
Happy reading...
London, Inggris
Menempuh perjalanan sekitar kurang lebih tiga jam dari Leicester, Putra berikut rombongannya yang tidak terlalu banyak itu, telah sampai di kota yang menjadi distrik finansial di negara Inggris.
“Isn’t that Hiz being watched? ( Bukankah Hiz sedang diawasi? )” ucap Damian seraya bertanya pada Putra, saat ia dan rombongan sedang menuju ke salah satu daerah pemukiman elite yang berada di London, saat mobil mereka telah memasuki kota tersebut.
“Hiz said like that ( Hiz mengatakan seperti itu )” jawab Putra sambil manggut-manggut.
“If that so, would it be risky if we coming to Hiz’s place in this time? ( Jika memang seperti itu, tidakkah akan beresiko jika kita datang ke tempat Hiz pada jam seperti ini? )” ucap Damian lagi.
“We can check it then ( Kita bisa memeriksanya nanti )”
“Okay.”
Damian pun menyahut paham.
Pria itu mengerti apa yang dimaksud oleh Putra.
**
Putra dan rombongan telah hampir mendekati sebuah wilayah pemukiman, yang didominasi oleh keluarga-keluarga yang memiliki harta diatas rata-rata. Namun Putra dan rombongan yang berada di dalam tiga mobil berbeda itu, tidak langsung menyambangi rumah maupun daerah yang mereka akan sambangi.
Mobil yang dikemudikan Jules, berhenti di sebuah persimpangan jalan. Namun Jules mengayunkan telunjuknya dari balik kaca jendela mobil yang berada disamping kirinya dan telah ia buka setengah kepada dua mobil yang menyertai mobil yang ia kemudikan tersebut. Mengkode agar mereka berhenti di tempat yang berbeda.
“Yes Sir?”
Richard yang selalu sigap itu, dan seolah tak kenal lelah, langsung menghampiri mobil Putra, kala ia dan rombongan telah berhenti pada posisi masing-masing di titik yang berbeda di daerah tempat tinggal salah seorang yang masih setia pada Rery.
“Look if there’s any suspicious men or cars around that way ( Periksa jika ada orang atau mobil yang mencurigakan di sekitar jalanan sana )”
Putra langsung menurunkan perintah pada Richard sambil menunjuk pada jalanan yang akan mereka lewati untuk sampai ke tempat salah seorang bagian dari mereka yang selama ini dipercaya Putra untuk menjaga milik Rery yang masih tertahan di Inggris.
Termasuk milik keluarga Kingsley Smith secara turun-temurun yang selama ini sebagian besarnya, berada dibawah naungan almarhum ayah kandung Rery.
“Yes Sir.”
Richard paham, tanpa Putra harus berbicara dengan berbelit-belit.
Orang kiriman Accursio yang satu ini, memang yang paling menonjol dari segi fisik dan kemampuan.
“If there’s any, should we kill him, Sir? ( Jika ada, apa perlu kami habisi Tuan? )” Richard memastikan.
“No. Just hold and take in first ( Tidak. Tahan dan bawa saja terlebih dahulu )”
Putra memberikan jawaban. Richard pun mengangguk paham. “I’ll go now Sir ( Aku akan pergi memeriksanya sekarang Tuan )”
Richard segera berlalu menjauhi mobil yang ditumpangi Putra, Damian dan Jules. Lalu berjalan menuju satu mobil yang berisikan dua rekannya yang berada pada titik lain yang terpencar dari mobil yang ditumpangi Putra, serta mobil yang ia tumpangi, dimana ada Devoss dan Garret di dalamnya.
Richard dengan segera masuk ke dalam mobil yang berisikan dua rekannya itu, yang kemudian mobil tersebut dikemudikan dengan laju yang pelan menuju jalanan yang tadi ditunjuk oleh Putra. Sementara dua mobil lainnya tetap diam di tempatnya.
