LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 49


__ADS_3

Happy reading ...


*********************


“Ada tamu, Tuan”


“Tamu?”


“Iya Tuan”


 “Siapa?”


“Baskoro, Tuan”


“Baskoro?”


“Itu loh Tuan, makelar tanah yang saya bilang waktu itu. Makelar tanah yang licik itu”


“Pak Abdul sudah bertanya padanya ada keperluan apa dia datang kesini?”


“Dia hanya bilang kalau dia mau bertemu dengan pemilik Villa ini Tuan” Ujar Pak Abdul. “Tapi kalau menurut saya, yang berhubungan dengan tanah perkebunan yang positif sudah menjadi milik  Tuan – Tuan itu. Dia pasti merasa tidak senang karena tanah incarannya diberikan pada orang lain”


“Huuuuummm ....”


Putra manggut – manggut.


Damian sontak bertanya pada Putra mewakili dua saudaranya yang lain, perihal pembicaraan Putra dengan Pak Abdul, dan Putra pun langsung menjelaskan kepada ketiganya dengan bahasa Inggris.


Damian, Garret dan Addison pun manggut – manggut kemudian.


Lalu Putra menanyakan pendapat ketiga orang saudaranya itu, tentang apakah mereka mau menerima dan menemui pria bernama Baskoro itu atau tidak.


Meskipun Putra sendiri sudah mempunyai rencana di otaknya.


Pak Abdul  belum beranjak dari tempatnya.


****


Putra dan ketiga saudaranya sudah memiliki keputusan mereka. Putra pun kemudian berbicara lagi pada Pak Abdul yang masih berdiri di tempatnya, menunggu perintah dari para Tuannya.


Putra berdiri untuk mendekat pada Pak Abdul.


“Apa pria itu tahu siapa kami?.  Maksudku, apa ia tahu kalau kami pendatang di tempat ini?”


“Mungkin saja Tuan. Siapa tahu dia sudah bertanya – tanya atau mencari tahu sebelumnya. Orang seperti dia pasti banyak kroni - kroninya”


“Sekutu maksud Pak Abdul?”


“Iya. Semacam itu Tuan. Orang macam dia pasti punya satu dua orang korup yang biasa dia ajak kerja sama di kantor pertanahan Tuan. Pasti setelah dia tahu para pemilik perkebunan disini yang menjual tanahnya pada orang lain dan bukan dia, saya rasa dia pasti mencari tahu tentang si pembeli tanah incarannya”


Putra pun manggut – manggut.


“Tapi ya mungkin hanya sebatas kalau pembeli lahan itu adalah orang asing, Tuan. Tidak akan sampai dia mengetahui latar belakang Tuan dan lainnya” Ujar Pak Abdul. “Rasanya dia tidak sehebat itu sih. Cuma penjahat kampungan, tapi sok jadi bos besar”


Putra mendengus geli mendengar ucapan terakhir Pak Abdul, berikut ekspresi wajah pelayan yang Putra percaya itu, yang nampak jelas sangat tidak menyukai orang yang sedang mereka bahas itu,


“Baiklah, katakan padanya kalau kami akan menemuinya”


****


Tak lama setelah Pak Abdul menyampaikan pesan pada tamu yang berkunjung ke Villa para Tuannya, Putra, Damian, Garret dan Addison datang beriringan dari arah dalam Villa dan langsung masuk menuju ke ruang tamu.


Dan nampaknya tamu tak diundang yang datang untuk menemui Putra dan saudaranya itu sedikit terkejut melihat sosok si pemilik Villa, yang menurutnya adalah Putra, karena ia berjalan paling depan.


“Perkenalkan Pak Baskoro, Ini majikan saya”


“Oh! Jadi anda ya pemilik Villa ini?”


Putra belum menyahut, hanya berdiri tegak saja, dengan kedua tangannya yang ia simpan dalam saku, dan wajah tegasnya mendominasi.


“Apa majikan kowe ini ngerti bahasa Indonesia?”


Laki – laki bernama Baskoro itu bertanya pada Pak Abdul sembari memandangi Putra, dan melirik juga pada Damian, Garret dan Addison.


“Tapi ga masalah sih, wong aku juga bisa bahasa Inggris kok! ...” Ujar si Baskoro itu dengan gayanya yang pongah dihadapan mereka yang ada didepannya sekarang.


“.............”


“Plis, sit don! (Silahkan, duduk!)”-Maksud Baskoro


Putra mengangkat satu alisnya.


“Is he just pleased us to sit in our own house? (Apa dia baru saja mempersilahkan kita duduk di rumah kita sendiri?)”


Garret berbicara setengah berbisik di belakang Putra. Putra menyungging miring, sementara Damian dan Addison mencoba untuk tidak terkekeh.


