
Happy reading....
*************
“Sudah memilih perhiasan yang kamu suka?”
“Hu’um, sudah...”
“Yang mana pilihanmu?”
Gadis menunjuk satu gelang emas yang telah dipilihnya.
Putra pun segera melihat lalu mengangkat gelang emas berbentuk bangle yang menjadi pilihan Gadis.
Lalu Putra memperhatikan gelang emas tersebut. Dan Gadis diam saja tak berkomentar.
Pasalnya, gelang emas yang Gadis pilih itu adalah perhiasan yang harganya paling murah dari beragam perhiasan yang merupakan koleksi khusus toko perhiasan yang ia dan Putra, serta Addison dan Bruna sambangi itu.
“Berapa harga perhiasan ini?”
Gadis langsung kikuk saat mendengar Putra menanyakan harga dari gelang pilihannya.
“Apa ini perhiasan yang paling murah harganya dari koleksi yang kalian tunjukkan ini?”
Dan Gadis menjadi semakin kikuk mendengar pertanyaan kedua Putra pada pramuniaga yang sedang melayani Putra dan Gadis saat ini.
Tak lama terdengar Putra mendengus dan berdecak saat si pramuniaga mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Putra. Lalu Putra melirik dengan tatapan sedikit sebal pada Gadis.
‘Coba lihat calon istriku ini? .. perempuan lain akan berbinar, bahkan mata mereka bisa-bisa membulat jika diajak ke toko perhiasan dan diminta memilih perhiasan yang paling bagus!. Tapi dia malah memilih perhiasan yang paling murah’
Putra bermonolog dalam hatinya.
Kemudian Putra terdengar menghela nafasnya sembari geleng-geleng menatap ringan pada Gadis.
Gadis yang kikuk itu, kemudian menunjukkan deretan giginya pada Putra karena Gadis sudah menebak jika Putra sudah tahu alasannya mengapa Gadis memilih gelang tersebut.
“Kuberi waktu maksimal tiga menit ..”
“Heu?..”
“Pilih satu model dari setiap jenis perhiasan ini. Jika tidak..”
Putra menampakkan seringainya pada Gadis.
“Aku ..”
“A-aku akan segera memilih!”
“Good girl.. ( Gadis yang baik .. )”
Putra mengulas senyuman sembari membelai-belai lembut kepala Gadis.
***
Gadis sudah selesai memilih satu model untuk setiap jenis perhiasan eksklusif dari toko perhiasan yang ia sambangi dengan Putra, berikut Bruna dan Addison yang nampak sudah selesai memilih cincin pernikahan mereka.
Namun Addison dan Bruna nampak masih duduk di tempat mereka dan sedang juga melihat-lihat beberapa koleksi perhiasan yang sedang ditunjuk Bruna.
Daripada, daripada. Gadis lebih baik mengikuti saja keinginan calon suaminya itu untuk memilih beberapa perhiasan, satu dari setiap jenisnya. Padahal Gadis juga tidak suka jika harus terlihat mencolok dengan ragam perhiasan yang menempel di beberapa bagian tubuh yang biasanya dihias dengan perhiasan.
Dua pramuniaga nampak sedang sibuk mengemasi perhiasan yang dipilih Gadis dan sedang menuliskan surat pembelian dari perhiasan-perhiasan tersebut. Putra nampak santai sembari matanya nampak melihat-lihat perhiasan yang terpajang dalam kotak kaca panjang dihadapannya, namun tidak dengan Gadis.
Putra tidak tahu saja jika Gadis meringis dalam hatinya, karena teringat harga setiap perhiasan eksklusif yang tadi ia pilih dengan sembarang, dan Gadis memilih dengan terburu-buru karena Putra memberikannya waktu yang singkat untuk memilih. “Putra ..” Panggil Gadis yang sudah berdiri dari duduknya dan menghampiri Putra yang sedang berdiri dengan matanya yang seolah memindai perhiasan dalam etalase kaca yang terhampar dihadapannya itu.
“Jika ingin protes lebih baik urungkan niatmu..” Ucap Putra datar. Dan Gadis menggigit lidahnya. Kebetulan niat Gadis memanggil Putra itu, memang untuk membujuk Putra agar mau mengurangi perhiasan yang dipilihnya tadi dan akan dibayarkan oleh Putra nanti.
