
Happy reading....
***************
‘Tidak akan kulepas, meski kamu ingin melepas. Gadis ..’
Putra mendekap Gadis yang matanya sudah terpejam entah sejak kapan itu.
Geramnya pada Gadis rasanya sudah menguap, dengan mendekap Gadis seperti ini saja, selain rasanya Putra tak tega membayangkan Gadis yang menangis sampai istrinya itu tertidur.
Putra memejamkan matanya kemudian, setelah ia membuat posisi tidur Gadis menjadi seperti biasa saat tidur jika tidak sedang bertengkar seperti saat ini. Namun baru saja Putra hendak melelapkan dirinya, sebuah pergerakan dari Gadis membuat Putra kembali membuka matanya.
Pergerakan yang membuat Putra sedikit merundukkan kepala dan pandangannya, untuk melihat apa Gadis terjaga atau tidak. Karena pergerakan Gadis itu, adalah Gadis yang melingkarkan tangannya di pinggang Putra yang sedang mendekap tubuh istrinya itu.
Putra berharap Gadis terjaga sebenarnya. Karena mungkin ia dan Gadis bisa melanjutkan pembicaraan mereka dengan kepala dingin kali ini.
Sehingga efek pertengkaran tidak akan berlanjut di esok hari dan membuat ketidak nyamanan kian menjadi-jadi.
Namun setelah diperhatikan, mata Gadis masih terpejam lekat dan nampaknya ia tetap pulas dalam tidurnya. Putra tersenyum tipis kemudian.
Meskipun ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Gadis yang menimbulkan sedikit pertengkaran, namun Putra tidak tega untuk membangunkan Gadis yang tampak pulas dan wajahnya sedikit sembab itu.
Putra kembali mendekap erat tubuh Gadis, dan memejamkan matanya lagi, hingga ia pun jatuh terlelap pada akhirnya.
Dan sepasang suami istri itu pun tidur dengan saling berpelukan erat.
***
Tubuh atletis Putra yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tubuh Gadis itu, masih melingkupi tubuh sang istri sampai pagi tiba. Dimana Gadis yang terjaga lebih dahulu daripada Putra dan merasakan jika tubuhnya sedang dalam tangkupan tubuh Putra.
Gadis yang sudah penuh terbangun dari tidurnya itu belum menggerakkan tubuhnya. Hanya kepala Gadis saja yang bergerak untuk mendongak ke arah wajah Putra.
Itupun Gadis lakukan dengan sangat perlahan.
Gadis tersenyum tipis saat matanya mendapati ciptaan Tuhan yang indah dan tampan, tertangkap dalam pandangan matanya saat ini.
Pria yang semalam, membuatnya merasa kesal dan sedih dalam masa yang bersamaan. Rahang tegas yang sedang mengatup dan akan terlihat menyeramkan bila sedang marah atau bahkan tak senang itu, Gadis kecup sekilas.
Lalu secara perlahan dan hati-hati, Gadis melepaskan dirinya dari pelukan Putra karena tidak mau mengganggu tidur suaminya yang entah sadar atau tidak, Gadis pikir tidur dengan memeluknya seperti itu, mengingat Putra yang suaranya Gadis tangkap sedang diliputi kemarahan.
Bahkan Putra terdengar mengeluarkan ancaman padanya, sebelum keluar dari kamar mereka. Meninggalkan Gadis sendirian untuk beberapa lama, yang kemudian menangis setelah pintu kamarnya dan Putra terdengar tertutup, dan sosok suaminya itu meninggalkan kamar.
Gadis segera turun dari ranjang dengan perlahan setelah ia melepaskan dirinya dari Putra yang tadi memeluknya itu. Lalu Gadis segera masuk ke walk in closet untuk mengambil pakaian gantinya, sebelum ia masuk ke kamar mandi dan mengguyur dirinya di bawah kucuran shower dengan air hangat.
*
Mata Putra terbuka saat Gadis telah dirasa berada di dalam kamar mandi yang tembus dari dalam walk in closet mereka.
Tanpa Gadis sadari, bahwa sebenarnya Putra telah terbangun duluan sebelum Gadis membuka mata.