"Uno che va in culo a sua madre!" (dibaca: u-no ke va in cu-lo a su-a ma-dre!) – Kalo Othor kaga salah iye.


(wkwkwkwk)


Putra berbicara dalam bahasa Italia dengan para saudaranya yang kemudian terkekeh kecil, karena kalimat yang Putra ucapkan barusan adalah sebuah sebuah kalimat ejekan dalam bahasa Italia.


Baskoro nampak sedikit salah tingkah, melihat Putra yang berekspresi dingin dan sempat menyungging miring, lalu berbicara dengan bahasa yang tidak ia mengerti dan tiga orang di belakang Putra nampak sedang mesam – mesem setelahnya. Lalu Baskoro melirik pada Pak Abdul.


“Apa katanya?”


Baskoro bertanya pada Pak Abdul tentang apa yang dikatakan Putra, karena jelas itu bukan bahasa Inggris.


“Saya juga tidak tahu, Pak! ....” Sahut Pak Abdul.


“Lah piye?! Kowe ngomong sama mereka gimana kerja disini kalo ga ngerti?”


Pak Abdul tak menjawabnya. Baskoro menatap sebal padanya sembari berdecak.


Lalu Baskoro kembali menatap pada Putra dengan menyunggingkan senyumnya, seraya melirik juga pada Damian, Addison dan Garret.


Baskoro mengulurkan tangannya pada Putra. “Helo-may-nem-is-Bes-koro” Ucap Baskoro dengan bahasa Inggris yang terdengar menggelikan bagi Putra, Damian, Addison dan Garret.


“........”


“Wat-is-yor-nem? Nais-tu-mit-yu”


"Asino (Dasar keledai)" Damian kini yang menggumam dengan umpatan berbahasa Italia, mendengar pria Baskoro itu berbicara dalam bahasa Inggris yang awut – awutan.

__ADS_1


Addison dan Garret sama – sama terkekeh kecil, sementara Putra kembali hanya tersenyum miring dengan matanya yang masih menelisik Baskoro yang kembali menjadi nampak kikuk.


“Iki Bos kowe orang opo sih? Ngerti bahasa Inggris ora sih?!”


Kembali Baskoro berbicara pada Pak Abdul dengan tampangnya yang sedikit sebal dan nampak mulai terlihat tidak nyaman.


“Dari tadi diajak ngomong Cuma mesam – mesem sama kasak – kusuk! ....”


Baskoro merepet dengan gerutuan nya.


“Mungkin bahasa Inggris Bapak kurang jelas, jadi Tuan saya tidak mengerti”


“Sembarangan kowe, jongos!”


Baskoro dengan seenaknya mengatai Pak Abdul.


“Bahasa Inggeris ku iki udah buagus! Jangan sembarangan kowe!”


“Kalau begitu silahkan Bapak bicara lagi dengan Tuan saya”


“Ah udah! Kowe jongos buego, ga bakal ngerti!”


“Shut his f*c*i*’ mouth Putra\, his voice just like pieces shard which is hurting my ears! ( Tutup mulutnya Putra, suaranya seperti pecahan beling yang menyakiti telingaku! )” Gerutu Damian.


“Iyes, wat-ken-i-do-por-yu?” Sambar Baskoro mendengar Damian yang dengan yakin ia rasa sedang berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris.


“Where else you can see, ( Dimana lagi kau bisa melihat ), Uno stupido asino parlante ( Seekor keledai dungu berbicara )”


“Hahaha ....”


Damian, Addison dan Garret tak lagi bisa menahan tawa mereka akibat ucapan Putra yang mengejek pria yang sedikit tambun yang nampak sok itu berbicara bahasa inggris dengan blepetan.


“Ekskyusmi, mister. Plis di ulang, em itu .... ripit.. du-yu-anderstand?”


“........”


Putra menggeleng pelan. Gelengan Putra sendiri bermakna, kalau dia tak percaya ada orang yang aslinya bodoh tapi benar – benar sok pintar di depan orang lain yang dirasa tidak selevel dengannya.


Dalam hal ini, mungkin dia ingin terlihat hebat di depan dua anak buahnya yang nampak seperti pengawal pribadi namun berpakaian asal saja, dan juga mungkin mau sok didepan Pak Abdul yang dianggapnya hanya pembantu


rendahan.


Namun lagi – lagi  si Baskoro yang sok itu berbicara sembari menatap Putra dengan lagaknya yang sok hebat.


Baskoro malah juga menggeleng.


“Ah! Sebodo lah! ....” Gumam Baskoro.


Baskoro mengulurkan lagi tangannya pada Putra.


“Helo-mister-may-nem-is-Beskoro. Wat-is-yor-nem?”


Putra melirik tangan Baskoro sembari menaikkan satu alisnya, namun tangan Putra masih ia simpan apik dalam saku celananya.


“Suombong banget iki majikan kowe!”


