LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 225


__ADS_3

Happy reading..


Putra segera berjalan keluar dari ruang kerja setelah ia selesai berbicara dan berdiskusi dengan mereka yang tadi bersamanya, dan juga telah selesai berbicara melalui saluran telepon dengan dua orang yang Putra libatkan dalam rencananya, dimana kedua orang tersebut berada di negara yang berbeda.


Dimana Putra langsung berjalan menuju kamarnya dan Gadis untuk menyusul sang istri yang sudah sedari tadi pergi dari ruang kerja bersama Anthony.


Putra menghela nafasnya sedikit berat. Pasalnya tadi ia berjanji pada Gadis untuk tidak akan lama berada di ruang kerja untuk berdiskusi dengan mereka yang bersamanya.


Tapi ternyata Putra tidak dapat menepati janjinya pada Gadis, karena Putra baru selesai dari urusannya di ruang kerja, kala waktu telah menunjukkan lewat tengah malam.


‘Apa Gadis ada di kamar Anth? .. atau Anth yang berada di kamar kami?’ tanya Putra dalam hatinya. Dan kini Putra telah berada di depan pintu kamar Anthony.


Tapi dengan cepat Putra memutuskan untuk masuk saja ke kamar Anthony terlebih dulu, yang sepertinya sudah gelap itu, jika dilihat dari celah di bawah pintu.


Putra membuka pintu kamar Anthony dengan sangat perlahan.


Kamar Anthony sudah temaram cahayanya, karena lampu utama telah dimatikan. Dan cahaya hanya berasal dari lampu tidur di atas nakas samping ranjang Anthony.


Dimana si empunya kamar juga sudah nampak terlelap dengan damai di atasnya. Putra menarik sudut bibirnya, lalu mengecup kening Anthony, dan akan pergi ke kamarnya, karena Gadis tidak ada di kamar Anthony. ‘Mungkin Gadis juga sudah tidur.’


Putra menduga hal tersebut, meski ia melihat jika kamarnya dan Gadis masih terang dari celah bawah pintu penghubung kamarnya dan Gadis dengan kamar Anthony. Putra menggeser pintu penghubung tersebut dengan sangat perlahan, dan dengan perlahan juga menutup pintu tersebut kembali.


“Hhh..”


Putra kembali menghela nafasnya sedikit berat, kala ia telah masuk ke dalam kamar pribadinya dan Gadis lewat pintu penghubung dari kamar Anthony yang sudah Putra tutup dengan perlahan dan rapat kembali.


Pasalnya, Putra menemukan Gadis bukan berada di atas ranjang, melainkan duduk di atas sofa dengan mata yang terpejam.


Dan sepertinya Gadis juga tertidur, mengingat istri Putra itu tidak melakukan pergerakan saat Putra sudah berada di dekatnya atau saat Putra membuka dan menutup kembali pintu penghubung kamar mereka dengan kamar Anthony.


***


Putra bersimpuh didekat Gadis yang duduk disofa, namun nampak tertidur dengan posisi yang kurang layak di mata Putra. Putra sampai menggelengkan kepalanya karena posisi Gadis yang akan dapat menyebabkan tubuhnya pegal, karena tubuhnya duduk dengan posisi miring dan kepala yang tertopang tangan di atas lengan sofa.


Satu tangan Putra terulur, untuk merapihkan rambut Gadis yang sedikit berantakan dan terjuntai beberapa helai di pipi istrinya itu.


“Gadis..”


Putra memanggil lembut nama Gadis, sembari mengelus pelan pipi sang istri yang sudah tidak dihinggapi helaian rambut yang berantakan lagi.


Sentuhan dan panggilan lembut Putra yang walau hanya sekali membuat Gadis mulai terjaga.


Mata Gadis perlahan terbuka, dan seutas senyum yang Gadis dapati kala ia membuka mata.


“Putra,” ucap Gadis pelan. Ia pun tersenyum pada suaminya itu sembari menegakkan dirinya.


Putra masih dalam posisinya saat Gadis sudah menegakkan duduknya. “Kenapa tidur disini, hem?”


