
Happy reading.....
****************
Tiba hari jadwal untuk sesi terapi dan konsultasi Anthony bersama Ilse yang terjadwal dua hari sekali itu. Namun hari ini Putra dan Anthony tidak diantar oleh Danny, melainkan Addison yang menyetir dan Damian menyetir disatu mobil yang lain lagi bersama Garret.
Bukan tanpa alasan para paman dan satu bibi Anthony ikut dengannya dan Putra hari ini. Melainkan karena rasa penasaran pada seorang perawat yang bernama Gadis, yang menurut Putra adalah seseorang yang sebenarnya membuat Anthony mau kembali berbicara.
Selain itu, Putra, Addison, Damian, Bruna dan Garret juga akan mengajak Anthony untuk berkeliling kota selepas terapi.
“Are you sure it was because of that nurse, Putra?. ( Apa kau yakin memang karena perawat itu, Putra? )”
Bruna mengajukan pertanyaan saat dirinya yang bersama Addison, Putra dan Anthony yang sudah berada dalam perjalanan di mobil yang sama.
“Yes. ( Ya )”
“Maybe it was a coincidence?. ( Mungkin saja itu suatu kebetulan? )”
“No, it was not. ( Tidak, bukan )”
Putra menjawab yakin.
“I mean that all this time Anth was handle by Ilse, and the time for the first time Anth started to talk again I think Ilse has a big effort inside it”
“( Maksudku adalah selama ini Anth ditangani oleh Ilse, dan saat Anthony kembali mulai berbicara untuk pertama kalinya aku pikir Ilse punya peran besar didalamnya )”
“I couldn’t agree more for Ilse’s effort to Anth all this time .. ( Aku sangat setuju dengan pendapatmu soal Ilse yang memiliki peran besar pada Anth selama ini.. )”
Putra menoleh pada Anthony yang nampak terlihat lebih senang sambil menatap jalanan, meski ia tidak berucap apapun. Ia tersenyum melihatnya.
“But you will see it, how the way Anth shows that he really likes that nurse. ( Tapi nanti kau lihat sendiri, bagaimana Anth terlihat begitu menyukai perawat itu )”
“Is that true Anth?. ( Benar begitu Anth? )”
Bruna memiringkan tubuhnya dan memandang Anthony untuk mengajaknya bicara.
“Do you like that nurse?. ( Apa kau menyukai perawat itu? )”
Anthony memang menoleh pada Bruna, namun dia tidak serta menjawab bahkan sekedar ya atau tidak. Ada sedikit gurat kebingungan di wajahnya yang Putra pahami.
“Gadis”
Putra memperjelas pertanyaan Bruna.
“What Aunt Bruna means is do you like Gadis?. ( Maksud pertanyaan Bibi Bruna adalah apa kamu menyukai Gadis? )”
Anthony mengangguk.
Bruna dan Putra tersenyum.
**
Addison sudah memarkirkan mobil yang ia kemudikan di pelataran parkir rumah sakit. Mobil yang dikemudikan Damian pun sudah terparkir dengan rapih disamping dengan mobil yang dikemudikan Addison.
“Come, let Uncle Dami carry you Boy. ( Kemari, biar Paman Dami yang menggendongmu Nak )” Damian mendekat pada Anthony setelah mereka semua turun dari mobil.
Anthony tak menolak.
“So, are you happy to meet Doctor Ilse today Anth? You look full of beans today. ( Jadi apa kamu senang mau bertemu dengan Dokter Ilse lagi Anth? Kamu terlihat bersemangat hari ini )”
Damian iseng bertanya.
“She suit Uncle Putra, right?. ( Dia cocok dengan Paman Putra, bukan? )”
Damian sekaligus menggoda Putra. Putra hanya menaikkan satu sudut bibirnya sembari geleng – geleng pada satu saudaranya yang suka jahil meledeknya itu.
“I feel Anth is feel full of beans because Putra promise him to meet that nurse today. ( Kurasa Anth bersemangat karena Putra menjanjikannya akan bertemu perawat itu hari ini )”
“Pa-pa Putra...”
Damian mengangkat satu alisnya saat mendengar Anthony berucap. Dan tiga lainnya serta merta menoleh bersamaan dengan Putra yang menyahut pada Anthony.
“Yes Anth?”
“What did you said Anth?. How the way you call Uncle Putra?. ( Kamu bilang apa tadi Anth?. Kamu panggil Paman Putra apa? )”
“Papa!”
Putra berbangga diri.
“Great right?. ( Sangat bagus bukan? )”
“You call Uncle Putra with Papa?!. ( Kamu memanggil Paman Putra dengan Papa?! )”
Anthony manggut – manggut.
__ADS_1
“How could be, heemmm ..? ( Bagaimana bisa, heemm....? )”
Damian mendekatkan wajahnya pada Anthony berlagak kesal namun dengan mimik wajah yang terlihat gemas.
