
Happy reading....
“Aku rasa, kamu sedikit kasar padanya ...”
“Tidak perlu kamu pikirkan ....”
“Tapi...”
“Diamlah atau tanganku ini tidak hanya merangkul pinggangmu, tapi akan ku gunakan untuk mengangkat tubuhmu .....”
“Dasar pemaksa!” Gadis merutuki Putra dalam gumamannya.
“Sekaligus akan kucium bibirmu yang baru saja mencibir ku itu”
Gluk!
Gadis langsung menutup rapat – rapat bibirnya setelah mendengar ucapan terakhir Putra tadi.
Dan Gadis langsung menundukkan wajahnya, sembari menahan debaran di jantungnya atas sikap dan ucapan Putra padanya saat ini.
Putra masih tidak melepaskan rangkulannya dari pinggang Gadis saat ini. Membuat Gadis merasa risih sekaligus malu ditatap oleh beberapa orang yang berpapasan dengannya dan Putra saat menuju lobi depan Rumah Sakit.
Terlebih saat berpapasan dengan beberapa teman seprofesinya yang langsung senyum – senyum melihat Gadis berjalan dengan di rengkuh pinggangnya oleh Putra.
“Putra...” Panggil Gadis.
“Hem?” Sahut Putra.
“Aku rasa kamu bisa melepaskan pinggangku sekarang”
“Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?”
“Dasar - ....”
“Mencibir ku lagi dan akan benar – benar kucium bibirmu saat ini juga”
**
Putra paham sekali kalau Gadis pasti sedang kesal padanya saat ini.
Tapi Putra tak mau perduli. Dia sudah bertekad untuk menjadikan Gadis untuk menjadi ‘Gadis-nya’.
“Silahkan”
Putra mempersilahkan Gadis untuk masuk kedalam mobil.
“Eemm ...”
Gadis sedikit bergumam.
“Bukankah biasanya kamu yang duduk disini?” Tanya Gadis yang memang sedikit heran karena Putra membukakan pintu mobil penumpang depan. “Dan aku juga tidak melihat Tuan Danny”
“Dia sedang ada urusan di tempat lain”
“Maksudmu kamu yang menyetir?”
“Hem ...” Sahut Putra. “Cepat masuklah”
“.......”
****
“Kenapa?” Putra membuka pembicaraan setelah dia dan Gadis berada di dalam mobil yang hari ini akan di kendarai oleh Putra. “Apa kamu pikir aku tidak bisa menyetir hanya karena aku tidak selalu berada di belakang kemudi jika aku mengantar Anth untuk bertemu denganmu?”
“Iya aku pikir begitu”
“Apa kamu ada acara setelah dari sini, hari ini?”
Putra bertanya sembari menyalakan mesin mobil lalu memasang seatbelt.
“Tidak sih”
“Tapi?”
“Yaa.. tidak ada tapi” Jawab Gadis. “Memang tidak ada acara dan aku mau langsung pulang”
Gadis juga sembari memasang seatbelt - nya saat Putra sudah mulai melajukan mobil untuk keluar dari area parkir Rumah Sakit.
“Apa kamu lelah?”
“Sedikit”
“Kalau begitu aku akan langsung mengantarmu pulang. Tunjukkan saja arahnya”
“Putra..” Panggil Gadis.
“Ada apa?”
“Eemm .. itu..”
Putra sedikit menoleh.
“Kenapa tiba – tiba datang untuk menjemputku?”
“Memangnya kenapa?”
“Jangan menjawabku dengan pertanyaan bisa tidak?”
Putra terkekeh kecil.
“Depends ( Tergantung )”
Gadis membujuk hatinya untuk bersabar menghadapi pria yang berlaku dan berbicara seenak dirinya saja disampingnya itu.
“Tunjukkan .. arah menuju rumahmu” Ucap Putra.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku ..”
“Apa kamu sengaja untuk berlama – lama denganku?”
Putra melirik seraya menggoda Gadis.
“Kenapa tiba – tiba menjemputku?”
“Jika kamu merasa terganggu, mengapa kamu mengiyakan untuk pulang bersamaku tadi?”
“......”
__ADS_1
“Hem?”
“Ya.. bukan aku merasa terganggu ..”
Gadis menjeda ucapannya.