Hingga kecupan kecil Gadis di rahangnya pun bisa Putra rasa. Ada senang dan rasa tak nyaman yang bersamaan di hati Putra merasakan sikap Gadis padanya itu, pagi ini.
Efek pertengkaran tadi malam sepertinya tidak dibesarkan oleh Gadis, meskipun Putra berkata tajam padanya semalam. Toh buktinya Gadis masih mau mengecup Putra saat ia bangun tidur tadi.
Walaupun hanya kecupan kecil dan bukan di bibir seperti biasa. Namun setidaknya Gadis tidak memperpanjang rajukannya untuk mengabaikan Putra atau pun mendendam, meski Putra tahu jika Gadis sempat menangis sampai tertidur.
*
“Kamu sudah bangun?”
Gadis bertanya pada Putra yang ia lihat baru beringsut dari ranjang, kala ia keluar dari kamar mandi dan telah rapih berpakaian.
“Baru saja ...” jawab Putra. Sembari ia menoleh pada Gadis yang barusan menegur seraya bertanya padanya dengan suara lembut Gadis seperti biasa.
Tak nampak kekesalan di wajah Gadis seperti semalam, saat ia sempat berkata tajam pada Putra dan mengabaikannya. Gadis juga sudah tidak mendiami Putra lagi seperti semalam.
“Kamu mau langsung mandi?” tanya Gadis, sembari menghampiri Putra yang sudah berdiri sekarang.
“Iya...”
“Mau aku siapkan air hangat di bathtub?...”
Putra langsung menggeleng.
“Tidak usah ... aku akan mandi menggunakan shower saja.”
Suara Putra terdengar datar, ia pun tak bersikap manja apalagi mesra, ataupun menggoda seperti biasa pada Gadis. Membuat Gadis menghela pendek nafasnya dengan pelan.
*
“Aku siapkan baju kamu dulu, kalau begitu...” ucap Gadis dengan nada suaranya yang lembut seperti biasa.
Gadis tersenyum juga pada Putra dan melangkahkan kakinya menuju walk in closet.
“Tidak usah ... biar aku saja yang menyiapkannya sendiri ...”
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu, aku akan melihat Anthony dulu ...”
Putra hanya menganggukkan kepalanya pada Gadis, yang kemudian berjalan menuju pintu penghubung kamar mereka dengan kamar Anthony, setelah tersenyum kecil pada Putra.
*
Hanya sebentar saja Gadis berada di kamar Anthony. Karena si empunya kamar masih tertidur dengan lelapnya, dan Gadis urung untuk membangunkannya, sebelum ia bertanya terlebih dahulu pada Putra.
Meskipun rasanya Gadis berhak mengambil keputusan apakah ia akan membangunkan Anthony atau tidak, namun Gadis tidak mau melangkahi Putra.
Selepas kepergian Putra setelah perdebatan mereka yang berujung pertengkaran, selain menangis, Gadis banyak berpikir. Baik tentang Putra, maupun tentang dirinya.
Gadis berpikir jika ia telah mencintai Putra dan memutuskan untuk menerima Putra sebagai suaminya.
Dan itu berarti, bahwasanya Gadis telah juga memutuskan untuk hidup bersama Putra, apapun konsekuensinya.
Gumaman tentang penyesalannya yang menikahi Putra, hingga membuat suaminya itu menjadi geram, kalau dari nada suaranya yang terdengar semalam itu, sesungguhnya hanya ungkapan kekesalan Gadis sesaat saja.
Otak polosnya yang Gadis kadang rasa bodoh itu spontan berpikir, jika dengan dia berbicara seperti itu, Putra akan luluh dan merayunya. Dan mau mempertimbangkan soal kepergiannya untuk membalas dendam pada orang yang telah membunuh orang tua Anthony.
Tapi nyatanya, gumaman sepintas lalu spontan Gadis itu, malah memicu kegeraman suaminya.
Yang sepertinya masih tersisa, jika Gadis melihat sikap Putra pagi ini, meskipun Gadis sudah mencoba untuk bersikap seperti biasa.
***
Gadis sudah kembali ke kamarnya dan Putra lagi saat ini. Namun Putra sudah tidak ada di tempatnya berdiri tadi, saat Gadis pergi ke kamar Anthony.
