
Happy reading....
♦♦♦♦♦♦♦♦♦
London, Inggris,
“Better you plumb your sit because we have something in few seconds ( Sebaiknya kau tegakkan dudukmu karena akan ada sesuatu yang mendekat dalam beberapa detik )” ucap Accursio pada putra.
Pria yang juga merupakan anak angkat Ramone sebagaimana Putra dan Yona itu sedang berada didalam perjalanan bersama Putra yang duduk di kursi belakang mobil yang ia dan Putra tumpangi, berikut dua anak buah mereka.
Setelah sebelumnya juga ada tabrakan yang terjadi di belakang mobil yang Putra ada Accursio tumpangi bersama dua anak buah mereka itu, dimana kecelakaan tersebut adalah memang disengaja. Kecelakaan yang menjadi satu antisipasi jika ada anak buah Jaeden yang mengikuti atau bahkan mengancam Putra dan Accursio dalam perjalanan mereka menuju mansion milik Kingsley Smith.
Dan perkiraan ada anak buah Jaeden yang mengikuti mobil yang ditumpangi Putra dan Accursio terjadi serta disadari oleh Accursio yang sempat melirik ke belakang dan melihat ada mobil yang mencurigakan sedikit berjarak dari mobil yang ia tumpangi bersama Putra.
Jadi tindakan antisipasi untuk menghentikan mobil anak buah Jaeden itupun dilakukan oleh orang-orang yang menjadi anak buah Putra dan kawanan. Salah satunya dengan menempatkan satu truk yang dikendalikan oleh anak buah Tommy, kenalan Putra dan Damian sejak beberapa tahun lalu.
“Heem.”
Putra hanya berdehem malas menanggapi ucapan Accursio barusan.
Namun begitu, Putra sudah membuka kedua matanya dan juga menegakkan duduknya.
Lalu sedetik kemudian...
BANG! BANG! BANG!
Rentetan peluru terdengar nyaring, sekaligus desingan tajamnya terasa dari sisi kiri mobil yang ditumpangi Putra dan Accursio serta dua anak buah mereka.
“Do we have any personal matters ( Apa kita memiliki masalah pribadi ), Yo?” ucap Putra yang berbicara melalui alat telekomunikasi selepas rentetan tembakan yang tak seberapa banyak itu menari di sisi kiri mobil yang ia tumpangi itu.
“Just doing my job infull of my heart ( Hanya melakukan pekerjaanku dengan sepenuh hati )”
“Cih!” Putra kemudian berdecih selepas mendengar jawaban Yona dari sebrang alat telekomunikasi mereka.
♦
Anak buah yang bertugas sebagai supir tetap membawa mobil yang ia kemudikan, dimana ada Putra dan Accursio di kursi penumpang belakang --- melaju ke tempat tujuan setelah insiden penembakan pada mobil tersebut beberapa saat yang lalu.
Sebuah insiden penembakan yang juga merupakan bagian dari rencana Putra sebagai alibi untuk menahan Jaeden lebih lama untuk sampai ke mansion Kingsley Smith.
Dan setelahnya, beberapa mobil melaju dan mendekat kepada mobil yang Putra dan Accursio tumpangi.
“Let us know if you’re near to Kingsley’s mansion ( Beritahu kami jika kau sudah dekat dengan mansionnya Kingsley ), Yo.”
♦
“I think I’m going to his place, cause that will make an easy alibi ( Aku pikir aku akan ke tempatnya, karena itu akan membuat alibi yang mudah )”
Suara Damian terdengar di balik alat telekomunikasi yang dipegang oleh satu anak buah yang duduk di kursi penumpang depan samping rekannya yang bertugas sebagai supir setelah ia menekan sebuah tombol.
“But Putra said you all want to take a rest ( Tapi Putra tadi mengatakan kalian akan beristirahat )”
Putra hendak menyahut, namun urung karena ia mendengar suara Gaines berbicara dari seberang alat komunikasi mereka yang nampaknya tidak dimatikan oleh Damian.
♦
“Tell one car to get around of his house and clear up any suspicious person ( Katakan pada satu mobil untuk berkeliling di area sekitar rumahnya dan bersihkan jika ada orang yang mencurigakan )“
Suara Damian terdengar lagi di alat komunikasi yang sambungannya belum dimatikan oleh Damian itu. Putra dan Accursio masih mendengarkan, sampai setelah terdengar suara sahutan dua orang yang mengiyakan ucapan Damian yang berupa perintah tersebut.