Namun berhubung Putra seolah sudah memberikannya peringatan, jadi Gadis urung untuk membujuk Putra mengurangi pembelanjaan perhiasan yang sudah Gadis pilih.
“Ingin protes?”
Putra menoleh pada Gadis.
“Hem?”
Dan Gadis segera menggeleng.
“Ti-dak kok.. aku bukan ingin protes ..” Kilah Gadis.
“Baguslah” Ucap Putra.
Lalu seorang pramuniaga lain datang menghampiri Putra yang mendekat ke tempat Putra dan Gadis berada bersama Arthur.
Kemudian pramuniaga tersebut menyodorkan sebuah buku pada Putra yang segera diterima oleh Putra.
“Mari Tuan..”
Pramuniaga tersebut menunjuk pada suatu sudut dimana ada sebuah meja dengan dua tempat duduk disatu sisinya, dan satu kursi disisi yang lain.
“Ayo Gadis” Putra meraih pinggang Gadis lalu membawanya untuk mengikuti si pramuniaga yang tadi berbicara. “Ar, please, would you? .. ( Ar, tolong ya?.. )”
Putra berbicara pada Arthur yang segera menyahut mengiyakan seraya mengangguk, karena paham yang dimaksud oleh Putra.
Lalu Putra kembali melanjutkan langkah ke tempat dimana pramuniaga yang tadi memberikan buku yang merupakan katalog perhiasan, sudah berdiri dibalik meja disuatu sudut toko perhiasan tersebut.
“Ini, pilihlah..” Putra yang sudah dipersilahkan duduk oleh si pramuniaga yang berada dihadapannya dan Gadis itu, memberikan katalog yang tadi dia terima pada Gadis. Gadis melihat pada Putra, lalu melihat ke arah tangan Putra yang sedang menyodorkan katalog perhiasan padanya.
“Aku rasa yang tadi juga sudah cukup Putra”
Berpikir jika Putra akan menyuruhnya memilih perhiasan yang Gadis rasa tidak perlu, Gadis pun menolak dengan halus.
“Ini katalog cincin pernikahan. Aku ingin kamu yang memilih untuk kita..”
“Cincin pernikahan kita?..”
Gadis langsung melontarkan pertanyaan yang membuat Putra meliriknya sedikit malas.
“Untuk siapa lagi memangnya?” Jawab Putra. “Bukankah kamu sudah lihat kalau Ad dan Bruna sudah memilih cincin pernikahan mereka?”
Putra menambahkan. Sedikit ketus.
“Aku kan hanya tanya..” Gumam Gadis, dengan nada suara yang setengah menggerutu.
“Ya sudah pilihlah”
Putra menyuruh Gadis lagi.
Gadis pun membuka katalog perhiasan, yang merupakan katalog khusus cincin pernikahan.
Putra juga ikut melihat-lihat katalog perhiasan tersebut bersama Gadis.
Sementara si pramuniaga yang berada dihadapan Putra dan Gadis masih duduk dengan senyuman ramah dan profesional yang terus terpatri di wajahnya.
“Kenapa kita harus ikutan memilih cincin pernikahan juga?” Tanya Gadis yang menjeda melihat-lihat gambar cincin pernikahan dalam katalog.
“Kenapa memangnya?”
Putra malah balik bertanya pada Gadis.
__ADS_1
“Ya kita saja belum menentukan tanggal pernikahan kita kan Putra?”
“Kan sudah aku bilang kita akan menikah dalam waktu yang tidak lama lagi”
“Iya, tapi kan ..”
“Apa bisa aku memesan desain khusus selain dari yang ada dalam katalog ini?”
Putra beralih pada si pramuniaga yang ada dihadapannya tanpa menghiraukan Gadis yang hendak berbicara tadi.
“Bisa Tuan”
Si pramuniaga menjawab ramah.
“Tapi akan dikenakan biaya khusus untuk jasa desainnya yang terpisah dengan harga perhiasan yang anda pesan..”
“Aku tidak perduli tentang biaya khususnya. Aku hanya ingin tahu bisa atau tidak”
“Bisa Tuan” Jawab si pramuniaga lagi tetap dengan sikapnya yang sopan dan ramah, meski pelanggan didepannya ini nampak dingin dan arogan.
