LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 187


__ADS_3

Happy reading...


“Gadis..”


“Ya?..”


“Aku akan pergi untuk sementara waktu.”


“Pergi?..”


“Iya. Aku akan pergi ke Belanda bersama Vader.”


“Kapan?”


“Secepatnya.”


**


Mereka yang berada di Villa sedang duduk-duduk santai di ruang tamu Villa selepas sarapan.


Para prianya. Namun minus Anthony.


Karena bocah tampan tersebut sedang bersama dua ibu angkatnya di dapur Villa untuk membuat kudapan.


“Have you talked with Gadis about the Honey Moon?.. ( Apa kau sudah bicara dengan Gadis tentang Bulan Madu? )..”


Addison buka suara untuk bertanya pada Putra. Putra pun langsung mengangguk. “Yes, I have.. ( Iya, sudah )..” jawab Putra.


“And then? ( Lalu? )”


“Same as Bru .. Gadis unwilling for that .. ( Sama dengan Bru .. Gadis enggan untuk itu ) ..”


“So it means that you can go to Netherland? ( Itu artinya kau bisa pergi ke Belanda? )” tanya Garret.


Dan Putra mengangguk.


“And have you told her about that too? ( Dan apa kau juga sudah memberitahukannya soal itu? )”


“Yes, I have.”


“And her opinion?”


“( Dan pendapatnya? )”


“A little bit worry. Since I have told her about the position that you gave me ( Sedikit khawatir. Karena aku sudah memberitahukan padanya tentang posisi yang kau berikan padaku ) , Vader ..” jawab Putra.


Ramone manggut-manggut.


“How far she knows about you?..”


“( Seberapa jauh dia mengetahui tentang dirimu? ) ..”


“Almost all ( Hampir semua )”


“Before or after the wedding? ( Sebelum atau sesudah pernikahan? ) ..”


“Before ( Sebelum )..”


Ramone kembali manggut-manggut.


“Then now she decided to still be with you, means that she can bear with it.”


“ ( Lalu sekarang dia memutuskan untuk tetap bersamamu, artinya dia dapat bertahan dengan itu )”


“Ya, hope so ( semoga saja ) ..” ucap Putra.


“Even Gadis can’t bear with it, he won’t ever let her go, I bet .. ( Walaupun Gadis tidak tahan, aku bertaruh dia tidak akan pernah melepaskannya ) ..”


Damian berkomentar sambil menunjuk pada Putra. Dan Putra pun mendengus geli.


“What I claimed mine, forever mine, remember? ( Apa yang sudah ku klaim sebagai milikku, selamanya akan menjadi milikku, ingat? )”


Putra menimpali komentar Damian.


“See? .. ( Lihat kan? ) ..”


Damian menimpali balik dengan gaya candaan dan para pria itu pun terkekeh bersama.


****


Para pria kini memilih untuk berjalan-jalan di Perkebunan yang letaknya dekat dengan Villa.


“So, when you guys exactly fly over to Netherland?........ ( Jadi, kapan tepatnya kalian akan terbang ke Belanda? ) ....”


Itu Garret yang bertanya pada Putra dan Ramone yang sedang berjalan di depannya.


“Well I depend on him ( Aku tergantung padanya )” Ramone yang menjawab pertanyaan Garret barusan.


“.......”


“When he’s ready, then I will directly tell Devoss to arrange our flight to there .....”

__ADS_1


“( Saat dia sudah siap, maka aku akan langsung menyuruh Devoss untuk mengatur penerbangan kami ke sana ) ...”


Ramone berucap sembari menoleh pada Putra yang berjalan disampingnya itu.


“And have you decided ( Dan apa kau sudah membuat keputusan ), Putra?” Gantian Addison yang bertanya.


“I’ll make it soon ( Aku akan memutuskan dengan segera )”


“Anth and Gadis make you feel hard to go?... ( Anth dan Gadis membuatmu berat untuk pergi? ) ....”


Damian yang kemudian bertanya.


“Kind of ( Begitulah )” jawab Putra, sembari manggut-manggut pelan.


“Well, how about taking both of them to go with you to Netherland? ( Bagaimana jika kau membawa mereka berdua untuk pergi bersamamu ke Belanda? ) ...”


Damian meng-gagas-kan sebuah ide.


“I think that’s a good idea ( Aku pikir itu ide yang bagus )”


“Ya, I think the same way too ( Ya, aku juga berpikir seperti itu )”


Garret dan Ramone mendukung ide Damian.


“And Ad also Bruna could come too. You guys could do the Honey Moon in the same time... ( Dan Ad serta Bruna bisa ikut juga. Kalian bisa melakukan Bulan Madu diwaktu yang bersamaan ) .....”


