
Happy reading .........
“Eeeeummm.... kalau boleh tahu.... kamu.... mau membicarakan soal apa sampai harus mengajakku ke tempat khusus?”
“Kita”
Jawaban yang keluar dari Putra membuat Gadis memandanginya untuk sejenak dengan pandangan yang menyiratkan tanda tanya di wajah cantiknya.
“Kita? ...”
“Heemm...”
“Maksud, nya? ...”
“Nanti saja”
“......”
“Aku sedang menyetir”
Gadis mengangguk kemudian.
Dan Putra menyunggingkan senyumnya setelah menoleh sesaat pada Gadis lalu kembali fokus pada kemudi, dan membawa mobilnya melaju dengan kecepatan sedang.
***
“Kesini kamu mau ajak aku, Putra?”
Gadis kembali menoleh pada Putra yang membawa mobilnya masuk ke sebuah pelataran parkir dari sebuah pusat perbelanjaan ternama yang ada di Ibukota.
“Mari” Putra yang sudah memarkirkan mobilnya dan melepas seatbeltnya mengajak Gadis untuk turun. Gadis memperhatikan Putra sejenak sambil membuka seatbeltnya.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku Putra”
“Jika bertanya apakah tempat ini tujuan utamaku mengajakmu, bukan!”
Putra menjawab pertanyaan Gadis yang sudah ia hampiri.
“Lalu kita kesini untuk apa?”
“Mengganti pakaianmu”
“Mengganti pakaianku? ...”
Gadis mengernyitkan dahinya.
“Memangnya kenapa aku harus mengganti pakaianku?”
Putra tak menjawab pertanyaan Gadis dan langsung memegang tangan perawat cantik yang sedikit bingung itu.
Putra membawa Gadis masuk ke pusat perbelanjaan ternama di Ibukota tersebut.
“Putra, jawab dulu. Kenapa aku harus mengganti pakaianku?” Ucapan Gadis yang bertanya itu membuat Putra menghentikan langkahnya dan menoleh menghadap perawat yang masih sedikit bingung itu.
“Aku tidak ingin orang menganggap aku ini pria penyakitan, karena aku membawa seorang perawat” Ucap Putra.
“Jadi maksudmu? ...”
“Jadi aku membawamu kesini untuk memilih pakaian yang cocok untukmu”
“Ta ...”
“Bukankah ini pusat perbelanjaan terbaik dan cukup ternama disini?”
“Iya, memang...”
“Ya sudah ayo! Kita cari pakaian ganti untukmu”
“Aduh Putra, kalau kamu tadi bilang aku suruh berganti baju, aku bisa pulang ke rumah saja dulu. Tidak perlu sampai harus membeli pakaian...”
“Kamu ini cerewet sekali” Protes Putra. “Ayo cepat”
“Bisa tidak kita pergi ke tempat lain saja untuk membeli pakaian?. Atau antar aku ke rumahku saja, tidak begitu jauh juga dari sini ....”
“Merepotkan sekali”
“Salahmu yang tidak bertanya dulu atau mengatakan kalau aku harus berganti pakaian”
“Tsk! Kamu ini macam Bruna. Selalu membuat segala hal nampak rumit”
“Ayolah antar aku saja kembali ke rumahku...” Bujuk Gadis.
“Tidak mau”
“Aku janji akan mengganti pakaian dengan cepat”
Gadis masih berusaha membujuk.
Putra mendengus. “Memang kenapa dengan tempat ini?”
“Ya tidak apa-apa, hanya saja aku belum menerima gajiku bulan ini. Belum tanggalnya. Kalaupun ingin mengajakku membeli baju, ya jangan disini”
“Kenapa memangnya?”
“Barang-barang disini sangat mahal”
“Lalu?”
Gadis menghela nafasnya.
“Aku... tidak mampu kalau harus membeli pakaian disini...”
“Kamu ini ...”
“Antar aku pulang sebentar saja ya?...”