Pembeli adalah raja, dan sepertinya pria yang berada dihadapannya ini bisa saja seorang raja atau kerabatnya, mengingat pria dingin nan arogan itu sudah membeli beberapa model perhiasan eksklusif di toko mereka, dengan harga yang tentunya jauh diatas rata-rata perhiasan biasa.
“Saya akan menghubungi desainer perhiasan kami dulu kalau begitu”
“Ya sudah cepat lakukan”
“Baik Tuan, mohon tunggu sebentar”
Putra mengangguk pada si pramuniaga dihadapannya itu yang kemudian beranjak dari duduknya.
“Putra..”
“Hemmm?”
Putra menoleh pada Gadis.
“Kenapa harus segala memesan jasa desainer perhiasan lagi sih?..”
“Karena model cincin pernikahan yang ada didalam katalog mereka ini terlihat pasaran yang akan membuatnya terlihat murahan. Nanti kulitku bisa-bisa iritasi jika memakai cincin pernikahan yang biasa saja”
“Hish, sombong sekali”
“Dari sisi mana aku tidak boleh sombong hem? Tampan dan kaya raya. Belum lagi aku pria setia. Dan aku mencintaimu. Seharusnya kamu bangga bukan?”
Gadis hanya mendengus geli saja pada Putra yang jumawa tentang dirinya sendiri. ‘Benar-benar luar biasa sekali kepercayaan dirinya!’ Batin Gadis.
“Aku hanya tinggal menjentik kan jari, dan para wanita akan berbaris untuk mendaftar menjadi kekasihku”
Sekali lagi Putra bersikap jumawa.
Dan Gadis terkekeh kecil. “Ya, ya aku percaya ..”
“Memang seharusnya begitu ..”
“Putra.. Putra ..”
Gadis tersenyum geli sembari mencubit pelan satu sisi pipi Putra yang orang ikut tersenyum kemudian.
“Ah aku jadi ingin menciummu”
“Jangan macam-macam!”
Putra sontak terkekeh geli kemudian.
***
Pembicaraan soal cincin pernikahannya dengan Gadis yang ingin Putra pesan dengan desain khusus sudah selesai. Seorang desainer perhiasan yang biasa bekerjasama dengan toko perhiasan yang sedang Putra sambangi sudah dibuatkan janji bertemu dengan Putra dan Gadis oleh pihak toko. Tidak hanya Putra dan Gadis, tapi juga Addison dan Bruna yang memang disarankan Putra untuk dibuatkan cincin pernikahan yang lebih eksklusif.
Addison sih yang menyetujuinya, karena Bruna kurang lebih sesederhana Gadis orangnya.
Tidak terlalu neko-neko, tapi juga patuh pada Addison yang layaknya Putra, yakni mendominasi hubungan dengan pasangannya.
Jadi sebagaimana Gadis yang sering tak berdaya melawan keputusan Putra, Bruna juga kadang tidak berdaya untuk memprotes beberapa keputusan yang Addison buat.
Meski begitu, Putra maupun Addison adalah sama-sama pria, dengan tingkat kesetiaan pada pasangan yang dibilang tinggi. Selain sikap posesif dan over protektif mereka.
***
Arthur menghampiri Gadis dan Putra yang sudah selesai berbicara dengan salah seorang pramuniaga toko, bersama juga dengan Addison dan Bruna, saat ia hendak melakukan pembayaran perhiasan mewakili Putra.
Arthur juga berbicara dengan Bruna, mengkonfirmasi perhiasan-perhiasan yang sudah di pilih oleh Gadis dan Bruna sebelum benar-benar dikemas oleh para pramuniaga toko untuk kemudian dibayar. Gadis dan Bruna pun mengecek satu-satu setiap perhiasan yang sudah mereka pilih.
“Apa perhiasan yang dipilih Bruna akan kau bayarkan juga Tuan Putra? ..”
Arthur kemudian bertanya pada Putra dengan menggunakan bahasa Indonesia saat Gadis dan Bruna telah mengkonfirmasi perhiasan-perhiasan yang sudah mereka pilih.
Putra menjawab dengan anggukan.