Ramone menambahkan.


“I haven’t think about it ( Aku belum sampai memikirkannya kesana )”


Putra pun menyahut.


Lalu Putra menghentikan langkahnya.


Kemudian Putra menoleh dan menghadap pada Ramone yang spontan menghentikan langkahnya, begitu juga, Garret, Addison dan Damian.


“Tell me ( Katakan padaku ), Vader ....”


Ada hal yang ingin Putra tanyakan pada ayah baptisnya itu.


“Have you told your people about your decision when you were back there before the wedding? ....”


“( Apa kau sudah mengatakan pada orang-orangmu tentang keputusan yang kau buat saat kau kembali kesana sebelum pernikahan? )...”


“Not yet ... I haven’t told any of my men at Netherland about my decision .... because I think that I will tell about it, together with your presence in front of them.”


“( Belum.... Aku belum mengatakan apa-apa soal keputusanku pada orang-orangku yang berada di Belanda... karena kupikir bahwa aku akan mengatakan tentang hal itu, bersamaan dengan kehadiranmu di hadapan mereka )”


“Then do not say anything about it when we go there.... ( Maka jangan katakan apapun mengenai itu saat kita pergi kesana ) ...”


Tak berapa lama Putra kembali bersuara.


“Also we better not coming together ... ( Juga sebaiknya kita tidak datang bersama ) ...”


Tak hanya Ramone yang makin mengernyitkan dahinya.


Tapi Damian, Garret dan Addison pun sama.


“But why? ... ( Tapi kenapa? )...”


Ramone sontak langsung bertanya pada Putra, mewakili juga tiga saudara Putra yang hendak menanyakan alasan atas ucapan yang berupa gagasan dari Putra barusan.


Putra tersenyum tipis kemudian. “Just follow my instinct ( Hanya mengikuti insting ku saja ) .....”


Lalu Putra kembali meluruskan tubuhnya ke arah jalanan berbatu-batuan kecil yang ada didepannya, serta kembali mengayunkan langkahnya.


‘And my instinct always right ( Dan insting ku selalu benar ).’


*****


Hari bergulir, seminggu telah terlewati. Putra dan para saudara lelakinya, disibukkan dengan pembangunan Pabrik Teh mereka yang sudah mulai dikerjakan sejak beberapa hari yang lalu. Sementara dua Nyonya Muda dalam keluarga, sibuk mengurusi urusan rumah tangga dan Anthony. Satu keluarga itu saling berbagi tugas, namun tidak akan melewatkan waktu disaat kebersamaan diharuskan ada.


“So, when two of you will go to overtake Vader to Netherland ( Kapan kalian berdua akan menyusul Vader ke Belanda? )...” Bruna bertanya pada Putra dan Garret.


“Maybe three days ahead ( Mungkin tiga hari lagi )”


Putra yang mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Bruna barusan.


“Sure that only Garret that accompany you to go there? ..... ( Yakin kalau hanya Garret saja yang menemanimu untuk pergi kesana? ) ...”


Damian yang gantian mengajukan pertanyaan pada Putra.


Putra menjawab dengan anggukan karena ia sedang mengunyah makan malamnya.


“You guys just make sure that Anth and our family are save, while me and Garret are not here.”


“( Kalian pastikan saja Anth dan keluarga ini aman, saat aku dan Garret tidak disini )”


Damian dan Addison pun manggut-manggut. Termasuk Danny yang sudah kembali ke Villa selepas senja.


“And make sure you don’t bring another trouble from Netherland ... ( Dan pastikan kalian tidak membawa masalah baru dari Belanda ) ...”

__ADS_1


Putra mendengus geli selepas mendengar selorohan Addison.


"I will end any trouble around Vader at there ( Aku yang akan mengakhiri masalah yang ada disekitar Vader disana )"


Sementara Anthony yang sudah diberitahukan Putra terlebih dahulu, jika ia memiliki suatu pekerjaan di luar negeri dan akan pergi dalam beberapa hari kedepan bersama Garret, tidak berkomentar apapun saat para ayah angkatnya itu sedang berbicara.


*****


Tiga hari kemudian


“Comeback here soon, Papa...... ( Cepat kembali kesini, Papa )...”


“I will Anth ( Pasti Anth ) .....” balas Putra pada Anthony yang mengantarnya bersama dengan mereka yang akan tinggal di Villa selama ia dan Garret akan pergi ke Belanda.


“Hati-hati,” ucap Gadis pada sang suami yang sedikit berat untuk ia lepas pergi akibat kekhawatirannya akan keselamatan Putra.


“Tentu.” sahut Putra.