“Kamu sudah selesai?..” jawab Gadis yang balik bertanya. Putra pun beringsut dari posisinya, dan duduk disamping Gadis.


“Kenapa tidur disini?”


Putra mengulang pertanyaannya.


“Aku menunggumu..” jawab Gadis.


“Bukankah sudah aku katakan untuk tidak memaksakan dirimu?”


“Aku kan juga sudah bilang kalau aku harus memaksakan diri, karena aku sekarang tidak punya waktu banyak untuk bersama suamiku.”


“Tapi tidak juga dengan menungguku sampai kamu tertidur di sofa, Gadis.” Tangan Putra terulur ke atas kepala Gadis dan mengusapnya pelan. Gadis menarik sudut bibirnya.


“Jika aku tertidur di ranjang, aku yakin kamu akan membiarkanku tidur saat kamu kembali kesini. Kamu tidak akan membangunkanku, karena kamu kan berpikir jika aku kurang istirahat..”


Gadis pun bercerocos.


“Aku tidak mau..”


Gadis menundukkan kepalanya.


“Aku tidak mau, saat aku membuka mata tanpa sempat menghabiskan waktu yang singkat denganmu, tahu-tahu aku sudah harus melepasmu pergi,” sambung Gadis dengan suara yang lirih. Membuat Putra menarik nafasnya sedikit berat.


Namun didetik berikutnya Putra langsung membawa Gadis ke dalam dekapannya. “Maafkan aku,” ucap Putra. “Maafkan karena aku mengingkari janjiku untuk tidak terlalu lama berdiskusi di ruang kerja tadi.”


Gadis menarik dirinya dengan pelan dari dekapan Putra. Lalu tersenyum sembari memandang pada suaminya itu, dengan tangan Gadis yang ia letakkan di garis rahang Putra. “Tidak perlu minta maaf,” ujar Gadis. “Begini saja aku sudah senang..”


Putra membawa Gadis kembali dalam dekapannya.

__ADS_1


“Sepertinya kamu belum merapihkan pakaianmu untuk kepergianmu ke Italia ya, Putra?..” Gadis mendongakkan kepalanya dengan ia yang masih berada dalam dekapan Putra.


Dekapan yang Gadis ingin terus rasakan sepanjang malam ini dari sang suami.


“Nanti saja,” jawab Putra.


Gadis pun mengangguk. “Nanti biar aku saja yang merapihkan pakaian yang mau aku bawa ya?”


“Tentu saja kamu yang harus merapihkan pakaianku,” tukas Putra. “Bukankah kamu ini istriku? Sudah sepantasnya kamu mengurus suamimu yang egois ini..”


Putra berkelakar, terlihat dari guratan senyuman saat ia membahasakan dirinya sebagai suami egois itu, jika Putra sedang berkelakar. Gadis pun mendengus geli.


“Meskipun suamiku ini egois, tapi aku mencintainya.. Sangat.”


Putra menarik sudut bibirnya, sembari memandang Gadis yang sudah mengurai dekapannya, dan kini kedua tangan sang istri sedang menangkup wajahnya.


“Aku pun mencintaimu, Gadis..” Satu kecupan Putra daratkan di kening Gadis setelahnya.


“Aku rapihkan saja pakaian kamu sekarang ya?” ucap Gadis setelah menerima kecupan dari Putra di keningnya, dan meresapi kecupan singkat itu.


“Aku katakan tadi kan nanti saja,” jawab Putra.


“Tapi jika tidak segera dirapihkan, besok kan bisa jadi tergesa-gesa,” ucap Gadis lagi.


“Tidak akan..” tukas Putra. “Santai saja,” sambung Putra dan Gadis mengangguk. “Kamu tidak mengganti pakaianmu dulu, agar tidurmu lebih nyaman?..”


“Nanti saja,” sahut Gadis. “Memang kamu sudah mengantuk?” tanyanya kemudian pada Putra. Dan Putra menggeleng pelan.


“Tidak juga sih.”


Gadis mengusap lembut wajah Putra setelah mendengar jawaban suaminya barusan itu.