Lagi – lagi Baskoro menggerutu sembari melirik pada Pak Abdul yang tidak beranjak dari tempatnya.


“Ah! Ay-don-ker-lah!”


“Hei-mister-ay-em-a-big-man-yu-now?”


“Big man?” Ucap Putra.


“Naaaahh, yu-anderstand? Big-men! Me!”


Dengan sok Baskoro berkata sambil bersikap pongah dengan menaikkan dagunya di hadapan Putra dan juga melirik tiga orang yang sudah berdiri disisi Putra kini.


“Hem, I can see that from how much fat at his belly ( Yah, dapat kulihat dari banyaknya lemak di perutnya ). Heh, big man..”


“Wat?” Sambar Baskoro. Putra mendengus pelan, kemudian menghela nafasnya untuk mulai berbicara.


“Bicara dengan bahasa Indonesia saja, karena bahasa Inggrismu sangat buruk!”


Putra berbicara dengan bahasa Indonesia yang berlogat British khas dirinya dan saudara – saudaranya yang lain termasuk juga Anthony.


“Lah, bisa bahasa Indonesia toh! Bilang dong dari tadi .... tau gitu...”


“Katakan, ada keperluan apa?”


“Sepertinya anda orang yang ndak suka basa – basi. Okelah! Wis aku langsung tu-te-poin wae!”


“Apa aku mempersilahkan mu duduk?” Ucap Putra yang sudah duduk dengan elegan di sebuah sofa single berbahan kulit nan mengkilat sembari menatap dingin pada Baskoro yang juga ikutan duduk di sebuah sofa single lainnya.


“Hah?!”


Baskoro nampak kikuk.


“Jadi saya ndak boleh duduk?!”


“Apa anda mengerti apa itu sopan santun?”


“Ya iyalah!” Sahut Baskoro dengan cepat.


“Jika memang anda mengerti, seharusnya anda meminta ijin dulu pada kami sebelum anda duduk”


“Sok buanget”


Baskoro menggumam seraya menggerutu.


“Wis! Permisi, boleh saya duduk iki?!” Ucap Baskoro dengan nada suara yang terdengar sedikit kesal.


“Silahkan”


Putra menggerakkan satu tangannya dengan santai.


“Heh! Jongos! Daripada kamu berdiri disitu makan gaji buta, bikin minum sana! Buatku iki sama buat Tuan – Tuanmu itu! Lagian jongos mau tau aja urusan Bos! Ngapain kowe berdiri aja disitu!”


“Jaga sikapmu!” Sergah Putra dengan melemparkan pandangan tajam pada Baskoro meski wajah Putra nampak datar.


“Loh, saya ...”


“Sebaiknya katakan segera maksud kedatanganmu, karena aku tak punya banyak waktu untuk melayani tamu tak diundang seperti dirimu, saat ini”

__ADS_1


“Ck! Anda jangan sembarangan berbicara dengan saya, Mister!” Ucap Baskoro yang nampak tak senang hati .


Baskoro membenarkan posisi duduknya dengan tegak dan nampak pongah dihadapan Putra, Damian, Addison dan Garret.


Tiga saudara Putra memperhatikan gelagat Baskoro dengan seksama.


Meski tak paham apa yang sedang di bicarakan oleh Putra dan pria yang datang tanpa diundang itu, namun ketiganya sudah dapat menilai orang seperti apa si Baskoro ini, mengingat juga cerita soal perangai si Baskoro yang diberitahukan oleh Pak Abdul melalui Putra.


“Jadi?” Ucap Putra seraya bertanya dengan mengangkat satu alisnya lagi.


“Okelah. Saya tau anda pendatang baru disini, jadi saya maapkeun sikap anda pada saya sekarang”


“Aku tidak merasa meminta maaf padamu!”


Ucapan Putra terdengar tajam.


“Seharusnya kau yang meminta maaf padaku karena seenaknya datang ke Kediamanku dan mengganggu waktu berhargaku!”


Putra mengangkat telunjuknya pada Baskoro.


“Pak!” Salah seorang anak buah Baskoro memandang tak senang pada Putra yang barusan bersikap semena – mena di mata anak buah Baskoro pada Bosnya itu.


“Wes! Biarkeun aja dulu! Dia belum tau siapa aku!”


“Katakan maksud kedatanganmu, dan segeralah pergi dari sini setelahnya”


Tajam Putra berbicara, berikut tatapan dinginnya yang mendominasi Baskoro.


“Wes! Saya kasih tau maksud kedatangan saya kalau begitu!”


“Katakan!”


“Saya mau ngomong soal lahan perkebunan punya keluarga Hidayat dan keluarga Sendari!”


Baskoro kini sudah nampak serius menatap Putra. Sementara Putra kembali duduk dengan elegan.


“Anda kan yang membeli perkebunan mereka?”