Putra menampakkan senyumnya pada Gadis dan merengkuh erat tubuh istrinya itu saat Gadis memeluknya setelah Anthony yang tadi juga memeluk Putra.


Anthony dan Gadis serta yang lainnya, hanya mengantarkan kepergian Putra dan Garret sampai di pekarangan depan Villa saja karena Putra yang memintanya.


“See you guys soon ( Sampai bertemu )”


“You guys take care and be careful ( Kalian jaga diri dan berhati-hatilah ) ...”


Damian berucap.


“Will, as always ( Pasti, seperti selalunya )”


Garret yang menyahut.


Kemudian ia segera memasuki mobil yang akan membawa dirinya dan Putra ke Bandara, karena ia dan Putra akan menggunakan pesawat komersial untuk bertolak ke Belanda.


“Jika memungkinkan, telepon kesini sesampainya kalian disana ya?”


“Akan aku usahakan untuk itu.”


Putra menyahut pada Gadis yang kembali ia rengkuh selepas Putra memberikan kecupan dan pelukan pada Anthony.


"Jaga dirimu baik-baik, juga Anth, hem?"


Gadis menganggukkan pelan kepalanya beberapa kali sembari tersenyum pada Putra.


"Jika ada yang kamu inginkan atau butuhkan, jangan sungkan untuk memintanya pada Dami, Ad dan Bruna" ucap Putra lagi.


"Iya..." sahut Gadis.


"Tapi ingat jangan meninggalkan tempat ini sampai aku kembali."


Gadis pun mengangguk patuh.


Putra mengecup singkat bibir Gadis setelahnya.


Lalu Putra menyusul Garret memasuki mobil dimana Danny dan seorang anak buah mereka yang akan menjadi supir pada mobil yang ditumpangi Putra, Garret dan Danny.


*****


Netherlands, Europe


Menempuh perjalanan selama kurang lebih lima belas jam di udara, dari bandara Ibukota dari negeri yang Putra dan keluarganya tinggali selama beberapa bulan belakangan sejak meninggalkan Italia, Putra dan Garret kini sudah sampai di Amsterdam.


Sebuah kota yang merupakan Ibukota dari negara yang Putra dan Garret sambangi untuk sebuah keperluan yang bersangkutan dengan posisi Putra yang akan menggantikan posisi Ramone, ayah baptis Putra. Yang sebenarnya memang memiliki hubungan kerabat jauh dengan keluarga nenek Putra dari pihak almarhumah ibunya.


Hanya saja, fakta itu hanya Putra, Ramone dan orang-orang yang sangat dekat dengan keduanya yang tahu.


Diluar itu, mereka yang kenal dengan Ramone sejak lama, hanya mengetahui jika Putra adalah anak angkat, sekaligus anak baptis seorang Ramone Zeeman.


“It’s been quite long that we haven’t feel this kind of weather, right? ... ( Sudah cukup lama kita tidak merasakan cuaca seperti ini, ya? )....” ucap Garret pada Putra, sambil membetulkan mantelnya.


Putra yang juga membetulkan mantelnya itu pun mengangguk.


“Ya,” sahut Putra pada Garret, saat mereka menuruni tangga pesawat komersial yang mereka gunakan untuk pergi ke Belanda.


Meskipun sebenarnya mereka memiliki sebuah jet elit yang merupakan milik almarhum Rery dan Ramone juga menawarkan jet elit pribadinya untuk Putra dan Garret gunakan, namun Putra memiliki alasannya sendiri mengapa ia memilih untuk menggunakan pesawat komersial untuk pergi ke negara kincir angin tersebut.


Alasan yang sudah juga Putra sampaikan pada para saudara lelakinya dan juga pada Ramone. Dan kesemua pria itu tak menyampaikan sanggahan untuk tiap rencana Putra yang selalunya akurat untuk dijalankan, demi sebuah tujuan.


Dan lagi, memang tidak pernah dapat disangkal, jika pria yang bernama lengkap Putra Adjieran Vinson, dan memiliki julukan I Nero Fuoco ini, memiliki insting yang sangat tajam.


Yang tak lagi ingin Putra abaikan, agar ia tidak lagi kecolongan seperti saat ia meninggalkan Ravenna demi memenuhi permintaan almarhum Rery yang selalunya tak dapat ia tolak.


Namun pada akhirnya insting yang pernah Putra abaikan itu, malah mencelakai Rery hingga pria itu tewas dengan mengenaskan, saat Putra tak berada disisinya.


Hingga duka yang teramat mendalam itu, begitu membekas di hati seorang Putra Adjieran Vinson.


Duka yang membuat Putra memiliki dendam yang teramat besar, pada orang yang telah membunuh Rery dan istrinya.


*****


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2