena perbuatan Putra tak sanggup Gadis sangkal.


“A-ku... tidak-akan... lama...”


Putra berucap disela ia bergerak diatas Gadis.


Tapi,


Putra bohong.


“Put-ra ... ahh ...”


Kenyataannya, selain Putra menjadi lebih liar dari sebelumnya, pertahanan Putra juga sama lama bertahannya.

__ADS_1


Suara d*sahan nafas yang memburu terus beradu dalam kamar pribadi Putra tersebut. Disana, diatas ranjang pribadi Putra, dua insan kembali tenggelam dalam penyaluran hasrat manusiawi yang ada dalam diri mereka.


Hingga setelah beberapa waktu yang dua insan itu bagi dalam kenikmatan ....


“Put-raa!!! ....” Gadis melengkungkan tubuhnya yang sudah bermandikan keringat itu diujung pertahanannya, dimana Putra merajai kembali tubuh Gadis itu. Sesaat dimana Gadis melengkungkan tubuhnya seraya memekik kala sensasi hebat kembali menggulung tubuhnya, yang membuat otak Gadis seketika kosong, Putra mendekap erat tubuh Gadis.


Putra juga sudah menggapai puncaknya berikut geraman Putra yang terdengar kala ia kembali merasakan ujung kehangatan penyatuannya dan Gadis yang membuat Putra lega dan merasa seolah terbang ke Nirwana.


Setelahnya, baik Putra dan Gadis seolah kehilangan semua kekuatan dalam tubuh mereka. Merasa lemas dan mengantuk.


Gadis menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Putra dengan dadanya yang masih nampak sedikit naik turun.


“I love you that much Gadis.. (Aku sangat mencintaimu Gadis)..” Putra berbisik di telinga Gadis, setelah Gadis lebih dulu hilang kesadaran.


Kemudian Putra tersenyum dan memandangi wajah Gadis yang terlelap dan nampak sangat lelah itu, lalu menciumi wajah Gadis sebelum pada akhirnya Putra juga ikut hilang kesadaran.


**


Bibir Putra sontak melengkung keatas dengan sempurna hingga menciptakan sebuah senyuman di wajahnya, ketika Putra mendapati kesadarannya dan ada Gadis dalam pelukannya. Hari sudah sangat terang diluar sana.


Tubuh Putra masih terbalut selimut yang ia bagi bersama Gadis yang tubuhnya sama polosnya dengan Putra dibalik selimut.


“Lovely.... (Cantik) ....”


Putra berucap pelan setelah sejenak memandangi wajah Gadis yang nampak masih pulas itu.


“Mmm .... Aku mencintaimu Putra....”


Suara Gadis terdengar pelan, namun matanya masih nampak terpejam.


Putra menarik lagi sudut bibirnya karena Gadis meracau dalam tidurnya dan membawa tubuh Putra dalam dekapannya.


“Aku lebih mencintaimu” Bisik Putra. Lalu ia mengecup kening Gadis yang nampak memposisikan dirinya senyaman mungkin dalam tidurnya. “But sorry, I have to go (Tetapi maaf, aku harus pergi)”


**


Putra telah bersama seseorang kini.


Bersama seorang pria lebih tepatnya.


“Is there any problem after I take Gadis from JP (Apa ada masalah setelah aku membawa Gadis dari JP) , Ar?” Itu Putra yang bertanya. Arthur lah yang sedang bersama Putra saat ini.


“Haven’t sure, but Hidde a.k.a Frans, called me and ask for a confirmation about it (Aku belum terlalu yakin, tetapi Frans menghubungiku dan bertanya untuk mengkonfirmasikan hal itu),” Jawab Arthur.


“Just it? .. (Hanya itu?..)”


“Well, he asked again how do you know Ramone Zeeman (Yah, dia bertanya lagi tentang bagaimana kau mengenal Ramone Zeeman)”


“Then? (Lalu?) ..” Tanya Putra.


“I told Hidde to ask you by himself (Aku katakan pada Hidde untuk menanyakannya langsung padamu)”


“Hemm”


“That would be okay right? (Tidak apa-apa bukan?)”


“Sure that okay (Tentu saja itu tidak apa-apa),” Sahut Putra.


“May I ask something? (Boleh aku bertanya sesuatu?)”


Putra mengulurkan tangannya, lalu menyalakan rokoknya.


“Go ahead (Silahkan saja)..”


“Who is Ramone Zeeman? (Siapa itu Ramone Zeeman?)”


“An old friend (Seorang teman lama)”


“I see (Begitu)” Arthur manggut-manggut.


“Back to that JP’s owner (Kembali tentang pemilik JP itu)”


“Ya?”


“Did you tell him that I took Gadis for forth, and I won’t let her get back there anymore? (Apa kau mengatakan padanya jika aku membawa Gadis untuk seterusnya, dan tidak akan membiarkannya kembali kesana lagi?)..”


“He didn’t ask about that so I didn’t think to tell him about it (Dia tidak bertanya soal itu dan akupun tidak sampai berpikir dan mengatakan hal itu padanya)”


Putra manggut-manggut. “I will go to Villa by today, and I will take Gadis with me (Aku akan kembali ke Villa hari ini, dan aku akan membawa Gadis bersamaku)”


Arthur kembali manggut-manggut.


“If the JP Owner asked you about Gadis, tell him like the way I told you (Jika si pemilik JP itu bertanya padamu lagi tentang Gadis, katakan padanya seperti apa yang aku katakan padamu)”


“Okay”


“If he asked that means I bought Gadis from him.. (Jika ia bertanya itu artinya aku membeli Gadis darinya..)”


Putra menggantung ucapannya seraya mengkode Arthur untuk tak berbicara lagi.


“Get out from your place (Keluar dari tempatmu),” Putra berucap.


Pada seseorang yang Putra tahu sedang menguping pembicaraannya dan Arthur.


**


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2