Kembali Gadis membujuk Putra.
Putra memutar bola matanya malas.
“Apa selama ini aku membiarkanmu membayar setiap kali kita makan siang bersama Anth?”
“Tidak ...” Jawab Gadis.
“Sekarang pun seperti itu”
Putra kembali menggenggam tangan Gadis.
Membawa perawat cantik itu melanjutkan langkah untuk masuk ke pusat perbelanjaan tersebut.
“Tapi... Putra ...” Gadis tetap berusaha menolak.
“Jangan banyak protes atau aku akan menciummu”
Satu ancaman Putra yang selalunya berhasil membuat Gadis tak berkutik.
Akhirnya Gadis pun pasrah pada Putra yang menggandeng tangannya dan membawa dirinya memasuki sebuah toko yang menjual berbagai macam pakaian wanita.
“Pilihlah” Ucap Putra.
Namun Gadis bergeming.
“Ada apa lagi?...”
“I – itu, jangan beli pakaian disini ya?”
“Kenapa?. Tidak sesuai dengan seleramu?”
“Bukan begitu, tapi ...pakaian disini sangat mahal harganya Putra...”
Gadis berbisik di telinga Putra.
__ADS_1
“Sudah kubilang aku yang akan membelikan”
“Ya tapi kan sayang uangmu”
“Tidak perlu kamu memikirkan itu!”
“......”
“Sekarang patuhlah dan pilih pakaian yang sesuai dengan seleramu dan gunakan itu langsung”
“......”
“Jika masih bergeming, akan aku belikan seluruh isi toko ini untukmu”
**
Pasrah untuk memilih pakaian di sebuah toko pakaian yang lebih pas dibilang sebagai sebuah butik, akhirnya dengan dibantu oleh seorang pramuniaga wanita Gadis mulai memilah milih pakaian yang ada dalam butik tersebut.
Putra menunggu Gadis dengan duduk disebuah sofa. Sementara Gadis sendiri nampak malas-malasan untuk memilih. Tapi mendengar Putra mengancam akan membelikan seluruh pakaian dalam butik tersebut, akhirnya mau tidak mau Gadis pun mengikuti keinginan Putra.
“Yang ini saja” Gadis menunjukkan satu pakaian yang sudah dibawanya pada Putra. Alis Putra terangkat satu melihat pakaian yang dibawa Gadis dan sedang ditunjukkan padanya.
“Seleramu buruk sekali! Berapa sih usiamu? Pakaian ini bahkan almarhum ibuku saja tidak cocok memakainya! Hish” Putra geleng-geleng.
Gadis menunjukkan rentetan giginya pada Putra.
‘Aku juga sebenarnya enggan memakai pakaian ini. Tapi pakaian ini adalah baju yang paling murah disini’
Sembari Gadis membatin.
Putra mendengus sebal, lalu melirik sedikit sinis pada pramuniaga yang sedang berdiri dibelakang Gadis.
“Kau, kemari!” Putra memanggil pramuniaga tersebut yang langsung memajukan dirinya mendekat pada Putra.
“Iya, Tuan ...” Ucap pramuniaga itu dengan ramah dan sopan.
“Kau bekerja disini selain untuk melayani pelanggan tetapi juga untuk memberikan saran kepada setiap pelangganmu bukan?”
“Benar, Tuan”
“Lalu apa ini?!”
Putra mengambil pakaian yang dipegang Gadis.
“Apa kau pikir ini cocok untuknya?!”
Menunjukkan dengan gurat ketidak sukaan di wajahnya dan sikap Putra itu menarik perhatian satu dua orang pelanggan lain dalam butik tersebut hingga membuat Gadis jadi tidak enak sendiri.
“Putra, sudahlah jangan memarahinya. Aku menyukai baju ini memang kenapa?” Ucap Gadis yang salah tingkah akibat sikap Putra.