“You call Uncle Putra with Papa, and you still call me Uncle?. ( Kamu panggil Paman Putra dengan sebutan Papa, dan kamu tetap memanggilku dengan sebutan Paman? )”
“That’s because Anth loves me more, right Anth?. ( Itu karena Anth lebih mencintaiku, benar bukan Anth? )” Ledek Putra.
“Oh no, no, no! I can’t accept that Young Sir Anthony .. You become unfair to me, hem.... hem... ( Oh tidak, tidak , tidak bisa! Aku tidak terima itu Tuan Muda Anthony .. kamu tidak adil padaku, hem .... hem .. )”
Damian mencubit gemas pipi Anthony hingga bocah itu tersenyum. Dan Damian jadi terenyuh karenanya.
“How we miss that smile, Anth.... ( Betapa kami merindukan senyummu itu, Anth ) ..”
Putra, Addison, Bruna dan Garret pun sama terenyuh nya dengan Damian saat melihat Anthony menunjukkan senyumnya lagi setelah sekian lama.
“Promise you will be often to smile, hem?. ( Berjanjilah kamu akan sering tersenyum, hem? )”
Anthony mengangguk.
“And do not call me Uncle, how about .. handsome Papa? ( Dan jangan memanggilku Paman, bagaimana jika... Papa tampan? )”
“Cih!” Putra berdecih, dan para saudaranya terkekeh berbarengan dan Anthony tersenyum lagi.
Lima orang yang ,menemani Anthony terus bersenda gurau sampai sudah dekat ke lorong dimana ruangan Ilse berada.
***
“What is it Anth?. ( Kenapa Anth? )”
Damian bertanya karena Anthony menepuk pelan pundaknya.
“The-re ... ( Kesana ... )”
Anthony mengarahkan telunjuknya ke arah yang berlawanan dengan lorong ruangan Ilse.
Empat orang yang berjalan bersama Damian yang menggendong Anthony serta merta menoleh saat mendengar Damian bertanya pada bocah tersebut dan juga mendengar Anthony menjawab sembari mengarahkan telunjuknya.
“But Doctor Ilse place is there. ( Tetapi ruangan Dokter Ilse disebelah sana )” Sahut Damian sembari memiringkan badannya dan menunjuk pendek kearah ruangan Ilse.
Dan sepertinya Dokter cantik itu sudah juga melihat kedatangan mereka.
“Look, Doctor Ilse is waiting for you already. ( Lihat. Dokter Ilse sudah menunggumu )”
Namun Anthony menggeleng. Dan dia kembali menunjuk arah yang tadi telunjuknya ia arahkan.
“You want to meet Gadis first?. ( Kamu mau menemui Gadis terlebih dahulu? )” Tanya Putra.
“Yes, Papa ...” Jawab Anthony dan Putra pun manggut – manggut.
“Now I’m totally curious about this nurse, name Gadis. ( Sekarang aku benar – benar penasaran dengan perawat yang bernama Gadis ini )”
Addison, Bruna dan Garret mengiyakan ucapan Damian barusan. “Come, let meet Gadis first then ( Ayo, kita temui Gadis terlebih dulu kalau begitu )” Ucap Bruna.
“But, Ilse saw us. ( Tapi Ilse sudah melihat kita ). Look, she is walking here ( Lihat, dia sedang berjalan kesini )” Damian menunjuk dengan kepalanya dimana benar kalau Ilse sedang berjalan untuk menghampiri mereka.
“Good morning”
Ilse menyapa ramah pada Putra dan rombongannya.
“Good morning”
Putra dan empat saudaranya membalas sapaan Ilse dengan sikap yang sama.
“Hello Anthony. How are you today? ( Halo Anthony. Apa kabarmu hari ini? )”
“Anth .... Doctor Ilse asked you ( Dokter Ilse bertanya padamu )”
Garret bersuara sambil mengusap pelan kepala Anthony.
“The-re ... ( Ke-sana ... )” Anthony kembali menunjuk ke arah yang ia inginkan.
Ilse nampak sedikit bingung. “Why he wants to go there? ( Mengapa ia ingin kesana? )”
“He wants to meet Gadis. ( Dia ingin bertemu dengan Gadis )”
Ilse mengernyitkan dahinya.
“Gadis?”
Putra sedikit memiringkan badannya.
“The nurse that Anth met at the Restaurant. ( Perawat yang Anth temui di Restoran )”
“Ah that nurse. ( Ah perawat itu )” Sahut Ilse.
__ADS_1
“Pa-pa ...” Panggil Anthony sambil menatap Putra seolah merengek.
“Better I take Anth to meet Gadis first. ( Sebaiknya aku mengantar Anth menemui Gadis dahulu )” Putra meraih Anthony dari gendongan Damian.
