
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia,
"Eh, Gadis?! ..."
Sebuah suara dari seseorang terdengar dari arah belakang Gadis dan mereka yang sedang berjalan bersamanya untuk sampai ke mobil yang Gadis dan rombongan tumpangi saat datang kembali ke desa kelahiran Gadis itu.
"I - ibu --" dimana Gadis spontan tergugu. Dikala sosok yang memanggilnya itu telah berada di hadapannya.
“Ya ampun! Ini beneran kamu, Gadis?! ...”
Dan sosok yang tadi memanggil dan sudah berada di hadapan Gadis itu berseru langsung saja berseru setelah ia dan Gadis telah benar – benar berdiri berhadapan.
“I – iya ...” jawab Gadis dengan kembali agak tergugu.
“Ya ampun Gadiis ... akhirnya kamu pulang, Nak ...”
***
Selain tergugu, Gadis selanjutnya dibuat terkesima, karena sosok yang sedang berhadapan dengannya itu, yang adalah seorang wanita paruh baya, ibu tiri Gadis tepatnya – telah memegangi lengan Gadis, sambil menatap Gadis dengan tatapan yang tidak pernah Gadis lihat dari wajah ibu tirinya selama Gadis hidup bersamanya dulu.
Wajah yang dulunya selalu ketus, begitu juga saat bicara, kini memandangi Gadis dengan mata yang berkaca – kaca. Lalu juga melirih. “Ibu udah laama cari kamu, Dis.”
Begitu ucap ibu tiri Gadis. Sambil ia kemudian menyentuh wajah Gadis yang membeku di tempatnya, sebelum ia berucap lagi dengan nada suara yang masih melirih. Serta tatapan yang mengiba kepada Gadis.
“Maafin Ibu, ya Dis? ... Maafin Ibu yang selama ini jahat sama kamu, sampe kamu pergi dari rumah,” dimana setelahnya, Gadis dibuat tercengang selain terkejut.
Karena kemudian ibu tirinya itu langsung memeluknya sambil menangis. Lalu Gadis dibuat menjadi bingung sendiri.
“Maafin Ibu, Diiiss, huhuu –“
“I – ibu ...”
***
Gadis sekali lagi dibuat tergugu oleh sikap ibu tirinya yang berbeda 360 derajat itu.
Yang orangnya mengucapkan maaf berkali – kali sambil memeluk Gadis seraya menangis.
Sementara Bruna dan Anthony terheran – heran melihat wanita paruh baya yang sedang menangis di hadapan Gadis dan sempat memeluknya juga.
Namun keduanya tidak menginterupsi untuk bertanya pada Gadis.
Bruna dan Anthony diam saja sambil memperhatikan.
Sementara istri kepala desa dan dua anggota keluarganya, tersenyum tipis saja.
Dan satu wanita muda yang kurang lebih seusia Gadis, yang mana adalah ponakan dari ibu tiri Gadis – ia sendiri yang nampak tersenyum lebar.
“Sudah, Bu –“
“Maafin Ibu, Diiis –“
“Iya, Bu ... aku sudah memaafkan Ibu ...”
“Beneran kamu udah maafin, Ibu, Dis? ...”
Ibu tiri Gadis mengurai pelukannya kepada Gadis.
“Iya, Bu –“
“Ya ampun Dis, Ibu seneng dengernya. Emang baik kamu, Dis ...”
***
“Ibu ... Apa kabar?”
Gadis yang sempat dibuat terkejut oleh kehadiran dan ibu tirinya tadi, kini sudah dapat menguasai dirinya – menanyakan kabar ibu tirinya tersebut kemudian. Untuk sekedar berbasa – basi. Karena meski sudah dapat menguasai dirinya dari keterkejutan, namun Gadis masih merasa canggung dengan pertemuan dirinya dengan sang ibu tiri.