“Jangan menyelaku, jika aku sedang bicara serius”
Gadis meneguk pelan salivanya kemudian terdiam. Putra masih menatap pada pramuniaga yang tertunduk di depannya.
“Apa kau pikir aku tidak mampu membeli pakaian termahal yang ada di toko ini, sampai kau memberikannya pakaian jelek ini?!”
“Maafkan saya, Tuan... tadi saya sudah menyarankan beberapa pakaian yang sekiranya cocok untuk Nona ini. Tapi beliau selalu menolak pakaian yang saya sarankan itu dan memilih baju ini Tuan”
“Dia benar, Putra... aku sendiri yang memaksa untuk mengambil baju itu... sudahlah... jangan terlalu dibesarkan-besarkan. Kasihan dia ... baju ini memang pilihanku sendiri. Sudah ya yang penting aku mengganti pakaian, bukan? ...”
“Kau perhatikan baik-baik dirinya dan carikan pakaian yang sesuai dengannya! Dan bawa pakaian jelek ini!”
“Ba – baik, Tuan ...”
Pramuniaga itu sedikit menundukkan tubuhnya pada Putra sebelum bergegas melakukan apa yang Putra minta.
Dan Gadis memilih untuk diam.
Sampai tak lama kemudian pramuniaga yang tadi dimarahi Putra itu kembali dengan beberapa lembar pakaian di tangannya.
“Ini, Tuan”
Pramuniaga itu menunjukkan satu per satu pakaian yang dipilihnya dan sudah ia bawa ke hadapan Putra dan Gadis.
“Okay”
‘Oh Ya Tuhan... harga satu lembar salah satu gaun santai itu yang paling murah bahkan lebih daripada gajiku selama sebulan ditambah lembur’
Gadis membatin prihatin.
“Bawa dia untuk mencobanya dan tunjukkan padaku”
“Eeuumm...”
“Cepatlah Gadis, jangan membuang waktu”
Tidak ada penolakan dari Gadis. Hanya perawat itu terdengar menghela nafasnya sedikit berat sebelum kemudian mengikuti pramuniaga yang mempersilahkannya untuk pergi ke ruang ganti.
‘Selalu saja memaksakan kehendak’ Gadis menggerutu sebal, namun hanya dalam hatinya saja. Saat ini sedang tak berani membantah ucapan Putra yang tadi sempat marah-marah pada pramuniaga toko.
“Ingat untuk menunjukkannya dulu padaku, setiap lembar pakaian yang kamu coba, Gadis. Biar aku yang memutuskan!”
“Iyaa!”
**
Putra menyesap minuman yang disuguhkan oleh pihak butik padanya.
Memang rasanya tenggorokan Putra sedikit kering, karena panasnya udara di Ibukota dalam negeri yang ia tinggali saat ini.
“Putra ...” Suara yang memanggil namanya, membuat Putra menoleh pada sumbernya.
Mata Putra menelisik sosok yang memanggilnya yang telah berganti pakaian perawatnya dengan sebuah short dress yang tidak terlalu pendek dengan warna yang cerah namun tidak berlebihan, membuat wanita yang sedang berdiri dan nampak kikuk itu terlihat begitu merekah di mata Putra.
“Cantik...” Gumam Putra yang kemudian menyunggingkan senyumnya.
“Eum... apa aku perlu mencoba yang lainnya?”
“Aku rasa tidak perlu. Gaun ini nampak cocok denganmu”
“Aku sudah bilang kan Nona, kekasih anda pasti akan sangat menyukainya”
Gadis sedikit mendelik pada si pramuniaga yang barusan menggodanya itu.
“Kamu menyukainya Gadis?” Tanya Putra yang membuat Gadis kemudian menoleh padanya.
“Suka sih, tapi...”
“Saya ambil yang ia kenakan itu”
“Baik, Tuan”
Putra berdiri dari duduknya.
“Putra ...” Gadis meraih lengan Putra lalu berbisik di telinga pria yang hendak membayar pakaian yang dikenakan oleh Gadis itu.
