
Noted: Baca dulu episode sebelum memberikan LIKE / COMMENT ( jika berkenan ).
Terima kasih masih setia.
***
Happy reading..
Indo..
“How is it ( Bagaimana ), Ad?” ( Gadis )
“We still unable to contact Putra and others, if their not giving their signal first here ( Kita masih tidak dapat menghubungi Putra dan yang lainnya, jika mereka tidak mengirim sinyal kesini lebih dulu ), Gadis ----“ ( Addison )
“Tenanglah Gadis, aku sudah menghubungi orangku di Belanda untuk menyusul Putra dan lainnya ke Inggris. Badai di sana sedikit lebih besar daripada di negara Eropa lainnya, jadi penerbangan pun terhalang--- Aku juga tidak dapat menghubungi kediaman Putra dan orang tuanya yang berada di Salisbury, karena tempat itu sudah cukup lama tidak ditinggali, dan setahuku Putra sudah memutuskan saluran telefon disana. Dan lagi, tempat tinggal lama Putra dan orang tuanya di Salisbury sudah ditinggalkan--- Tapi yakinlah, mereka pasti baik-baik saja di sana ... suamimu itu pria tangguh, Gadis ... jadi kamu jangan terlalu khawatir ya? ...” ( Ramone )
“Iya, Vader----“ ( Gadis )
“Kamu perlu banyak istirahat Gadis. Aku perhatikan wajahmu nampak sedikit lebih pucat dan tubuhmu nampak lemah?-” ( Ramone )
“Aku baik-baik saja Vader. Aku makan dengan baik. Bahkan nafsu makanku seolah bertambah sekarang ini. Namun aku ya kurang selera. Selain itu, aku sedang sangat ingin merasakan kopi yang sering Putra minum, padahal aku tidak menyukainya karena terlalu aromanya terlalu kuat.” ( Gadis )
“Minta Abdul atau Marsih membuatkannya untukmu.” ( Ramone )
“Sudah, tapi rasanya tak sama, seperti yang aku pernah minum dari cangkir bekas Putra.” ( Gadis )
“Kau sedang sangat merindukan suamimu ya?-“ ( Ramone )
“Iya, sepertinya begitu Vader.” ( Gadis )
****
Salisbury, Inggris..
“Still unable ( Masih tidak bisa ), Dev?” tanya Putra pada Devoss yang sedang nampak sibuk dengan sebuah perangkat komunikasi.
“Yes, still can’t ( Ya, masih tidak bisa )—“ jawab Devoss. “Even radio also has no signal yet ( Bahkan radio juga belum ada sinyalnya )”
Devoss lanjut bicara, sambil tangannya masih mengutak-atik dua perangkat komunikasi berbeda.
Putra terdengar berdehem samar.
“Clean it up now ( Bersihkan ini semua sekarang ), Dev.”
Lalu Putra berucap seraya menurunkan perintah. Devoss mengangguk paham.
****
“I actually very sure, that none of my enemies know this place. But still, I don’t want to take even just a small risk for them that I consider as family ( Aku sebenarnya sangat yakin, bahwa tidak ada satu musuhkupun yang tahu tentang tempat ini. Tapi tetap saja, aku tidak ingin mengambil secuil resiko apapun untuk mereka yang sudah aku anggap sebagai keluarga )”
Putra berbicara pada tiga orang maid yang selama ini melayaninya di mansion lama miliknya dan keluarganya, sejak Putra kembali ke tempat tersebut walau hanya untuk sementara.
__ADS_1
Selain ketiga maid yang sedang berdiri di hadapannya ini, memang dipekerjakan sejak jaman kedua orang tua Putra masih hidup, sampai mansion tersebut benar – benar ditinggalkan oleh kedua orang tua Putra dan Putra sendiri, setelah situasi yang membuat mereka harus tinggal disana selama beberapa waktu telah kondusif.
Namun, meski lama ditinggalkan, mansion lama milik Putra dan keluarganya itu tetap dipertahankan. Tadinya, kedua orang tua Putra berpikir akan menempati kembali mansion tersebut pada waktu tua mereka. Lalu saat liburan, Putra akan datang bersama istri dan anak – anaknya untuk mengunjungi mereka. Gambaran keluarga bahagia, harapan orang tua Putra saat mereka masih hidup.
Tapi yah, takdir berkata lain.
Karena umur manusia, Tuhan yang punya.
Dan untuk menghormati keinginan – selain untuk mengenang beberapa kenangan bersama keluarganya, mansion lama Putra di Salisbury itu Putra pertahankan.
Namun Putra menyamarkan kepemilikan tempat tersebut dengan identitas pemilik palsu, karena ia sempat berpikir jika mansion lamanya itu akan menjadi tempat untuknya menenangkan diri saat dia sedang menginginkan sebuah ketenangan. Hanya saja, meski dipertahankan, mansion tersebut tidak dibiarkan oleh Putra ada yang meninggalinya.
