LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 426


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia ....


“I’ll tell maids for the dinner menu then I’ll call the hospital to make an appointment with Doctor for Gadis tomorrow ( Aku akan mengatakan pada para pelayan menu untuk makan malam dan setelahnya aku akan menghubungi rumah sakit guna membuat janji dengan Dokter untuk Gadis besok ) ...”


Bruna yang sedang bicara ini. Dimana dirinya sudah hendak undur diri dari kamar Putra dan Gadis.


“Yes, Bru.”


“See you guys at dinner then ( Sampai bertemu saat makan malam kalau begitu )”


“Okay, Madre ...”


“Okay, Bru.”


“Iya, Bru.”


Anthony, Putra dan Gadis sama menanggapi kalimat undur diri Bruna.


“Thanks, Sis,” ucap Putra lagi pada Bruna sambil tersenyum jahil.


“You welcome, brother!” Bruna menanggapi ucapan terima kasih Putra yang sedikit berguyon padanya, dengan Bruna yang membalas guyonan kecil Putra padanya barusan itu.


Putra pun mendengus geli, begitu juga Anthony dan Gadis.


“But let me know if you guys need me ( Tapi jangan sungkan memberitahu jika kalian membutuhkanku ) ---“


“Yes, Bru. Thank you,” tukas Putra.


“Especially if you’re feeling kind of pain more intens at your body, your stomach more over (Terutama jika kamu merasakan sakit berkelanjutan pada tubuhmu,terlebih lagi pada perutmu ), Gadis ...”


Bruna beralih fokus kepada Gadis. Dimana Gadis langsung menanggapi ucapan Bruna itu dengan anggukkan berikut ucapan terima kasih. Bruna mengangguk, lalu benar-benar undur diri dari hadapan Gadis, Putra dan Anthony yang berada dalam kamar Putra dan Gadis itu.


****


Putra mendudukkan dirinya sejajar dengan Gadis yang bersandar di headboar ranjang mereka, dengan Anthony yang Putra dudukkan di atas pangkuannya. Dimana ketiganya, kemudian terlibat obrolan.


“How’s your days ( Bagaimana hari – harimu ), Anth?” Putra yang membuka obrolan, dan Anthony segera menjawabnya.


“I’m learning like usual ( Aku belajar seperti biasa )”


Putra lalu memberikan pujiannya pada Anthony yang kemudian bicara lagi.


“Dan aku ... juga, studied – belajar ... giat ... bahasa ... Indonesia ...”


Dengan Anthony yang mencoba berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia.


“Wow! How smart our Prince is can learn very fast ( Betapa pintarnya pangeran kami ini yang dapat belajar dengan sangat cepat )”


Sekali lagi Putra melayangkan pujiannya pada Anthony, meskipun bocah tampan itu bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia putus – putus.


“Right, Mama Gadis?”


Putra lalu menegur Gadis yang paham kalau dirinya harus juga memberikan dukungan atas pujian Putra pada Anthony.


“Sangat pintar!” cetus Gadis sambil tersenyum lebar dan mengangkat kedua jempol tangannya.


Dimana Putra juga menampakkan senyuman yang sama seperti Gadis, setelah istrinya itu mendukung pujiannya pada Anthony yang berkata jumawa selepas Gadis mencetuskan pujiannya.


“I’m smart since I was a baby ( Aku sudah pintar dari sejak aku bayi )” begitu kata Anthony.


"Of course you are. But about the sentence that you said, the correct sentence is ( Tentu saja. Tetapi mengenai kalimat yang kamu sebutkan tadi, kalimat yang benar adalah ), Dan - Aku - Juga - Giat - Belajar - Bahasa - Indonesia. Can you get it? ( Apa kamu paham? ) ..."


"Yes, I get it, Papa."


****


“Oh iya Putra, aku tidak melihat Ad dan Danny? Dan bagaimana kamu bisa datang berbarengan dengan Vader? Setahuku Vader ke Ibukota bukan ke Inggris saat pamit kepada kami? ...” Gadis mencetuskan pertanyaan selepas ia dan Putra tersenyum lebar menanggapi ucapan dan sikap jumawanya Anthony.


“Ad dan Danny masih di Inggris, dan pesawat yang aku tumpangi memang mendarat di bandara ibukota menggunakan jet elite milik Vader. Jadi dia mengetahui soal kedatanganku dan sudah ada di bandara saat aku tiba,” jawab Putra.