“Ada apa?” Tanya Putra.
“Gaun ini rasanya terlalu mahal untukku”
Ada penekanan dari ucapan Gadis yang berbisik di telinga Putra.
Putra mendengus geli.
Lalu Putra mengkode dengan tangannya pada pramuniaga yang sudah melaporkan gaun yang dikenakan Gadis untuk dibuat struk pembayarannya. Pramuniaga tersebut kembali mendekat pada Putra dengan membawa struk belanja dalam sebuah dompet kulit panjang.
“Permisi, Tuan. Ini bon pembayarannya ... silahkan diperiksa ...”
“Pakaian lainnya yang sudah kau pilihkan lagi mana?”
“Masih ada di ruang ganti, Tuan”
__ADS_1
“Ambil dan kemas sekalian! Aku akan membelinya juga!”
“Ap – a??...”
“Baik, Tuan”
Pramuniaga itu nampak bersemangat untuk bergegas mengambil beberapa potong pakaian yang tadinya hendak dicoba oleh Gadis.
“Kamu, mau membeli semua pakaian itu?! ...” Gadis melongo sembari menatap Putra.
“Heemm!...”
Putra manggut-manggut.
“Untuk siapa?”
“Ya untukmu. Pertanyaanmu itu sungguh bodoh!”
“HAH?!” Gadis tersentak dan memekik kencang.
“Jangan pasang tampang bodoh seperti itu”
“Ta – tapi, tapi untuk apa kamu membelikan semua pakaian itu untukku?!...”
“Karena aku mau” Sahut Putra santai.
“Tapi aku tidak membutuhkannya” Tolak Gadis.
“Sudah, lebih baik kamu diam!” Ucap Putra sembari menggandeng tangan Gadis untuk pergi ke kasir karena pramuniaga yang tadi ia minta untuk mengemas pakaian yang tadi sempat menjadi pilihan untuk dicoba Gadis, sudah membawa beberapa pakaian itu ke meja kasir butik.
‘Ya Tuhan, berapa banyak uang yang harus dia habiskan hanya untuk pakaian-pakaian mahal itu?’ Batin Gadis. “Itu hampir sama dengan jumlah gajiku si Rumah Sakit selama satu tahun” Gadis ingat betul setiap harga yang tertempel di bandrol pakaian yang dibelikan Putra untuknya itu.
Putra masih menggandeng tangan Gadis yang sedang menggumam tidak jelas itu ke meja kasir butik lalu membayar semua pakaian yang dipilihnya untuk Gadis, yang telah dikemas dengan apik oleh para pramuniaga butik tersebut. Lalu membawa keluar Gadis dari sana setelahnya. Namun baru beberapa langkah dari butik, Putra menghentikan langkahnya. “Ada apa?...”
Gadis bertanya pada Putra yang nampak sedang mengedarkan pandangannya, termasuk menoleh ke arah butik tempat mereka sebelumnya. Membuat Gadis keheranan hingga akhirnya ikut juga celingukan seperti Putra.
“Ada apa, Putra? Apa ada yang tertinggal?”
Namun Putra tidak menjawab, malahan menarik pelan lengan Gadis untuk ikut dengannya.
“Putra, pintu keluar disana, bukan?” Ucap Gadis sambil mengarahkan telunjuknya.
“Iya, memang”
“Lalu kenapa kamu malah berjalan kearah sini?..”
“Mau membelikanmu alas kaki!”
“Hah?!.... Apa?!”
Gadis terkesiap.
“Ah tidak! tidak! aku rasa itu tidak perlu! Sepatuku ini masih bagus!”
“Iya tapi tidak cocok untuk gaunmu!”
“Siapa bilang?”
“Aku!”