Hanya sekitar lima menit saja, mobil yang di tumpangi Richard dan tiga rekannya kembali lagi ke tempat mereka semula setelah sekali menyusuri jalanan yang tadi ditunjuk oleh Putra.
Namun mobil yang berisikan Richard dan rekannya itu tidak diparkirkan lagi oleh si pengemudi, melainkan mendekat pada mobil dimana ada Putra dan Damian didalamnya.
Putra membuka setengah jendela mobil yang ada disebelah kirinya, ketika mobil yang ditumpangi tiga anak buahnya itu telah berada sejajar dengan mobil yang ia tumpangi.
Jendela pada mobil dimana ada Richard di kursi penumpang belakangnya juga terbuka, dan Richard tampak dekat dengan jendela tersebut.
“Two Sir ( Dua Tuan )”
Richard bersuara.
Putra pun langsung mengangguk.
__ADS_1
Tanpa perlu Richard memberikan laporan panjang lebar padanya, Putra sudah memahami maksud ucapan Richard itu.
“You know what to do then ( Kau tahu apa yang harus kau lakukan )”
Putra berujar pada Richard.
“Yes Sir.”
Richard pun menyahut sigap.
“Start the engine and walk slowly ( Nyalakan mesin dan melaju dengan santai ), Jules.”
Kemudian Putra berbicara pada Jules. Dan Jules juga langsung menyahut sigap, serta langsung melakukan apa yang Putra minta.
Sementara Damian membuka sedikit jendela mobil yang berada disamping kanannya, lalu ia mengeluarkan dua jarinya yang bergerak memberi kode pada mobil dimana ada Garret dan Devoss didalamnya.
Satu anak buah yang berada dibalik kemudi pada mobil yang ditumpangi oleh Garret dan Devoss yang matanya memang awas memperhatikan, karena memang sudah juga terlatih, langsung mengerti gerakan tangan Damian setelah melihatnya.
Anak buah yang mengemudikan mobil yang ditumpangi oleh Garret dan Devoss itupun dengan segera melakukan apa yang sebelumnya Jules lakukan. Yakni menyalakan kembali mesin mobil, lalu melaju pelan mengimbangi kecepatan mobil yang telah Jules lajukan.
**
Dua mobil yang berisikan masing-masing tiga orang di dalamnya telah berada di depan gerbang sebuah rumah yang lekat dengan nuansa Eropa pada desainnya. Sementara satu mobil yang tadi menyertai dua mobil yang telah berada di depan gerbang sebuah rumah bernuansa khas Eropa tersebut, yang juga berisikan tiga orang di dalamnya, tidak menyertai dua mobil tersebut.
Seorang penjaga gerbang, tampak berdiri di belakang gerbang rumah bernuansa khas Eropa tersebut, yang mana penjaga itu tidak langsung membukakan pintu dan mempersilahkan dua mobil yang bertandang ke rumah majikannya untuk dapat masuk begitu saja.
“How can I help you? ( Ada yang dapat saya bantu? )”
Penjaga yang berada di balik gerbang tinggi namun termasuk ukuran standar gerbang di daerah tersebut, bertanya pada Jules yang turun dari mobil untuk mewakili para Tuannya yang hendak masuk ke dalam rumah yang ada di hadapan mobil mereka tersebut.
“Yes, My Boss want to meet Mister Hizkia Phillip ( Iya, Bos saya ingin bertemu dengan Tuan Hizkia Phillip )” jawab Jules dengan ucapan yang jelas.
“May I know your Boss name, then? ( Boleh saya tahu nama Boss anda, kalau begitu? )”
“And may I know if your Boss has already made an appointment with Mister Hizkia? ..”
“( Dan jika saya boleh tahu apakah Boss anda telah membuat janji dengan Tuan Hizkia sebelumnya? ) ..”
“Just tell your employer if Adjieran is here ( Katakan saja pada majikanmu jika Adjieran ada disini )-“
Suara Putra yang kemudian terdengar menyahut, untuk menjawab pertanyaan si penjaga gerbang tempat tinggal pria yang Putra biasa panggil dengan ‘Hiz’.