“Was Mama Gadis asked about Padre and uncle Danny who’s not coming with you, daddy Dami and Uncle Devoss ( Apakah Mama Gadis bertanya tentang Padre dan paman Danny yang tidak datang denganmu, ayah Dami dan paman Devoss ), Papa?”


Anthony menyela seraya bertanya, dimana Putra langsung menjawabnya. “Correct ( Benar )”


Lalu pujian untuk Anthony keluar lagi dari mulut Putra serta juga Gadis. Membuat Anthony kemudian jumawa lagi, yang membuat kekehan kecil akhirnya keluar dari mulut Putra dan Gadis.


“Jadi urusan kamu sebenarnya belum selesai ya, Putra?”


Gadis bertanya lagi pada suaminya itu. Putra mengangguk mengiyakan kemudian.


“Maaf ya? Aku sudah menghambat urusan kamu dan lainnya.”


Gadis sedikit melirih dengan gurat wajah bersalahnya pada Putra.


****


Putra tersenyum kemudian sambil memandang pada Gadis, dan satu tangannya terentang untuk membawa Gadis lebih rapat hingga bersandar di dadanya. Sementara kali ini, Anthony tidak menyela pembicaraan papa Putra dan mama Gadisnya. Namun tetap Anthony memperhatikan keduanya, sambil ia berusaha memahami setiap kata yang keluar dari mulut kedua orang tua angkatnya yang sedang bersamanya itu, dimana Putra dan Gadis bercakap menggunakan bahasa Indonesia.


“Urusanku di Inggris memang penting. Namun kamu tidak kalah pentingnya,” ucap Putra. “Mana mungkin aku tidak menyegerakan untuk pulang saat istriku mengalami kecelakaan?” sambungnya.


“Terima kasih ya, Putra? Sudah begitu perhatian padaku ---“


“Kamu ini ... tentu saja aku perhatian pada istri dan sekaligus wanita yang aku cintai.”

__ADS_1


“Tapi istri yang mendapat perhatian dan cinta kamu ini begitu ceroboh hingga sampai membuat calon bayi kita tidak selamat.”


“Sudahlah, hem? ---“


“Do you sad because you remember the baby inside your belly who was gone, Mama? ( Apa Mama bersedih karena Mama mengingat bayi dalam perutmu yang sudah tidak ada? ) ---“


“I am,” lirih Gadis. “I’m so sorry, ya? ---“


“No, Mama ... no sorry me ... I am glad Mama are okay.”


“( Tidak, Mama ... jangan meminta maaf [adaku ... aku senang Mama baik – baik saja )”


“Terima kasih ya, Anthony? ... karena sudah menyayangi Mama seperti itu.”


Gadis mengusap sayang kepala Anthony. “Sama – sama ... Mama ...” yang langsung menjawab ucapan terima kasih Gadis dengan bahasa Indonesia dan sikapnya yang cukup menggemaskan.


Membuat Gadis jadi merasa gemas juga pada anak angkat kesayangannya dan Putra itu, lalu Gadis mengecupi gemas pipi Anthony.


Putra mengurai senyumannya kemudian melihat interaksi Anthony dan istrinya itu. Dan setelahnya, Anthony kembali mengajak Putra bicara.


“Papa,” panggil Anthony pada Putra yang langsung menanggapinya.


“Yes?---“


“I’m sorry interrupt you ( Maaf menyelamu ), Anthony.”


Namun Gadis menginterupsi didetik saat Anthony hendak lagi mengajak Putra bicara.


****


“Please, Go ahead ( Silahkan saja ), Mama ...” respons Anthony.


Gadis pun tersenyum dan berterima kasih pada bocah tampan itu.


Lalu setelahnya Gadis bertanya pada Putra. “Apa kamu ingin secangkir kopi, Putra?”


“Tidak nanti saja---“


“Kalau hanya membuatkan kopi saja aku rasa aku sanggup Putra.”


“Aku belum ingin, Gadis. Dan kamu memang harus beristirahat total hari ini karena besok kita akan pergi ke rumah sakit. Jadi simpan tenagamu untuk besok.”


“Ya sudaah, iyaa. Aku akan ikut apa kata kamu. Tapi tidak usah marah – marah.”


