
Happy reading...
Putra sudah kembali ke rumah miliknya dan keluarganya di Ibukota. Putra memperhatikan wajah-wajah saudari dan para saudaranya yang sedang berada di ruang tengah.
“What’s wrong?... Is Anth, okay?. ( Ada apa?.. Apa Anth, baik-baik saja?.... )” Tanya Putra. Sedikit cemas.
“Anth is okay. He is sleeping now. ( Anth baik-baik saja. Dia sedang tidur sekarang )”
Bruna yang menjawab.
“Then, why all of you look a little bit wrought-up?. ( Lalu, mengapa kalian nampak sedikit tegang? )”
Putra menatap Addison, Bruna serta Danny, Damian dan Garret yang sudah lebih dulu tiba di kediaman mereka itu.
“So, what’s wrong?... ( Jadi, ada apa? )...”
“Pak Abdul was called right after Dami and Garret out of here this evening... ( Pak Abdul menelpon tepat setelah Dami dan Garret pergi dari sini sore tadi... )”
Addison yang menjawab.
“He said that our tea garden was destroyed ( Dia bilang perkebunan teh kita telah hancur )”
“More specific? ( Lebih tepatnya? )”
“Those teas that ready to crop, fail to crop. Destroyed. Total damage”
“( Teh – teh yang sudah siap dipanen, gagal. Hancur. Rusak semua )”
Putra manggut-manggut sembari mendudukkan dirinya di atas sofa, duduk disamping Danny yang pulang dari Hotel bersama Garret dan Damian.
“Caused?. ( Penyebabnya? )”
“Plant toxin. ( Racun tanaman )”
“Hmm ...”
Putra kembali manggut-manggut sembari menyalakan rokoknya.
“Which garden?. ( Kebun yang mana? )”
“All. ( Semua )” Sahut Addison.
“Sabotage. ( Sabotase )” Celetuk Garret.
Putra menyungging miring.
“I believe so. ( Aku rasa begitu )”
“Heh!”
Damian berdecih sinis.
“And we all know who’s b*st*rd who did that. ( Dan kurasa kita tahu siapa b*jing*n yang melakukannya )”
Putra pun manggut-manggut sembari tersenyum miring.
“I’m sure we are. ( Aku yakin begitu )”
Putra nampak tenang saja, sementara sisanya mendengus kesal.
“We need to give him some lessons. ( Kita harus memberinya sedikit pelajaran )”
“Not just ‘some’.. let’s show him, what this bule’s can do. ( Jangan hanya ‘sedikit’ .... mari kita tunjukkan padanya, apa yang para bule ini bisa lakukan )”
Putra memberikan penekanan pada kalimatnya.
“Let’s play ( Ayo kita bermain )” Putra menyunggingkan senyumnya, menatap para saudaranya dengan tatapan yang kesemuanya pahami tentang maksud ucapan Putra barusan.
***
Esok harinya ..
Putra dan keluarganya sedikit menunda waktu keberangkatan mereka untuk kembali ke Villa, dan Danny juga mengganti jam penerbangannya untuk bertolak ke Inggris.
Putra memintanya melakukan sedikit hal dan kini Danny sudah berada di hadapan Putra, Addison, Damian dan Garret bersama seorang pria berperawakan kurang lebih seperti Danny hanya saja kulitnya sedikit lebih coklat.
Danny memperkenalkan pria yang bernama Arthur itu pada Putra dan tiga lainnya, lalu membiarkan Putra mencari tahu sendiri tentang pria yang diperkenalkan Danny padanya itu. Karena hal itu memang keahlian Putra.
Keahlian yang juga dimiliki Addison, yang sering diminta Rery untuk merekrut seseorang, baru setelahnya diserahkan pada Putra untuk dinilai lebih lanjut apakah orang tersebut layak atau tidak untuk mereka rekrut, selain untuk mencegah adanya pengkhianat didekat Rery, terlebih setelah mereka pindah ke Italia.
Menilai orang hanya dalam beberapa menit saja dengan hasil yang akurat adalah kelebihan yang dimiliki Putra. Insting Putra sangat tajam dalam banyak hal, makanya almarhum Rery sangat mengandalkan Putra, bahkan dalam mengambil keputusan.
“You’re in ( Kau boleh masuk )” Hanya itu saja yang keluar dari mulut Putra setelah ia berbicara dengan pria bernama Arthur itu. Yang memang seorang pria yang berasal dari negara yang sama dengan Danny.
Dan pria bernama Arthur itu pun langsung menunjukkan senyumnya.