“Tapi apa tidak sebaiknya kamu pergi tidur saja Putra?..” kata Gadis. “Bukankah perjalanan ke Italia akan menyita waktu belasan jam?”


Putra mengangguk. “Kurang lebih enam belas jam.”


“Kalau begitu pergilah tidur,” ucap Gadis.


“Ya sudah ayo kita tidur sekarang. Tapi ganti bajumu dulu agar lebih nyaman.”


Putra sontak mengernyit kecil.


“Kenapa begitu?”


“Karena besok suamiku akan pergi dan entah harus menunggu berapa lama sampai dia kembali agar bisa sedekat ini lagi, jadi aku ingin puas memandangimu semalaman ini, Putra..”


‘Oh Gadis..’


Putra membatin lirih.


Namun kemudian Putra menarik sudut bibirnya.


“Ayo kita pergi tidur,” ajak Putra. “Dan kamu juga harus pergi tidur..”


“Kan sudah aku katakan tadi, aku tidak mau tidur malam ini.. aku ingin memandangi puas-puas wajah suamiku..”


“Aku tidak jadi pergi..” potong Putra.


**


Waktu sebelumnya


Ruang kerja Villa..


“He might brutal outside, but I know him as person. He’s a loyal brother for me however ( Kelakuannya mungkin sangat brutal , tetapi aku mengenalnya secara pribadi. Dia saudara yang setia pada kenyataannya terhadapku )”


Putra menjawab keraguan dari para saudaranya tentang seseorang yang bernama Accursio, yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun, dan dapat dikatakan dekat meski tidak akrab, karena sama-sama menjadi anak baptis sekaligus anak angkat Ramone Zeeman.


“Beside none outside us, know that me and Accursio was forged in the same place ( Lagipula, tidak ada orang diluar kita, yang mengetahui jika aku dan Accursio ditempa di tempat yang sama ) ..”


Lima orang yang bersama Putra pun manggut-manggut.


“And for that\, I need him. Since he already spread his business to England\, which that means\, I can ask him to send some people to find more information about that mot********r. And Accursio men\, who will cooperate with person that I ask from Vader send to inquire Gaines and also Freya..”


“( Dan untuk itu, aku membutuhkannya. Karena dia sudah melebarkan bisnisnya sampai ke Inggris, yang mana artinya, aku dapat memintanya untuk mengirim orang agar mencari tahu lebih lagi informasi tentang si keparat itu. Yang mana orang nya Accursio, akan bekerjasama dengan orang yang aku minta untuk dikirim Vader agar menyelidiki Gaines dan juga Freya )..”


“Freya?..”

__ADS_1


Damian memotong.


“If Gaines, I also feel a little bit doubt that he still loyal to us. But Freya?..”


“( Kalau Gaines, aku juga sudah sedikit mulai meragukan jika ia masih setia pada kita. Tapi Freya? )..”


Damian menatap pada Putra.


“You feel suspicious on her? ( Kau curiga padanya? ) ..”


Damian memastikan. Dan Putra manggut-manggut. “Yes.”


Putra menjawab mantap.


“Why? ( Kenapa? ) ..”


Itu Addison yang bertanya.


“I’ve been thinking.. And her second pregnancy made me doubted that she live in pressure with that mot********r ( Aku telah berpikir.. Dan kehamilan keduanya membuatku meragukan jika dia hidup tertekan bersama si keparat itu ) ..”


“Isn’t it Freya was taken by that mot********r just because her family\, is having a big part of Kingsley’s business to manage? ( Bukankah Freya diambil paksa oleh keparat itu hanya karena keluarganya, memiliki bagian besar dalam mengelola semua bisnisnya Kingsley? )..”


“Hem\, Also her father and fam are so loyal to Kingsley and that’s why that mot********r killed them\, and left Freya and then push her to marry him\, so that mot********r will be easy to conquer everything under Freya family’s name ( juga ayah dan keluarganya sangat setia pada Rery makanya si keparat itu membunuh mereka, dan meninggalkan Freya seorang lalu memaksanya untuk menikah dengan si keparat itu, agar dia dapat dengan mudah menguasai semua yang berada dibawah nama keluarganya Freya )”


Addison menimpali ucapan Damian.