“Aku tidak mau kalau kamu membelikan aku sepatu atau barang lainnya lagi. Beberapa lembar pakaian tadi saja sudah mahal minta ampun”
Gadis membuat kaku dirinya saat Putra sudah nampak menemukan sebuah toko sepatu yang memajang berbagai macam model alas kaki baik untuk pria maupun wanita.
“Sudah jangan cerewet. Itu! Kita kesana!”
“Aku tidak mau!”
“Kamu mau melangkahkan kakimu sendiri kesana bersamaku, atau aku akan mengangkat tubuhmu?! Hem?!”
“Hish!” Gadis mendesis sebal.
Dengan terpaksa Gadis menuruti lagi kemauan Putra yang ingin membelikannya alas kaki.
Namun wajah Gadis yang menunjukkan kalau dia sedang jengkel pada Putra itu cukup jelas terlihat.
Sementara Putra mengulum senyumnya saja karena lagi – lagi ancamannya pada Gadis, ampuh untuk membuat perawat favorit Anthony yang kini sudah mulai mengusik ketenangan hati Putra itu menurut padanya.
**
“Bukankah kamu bilang ingin mengajakku ke suatu tempat?” Ucap Gadis saat ia dan Putra menunggu seorang pramuniaga toko mengambilkan nomor sepasang sandal wanita yang dinilai Putra cocok dengan gaun yang sedang dikenakan Gadis dan juga sesuai dengan ukuran kaki Gadis.
Putra hanya manggut – manggut.
“Lalu mengapa kamu malah sibuk mengajakku belanja?”
“Karena aku mau” Sahut Putra.
“Setelah ini sudah ya?.. jangan membelikanku apa – apa lagi..”
“Aku malah sedang berpikir untuk membelikanmu tas atau berbagai macam barang wanita untukmu. Selagi kita ada disini”
“Ah tidak tidak!”
Putra melirik Gadis.
“Kenapa? Kamu tidak suka berbelanja?”
“Ya bukan tidak suka, semua wanita pasti hobi berbelanja”
“Lalu kamu menolak terus sedari di Boutique tadi?” Tanya Putra.
“Karena aku tidak terbiasa belanja ditempat super mahal ini” Jawab Gadis.
Obrolan Gadis dan Putra terhenti saat pramuniaga gerai alas kaki tersebut datang dengan membawa sepasang sandal wanita yang nomornya sudah sesuai dengan ukuran kaki Gadis.
Seperti halnya saat di butik pakaian wanita tadi, sendal yang dipilih dan sudah dibayar Putra itu diminta Putra untuk langsung dipakai oleh Gadis, sementara sepatu pantopel yang tadi dipakai Gadislah yang dimasukkan ke dalam
tas belanja, seperti pakaian perawatnya.
“Yakin tidak ingin membeli tas atau apapun lagi? ..” Tanya Putra.
Gadis menggeleng.
“Kenapa? Kamu takut uangku habis?”
“Bukan”
“Lalu?”
“Aku hanya tidak ingin berhutang lebih banyak padamu..”
Membuat Putra menatap intens pada Gadis dengan wajahnya yang nampak dingin.
**
Tidak ada pembicaraan lagi selepas ucapan terakhir Gadis pada Putra saat mereka telah selesai dari toko sepatu di pusat perbelanjaan yang mereka sambangi. Kini Gadis sudah berada di dalam mobil yang sudah Putra kemudikan
keluar dari parkiran pusat perbelanjaan tersebut.
“Eum.. Putra ..” Gadis yang duluan bersuara pada akhirnya.
Sedikit takut – takut menatap Putra yang wajahnya nampak dingin sedari tadi dan matanya fokus saja kearah lurus, menatap jalanan didepannya.
“Bukankah kamu bilang akan membawaku ke suatu tempat untuk berbicara secara pribadi?..” Ucap Gadis seraya bertanya. “Tapi sepertinya ini jalanan menuju arah rumahku”
“Aku akan mengantarmu pulang. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi”
**
To be continue ...
__ADS_1
Enjoy aja dulu