
Happy reading ..
**********
“Pernah dengar tentang Mafia?”
“Pernah ...”
“Dan di Belanda, Vader adalah pemimpinnya” Tukas Putra.
Gadis pun terperangah. “Be-nar-kah?”
“Hu’um. Dan sekarang aku yang akan menggantikannya”
Dan Gadis semakin terperangah karena ucapan Putra barusan.
Putra nampak tersenyum tipis pada Gadis yang nampak terkejut itu.
“Mak-sud-mu, kamu ... kamu ...”
“Akan menjadi pemimpin suatu perkumpulan yang bagi kebanyakan orang adalah perkumpulan yang menakutkan? ...”
Gadis mengangguk gugup.
“Ya” Jawab Putra dengan nada suara yang terdengar pasti.
“Ta-pi kenapa? ...”
“Karena Vader telah memilih dan memintaku ....”
“Apa harus kamu menerimanya?... Apa tidak bisa kamu menolak? ...” Gadis sedikit mencecar Putra.
Putra tersenyum tipis.
“Aku tidak harus menerimanya tapi aku juga mau menolak”
Gadis terdiam. Ada kekhawatiran besar dalam otak dan hatinya.
“Aku sudah mengatakan padamu tujuan terbesarku bukan?. Dan dengan menggantikan posisi Vader itu akan semakin mempermudah jalanku ....”
“Begitu, ya?....” Gadis berucap pelan.
“Apa hal itu mengganggumu?” Tanya Putra yang menyadari ada gurat kemuraman di wajah Gadis.
Gadis mengendikkan bahunya. “Entahlah....” Jawab Gadis dengan nada suara yang masih pelan, sembari menegakkan duduknya lalu melengos ke arah kaca mobil disampingnya.
“Kemarilah” Ucap Putra.
Putra yang sadar mungkin Gadis kepikiran itu berucap sembari meraih pinggang Gadis dan merapatkan tubuh calon istri yang dicintainya agar kembali rapat padanya.
“Aku sudah menceritakan padamu bukan?....”
Putra memegang dagu Gadis lalu mengangkatnya sedikit agar wajah Gadis berhadapan dengannya.
“Tujuanku, alasanku datang kesini .... Dan aku harap kamu mengerti.... Aku sudah pernah memberikanmu pilihan setelah aku menceritakan banyak hal tentangku padamu. Sisi burukku terutama ....”
Putra berbicara sembari menatap wajah Gadis lekat-lekat. Dimana Gadis juga sedang menatapnya dengan cara yang sama.
“Tapi kamu memilih untuk berada tetap disampingku .... Dan aku sangat menghargai itu. Selain aku merasa bahagia, karena kamu masih terus mencintaiku dan mau bertahan disisiku .... Dan untuk itu juga, aku akan melakukan segala hal agar bisa membuatmu bahagia .... Apapun, asal jangan mengganggu tujuanku untuk membalaskan dendam mereka yang aku sayangi, yang sudah bak keluarga untukku .... Juga memberikan keadilan untuk Anth.... Aku harap kamu memahami itu, Gadis....”
“Aku paham soal itu, tapi....” Tukas Gadis yang menggantungkan kalimatnya.
Lalu Gadis menghela nafasnya yang terdengar sedikit berat.
“Tapi kini kamu berubah pikiran karena aku menerima posisi Vader? ....” Potong Putra sembari memperhatikan gelagat Gadis.
“Aku hanya berpikir, jika dengan aku yang berada disisimu, kamu tidak lagi memikirkan tentang rencana pembalasan dendammu ....”
“Itu tidak mungkin, Gadis....” Potong Putra.
“Iya itu hanya pikiranku saja. Harapanku. Agar bila aku memutuskan untuk tetap berada disisimu, kita hanya akan fokus untuk merawat Anthony dan membahagiakannya serta membangun kebahagiaan kita bersama ....”
Gadis berbicara dengan menundukkan kepalanya.