“Ad” Bruna memanggil Addison. “You can do the payment .. ( Kamu sudah bisa membayar.. )”
“No Ad, let me ( Tidak Ad, biar aku saja )” Putra menahan Addison yang hendak merogoh saku jasnya untuk mengambil buku ceknya.
Lalu Putra meminta Arthur yang menyelesaikan pembayaran. Karena Arthur juga diberikan kepercayaan seperti Danny untuk mengurus sebagian keuangan mereka, sejak sebagian uang yang berada di sebuah Bank di Inggris, telah didapatkan kembali oleh Putra.
***
Selesai urusan dalam toko perhiasan, Putra dan mereka yang bersamanya kemudian melenggang keluar dari sana dengan dua orang Bodyguard yang membawakan beberapa tas belanja berisikan perhiasan mahal milik dua calon Nyonya dari dua Tuan mereka.
“Papa, Gadis, Padre, Madre!”
Suara Anthony berikut sosoknya yang berlari riang ke arah empat orang yang Anthony panggil itu muncul tepat saat Putra, Gadis, Addison dan Bruna baru saja keluar dari toko perhiasan yang tadi disambangi oleh dua pasang kekasih yang hendak membeli cincin pernikahan.
Putra segera mengangkat tubuh Anthony yang sudah berhambur kedekatnya. “Have you finished looking around? ( Kamu sudah selesai berkeliling? )”
“Done ( Sudah ) , Papa ..”
Anthony yang sudah berada dalam gendongan Putra itu pun menjawab dengan juga mengangguk antusias.
Putra dan yang lainnya tersenyum melihat Anthony yang nampak senang itu. “Did you buy some toys? .. ( Apa kamu membeli beberapa mainan? .. )”
Anthony menggeleng. “I bought some swimwear!.. ( Aku membeli beberapa pakaian renang! .. )”
Kembali Anthony menyahut dengan semangat.
“So there’s a swimwear shop here? .. ( Jadi ada toko pakaian renang disini?.. )” Tanya Putra.
Anthony mengangguk antusias lagi.
“So you just bought a swimwear? .. ( Jadi kamu hanya membeli satu pakaian renang?.. )”
“Yes Papa ( Iya Papa )” Jawab Anthony.
“Did not bought any toys? ( Tidak membeli satu mainan pun? )”
Anthony menggeleng.
“So you really just bought a swimwear? ( Jadi kamu benar-benar hanya membeli satu pakaian renang? )”
__ADS_1
“Yes just one .. ( Iya hanya satu .. )” Celetuk Damian yang sudah berada didekat Putra yang sedang menggendong Anthony.
Damian nampak mesam-mesem.
“One dozen ( Satu lusin )”
“What?? ( Apa?? )”
Putra, Gadis, Addison dan Bruna sampai terperangah.
Sesaat kemudian mereka semua yang berada didekat Anthony terkekeh.
“Tidak heran jika anaknya suka menghamburkan uang. Papanya kan seperti itu”
Gadis berseloroh.
Putra pun mendengus geli.
“Jangankan satu lusin pakaian renang, jika Anth menginginkan tokonya pun akan aku belikan”
Dan jika mode pongah Putra sudah menyala lagi seperti ini, Gadis memilih diam saja. Malas menanggapi pria yang sepertinya uang bukan masalah sama sekali untuknya.
‘Dasar orang terlewat kaya!’
Gadis membatin geli.
***
Putra bersama mereka yang tadi ikut menghadiri jamuan kecil-kecilan yang diadakan oleh ayah baptis Putra, kini sudah berada dalam mobil dengan beriringan menuju Villa mereka yang berada di luar Ibukota.
Rencananya Putra berikut keluarganya itu akan tinggal dulu di Villa selama beberapa hari ke depan, dikarenakan Putra dan para saudara lelakinya itu sudah positif akan membangun sebuah pabrik teh di daerah yang tak terlalu jauh dari Villa mereka.
Baru nanti mereka semua akan kembali ke Ibukota untuk persiapan pernikahan, hingga nanti sampai hari pernikahan tiba. Sekaligus mengurus perpindahan mereka ke tempat tinggal baru, yakni sebuah Kediaman yang jauh lebih mewah daripada Kediaman Putra dan keluarganya yang berada di Ibukota, yang saat ini sedang diurus proses kepemilikannya oleh Arthur dan Danny.