Bersamaan dengan sosok Putra yang keluar dari pintu penumpang belakang, lalu berjalan ke arah gerbang, kemudian bersandar di kap depan mobil yang ia tumpangi tersebut.
“And perhaps he will ran here himself to open this gate ( Dan mungkin saja dia sendiri yang akan berlari untuk membukakan gerbang ini )”
Putra lanjut berbicara. Santai, sambil mengeluarkan sekotak rokok dari kantong mantel tebalnya sekaligus dengan sebuah pemantik besi.
“Alright Sir, we will tell Mister Hizkia right away ( Baiklah Tuan, kami akan memberitahukan pada Tuan Hizkia secepatnya )”
Penjaga gerbang tersebut menyahut dengan sopan pada Putra, lalu mengkode satu temannya yang berdiri dengan sigap dibelakangnya untuk segera pergi ke area dalam tempat tinggal majikan mereka tersebut dan memberitahukan soal tamu yang datang ke rumah majikan mereka itu, pada waktu yang kiranya sedikit tidak wajar untuk datang bertamu.
Namun tetap gerbang rumah bernuansa khas Eropa tersebut dibiarkan tertutup bahkan terkunci, tanpa penjaga tersebut terlihat akan membukanya.
“But I beg your pardon to let you outside before I have an order from Mister Hizkia to open the gate ( Namun saya mohon maaf jika harus membiarkan anda tetap diluar sebelum saya mendapatkan perintah dari Tuan Hizkia untuk membukakan gerbang ini ) ..” ucap si penjaga yang sejak awal berkomunikasi dengan Putra dan Jules.
Putra hanya manggut-manggut tanpa bersuara. Sambil ia menyesap sebatang nikotin yang telah ia nyalakan ujungnya, lalu mengepulkan asapnya ke udara.
Lalu tak berapa lama setelah salah satu rekan si penjaga gerbang tersebut masuk untuk memberitahukan perihal kedatangan seseorang yang mengaku bernama Tuan Adjieran-yakni Putra, pada majikan mereka, satu penjaga yang tadi menemui majikan yang mempekerjakan-nya itu datang dengan berlari hingga tergopoh ke arah gerbang.
Lalu satu penjaga tersebut berteriak pada temannya. “Open up the gate ere! ( Buka gerbangnya dengan segera! )” seru penjaga tersebut pada rekannya dengan wajah yang panik.
Hingga membuat rekannya yang tadi berkomunikasi dengan Putra dan Jules sedikit gelagapan.
“Hurry! ( Cepat! )” Penjaga yang datang dari arah dalam itu kembali berseru pada rekannya.
__ADS_1
“O-okay.” Sahut rekannya yang berada didekat gerbang itu dengan gugup dan tergesa untuk membuka kunci gerbang.
“Did you get stroke so your hand is become very slow ( Apa kau terkena stroke makanya tanganmu menjadi begitu lambat ), huh?!”
Lalu suara bariton seorang pria terdengar tak lama kemudian. Bersamaan dengan kemunculan sosoknya yang terlihat juga berlari dari arah dalam, setelah satu penjaga yang tadi masuk ke dalam bangunan rumah itu berteriak pada rekannya untuk membukakan gerbang dengan cepat.
“I-I’m so sorry Mister Hizkia .. “ penjaga yang sedang membukakan kunci pintu gerbang itu tergagap, setelah berhasil membukakan kunci gerbang, dan membuka gerbang tersebut lebar-lebar bersama rekannya.
“As I said ( Seperti yang aku katakan tadi )---“ Putra berucap sambil mendengus geli. “He will run here ( Dia pasti akan segera berlari kesini )”
Damian yang sudah bergabung dengan Putra untuk menyesap batang nikotin dan bersandar di kap mobil pun terkekeh kecil.