Putra meraih dagu Gadis lagi dan kembali menghadapkan wajah Gadis padanya.
“Kita akan bahagia. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu dan Anth bahagia .... Tapi setidaknya aku juga ingin merasa lega dengan membalaskan dendamku pada orang yang sudah menghabisi orang tua Anth dan banyak saudaraku dengan kejam, orang yang juga bahkan hendak menghabisi Anth dengan cara yang biadab .... Baru aku bisa merasa tenang, dan aku akan fokus pada kebahagiaan kita .... Aku mohon mengertilah”
Gadis mengangguk dan tersenyum tipis.
Putra pun segera membawa Gadis dalam dekapannya, lalu mengecup pucuk kepala Gadis.
“Aku hanya takut Putra....” Lirih Gadis dengan gurat wajah kekhawatirannya.
“Tidak ada yang perlu kamu takuti”
“Aku takut sesuatu yang buruk menimpa diri kamu....”
Putra mengurai dekapannya pada Gadis, dan kembali menghadapkan Gadis dengan dirinya.
__ADS_1
Putra tersenyum dengan kembali meletakkan tangannya di dagu Gadis.
“Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku akan menjaga diriku dengan baik bukan?....”
“Meski begitu....”
“Maka aku akan melakukannya, Gadis. Aku akan menjaga diriku dengan baik untukmu dan Anth ....”
“.....”
“Percayalah padaku, hem?”
“Jaga janjimu untuk menjaga dirimu sendiri itu dengan baik”
Putra dengan segera mengangguk seraya tersenyum pada Gadis. “Pasti”
Hingga tak berselang kemudian, Putra langsung menempelkan bibirnya pada Gadis.
Dan nampak Putra nampak sudah menguasai bibir Gadis dengan ciuman yang memabukkan bagi Gadis, hingga Gadis pun terbuai dan membalas setiap ciuman Putra di bibirnya.
Lupa, jika ada dua makhluk lain yang ada dalam mobil yang sama, yang Putra dan Gadis tumpangi.
Yang kini sedang menggigit bibir mereka sendiri, entah kesal karena seolah tidak diperdulikan keberadaannya oleh dua insan yang sedang mencecap rasa dari bibir masing-masing di mobil belakang, entah juga dua orang yang ada di kursi depan mobil itu merasa iri.
Yang jelas, selain menggigit bibir, Arthur dan satu anak buah Putra mendengus dalam hati mereka masing-masing.
****
“Gadis....”
Putra memanggil lembut Gadis yang jatuh tertidur pada akhirnya, sesaat setelah sesi ciuman yang membuat iri dua orang lainnya yang berada di satu mobil dengan Putra dan Gadis itu.
“Eeennngg ....”
Gadis menggeliat kecil saat Putra mengelus pelan pipinya, dan perlahan kelopak mata Gadis nampak bergerak-gerak.
“Sudah sampai ya?” Tanya Gadis dengan suara sedikit serak pada Putra yang sedang tersenyum padanya.
“Iya kita sudah sampai di Villa”
Putra menjawab sembari mengelus pipi Gadis lagi.
Sementara Arthur dan anak buah Putra yang menjadi supir di mobil yang di tumpangi Putra dan Gadis berikut Arthur sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil.
“Ya Tuhaaan.... aku rasanya mengantuk sekali.... hoaaammm....” Gadis mengulet. Dan Putra sedikit meneguk salivanya, saat Gadis tengah sedikit meregangkan otot dan sendinya itu.
Pasalnya saat ini Gadis mengenakan mini dress semi formal berbahan printed yang sedikit pas di tubuh Gadis.
Hingga saat Gadis mencondongkan tubuhnya saat mengulet, dua bukit kembar milik Gadis nampak tercetak kian nyata bentuknya.
Melihat pemandangan yang seolah menggodanya itu, Papa Putra jadi ingin buru-buru membawa Gadis ke kamar rasanya.