“Aku tidak marah – marah sayangku, Gadis ...”


Putra segera menyahut. Sambil Putra memencet gemas hidung Gadis.


****


Dimana Putra sontak tersenyum geli. Termasuk juga Anthony.


“Mama looks like me when she is upset to you ( Mama terlihat sepertiku saat dia sedang kesal padamu ), Papa,” celetuk Anthony.


“That is so true ( Benar sekali )”


Putra dengan cepat mengiyakan celetukan Anthony itu sambil ia tertawa.


Membuat Gadis yang mencebik itu jadi memajukan sedikit mulutnya. Namun didetik berikutnya ia ikut tertawa.


“By the way ... apa kamu sendiri haus, Gadis? ...” Putra kemudian bertanya pada Gadis yang langsung mengangguk kecil.


“Sedikit,” jawab Gadis setelahnya.


“Ingin minum air putih atau lainnya? ...” ucap Putra lagi bertanya. “Aku akan panggilkan maid jika kamu ingin meminum minuman selain air putih.”


****


“You too ( Kamu juga ), Anth? ...” Putra dengan cepat bertanya juga pada Anthony sebelum Gadis sempat menjawab pertanyaan Putra padanya sebelumnya. “Are you thirsty too and want a glass of milk ( Apa kamu haus juga dan ingin segelas susu )?” sambungnya.


“No, Papa---“


“Lalu Nyonya Putra, ingin minum apa? Biar aku hubungi dapur agar ada maid yang datang ke sini---“


“Apa kamu juga mau meminta dibawakan sesuatu?” tukas Gadis seraya bertanya.


Putra menggeleng.


“Kalau begitu tidak usah. Mungkin mereka sedang repot memasak untuk makan malam.”


****


“Kamu ingin minum apa? ...” Putra lalu bertanya lagi pada Gadis. “Biar aku yang membuatkannya untukmu.”


Putra kemudian menawarkan. Dan Gadis langsung menggeleng. “Tidak usah. Minumanku masih ada,” ucap Gadis setelahnya, sambil Gadis menunjuk sebuah set cangkir yang ada di atas nakas sebelah kanan Putra.


Putra dan Anthony spontan menoleh ke arah yang ditunjuk Gadis.


“Aku minum itu saja.”


Gadis lalu berkata lagi.


“Apa ini?” tanya Putra saat ia sudah meraih set cangkir yang Gadis maksud.


****


“Teh.”

__ADS_1


Gadis langsung menjawab pertanyaan Putra yang sempat mengernyit sejenak sambil memperhatikan isi cangkir yang kini sudah dalam pegangannya.


“Harumnya tidak seperti teh?”


Putra berkomentar, setelah ia nampak mengendusi aroma dari dalam cangkir yang sedang dipegangnya itu.


“Ini teh rempah untuk menambah tenaga, Putra,” sahut Gadis.


“Heem,” sahut Putra.


Sambil Putra memberikan cangkir tersebut pada Gadis.


“Seingatku, kamu tidak pernah meminum teh seperti itu sebelumnya?”


“Memang sudah lama tidak. Tapi dulu saat masih tinggal di desa, aku sering meminum teh seperti ini. Dulu almarhum ibu kandungku saat menyukai teh campuran rempah seperti ini, jadi seringkali membuatnya. Kemudian ibu tiriku ternyata juga sama menyukai teh seperti ini, jadi dia juga sering membuatnya dan membaginya padaku dan almarhum ayah. Lumayan untuk menambah tenaga bekerja di kebun dan ladang.”


Gadis sedikit bercerita.


“Dan kamu bisa membuatnya?”


“Bisa.” Gadis menjawab pertanyaan Putra.


Lalu menjeda, karena Gadis menyesap teh di cangkir yang sudah ia pegang itu.


“Tapi ini Madya yang buat ... mungkin ibu tiriku yang buat ... atau siapa tahu juga Madya bisa, ataupun memang ibu tiriku membawanya saat datang ke sini.”


Gadis lanjut bicara setelah menghabiskan setengah dari isi cangkir berisikan minuman yang seperti Gadis ceritakan pada Putra yang manggut – manggut kecil. “Tapi aku rasa, baiknya untuk kamu meminum minuman seperti itu, dengan kondisi kamu yang sekarang, kamu konsultasikan dulu dengan Bru apakah itu baik untuk kamu konsumsi dengan kondisi kamu saat ini.” Putra lalu berkomentar.