"I am really sorry Sir ( Saya benar-benar memohon maaf Tuan ).." Penjaga mansion yang tadi menahan untuk tidak membuka gerbang, langsung juga meminta maaf pada Putra dengan menundukkan tubuh dan kepalanya.
“Forgive me, Boss. My men here just try to do what I have told them to do ( Maafkan aku, Bos. Orang-orangku ini hanya mencoba menjalankan dengan baik tugas yang aku perintahkan pada mereka )”
Pria yang disinyalir adalah pemilik bangunan bernuansa khas Eropa itupun langsung berbicara pada Putra, sambil berjalan melewati gerbang yang sudah terbuka lebar itu.
“You are so lucky that I’m in the good mood, Hiz. Cause if not, I will take over your place and kick your @ss from here cause your gate guards let me here under the snow.”
“( Kau sungguh sangat beruntung aku sedang dalam suasana hati yang bagus, Hiz. Karena jika tidak, aku akan mengambil alih tempatmu ini dan menendang keluar b*kongmu dari sini karena penjaga gerbangmu membuat aku menunggu dibawah salju )”
Putra melirik sinis pada pria bernama Hiz tersebut, yang kini cengengesan pada Putra. “Oh don’t take it personal would you? ( Oh ayolah jangan diambil hati ) ..”
Kemudian Hiz berjalan mendekati Putra dan berdiri dihadapannya.
“Let me hug you so your mood become more better ( Biarkan aku memelukmu agar suasana hatimu menjadi semakin baik ), hem?”
Hiz memasang tampang konyol sambil memandang pada Putra, dengan tangannya yang ia rentangkan. Putra mendengus geli, begitu juga Damian.
“Just do it if you want me to kick your @ss for sure ( Lakukan saja jika b*kongmu benar-benar ingin ku-tendang )” celoteh Putra.
Lalu Hiz tergelak, dan tetap merengkuh Putra dengan sapaan layaknya pria serta saudara yang telah lama tak bersua. Dan Hiz juga melakukan hal yang sama pada Damian.
"Better get in ( Sebaiknya segera masuk )" ucap Hiz sambil celingukan.
Lalu ketiganya masuk, diikuti oleh Garret dan Devoss yang kemudian diperkenalkan oleh Putra pada Hiz setelah dua orang tersebut, menyusul turun dari mobil ketika melihat Putra dan Damian masuk ke dalam sebuah tempat tinggal bernuansa khas Eropa itu yang masuk dalam kategori sebuah mansion.
"Close the gate after their cars in ! ( Tutup kembali gerbangnya setelah mobil mereka masuk! )" Titah Hiz pada pekerjanya.
Dua pekerja itu pun mengangguk sigap.
Dua mobil yang tadi ditumpangi oleh Putra, Damian, Garret dan Devoss, mengekor dengan melaju sangat pelan dibelakang para Tuan yang berjalan kaki untuk menuju ke area dalam mansion milik Hiz tersebut. Lalu gerbang ditutup kembali oleh dua penjaganya, setelah dua mobil yang digunakan tamu majikan mereka itu masuk ke pekarangan.
Kemudian Hiz mempersilahkan Putra dan rombongannya untuk masuk ke sebuah ruangan dengan perapian di dalamnya, saat mereka semua sampai ke mansionnya itu. Hiz juga meminta beberapa maid dalam mansionnya untuk menyiapkan makanan untuk tamu-tamu kehormatannya itu.
Setelahnya Hiz mengambil tempat duduk didekat Putra, lalu berbicara dengan tampang yang nampak serius sambil melihat pada Putra.
“Jaeden called me ( Jaeden menghubungiku ) ..”
*
To be continue ..
Terima kasih untuk kalian yang masih setia.
Mohon maaf untuk update yang kadang tak menentu.
Sambil menunggu, bisa mampir ke karya Author yang lain ya.
Itupun jika berkenan.
Terima kasih.
__ADS_1