Jadi Gadis pun bertanya dengan agak canggung kepada ibu tirinya itu, yang kemudian menjawab pertanyaan Gadis dengan wajah sendu.
“Yah, Dis. Ibu sekarang susah banget, Dis. Sering sakit – sakitan. Mungkin kena karma kali gara – gara dulu suka galak sama kamu dan suruh kamu ini itu? –“
“Jangan bicara begitu, Bu,” tukas Gadis.
“Ya emang begitu sekarang Ibu, Dis. Susah.”
“Ibu yang sabar, ya?” tulus Gadis, seraya ia tersenyum.
“Iya Dis, Ibu sabar, kok. Yang penting bisa makan tiap hari aja udah sukur. Dan untung juga Madya dapet kerjaan di pusat kota –“
“Syukurlah kalau begitu, Bu –“
“Ya tapi gitu, Dis. Gaji Madya pas – pasan. Cuma cukup buat makan. Sementara kami berdua setiap hari ketakutan kalo ada orang yang tiba – tiba dateng nyuruh kami keluar dari rumah meskipun si Baskoro itu udah mati. Makanya Ibu juga kerja diladangnya Bu Firman nih buat nabung – nabung nebus sertifikat tanah sama rumah yang digade ke si Baskoro itu –“
“Eum –“
__ADS_1
“Ah, udahlah itu urusan nanti. Yang penting sekarang kamu udah ada di sini, Ibu tuh seneng banget loh Dis, tau kamu mau pulang lagi ke rumah setelah kemarin Ibu denger berita katanya kamu dateng ke sini pas Ibu lagi berobat ke pusat kota eh tapi katanya kamu pergi lagi –“
***
“Tapi taunya kamu dateng lagi hari ini, Dis! Seneng banget Ibu ternyata akhirnya kamu mau pulang!”
Ibu tiri Gadis terus membeo dengan wajahnya yang sudah tidak lagi sendu, bahkan nampak kegirangan sambil mengguncang – guncang lengan Gadis.
Dan Gadis membiarkan perlakuan ibu tirinya itu, sambil juga masih tersenyum kikuk di tempatnya. Toh guncangannya pada lengan Gadis juga tidak terasa menyakitkan.
“Don’t be rude to her ( Jangan kasar padanya )” ini Anthony yang bicara. Karena melihat lengan Gadis diguncang oleh seorang yang tidak dia kenal. Sambil Anthony menarik tangan Gadis hingga terlepas dari lengan mamanya itu.
***
“Eh ini siapa, Dis? Terus dia bilang apa itu tadi?”
Ibu tiri Gadis yang agak terkejut itu lantas bertanya, ketika Anthony menginterupsi dalam bahasa Inggris dengan sambil menarik tangan Gadis hingga terlepas dari pegangannya.
“Dia ini –“
“Oh Ibu inget, kemarin katanya kamu datengnya sama orang – orang londo. Ini yang kemaren dateng sama kamu? Majikan kamu kan? Dan mereka sekarang ini dateng buat anter kamu pulang ya? ... Duuuhh baiknya majikan kamu ini, Dis ...”
“Eh bu –“
“Ih bukan –“
“Ayo, ayo, Dis, ajak majikan kamu ke rumah kita. Untung Ibu udah sempet beberes sebelum ke sawah.”
“Ta –“
“Iya ayo, Dis! Mana tas kamu, Dis? Sini aku yang bawain,” kata wanita muda yang datang bersama ibu tiri Gadis, sambil ia celingukan.
Menukas ucapan Gadis yang hendak menyergah ucapan ibu tirinya yang memotong ucapannya dan ucapan istri kepala desa. Dimana baik Gadis ataupun istri kepala desa itu hendak meluruskan dugaan ibu tiri Gadis yang mengatakan jika Bruna dan Anthony adalah majikan Gadis.
“Kamu dateng lagi ke sini pasti karena udah mutusin buat balik tinggal di sini lagi kan, Dis?—“
“Iya pasti lah kalo Gadis ternyata dateng ke sini lagi. Iya kan, Dis?”