“Yes, Boss.”
__ADS_1
Dan sambungan dengan alat komunikasi yang digunakan oleh Damian berikut tiga orang yang bersamanya itupun terputus.
♦
“I thought you guys will punish him together, since he’s a big traitor among all just like you guys planned to that main bastardo ( Aku kira kalian akan menghukumnya bersama, mengingat dia adalah pengkhianat terbesar diantara semuanya seperti bagaimana kalian merencanakn untuk menghukum satu bajing*n utama itu )”
Accursio mencetuskan komentar selepas hubungan komunikasi dengan Damian telah terputus.
Putra langsung tersenyum tipis selepas Accursio berkomentar barusan.
Lalu Putra menjawab komentar Accursio itu tak lama kemudian. “One Damian enough to represent ours to give that traitor a torturing punishment ( Satu Damian cukup untuk mewakili kami untuk memberikan si pengkhianat itu sebuah hukuman yang menyiksa )”
♦
“Beside, that traitor is also has a direct connection with Dami’s Dad dan Brother’s death. So I believe that Dami won’t give an easy death for Gaines.”
“( Lagipula, si pengkhianat itu juga memiliki hubungan langsung dengan kematian Ayah dan Kakak lelakinya. Jadi aku percaya jika Dami tidak akan memberikan kematian yang mudah pada Gaines )”
Accursio pun tersenyum tipis setelah mendengar kalimat Putra barusan itu. “Well, I believe how mean that one of your brother is---if he’s already that close to you so well ( Yah, aku percaya akan menjadi sebagaimana kejamnya salah satu saudaramu itu---jika dia sudah begitu dekatnya denganmu )”
“Haha ..” Putra tertawa renyah. “I’m not mean, okay ( Aku tidak kejam, oke )? ..”
Accursio mendengus geli setelah mendengar sergahan Putra yang menyangkal dirinya adalah orang yang kejam.
“I’m just assertive ( Aku hanya tegas )”
“Heh! ..” remeh Accursio. “Your assertive is talking about taking out someone’s kidney out of his place when that person is stiil concious ( Ketegasanmu itu membuat ginjal seseorang keluar dari tempatnya saat orang itu dalam keadaan sadar )”
Putra pun kembali tertawa renyah setelah mendengar cibiran Accursio itu.
♦
Sementara Putra mengobrol dengan Accursio di dalam mobil yang mereka tumpangi itu, Damian dan Devoss telah berada di kediaman pribadi Gaines.
Dimana ada Damian yang baru saja menurunkan titahnya pada satu anak buah yang menjadi pemimpin beberapa anak buah yang menyertainya ke tempat tinggal Gaines itu.
♦
“Finish them ( Habisi mereka berdua )”
Suara Damian yang memberikan perintah terdengar lagi, ketika anak buahnya telah mengambil alih ancaman dari anak buah Gaines pada Damian dan Devoss sebelumnya dengan senjata api dua orang anak buah Gaines yang menjaga gerbang kediaman pria itu.
♦
“And drag this a$sh0l3 ( Dan seret si brengsek ini )“
Setelah Damian menurunkan perintah pada para anak buahnya untuk menghabisi dua orang anak buah Gaines yang sempat menodongkan pistol padanya dan Devoss sebelumnya di dalam kediaman Gaines saja tapi, Damian menunjuk Gaines yang tambah dibuat sedikit tak sadarkan diri.
“Because I feel impatience to ‘play’ with him ( Karena aku tak sabar ingin ‘bermain’ dengannya ) ..” gumam Damian kemudian.
♦
“Throw away you all guns, or I ask my man to slice you Boss throat ( Buang senjata kalian semua, atau aku akan menyuruh orangku untuk mengiris leher Bos kalian )“ ucap Damian ketika ia sudah berada di pintu utama tempat tinggal Gaines.
“You guys won’t da ( Kalian semua tidak akan be ) ---“
“Noisy ( Berisik )”
Salah seorang anak buah Damian dan Devoss yang sudah lebih dulu menyisir area sekitar rumah Gaines secara sembunyi – sembunyi spontan menggumam, ketika peluru dari senjata berperedamnya telah menembus kepala salah satu anak buah Gaines yang tadi sempat hendak mengancam Damian dan mereka yang bersamanya.
Kemudian rekan – rekan dari anak buah Gaines yang lain, dibuat sama kondisinya dengan satu rekan mereka yang kepalanya telah dilubangi terlebih dahulu oleh salah satu anak buah yang menyertai Damian dan Devoss itu.