“I was, thinking like that. But somehow, due the second pregnancy of Freya, a small doubt appear inside me of her. So I think I need to inquire the real fact thru men of Vader and Accursio, since Hiz’s movement is very limited now..”


“( Tadinya, aku berpikir seperti itu. Tapi entah bagaimana, sehubungan dengan kehamilan kedua Freya ini, keraguan kecil ada dalam diriku tentangnya. Jadi aku butuh untuk menyelidiki fakta yang sebenarnya melalui orangnya Vader dan Accursio, mengingat gerak Hiz sangat terbatas saat ini )..”


“I see..” Addison dan Damian menggumam paham sembari manggut-manggut. Mereka sedikit ragu jika wanita yang dibahas Putra sebenarnya berkoalisi dengan Jaeden, tapi jika Putra sudah mempunyai suatu intuisi, itupun tidak bisa dianggap remeh.


Garret, Danny dan Bruna juga ikut manggut-manggut, meskipun mereka tidak mengenal sosok wanita yang namanya sedang dibahas oleh Putra, Addison dan Damian itu.


“And I remember one thing also ( Dan aku juga teringat akan sesuatu )..” ucap Putra.


“What is it? ( Apa itu? )”


Damian spontan bertanya.


Mewakili juga empat orang lainnya yang sedang menunggu Putra melanjutkan ucapannya.


“Freya loves Rery. But Rery choose Madelaine, for sure. And I ever heard that Freya’s father ever talked about her feelings to Rery, but Kingsley refused since he wanted to matchmaked Rery with Fredy’s daughter.”


“( Freya mencintai Rery. Tetapi Rery memilih Madelaine, tentu saja. Dan aku pernah mendengar ayahnya Freya membahas soal perasaan putrinya itu pada Rery, namun Kingsley menolak karena dia ingin menjodohkan Rery dengan putrinya Fredy )”


Putra pun melanjutkan ucapannya.


“And Kingsley said, that Freya’s not suitable enough for Rery. since in Kingsley’s eyes Fredy’s daughter is way more in everything from Freya ( Dan Kingsley mengatakan jika Freya tidak cukup cocok untuk Rery. Karena di mata Kingsley, putrinya Fredy jauh melebihi segalanya daripada Freya )”


“And you think Freya have feud to Kingsley, even Rery because she was rejected, so she decided to get along with Jaeden? ( Dan kau berpikir jika Freya memiliki dendam pada Kingsley bahkan Rery karena ia ditolak, sehingga dia memutuskan untuk bergabung dengan Jaeden? )”


Addison berkomentar.


“Perhaps ( Mungkin )”


“But Freya is a woman with a good behaviour ( Tapi Freya adalah wanita dengan tata krama )..”


“And also soft ( Dan juga lembut )..”


Damian menimpali ucapan Addison.


“I don’t really thing she could have that feud\, and ever will to get along with Jaeden that even her family never like that mot********r since Kingsley bring him in  ( Aku tidak sampai berpikir jika dia mendendam, apalagi sampai bekerja sama dengan Jaeden yang bahkan keluarganya memang tidak pernah menyukai keparat itu sejak Kingsley membawanya masuk )”


“Well, all I can say is, don’t judge a book from it’s cover.. We know Freya as a soft woman with a good behaviour, but we don’t know her that close either, remember?”


“( Yah, aku aku hanya dapat mengatakan, jangan menilai buku dari sampulnya.. Kita mengetahui jika Freya adalah wanita yang lembut dengan tata krama, tetapi kita juga tidak mengenalnya dengan dekat, ingat? )”


“Ya you’re right..”


Addison mengiyakan pendapat Putra, termasuk juga Damian.


“Alright, I’ll call Hiz and Accursio now. Also tell Hiz about the changing plan of our leaving ( Baiklah, aku akan menghubungi Hiz dan Accursio sekarang. Juga akan mengatakan pada Hiz, tentang perubahan rencana kepergian kita )”


**


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2