Ibu tiri Gadis menukas ucapan keponakannya itu, kemudian beralih lagi kepada Gadis dengan percaya dirinya.
***
Gadis hendak lagi bersuara untuk menyergah, namun ucapannya terpotong lagi.
Hanya saja bukan ibu tirinya yang membuat Gadis tak jadi berucap, melainkan Garret yang datang dengan tergesa bersama Arthur.
“True –“
“But, I’m okay, Gar.”
“Are you sure?” Garret bertanya lagi untuk memastikan sambil memandang pada Gadis.
Gadis pun mengangguk mengiyakan seraya tersenyum pada Garret.
Dimana ibu tiri Gadis yang banyak bicara itu membatin dalam hatinya.
‘Oh ini toh suaminya si Gadis? ... cocoknya buat si Madya ini laki – laki londo ganteng begini. Mana kaya lagi!’
“And who is she ( Dan dia siapa ), Gadis?”
Lalu ibu tiri Gadis yang sedang membatin sambil menelisik Garret itu, terkesiap ketika Garret kembali bersuara dengan bertanya pada Gadis.
“She is ( Dia ) ...” jawab Gadis dengan sedikit ragu. “My step mother ( Ibu tiriku )” jujur Gadis kemudian.
“She what ( Dia apamu )? ...”
Garret nampak sedikit terkejut, termasuk juga Bruna, Anthony dan Arthur.
“Let’s talk about this at home ( Kita bicarakan saja ini di rumah )?” menduga jika Garret dan Bruna belum mendapat cerita dari Putra soal Gadis yang memiliki ibu dan saudara tiri, Gadis berujar dengan memberi kode andai Garret dan Bruna ingin bertanya lebih jauh, baiknya di lakukan di villa saja nanti.
“Alright then ( Baiklah jika begitu )” sahut Garret dan Bruna, seraya keduanya mengangguk sambil memandang pada Gadis. Lalu menoleh dan memandangi kepada ibu tiri Gadis yang sudah tersenyum lebar kepada Garret serta Bruna sambil ia menganggukkan kepala dengan membatin.
‘Sesuai rencana, aku pura - pura ga tau kalo ini suaminya si Gadis. Biar aku ga keliatan bener – bener udah menyesali kegalakanku sama si Gadis dulu. Dan ga ketauan juga kalo aku mau manfaatin si Gadis!’
Setelahnya, ibu tiri Gadis membeo lagi.
“Ini majikan laki – laki kamu ya Dis? Suaminya ini perempuan londo ya? Terus ini anak mereka kan ya? –“
“Bu –“
“Ayo Dis, ajak mereka ke rumah kita.”
Kembali ibu tiri Gadis menyambar untuk bicara.
***
“Madya pasti seneng banget nih bisa ketemu kamu, soalnya dia juga sama kayak Ibu yang nyesel sama sikap kami dulu ke kamu. Dia juga mau minta maaf sama kamu loh, Dis ... Ntar dia pas pulang kerja pasti seneng banget liat kamu ada di rumah. Ayo dong, Dis? Kok malah diem aja? Ayo kita pulang ke rumah terus kita memulai hidup baru sebagai keluarga –“
“Mari, Mister, Madam ...“ tukas keponakan dari ibu tiri Gadis yang percaya diri mempersilahkan Garret dan Bruna termasuk Arthur untuk berjalan menuju rumah wanita yang ia panggil dengan sebutan ‘Uwa’ itu, padahal Gadis saja belum bergerak dari tempatnya.
__ADS_1
Lalu karena melihat Garret dan Bruna serta Arthur termasuk juga Anthony diam saja, wanita muda yang bernama Sari itu kemudian bicara pada Gadis.