__ADS_1
“Don’t be too happy ( Jangan terlalu senang dahulu )” Ucap Putra. “I let you in .... ( Aku membiarkanmu masuk ) .. you know what that mean? ( Kau tahu apa artinya itu? )...”
“Be loyal to all of you?. ( Setia pada kalian semua? )”
Putra, Addison, Damian dan Garret mendengus geli.
“Trust!. ( Kepercayaan! )”
Suara bariton Putra yang kemudian terdengar lantang.
“We’re not hiring you .... ( Kami bukannya mempekerjakan mu )...”
Wajah Putra datar saja.
“We know that you stay here former, longer than us. And as we know, you meet and known some people that .. let’s say.. quite important?, in this country? ( Kami tahu bahwa kau sudah tinggal disini lebih dulu, lebih lama dari
kami. Dan seperti yang kita pahami, kami yakin kau sudah bertemu dan mengenal beberapa orang yang..... katakanlah, cukup penting?, di negara ini? )”
Namun dari cara Putra berbicara, cukup jelas bahwa pria itu sedang berbicara serius saat ini.
“Yes I am ( Ya begitulah )”
“But seems, that you are not that lucky, to get a ‘confession’?. ( Tetapi sepertinya, kau kurang beruntung, untuk mendapatkan sebuah ‘pengakuan’? ) in the community ( Dalam lingkup sosial? ) .... in this case, a higher community than yours now ( Dalam hal ini, lingkup sosial yang lebih tinggi dari tempatmu sekarang ) Am I right? ( Apa aku benar? )”
“Totally right... ( Sangat benar.... )”
“You are good with your feeling ( Insting mu cukup bagus )”
“......”
“You can assumed that through Danny about us ( Kamu bisa menduga melalui Danny tentang kami ) ...”
“......”
“You are not a poor guy ( Kau bukan pria miskin )” Ucap Putra lagi sembari menatap Evan dengan intens.
“......”
“But you are not rich enough ( Tetapi kau tidak cukup kaya )”
Arthur mendengarkan baik-baik setiap ucapan Putra padanya.
“From how often Danny meet you, you can predict what kind of people who standing behind him”
“( Dari seberapa seringnya Danny menemuimu, kau bisa memprediksi seperti apa orang yang berdiri dibelakangnya )”
Namun tetap, kesan perlente tetap saja tidak bisa hilang dari diri Putra yang memang anti berpakaian asal itu.
“Money, we have! .... ( Uang, kami punya! )...”
“......”
“But yet, not connection. ( Tapi koneksi, belum punya )”
Putra belum selesai bicara.
“And you, opposite. Lack of money, to get a confession also power, don’t you?. But you have enough entrance to let us ‘get in’ into the community. Am I right again?”
“( Dan kau, kebalikannya. Kau tidak cukup kaya untuk mendapatkan pengakuan dan kekuasaan tentunya, bukan?. Tetapi kau memiliki jalan bagi kami untuk ‘masuk’ kedalam komunitas. Apa sekali lagi aku benar? )”
Arthur langsung mengangguk. ia cukup merasa takjub dengan prediksi Putra tentang dirinya, yang mana memang tepat sekali.
“You are not working for us ( Kau tidak bekerja untuk kami ), Arthur...”
“......”
“But you walk, as the way we told you how to walk ( Tetapi kau berjalan, sebagaimana kami yang menunjukkan padamu bagaimana kau harus berjalan )”
“I get it .. ( Aku paham )..” Jawab Danny seraya mengangguk pasti.
“Good....” Sahut Putra. “We understand each other then ( Kita sudah saling memahami kalau begitu )”
“As you said, Mister Putra ( Sesuai yang kau katakan, Tuan Putra )” Ucap Arthur.
“Last but not least... ( Terakhir yang tidak kalah penting ) .. just like what I said to you ( Seperti yang tadi sudah kukatakan padamu ) .. Even our relation is kind of a mutualism symbiosis thing, but I marked the ‘Trust’ in this relation ( Meskipun hubungan kita ini dapat dikatakan sebagai hubungan yang saling menguntungkan, tapi aku menggaris bawahi arti ‘Kepercayaan’ dalam hubungan ini )”
Putra menegaskan. Arthur pun manggut-manggut.
“I’ll do my best then ( Aku akan melakukan yang terbaik )”
“Good! ( Bagus! )”
Putra menyunggingkan senyumnya.
“Because if you mess-up with us, we can’t promise anything but hereafter”
__ADS_1
“( Karena jika kau macam-macam dengan kami, kami tidak bisa menjanjikan apapun selain akherat )”
Seringai pun muncul di wajah Damian, Addison dan Garret. Sementara Danny tersenyum miring, dan Putra tersenyum tipis.