“Apa kau bagian dari keluarga mereka?”


“Ya... bukan.....”


“Maka itu bukan urusanmu!”


Putra berdiri dari duduknya dan hendak berjalan meninggalkan ruang tamu karena menurut Putra tidak ada yang perlu dibahas lebih lanjut tentang apa yang ditanyakan oleh si Baskoro ini barusan.


“Hei Mister saya belom selesai ngomong ini!” Protes Baskoro yang merasa diabaikan oleh Putra, karena Putra sudah berdiri dan membalikkan badannya untuk melangkah pergi dari tempatnya.


“Seperti yang kubilang tadi, jika kau bukan bagian dari keluarga mereka. Kau sebaiknya segera pergi dari Kediamanku sekarang juga!” Putra yang sudah menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik itu, berkata dengan tegas pada Baskoro.


Wajah Baskoro pun menjadi sangat tidak senang. “Hei Mister, saya kasih tau sama anda ya, ....” Ucap Baskoro yang kini mengangkat telunjuknya yang mengarah pada Putra. “Situ pendatang disini, jadi jangan macem – macem sama saya!. Anda belum tau saya bisa apa buat menghancurkan anda, kalau anda cari gara – gara sama saya!”


“Apa kau sedang mengancamku? ...”


“Ya .... kalau terpaksa. Kalau anda ga mau diajak bekerjasama!”


“Heh! Ker – ja – sa – ma?”


“Iya!” Sahut Baskoro dengan pongahnya. “Tanah yang anda beli itu seharusnya dijual pada saya, tapi anda seenaknya main serobot!”


“Mendahuluinya Tuan” Pak Abdul berbicara dengan mendekat pada Putra, setelah salah satu Tuannya itu melirik padanya. Pak Abdul sudah paham, jika sang Tuan seperti itu maknanya ada ucapan atau kata – kata yang tidak begitu ia pahami.


“Huumm...”


“Jadi kedatangan saya kesini, saya mau anda menjual lahan itu pada saya, termasuk juga ya perkebunan anda itu”


“Kau pikir siapa dirimu?!” Putra menggerakkan kepalanya dan menaikkan dagunya pada Baskoro. “Stupido Asino ( Keledai dungu ). How dare! ( Berani sekali ! )”


“Saya sudah bilang, disini saya orang besar! Jadi apa yang jadi keinginan saya tidak ada yang boleh melawannya! Anda masih baru disini, jadi ndak tau seberapa besar saya punya kekuasaan! Itu si Hidayat sama Sendari emang


cari gara – gara sama saya, menjual perkebunan mereka sama anda“


“.......”


“Mereka itu harusnya menjual sama saya! Tapi ngulur – ngulur terus. Malah dijual ke anda, setelah ngulur – ngulur sama kabur – kaburan!”


“.......”


“Cari gara – gara itu mereka sama saya! Belum tau saya bisa apa!”


“.......”


“Nah, jadi saya tekan keun sama anda ya Mister, sebaiknya anda jual itu tanah sama saya, ketimbang nanti saya buat perhitungan sama anda!”


“Oh ya?!”


“Iya! Asal anda tau ya ....”


“Keluarkan dia dari Kediamanku Pak Abdul!”


Putra langsung menyambar bicara sebelum Baskoro menyelesaikan ucapannya.


“Wah! Anda nantang saya kalo begitu ya?!”


“That would be my pleasure! ( Aku akan dengan senang hati melayaninya! )”


Putra segera berbalik setelahnya.


“Keluarkan dia dari Kediamanku Pak Abdul!”


Pak Abdul pun menyahut seraya sedikit merundukkan tubuhnya pada Putra yang sedah melangkah menuju area dalam Villa, diikuti oleh tiga orang saudaranya yang menyempatkan untuk memandang sinis dan remeh pada Baskoro dengan wajah datar dan dingin seperti Putra.


“Silahkan Pak” Pak Abdul sudah melangkahkan kakinya menuju pintu dan berdiri disana dengan satu tangannya yang terentang, memaksudkan agar Baskoro segera melangkah keluar melalui pintu dekat tempatnya berdiri.


Baskoro nampak geram, dan masih memandangi punggung mereka yang meninggalkannya. “Awas kalian ya! Liat aja nanti!” Ancam Baskoro dengan memekik sambil mengangkat telunjuknya ke arah dimana Putra dan tiga lainnya berjalan.


Lalu Baskoro membenarkan jasnya, dan melangkah menuju pintu Villa pribadi Putra dan para saudaranya.


“Kowe bilang sama majikan kowe! Aku akan bikin perhitungan sama dia! Aku kasih waktu dua hari, kalo dia ndak mau jual itu tanah keluarga Hidayat sama Sendari sama aku, liat apa yang akan aku lakukan nanti!”


***


To be continue ...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2