Hanya ada Putra dan Gadis di kursi belakang dalam mobil yang dua orang itu tumpangi sekarang.
Di kursi supir ada anak buah Putra, dan di kursi penumpang depan ada Arthur. Sementara Anthony meminta ikut dalam mobil yang ditumpangi oleh Damian dan Garret.
“Putra...,” Panggil Gadis. Ia mengangkat kepalanya dari pundak Putra.
“Hem? ...”
“Kalau aku tidak salah, saat di Hotel tadi aku melihat kamu dan mereka yang bersama kamu saat aku, Anthony dan Bruna kembali dari berkeliling, sepertinya sedang bersulang? ...”
Putra manggut-manggut pelan.
“Iya, kami sedang bersulang...”
Gantian Gadis yang manggut-manggut.
“Kenapa?...”
“Tidak apa-apa. Hanya tanya saja”
Gadis pun tersenyum. Dan Putra membawa lagi kepala Gadis untuk bersandar di pundaknya, yang sudah ia landai kan. Gadis yang memang agak lelah itu pun menyandarkan kepalanya di pundak Putra, dengan satu tangan Putra yang mengelus-elus kepalanya dan satu tangannya menggenggam satu tangan Gadis.
“Beristirahatlah sejenak. Kamu terlihat sedikit lelah. Tidurlah. Perjalanan kita masih lumayan panjang”
“Iya...”
Jawaban Gadis disertai anggukan pelan kepalanya.
Bersamaan dengan Putra yang mengangkat satu tangan Gadis yang ia genggam, kemudian mengecup punggung tangan Gadis dengan lembut dan meletakkannya kembali di atas satu paha Putra.
Tepat saat Gadis ingin memejamkan matanya, sesuatu yang melingkar di salah satu jari Putra membuat Gadis sedikit mengernyitkan dahinya.
“Putra...”
“Hem? ...”
“Sepertinya cincin ini tidak kamu pakai sebelumnya? ...”
“Vader yang memberikannya padaku sebelum kami bersulang tadi”
Gadis pun manggut-manggut.
Rasanya memang Gadis sedikit mengantuk, namun ia sedikit penasaran untuk bertanya.
Gadis mengelus-elus salah satu pergelangan Putra dimana Ada tato bersimbol pedang disana.
Sebuah tato yang merupakan suatu simbol yang tidak hanya dimiliki Putra, tetapi juga almarhum Rery dan mereka yang telah bersama sejak awal datang ke Ravenna. Mereka yang pro dengan almarhum Rery.
Termasuk Addison, Damian, Garret bahkan Bruna juga memiliki tato dengan gambar yang sama seperti Putra, dibagian tubuh yang sama juga. Dimana tato tersebut adalah juga sebagai ‘tanda pengenal’ mereka yang bersama Rery.
“Apa cincin ini memiliki makna seperti tato kamu ini?...” Tanya Gadis.
Putra mengangguk. “Iya”
“Tanda pengenal juga, begitu? ...”
“Kurang lebih seperti itu” Kembali Putra menjawab pertanyaan Gadis.
“Huumm ...”
“Hanya saja ini bukan ‘tanda pengenal’ biasa”
“Maksudnya?” Gadis tak paham.
“Cincin ini simbol kepemimpinan Vader di Belanda...”
“Memangnya Tuan Ramone itu siapa?... Apakah dia seorang tokoh penting di Belanda?...”
Putra menarik sudut bibirnya. “Bukan siapa-siapa, hanya seorang kepala saja...”
“Kepala pemerintahan?...”
Gadis bertanya dengan polosnya.
Dimana Putra tersenyum geli mendengarnya.
“Iya kepala pemerintahan...” Ucap Putra. “Kepala pemerintahan dunia bawah di sana”
Gadis kembali mengernyitkan dahinya.
“Dunia bawah? ...”
“Pernah dengar tentang Mafia?”
“Pernah ...”
“Dan di Belanda, Vader adalah pemimpinnya” Tukas Putra.
Gadis pun terperangah. “Be-nar-kah?”
“Hu’um. Dan sekarang aku yang akan menggantikannya”
***
__ADS_1
To be continue..
Tetap enjoy dan bahagia ..