“I understand ... ( Aku mengerti )....”
“Want to change your mind to get in? ( Ingin merubah pikiranmu? )”
“We don’t spare any chance for a betrayal, you know? ( Kami tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada seorang pengkhianat, kau tahu? )”
“So, if you think you might get a wrong way one day and turn your back from us, better you take a step to back-out ( Jadi, jika dirasa kau mungkin saja khilaf suatu hari nanti dan berbalik melawan kami, lebih baik kau ambil langkah
mundur saja sekarang )”
Putra, Garret dan Damian bicara bersahutan.
Arthur menarik dua sudut bibirnya.
“I have a good vision if I stand with all of you. ( Aku punya penglihatan yang bagus jika aku berdiri bersama kalian )...”
Arthur menatap satu-satu pria dihadapannya itu.
“So I’m still in, being part from all of you. ( Jadi aku tetap ingin bergabung, menjadi bagian dari kalian )”
Arthur tetap mempertahankan senyumnya. Meski begitu, nada suaranya terdengar serius dan yakin. Membuat lima pria yang berada disekelilingnya juga menyunggingkan senyum mereka kemudian.
“Then your life is ours. ( Maka nyawamu adalah milik kami )”
***
“Is it really not necessary that I don’t need to stay here until the problem at the tea garden is finish?. ( Benar
jika aku tidak perlu untuk tinggal sampai masalah di perkebunan teh selesai? )” Tanya Danny sekali lagi setelah Putra, Addison, Damian berikut Garret selesai berbicara dengan Arthur.
Pertanyaan tersebut Danny layangkan lagi karena meski dia juga ada misi penting ke Inggris, tetap saja Danny merasa sedikit tidak tenang jika harus pergi namun ada masalah yang sedang berlangsung dalam keluarga barunya itu.
“Just fly over to England, do everything fast and clear, then comeback here safe and bring us souvenirs. ( Terbanglah ke Inggris, lakukan semua dengan cepat dan rapih, lalu kembalilah kesini dengan selamat dan jangan lupa bawakan kami suvenir )”
Putra beserta lainnya sudah akan berangkat kembali ke Villa.
“Thing happened to our tea garden, we’ll do something about it with our way”
“( Hal yang terjadi di perkebunan teh kita, kami akan membereskannya dengan cara kami )”
Putra meyakinkan Danny.
“Beside, we have him now. ( Lagipula, ada dia sekarang )”
Garret menunjuk Arthur.
Karena Arthur memang masih ada di kediaman Putra dan keluarganya yang berada di Ibukota itu.
Pria itu nampaknya senang sekali dapat diterima bergabung ke dalam ruang lingkup Putra dan tiga saudaranya.
Danny pun manggut-manggut.
“Alright then... ( Baiklah jika begitu )”
“Danny will give you the address of our Villa. Come right away after you done do everything I ask you”
“( Danny akan memberikanmu alamat Villa kami. Datanglah segera setelah kau menyelesaikan semua yang kuminta padamu )”
“Yes Sir! ( Iya Tuan! )”
“Alright. See you soon, Arthur! ( Baiklah. Sampai bertemu, Arthur! )”
“See you guys soon ( Sampai bertemu secepatnya )” Sahut Arthur pada Putra dan yang lainnya yang sudah memasuki mobil mereka.
“Have a nice flight, Dan! And don’t forget to lock the gate! ( Nikmati penerbanganmu, Dan! Dan jangan lupa kunci gerbangnya! )”
Danny tersenyum lebar sembari mengangkat jempolnya pada Addison yang barusan berseru padanya, sekaligus membalas lambaian dari mereka yang sudah berada dalam mobil dan melaju beriringan secara perlahan untuk keluar dari pekarangan rumah tersebut.
***
Putra, seperti biasa, menumpangi mobil yang sama dengan Anthony, Addison dan Bruna. Sementara Damian berada di mobil yang lain bersama Garret.
“Are you sure that Arthur can do what you ask him to do for one day?. ( Apa kau yakin jika Arthur bisa melakukan apa yang kau minta dia untuk lakukan hanya dalam waktu satu hari? )”
Putra menyunggingkan senyum. “We’ll see about it tomorrow, Ad. ( Kita lihat saja besok, Ad )” Sahut Putra. “Tomorrow we will see, is he really capable to become a part of us, or we just make use him to build our kingdom
here. ( Besok kita akan lihat, apa dia cukup cakap untuk menjadi bagian dari kita, atau kita hanya cukup memanfaatkannya saja untuk membangun kerajaan kita disini )”
***
To be continue...
__ADS_1
Salam sayang,
Emaknya Queen