“Dis, kamu ngomong sama mereka pake bahasa mereka buat ajak ke rumah uwa. Majikan kamu kan udah repot – repot loh mau nganterin kamu pulang kampung –“
“Ih jangan sembarangan ngomong! Mereka bukan majikannya Gadis!”
Istri kepala desa menukas seraya menyergah ucapan wanita muda bernama Sari itu.
“Nah terus siapa? ...” tanya Sari langsung sambil memandang pada istri kepala desa lalu Gadis bergantian.
“Keluarga barunya Gadis!” jawab istri kepala desa.
“Iya, iya ... ngerti aku Bu, majikannya Gadis ini saking baiknya jadi udah anggep Gadis keluarga mereka, gitu kan?”
“Ih, bloon kamu –“
“Udaah ...” Ibu tiri Gadis menukas pada istri kepala desa dan ponakannya.
Lalu ibu tiri Gadis bicara lagi sambil memandang kepada istri kepala desa.
“Aku mau bawa Gadis pulang dulu. Pasti dia kangen sama rumahnya. Iya kan, Dis? Hayu atuh. Sari ajak itu majikan londonya Gadis –“
“Bu,” sergah Gadis sambil menyentuh punggung tangan ibu tirinya yang kembali sudah memegangi satu lengannya.
***
“Maaf, Bu ...“
Gadis lanjut bicara.
“Aku datang ke sini bukan untuk pulang ke rumah yang ada di sini, Bu ...”
“Loh, Dis?”
“Iya, Bu. Aku ada urusan lain datang ke sini lagi –“
“Kamu dendam sama Ibu dan Madya ya, Dis? –“
“Tidak, Bu. Sama sekali tidak –“
“Terus kenapa kamu ga mau pulang, Dis? ... padahal Ibu udah lama cari kamu. Kadang – kadang uang yang ibu dapet dari upah buruh tani, ibu pake ke ibukota buat cari kamu loh, Dis. Kamu ga percaya kalo ibu tulus mau minta maaf sama kamu, Dis? ...”
“Bukan begitu, Bu –“
“Padahal Ibu mau mulai semuanya dari awal sama kamu loh, Dis. Selain Ibu inget pesen bapak kamu sebelum meninggal kalo ibu disuruh jagain kamu. Dan sekarang Ibu nyeseel banget, Diiss ... tapi kamu ga percaya ... hiks ...”
“Ibu –“
“Kalo gitu, biar kamu percaya –“
“Eh, Ibu! –“
“Ibu minta maaf, Gadiisss. Kalo kamu suruh Ibu cium kaki kamu,Ibu juga mau Dis –“
“Ibu, tolonglah jangan begini ...”
Gadis nampak sedikit panik, karena ibu tirinya itu tahu – tahu berlutut saja di hadapannya.
“Abisnya kamu ga mau pulang ... padahal ... padahal ...”
“Ibu? –“
“Asmanya Uwa kambuh kayaknya, Dis!”
“Ya ampun, Bu! –“
***
“She is having a asthma ( Dia memang menderita asma )” Bruna yang bicara, setelah ia memeriksa ibu tiri Gadis yang sebelumnya berlutut di hadapan Gadis, kemudian merunduk bicara dengan terbata, sambil memegangi dadanya.
Bruna memang tidak membawa peralatan medisnya, tetapi ia dapat memeriksakan kondisi seseorang dari denyut nadi dan dengan pengetahuan soal medis yang ia punya, meski dengan tangan kosong.
“Ibu kan katanya sering periksa ke puskesmas sama rumah sakit di pusat kota? Pasti Ibu dapet obat kan?”
Gadis lalu berbicara pada ibu tirinya yang di telah di bawa ke rumah kepala desa, karena lebih dekat posisinya dari tempat Gadis berada tadi ketimbang rumah orang tua Gadis.
“Dimana Ibu simpan? biar Sari yang ambilkan –“
“Itu –“
***
To be continue ......
Terima kasih masih setia.
Salam enjoy,
Emaknya Queen.
__ADS_1