*****
“Give Anth to me ... ( Berikan Anth padaku..... )” Putra berbicara pada Damian yang menggendong Anthony yang nampak pulas terlelap itu.
Damian segera mengangguk dan langsung mengoper tubuh Anthony dengan sangat hati-hati pada Putra yang juga berhati-hati menerima tubuh Anthony dari Damian, agar bocah tampan itu tidak terganggu tidurnya.
“Better we all take some rest for a little bit time before the dinner ( Sebaiknya kita semua beristirahat sejenak sebelum makan malam )”
Mereka yang datang bersama Putra dari Ibukota pun mengiyakan ucapan Putra.
“Katakan pada Ray, Asep dan Wahyu untuk beristirahat disini saja. Sudah ada persediaan pakaian ganti di kamar yang memang ada untuk para pekerja di belakang ....”
Arthur pun segera mengangguk pada Putra yang berbicara dengan pelan itu, karena menggendong Anthony yang sedang tertidur itu.
“Putra, sini berikan saja Anthony padaku... biar aku yang membawanya jika kamu memang masih ingin berbicara dengan Arthur”
Gadis menginterupsi pembicaraan kecil Putra dan Arthur dengan nada suara yang direndahkan, seperti halnya Putra.
“Tak apa... aku tidak akan lama...”
“Mm, ya sudah” Tukas Gadis. “Kalau begitu, apa Anth akan tidur di kamarnya atau di kamar kamu? ...”
“Kamar kita, Gadis”
Putra langsung meralat ucapan Gadis.
“Iya itu maksudku ...” Tukas Gadis lagi.
Sementara Arthur hanya mengulum senyumnya, melihat Gadis yang sedikit menjadi malu-malu karena Putra mengatakan soal ‘kamar kita’.
“Di kamar kita saja terlebih dahulu... aku takut Anth nanti malah panik saat bangun dan sendirian...” Ucap Putra.
“Ya sudah kalau begitu ... aku duluan ke kamar ya? ... sekaligus aku akan menyiapkan baju gantinya Anthony...”
“Iya” Jawab Putra pada Gadis yang kemudian mengangguk lalu tersenyum kecil pada Arthur seraya Gadis undur diri dari hadapan Putra dan Arthur.
Sementara yang lain sudah lebih dulu masuk ke dalam Villa untuk pergi ke kamar mereka masing-masing, termasuk Danny yang sudah disediakan kamar khusus untuknya yang akan seterusnya menjadi kamar Danny.
__ADS_1
Dan beberapa anak buah Putra dan keluarganya masih berdiri tak jauh dari Putra dan Arthur untuk menunggu instruksi apa yang harus mereka lakukan dari sang Tuan Besar mereka, yang masih berdiri bersama Arthur.
*****
“You bring some of your clothes don’t you Ar? ( Kau membawa beberapa pakaian kan Ar? )”
“Ya I bring some of my clothes. Danny told me that I have to stay here tonight ... ( Ya aku membawa beberapa pakaianku. Danny mengatakan padaku jika aku harus menginap malam ini disini .... )” Jawab Arthur.
“Good. Because there some of things that we all have to discuss seriously ( Bagus. Karena ada beberapa hal yang kita semua harus bahas dengan serius ) ...”
Arthur pun mengangguk pada Putra. “Thank you for letting me in for the important discussion of you guys ( Terima kasih sudah mengajakku ikut dalam pembicaraan penting kalian )”
Putra pun menarik ke atas sudut bibirnya.
“You already become us, Ar ( Kau sudah menjadi bagian dari kami, Ar )”
Arthur pun kembali mengangguk dan mengulas senyuman pada Putra.