“Putra sudah di kamar mandi atau masih berada di dalam walk in closet ya?”
Gadis menggumam, sembari melangkahkan kakinya ke dalam walk in closet. Namun Putra tidak ada di dalam walk in closet, dan lantas Gadis langsung mendekat ke pintu penghubung antara walk in closet dan kamar mandi.
Tok .... Tok ....
Gadis mengetukkan tulang jarinya pada pintu penghubung antara walk in closet dan kamar mandi pada kamarnya dan Putra.
“Masuk saja!” Suara Putra terdengar dari dalam kamar mandi tak lama Gadis selesai mengetuk pintu penghubung.
Sreeet
Gadis mendorong pintu penghubung tersebut setalah mendengar suara Putra yang mempersilahkannya untuk masuk.
“Anthony masih tidur..”
“Mau dibangunkan sekarang, atau nanti saja?” sambung Gadis seraya bertanya pada Putra yang sudah bertelanjang dada itu.
“Nanti saja.” Tukas Putra yang sedang mengambil handuk bersih dari laci di bawah lantai wastafel.
Gadis pun dengan segera mengangguk pada Putra yang nampak datar berbicara padanya saat ini, bahkan terkesan dingin.
“Ya sudah kalau begitu ..”
Gadis tersenyum kecil pada Putra.
“Aku akan ke bawah dulu untuk menyiapkan sarapan ..”
Gadis tidak mau mengambil hati sikap Putra yang dalam pandangannya tampak masih ketus pada dirinya. Makanya sekarang ini Gadis bersikap biasa, dengan tutur kata yang juga sudah biasa, bahkan senyuman kecil juga Gadis sematkan.
Rasa tak nyaman dalam hatinya, sebisa mungkin Gadis abaikan atas sikap Putra padanya saat ini. Semata-mata karena Gadis tidak ingin ada pertengkaran lagi antara dirinya dan Putra meski kecil , seperti halnya semalam.
“Sudah menyiapkan pakaian untuk kamu pakai? ..”
“Sudah.”
“Ya sudah kalau begitu, aku akan pergi menyiapkan sarapan sekarang ..”
Gadis berucap untuk undur diri dari hadapan Putra.
Dan Putra hanya menjawab dengan anggukan saja.
*
“Hh ..”
Gadis menghela berat nafasnya saat ia telah keluar dari kamar mandi, dan menutup kembali pintu penghubung yang kini menempel di punggungnya.
Gadis hanya bisa pasrah pada sikap Putra padanya tadi. Yang di mata Gadis, jika suaminya itu begitu datar dan dingin sikapnya.
Tapi Gadis tidak mau melayangkan protesnya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika semalam Putra sempat berucap dengan sangat tajam padanya, bahkan ada sedikit ancaman dalam satu ucapan Putra yang ditujukan padanya.
Dan meskipun belum ada permintaan maaf yang keluar dari mulut Putra, bahkan sepertinya suami Gadis itu, Gadis anggap bahkan tidak ingin membahas soal semalam. Ditambah juga sepertinya Putra nampak enggan berbicara padanya. Sekali lagi, Gadis tidak ingin mengambil hati.
Karena Gadis sungguh tidak ingin, masalah yang terjadi hingga menimbulkan pertengkaran antara dirinya dan Putra semalam akan menjadi berlarut-larut.
Gadis menghela nafasnya lagi sebelum ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari walk in closet dan kamar untuk pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Namun Gadis sejenak menjeda langkahnya, kala melihat koper milik Putra yang bahkan masih rapih tertutup sejak suaminya itu datang dari belanda.
‘Kopernya dari Belanda saja belum dibongkar, dan besok Putra akan pergi lagi. Tabahkanlah hatiku Tuhan, dan lindungilah selalu suamiku dan keluarga ini ..’
Gadis membatin lirih.
*
Beberapa lama kemudian, Gadis yang telah selesai menyiapkan sarapan bersama Bruna dengan dibantu oleh dua asisten rumah tangga wanita paruh baya yang bekerja di Villa mereka itu, bergegas untuk kembali ke kamarnya dan Putra, guna memberitahukan suaminya itu jika sarapan telah siap.