__ADS_1
Yang juga sudah mengamankan para pelayan kediaman Gaines yang dianggap tidak mengancam keberadaannya, karena hanya pekerja biasa---bukan para pengawal pribadi yang terlatih dengan senjata, dimana para pelayan tersebut telah diikat tubuh serta dibekap mulutnya dan dipisahkan di satu tempat setelah dibuat tidak sadarkan diri sebelumnya.
♦
"Now tight him ( Sekarang ikat dia )" titah Damian pada anak buahnya sambil menunjuk Gaines yang masih tidak sadarkan diri.
"Waking him up now, Boss ( Bangunkan dia sekarang, Boss )?-"
Salah seorang anak buah yang telah mengikat Gaines di atas sebuah kursi bersama satu rekannya itu kemudian bicara untuk meminta persetujuan Damian ataupun Devoss, setelah menembak mati seluruh pengawal pribadi yang merangkap sebagai penjaga di kediaman Gaines tersebut.
"Yes please," respons Damian yang kiranya merasa tak sabar untuk melihat wajah penuh ketakutan Gaines setelah pria yang Damian dan para saudaranya cap sebagai pengkhianat itu dipaksa untuk bangun setelah dipukul tengkuknya dan sedikit dibius oleh Devoss dengan memberikan sebuah cairan di atas sebuah sapu tangan yang kemudian Devoss tempelkan ke wajah Gaines.
Damian tersenyum lebar saat melihat dua anak buahnya mengikat Gaines dengan dibuat terduduk di atas sebuah kursi kayu yang diambil dari sebuah sudut rumah Gaines.
Dan senyuman Damian semakin melebar, ketika Gaines terbangun dengan sangat terkesiap bak orang yang baru mendapatkan nafas---saat salah seorang anak buah yang bersama Damian serta Devoss menyiram Gaines dengan air yang di tampung dalam sebuah ember kaleng, yang diambil dari salah satu sudut pekarangan pada kediaman Gaines.
♦
Senyuman Damian menjadi sebuah seringai, kala Gaines tersadar dari ketidaksadarannya dengan kondisi megap – megap.
“How was your rest ( Bagaimana istirahatmu ), Gaines? ---“
“Dam---Damian..”
“Yes?.. traitor?..”
Damian lekas menyahut ketika Gaines tergagap menyebut namanya.
“Wh---What is this ( Ap---Apaan ini ), Damian?..”
“It’s useless ( Percuma ), Gaines..” cetus Damian.
Dimana Damian kini sudah berdiri tepat di depan Gaines.
“Everything that you said and try to deceive us with your fake act of innocence ( Semua yang kau katakan dan coba untuk membohongi kami dengan sikap sok tidak bersalahmu itu )..” Damian menggantungkan kalimatnya, hingga..
“Akh!”
Suara pekikan keluar dari mulut Gaines, seiring kaki Damian yang menendang dadanya dengan keras.
Dan Gaines yang terikat kuat di atas sebuah kursi kayu itu terjungkal ke belakang.
“MAKE US FED UP ( MEMBUAT KAMI MUAK )!” Teriak Damian dengan wajahnya yang kini berubah dingin dengan tatapan nyalang kepada Gaines yang belum dikembalikan ke posisinya semula.
Melihat satu tuannya kini nampak berubah aura, para anak buah yang ada---bahkan Devoss, tak ada yang berani bergerak berinisiatif untuk mengangkat Gaines yang sedang dalam posisi terjungkal dengan kepala dan punggung yang terikat pada kursi itu yang menyentuh lantai di bawahnya.
Gaines juga baru saja selesai terbatuk, karena tendangan Damian di dadanya yang cukup keras itu terasa cukup menekan dada Gaines hingga sesaat pria itu merasakan kesesakan.
“Y---You miss---understanding about, my closeness---with, Jaeden ( K---Kau salah---paham tentang, kedekatanku---dan, Jaeden ) ---“
“Really? ---“
“Ye---Yes ( Iy---Iya )---“
“Heh!---“
“It must---be Hizkia, who told that aspersion---about me, to you and Putra ( Itu pasti---Hizkia, yang mengatakan fitnah---tentangku, padamu dan Putra )---“
“Heh!---“
“It’s him---Hizkia, who betrayed ( Dialah---Hizkia, yang berkhianat )---“
__ADS_1
♦♦♦♦
To be continue ....