“Then I feel honor... ( Maka aku merasa terhormat ... )”
“Alright then, see you at dinner ( Baiklah jika begitu, kita bertemu saat makan malam )”
“Yes, of course ( Ya, tentu saja )” Jawab Arthur. Lalu Putra undur diri dari hadapan Arthur yang kemudian di arahkan oleh Pak Abdul yang sedari tadi setia menunggu di dekat Putra dan Abdul yang sedang bercakap ringan, untuk menuju kamar yang telah disediakan dan dipersiapkan untuknya.
*****
Putra segera memasuki kamarnya yang sudah dia klaim sebagai kamarnya dan Gadis sejak mereka sudah menempati kamar itu bersama, dan sejak hubungan keduanya memang sudah sangat intim meski belum terikat pernikahan.
Pintu kamar Putra dan Gadis nampak terbuka cukup lebar saat Putra sampai di depan kamarnya dan Gadis itu. Memang Gadis sengaja, agar Putra yang menggendong Anthony itu tidak kerepotan untuk masuk.
Putra kemudian menutup pintu kamar dengan sangat perlahan setelah ia sudah berada di dalam kamarnya dan Gadis itu.
“Kenapa kamu belum mengganti bajumu? ...”
Putra sontak bertanya kala ia menemukan Gadis masih mengenakan mini dress yang ia gunakan dan belum menggantinya.
Putra dan Gadis berbicara dengan nada suara yang direndahkan agar tidur Anthony yang nampak kelelahan itu tidak terganggu.
“Aku pikir tadi kamu segera menyusul tak lama aku naik... ternyata lama sekali .... tahu begitu aku mandi saja tadi ...”
Putra pun mendengus geli pada Gadis yang sedang setengah menggerutu itu, saat ia merebahkan Anthony di atas ranjang dalam kamarnya dan Gadis.
“Apa pakaian Anthony digantikan sekarang?... tapi rasanya aku tidak tega seandainya tidur Anthony terganggu nanti ....”
“Tidak perlu kita gantikan sekarang. Nanti saja saat Anth terbangun, sekaligus aku akan memintanya membersihkan diri”
Putra berucap sembari melepaskan sepatu retro yang dipakai Anthony.
“Ya sudah kalau begitu”
“Lalu kamu mau kemana?...”
Putra menahan lengan Gadis yang hendak berlalu dari dekatnya, dengan Putra yang sudah berdiri setelah melepaskan sepatu dan kaos kaki yang tadi dikenakan oleh Anthony.
“Aku ingin menyiapkan makan malam untuk kita semua” Jawab Gadis.
Putra pun mendengus pelan.
“Itu tidak perlu, Gadis... ada Ibu Marsih dan Ibu Minah yang akan mempersiapkannya”
“Oh iya ya. Aku lupa jika disini ada beberapa pekerja ...” Sahut Gadis yang baru ingat jika di Villa ada beberapa asisten rumah tangga yang mengurus Villa tersebut termasuk mengurus kebutuhan setiap majikan mereka.
“Lebih baik kamu membersihkan diri lalu beristirahat sejenak” Kata Putra kemudian.
“Biar aku bantu....”
Gadis yang melihat Putra sedang melonggarkan ikatan dasinya untuk Putra lepaskan itu kemudian menawarkan diri untuk membantu Putra melepaskan dasi dan jasnya.
“Kamu saja yang pergi mandi duluan, Putra .... biar aku siapkan pakaian ganti untuk kamu ya?....” Ucap Gadis.
“Tidak usah.... lebih baik kamu mempersiapkan yang lain saja” Cetus Putra.
“Apa?....”
“Dirimu ....”
Papa Putra pun menampakkan seringainya pada Gadis, yang langsung memasang mode was-was saat seringai Putra itu tampak di wajah pria yang sedang melepaskan satu per satu kancing kemejanya itu.
“Ka-kamu mau a-pa??? ......” Gadis tergagap.
“Menurutmu?” Sahut Putra.
“A-da Anthony ......”
“Kamar mandi kita cukup kedap suara, asalkan kamu tidak sampai ‘teriak’”
*****
To be continue....
__ADS_1