Damian, Addison , Bruna dan Garret pun mengangguk setuju karena mereka melihat Anthony yang merengek dan mereka tidak tega. Namun tidak dengan Ilse.
“Anthony, you have a schedule with today ( kamu punya jadwal denganku hari ini )” Ilse berdiri dihadapan Putra yang menggendong Anthony kini. “Come, I have chocolate for you ( Ayo, aku punya coklat untukmu )”
Ilse coba membujuk Anthony.
Namun Anthony menggeleng.
“Pa-pa ... Gadis ..” Ucap Anthony.
Ilse menarik sudut bibirnya. “Hey Anthony, remember what I said to you. ( ingat apa yang aku katakan padamu )”
Ilse meraih tangan Anthony.
“You can’t get that close with someone that you just know. ( Kamu tidak boleh terlalu dekat dengan seseorang yang baru kamu kenal )”
“Pa-pa ... Gadis ..” Ucap Anthony yang nampak jelas mengabaikan Ilse dan bocah itu teguh pendirian untuk dibawa menemui Gadis. Putra langsung mengangguk dan tersenyum padanya.
“Don’t be stubborn Anthony, that is not good. Come ( Tidak boleh keras kepala Anthony, itu tidak baik. Ayo )”
Ilse hendak mengambil Anthony dari gendongan Putra. Namun Anthony langsung menolak.
“Please don’t push him. ( Tolong jangan memaksanya )” Ucap Putra pada Ilse. Namun Ilse tak mengindahkan.
“Yes, Doctor Ilse. Putra was right ( Ya, Dokter Ilse Putra was right )” Timpal Bruna. "Anth doesn't like that. ( Anth tidak menyukainya )"
“Sometimes, we need to be a little bit hard to kids. Avoiding something bad. ( Sesekali, kita perlu sedikit keras pada anak – anak. Untuk mencegah sesuatu yang buruk )”
Ilse memberikan sesuatu penjelasan.
“Listen to me Anthony. That nurse, could be not a good person you know? ( Dengarkan aku Anthony. Perawat itu, bisa saja bukan orang baik kamu tahu? )”
“Why you talked like that? ( Kenapa kau bicara seperti itu? )” Tanya Putra.
“Well, I’m telling the logic things ( Yah, aku bicara hal yang logis )” Jawab Ilse. “You supposed not just allowed your son to get interact with a stranger ( Kau seharusnya tidak mengijinkan anakmu untuk berinteraksi dengan orang asing )”
“But my son likes her. ( Tetapi anakku menyukainya )” Ucap Putra. “So please, step aside. ( Jadi tolong, ber geserlah )”
“Putra, it is me who taking care about Anthony all this time. And I care about him already, okay. What I’m trying to do is everything which is good for him”
“( Putra, aku yang selama ini merawat Anthony. Dan aku sudah menyayanginya. Apa yang sedang kulakukan ini juga untuk kebaikannya )”
Ilse berbicara dengan menunjukkan senyumnya pada Putra, lalu sekilas menoleh pada empat orang lainnya yang memilih diam melihat sedikit perdebatan antara Putra dan Ilse, sementara Anthony memeluk leher Putra dan berhenti merengek setelah Ilse mencoba menggendongnya.
“As you can see the progress after his consultation with me. Anthony started to talk right?. So I think I know what is good for him. And the right thing is Anthony go with me to do the therapy as usual”
“( Seperti yang kau lihat kemajuan dari hasil konsultasinya bersamaku. Anthony sudah mulai berbicara kan? Jadi aku rasa aku paham apa yang baik untuknya. Dan seharusnya sekarang Anthony ikut denganku untuk terapi seperti
biasa )”
Ilse masih menunjukkan keramahannya.
“Shall we? ( Mari? )”
Ilse mengajak Putra untuk berjalan bersamanya, sekilas menoleh lagi pada empat orang lainnya agar juga ikut dengannya.
“Anth, let us go with Doctor Ilse first? Then we meet Gadis after that. ( Kita pergi dengan Dokter Ilse dulu ya? Lalu kita baru menemui Gadis setelahnya )”
“Come Anthony. You go with me, okay?. ( Ayo Anthony. Kamu ikut denganku, ya? )”
Ilse kembali mencoba menggendong Anthony.
“Don’t push him ( Jangan memaksanya )” Ucap Putra karena Anthony menolak.
“It can be needed sometimes ( Itu diperlukan sewaktu – waktu )”
Ilse bersikeras. Anthonypun sama. Dia tidak ingin ikut dengan Ilse, dan ia melingkarkan dengan kuat tangannya di leher Putra.
“Come Anthony! ( Sini Anthony! )”
“Doctor Ilse!”
Raut wajah Putra mulai berubah.
“Put your hands off from my son. ( Jauhkan tanganmu dari anakku )”
***
To be continue...
Jempol jangan lupa jika berkenan.
__ADS_1
Loph Loph
Emaknya Queen