Tidak disewakan, dan tidak menempatkan seorang pelayan pun tinggal di dalamnya selama Putra tidak ada. Hanya mempekerjakan orang untuk merawat mansion tersebut saja agar tidak menjadi macam bangunan tua yang tidak terawat.
Dan orang yang ditunjuk Putra untuk merawat mansion lama miliknya dan orang tuanya itu adalah tiga orang yang merupakan satu keluarga, dan juga memang pria paruh baya dan wanita yang kurang lebih sebaya dengan sang pria itu- yang mana dulunya sepasang suami istri itu adalah pekerja setia orang tua Putra di mansion tersebut.
Yang saat Putra tinggal lama di mansionnya sejak beberapa waktu lalu, kemudian diminta Putra untuk tinggal kembali di mansion tersebut untuk melayani kebutuhannya. Dan dengan tanpa pikir panjang, dua maid yang dulu mengabdi pada kedua orang tuanya termasuk juga Putra itu mengiyakan permintaan Putra.
Namun saat ini, Putra kembali meminta ketiganya untuk meninggalkan mansion lama dan kedua orang tuanya itu atas suatu pertimbangan.
Putra berdiri dihadapan ketiga maid yang merupakan satu keluarga itu dengan gurat wajah datar namun hangat. Terlihat dari bagaimana cara Putra memandang ketiganya dengan tatapan terima kasih.
Kalau wajah datar Putra memang sudah tidak bisa ditawar lagi. Karena Putra memang pria minim ekpresi.
Hanya akan terlihat beruba, jika berada di sekitar orang – orang yang teramat sangat dekat dengannya saja. Dimana jika Putra ingin tersenyum, maka senyumannya akan mudah tercipta, bahkan terkekeh pun akan dapat Putra lakukan.
Terlebih, sejak Putra mengenal Gadis. Wanita yang kini telah menjadi istrinya.
Putra akan menjadi pribadi yang hangat, bahkan konyol sesekali sejak ia kenal dengan Gadis.
****
“I actually very sure, that none of my enemies know this place. But still, I don’t want to take even just a small risk for them that I consider as family ( Aku sebenarnya sangat yakin, bahwa tidak ada satu musuhkupun yang tahu tentang tempat ini. Tapi tetap saja, aku tidak ingin mengambil secuil resiko apapun untuk mereka yang sudah aku anggap sebagai keluarga )”
Putra berkata pada tiga maid yang berdiri di hadapannya, dengan dua buah tas yang tergeletak di sisi kiri dan kanan ketiga maid yang berdiri berjejer menghadap Putra itu. Ketiganya memandang hormat pada Putra, setelah sebelumnya mereka diminta Putra untuk tidak menundukkan wajah mereka di hadapan Putra sekarang ini. Karena memang seperti itulah Putra dibalik ‘kedataran dan kedinginan’ ucapan dan sikapnya.
Putra tetap pria bermartabat, yang tidak menilai orang dari ‘kelas sosial’ mereka.
Dimata Putra, semua manusia sama derajatnya. Sesuai dengan apa yang orang tuanya tanamkan di otak Putra dalam memandang dan memperlakukan orang lain.
Namun tetap Putra punya prinsip. Emas untuk emas. Darah untuk luka. Yang mana semua sikap baik orang yang tulus padanya akan Putra balas dengan cara yang sama.
Sementara untuk mereka yang mengusik Putra, mereka akan Putra buat membayar lebih dari kelakuan buruknya pada Putra, atau pada orang-orang yang ia kasihi.
“So better three of you not live in here, while I’m not around ( Jadi sebaiknya kalian bertiga tidak tinggal disini, selama aku tidak ada )” Putra lanjut bicara dan ketiga orang maid tersebut pun mengangguk patuh.
Karena Putra sudah sedikit banyak memberitahukan alasannya untuk menyuruh mereka agar untuk sementara waktu tidak tinggal dulu di mansion lama milik Putra dan kedua orang tuanya tersebut.
****
London Timur, Inggris..
Putra dan rombongannya telah berada di sebuah kawasan yang dapat disebut sebagai kawasan kumuh negara Inggris.
Dan kini Putra telah berjalan menyusuri lorong gelap yang di kanan kirinya ada beberapa tempat tinggal dalam kategori tidak layak, kumuh sesuai dengan penggambaran orang-orang jika menyebut satu daerah tersebut.
__ADS_1
Thomas memimpin jalan, sementara Putra, Damian, Garret dan Devoss berjalan di tengah, karena di belakang mereka ada Richard dan para anak buah mereka yang ikut serta.
Thomas kemudian berhenti di sebuah kedai sebuah jenis makanan setelah mereka keluar dari lorong yang tadi mereka susuri setelah turun dari mobil. Dan mobil-mobil yang Putra dan rombongannya gunakan itu kemudian diparkirkan di sebuah tempat aman dan tersembunyi oleh beberapa orang anak buah Accursio yang tadi nampak berjaga saat Putra dan rombongannya datang.