“Ini hanya teh rempah penambah tenaga saja kok Putra. Jadi aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal itu ... kamu juga bisa meminumnya. Mau coba?”


“Nanti saja. Aku belum ingin mencobanya sekarang,” tolak Putra.


“Ya sudah---“


“Apa juga bisa diminum oleh Anth? ---"


“May I try it ( Apa aku boleh mencobanya )?”


Putra bersahutan bicara dengan Anthony sambil keduanya memandang pada Gadis yang baru melepaskan pinggiran cangkir dari bibirnya.


“Aduh, I’m sorry Anthony, Mama drink it all ( Aduh, maaf Anthony, Mama sudah menghabiskannya )” ucap Gadis merasa agak bersalah. Dimana Anthony langsung berkesah.


Putra mengulum senyumnya. “If it’s okay for you to drink, I’ll get it for you later, Prince ( Jika memang dapat kamu minum, aku akan mendapatkannya untukmu nanti, Pangeran )” ucap Putra pada Anthony kemudian.


Lalu Putra bertanya pada Gadis.


“Apa bisa Anthony meminumnya?”


“Bisa saja sih.”


Gadis lekas menjawab Putra.


“But this tea is bitter ( Tapi teh ini pahit ), Anthony sayang.”


“Then I don’t want ( Kalau begitu aku tidak mau )”


Anthony langsung merespons pemberitahuan Gadis tentang minuman yang tadinya ingin ia coba.


Putra dan Gadis pun langsung mengulum senyumnya.


****


“Ada tehnya Ibu Marsih?”


Putra pergi ke dapur villa saat Anthony dan Gadis yang sebelumnya bercakap dengannya di dalam kamar, kini keduanya tertidur.


Dan Putra membiarkan keduanya tertidur, sementara dirinya ingin pergi ke ruang kerja. Dimana sebelum itu, Putra pergi ke dapur karena tiba-tiba dirinya ingin mencoba rasa minuman yang diminum Gadis beberapa saat sebelum istrinya itu Putra suruh untuk beristirahat bersama Anthony juga sambil menunggu waktu makan malam.


“Tidak ada, Tuan Putra. Tidak ada teh yang seperti Tuan Putra maksud tadi. Semuanya masih persediaan yang memang ada di sini sebelumnya ...”


Salah satu asisten rumah tangga yang sedang bersama Putra itu memberikan laporannya selepas ia sudah rasanya mencari dan mengecek dengan seksama tempat persediaan minuman dalam dapur villa, dan dia tidak dapat menemukan minuman yang Putra maksud.


“Ya sudah kalau begitu, Ibu Marsih. Buatkan saja aku kopi seperti biasa, dan antarkan ke ruang kerja utama ...”


“Baik, Tuan ...”


“Terima kasih, Ibu Marsih ...”


Putra berujar santun kepada salah seorang asisten rumah tangganya di villa itu.


“Permisi, Tuan ...” Ibu Marsih berujar, dengan dirinya yang ingin meraih cangkir yang ada di dekat Putra.


Namun Putra menahannya. “Jangan diambil,” ucap Putra sambil menahan cangkir teh yang ada di dekatnya ini, dimana cangkir tersebut adalah cangkir bekas Gadis yang Putra bawa dari dalam kamar setelah Gadis meminum isinya.


Dan karena Putra ingin merasakan teh tersebut, Putra jadi berinisiatif untuk pergi ke dapur sambil membawa cangkir bekas Gadis tersebut.


“Tapi ini kotor, Tuan ...” Ibu Marsih berujar dengan hatinya yang sebenarnya sedikit merasa heran pada Putra yang tidak memperbolehkannya mengambil cangkir yang ingin Ibu Marsih segera cuci itu.


Putra tersenyum, lalu menyahut. “Tak apa ...” kata Putra sambil mengangkat cangkir bekas Gadis tersebut sambil Putra lihat isinya yang hanya tersisa sedikit saja dengan sedikit ampas.


Selanjutnya, Putra berucap dengan makna yang ia sendiri pahami maksudnya.


“Aku ingin mencari tahu, teh macam apa ini---“


*******


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2