Sekaligus juga Gadis akan membangunkan Anthony dan mengurusnya seperti biasa dari menyiapkan air mandi untuk Anthony, hingga pakaiannya, lalu mengajaknya untuk turun sarapan bersama. ‘Putra pasti sudah selesai mandi.’
Gadis menerka dalam hatinya.
‘Kalau begitu apa sebaiknya aku langsung ke kamar Anthony saja ya?. Siapa tahu dia sudah bangun.’
Dan Gadis menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Anthony yang segera ia buka dengan perlahan.
Karena memang, pintu utama kamar Anthony tidak pernah di kunci.
Namun alih-alih Anthony yang sedang terlelap di atas ranjangnya, malah Putra yang ia lihat baru saja menutup pintu kamar mandi Anthony. Dan si bocah tampan juga sudah tidak ada di atas ranjangnya.
Jadi Gadis sudah memastikan jika Anthony telah bangun, dan kini sedang mandi.
“Sarapan sudah siap.”
Gadis berbicara dengan nada yang seperti biasa pada Putra.
Gadis juga menampakkan senyum kecil pada suaminya yang langsung mengangguk kala ia memberitahukan bahwa sarapan telah siap.
“Kamu pergilah duluan ke ruang makan,” ucap Putra. “Aku dan Anth menyusul nanti.” Sambungnya.
“Kamu saja yang pergi duluan, biar Anthony aku yang mengurus .. Lagipula Ad, Dami dan Garret juga sudah ada di bawah.” Ucap Gadis.
Putra menganggukkan kepalanya.
Lalu tanpa kata, Putra mengayunkan langkahnya untuk keluar dari kamar Anthony dan pergi ke lantai bawah.
“Aku sudah menyiapkan pakaian untuk Anth kenakan. Ada di atas meja dalam walk in closetnya.”
Putra berucap sebelum ia mendekat pada pintu kamar Anth, dan Gadis lantas mengangguk dan menyahut mengiyakan.
Namun mata Gadis menangkap sedikit ada yang berbeda dengan penampilan Putra.
“Putra ..”
Panggil Gadis pelan.
“Ya?”
Putra menoleh dan menyahut.
“Apa kamu mau pergi? ..” tanya Gadis yang penasaran karena Putra tampak rapih dengan pakaian semi formal.
“Ya.”
Singkat saja Putra menjawab. Dan hanya kata ‘Oh’ saja yang keluar pelan dari mulut Gadis.
“Aku akan membawa Anth bersamaku.” Ucap Putra, dan pria itu langsung melangkah keluar dari kamar Anthony.
Seolah tidak ingin meladeni jika Gadis akan mengajukan pertanyaan padanya lagi.
Gadis tersenyum kecut selepas suaminya itu sudah melenggang dari hadapannya dan sudah keluar dari kamar Anthony.
Demi apapun rasanya Gadis ingin protes, selain sedikit kesal. Karena Putra akan pergi dengan membawa Anthony sekarang ini, selepas sarapan mungkin.
Dan rasanya kemarin, jauh sebelum bertengkar. Putra juga tidak mengatakan dirinya akan pergi ke suatu tempat hari ini, bahkan mengajak Anthony juga.
Hati Gadis mencelos kemudian. Memikirkan Putra akan pergi bersama Anthony, namun tidak mengajaknya. Gadis menatap nanar pintu utama kamar Anthony.
Lalu Gadis menghela nafasnya. Bahunya melorot. Gadis pasrah dengan sikap Putra padanya.
‘Aku tahu lukamu Putra, aku tahu kamu begitu dendam pada orang yang membunuh orang tua Anthony, dan betapa kamu ingin segera melenyapkan nya demi ketentraman dan keselamatan Anthony ..’
Gadis membatin lirih.
‘Protesku semalam hanya karena aku hanya sangat takut kehilangan kamu, seperti aku kehilangan orang tuaku ..’
Tenggorokan Gadis rasanya sedikit tercekat.
‘Apa itu salah, Putra? ..’ batin Gadis sedikit sesak. ‘Apa aku tidak lebih berharga daripada dendammu, sampai kamu memperlakukan aku seperti ini, sampai kamu sudah enggan untuk menganggap keberadaanku lagi? ..’
*
To be continue ..
__ADS_1