Putra langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah kedai yang pintunya telah dibukakan oleh Thomas. Damian, Garret dan Devoss mengekor di belakang Putra, disusul oleh thomas, dan anak buah lainnya yang kemudian menutup pintu rapat-rapat saat semua orang yang bersama Putra telah masuk ke dalam kedai yang nampak terlihat kecil dan sempit dari luar tersebut.
Dua orang yang sudah ada saat Putra masuk ke dalam kedai tersebut menundukkan sedikit kepala mereka pada Putra, juga pada Damian, Garret dan Devoss.
Pasalnya kedua orang tersebut berikut dua orang yang tadi nampak berjaga saat Putra datang telah diberitahu perihal Putra yang sama penting dengan Bos besar mereka.
Dan tiga orang yang nampak memiliki aura seperti Putra meski tak sekuat aura Putra, sudah dipastikan penting juga peranannya. Jadi mereka pun memberikan salam hormat pada Damian, Garret dan Devoss.
‘Hemm ....’ Putra berdehem dalam hatinya.
Lalu Putra tersenyum samar, saat Thomas terus membawanya sedikit lebih dalam ke dalam bagian kedai yang nampak kecil dan sempit dari luar, namun pada kenyataannya, kedai tersebut dapat dikatakan luas sebenarnya, hanya saja bentuk bangunannya memanjang ke belakang.
Accursio memang jago dalam mendapatkan tempat tersembunyi untuk dijadikan sebuah tempat yang dapat dikatakan sebagai markasnya. Tempat terpencil yang tidak mungkin disangka orang luar, sebagai tempat penyimpanan banyak senjata maupun alat peledak yang Putra ketahui jika sebagian dari senjata dan bahan peledak itu adalah salah satu dari bisnisnya Accursio.
****
Putra menyesap minuman yang disajikan untuknya sambil ia melihat goresan tinta pada selembar kertas.
Dan tentunya, tiga orang yang merupakan personil inti dari kelompok Putra selain diri Putra sendiri, juga sedang duduk bersamanya.
Sama halnya seperti Putra, Damian, Garret dan Devoss juga sedang menikmati minuman panas berwarna hitam pekat yang terlihat masih mengepulkan asap di dalam cangkir yang menampungnya.
Setelah Putra membaca apa yang tertulis di atas kertas yang sedang ia pegang, Putra mengeluarkan pemantik apinya lalu membakar kertas tersebut sampai habis dan membiarkan kertas yang telah berubah menjadi abu itu tergeletak di lantai dekat kakinya.
“Let’s move ( Ayo bergerak )” Putra beranjak dari duduknya.
“What’s wrong ( Ada apa )?-“
Damian segera bertanya pada Putra yang setelah beranjak dari duduknya, kemudian nampak terdiam sejenak.
“What smell is this ( Bau apa ini )? –“
Putra memotong ucapan Damian yang bertanya padanya, sambil ia menutup hidungnya.
“It’s mashed potatoes and curry puff we’re make here as an distraction of this place ( Ini aroma kentang tumbuk dan pastel yang dibuat disini sebagai pengalihan atas tempat ini )-“
Thomas yang menjawab pertanyaan Putra.
“And I asked them to bring some here for you guys to fill up stomache( Dan aku meminta mereka membawakan beberapa kesini untuk mengisi perut anda semua )-“
“Take it away from me ( Bawa itu menjauh dariku )!” potong Putra atas ucapan Thomas, dengan Putra semakin menutup hidungnya kala dua hidangan yang disebutka Thomas tadi telah dibawakan oleh dua orang yang langsung meletakkannya di atas meja.
Sementara itu, mereka yang sedang bersama Putra mengernyit heran. Terutama Damian dan Garret yang setahu mereka Putra tidak punya makanan yang tidak ia sukai. Tapi kenapa saat kentang tumbuk dan pastel yang baru saja dihidangkan dan nampak menggugah selera karena kehangatan dari dua jenis makanan tersebut, Putra malah nampak alergi pada dua makanan tersebut?.
“Where’s the toilet ( Dimana letak toilet )?!” tanya Putra tajam, namun wajahnya nampak seperti ia sedang menahan sesuatu. Dan Putra langsung mempercepat langkahnya kala Thomas menunjuk seseorang untuk mengantarkan Putra ke toilet. Lalu suara seperti Putra sedang mengeluarkan isi perutnya, sayup-sayup terdengar dari dalam toilet. Membuat Damian dan Garret spontan saling tatap.
“Since when Putra got allergic to mashed potatoes and curry puff ( Sejak kapan Putra alergi dengan kentang tumbuk dan pastel )?-“
****
To be continue..
__ADS_1