“Aku hanya terkejut saja melihat kedatangan kamu untuk sengaja menjemput dan mengantarku pulang..”
“Kamu ingin mengajakku bicara saat ini daripada mengantarmu pulang?”
“Ada arah putar balik didepan sana, lalu lurus saja setelahnya” Ucap Gadis sembari menoleh ke arah jalanan luar dari balik kaca jendela mobil disampingnya. Putra mengangguk.
“Mengapa harus terkejut?” Tanya Putra kemudian.
“Ya karena aku tidak tahu apa maksudmu menjemputku dengan tiba – tiba seperti ini ..” Jawab Gadis. “Dan lagi tadi..”
Putra menatap Gadis saat ia menghentikan mobil karena lampu lalu lintas berwarna merah. “Dan lagi tadi, apa?” Tanya Putra.
Gadis balik menatap Putra. Ia nampak ragu untuk berbicara.
“Sikap kamu ..” Sahut Gadis.
“Sikap aku?..”
“Iya..”
“Apa aku berlaku kasar?”
“Memang tidak.. tapi ..”
“Mengapa kamu suka sekali menggantungkan kata – katamu?”
“Ya habis kamu!. Membuat aku selalu dalam posisi terpojok!” Ucap Gadis sedikit ketus.
“Apa kamu baru saja membentakku?” Putra berkata datar, saat ia kembali menghentikan mobil akibat lampu lalu lintas berwarna merah. Namun mata Putra sedikit tajam menyorot Gadis dengan tatapannya.
‘Aduh celaka! Apa dia tersinggung?’
Gadis menatap Putra was – was.
“Bu – bukan begitu maksudku ..”
“......”
Kemudian Gadis meluruskan lagi duduknya.
“Maksud aku, sikapmu yang merangkul pinggangku di Rumah Sakit tadi”
“Karena Dokter itu?..”
“Maksudmu?”
Putra tidak menjawab, karena fokus melajukan kembali mobil setelah lampu berubah hijau.
“Dari sini ke arah mana lagi”
“Masih lurus. Setelah satu lampu merah lagi belok kiri”
Telunjuk Gadis spontan mengarahkan ke arah luar kaca mobil di depannya dan Putra.
Putra melirik ke arah Gadis.
“Katakan, apa menyukainya?”
“Bukan urusanmu....”
Gadis serta merta memekik saat Putra menghentikan mobil dipinggir jalan secara mendadak tepat setelah berbelok.
Gadis pun langsung menoleh pada Putra dan hendak protes.
“Bukan urusanku kamu bilang?!”
“Iya bukan” Sahut Gadis dengan cepat, dengan wajahnya yang sedikit nampak kesal. “Kamu dengan seenaknya saja mengancamku saat makan siang dengan Anthony tadi. Lalu tahu – tahu kamu dengan tiba – tiba menjemputku dan hampir membuat keributan di Rumah Sakit dengan Dokter Bajra..”
Gadis keterusan untuk mengeluarkan unek – uneknya pada Putra sejak siang tadi pada akhirnya.
“Jangan sebut namanya didepanku!”
Putra menyela.
“Memang itu namanya!”
Gadis langsung menyambar.
“Lalu kamu merangkul pinggangku dengan seenaknya. Membuat semua mata memandang padaku dan entah apa yang ada di pikiran mereka. Memangnya kamu pikir aku ini apa?! .. Belum lagi..”
Cup!
Gadis terpaku, dengan debaran jantung yang bertalu – talu setelah dengan cepat Putra menempelkan bibirnya di bibir Gadis lalu menahannya sebentar.
“Kekasihku”
Putra sudah melepaskan bibir Gadis dari kaitan bibirnya.
“Itu jawabanku atas pertanyaanmu, tentang bagaimana aku menganggapmu, Suster Gadis ...”
Sementara Gadis masih saja terpaku, tertegun dengan wajahnya yang terasa sedikit panas akibat gelenyar aneh yang kian menjalar di hatinya saat ini.
Rasanya Gadis seperti sedang berhalusinasi saat ini. Mata Gadis mengerjap – ngerjap dengan raut wajah yang menandakan dia begitu terkejut atau mungkin juga syok.
Putra menarik sudut bibirnya melihat ekspresi Gadis saat ini. Namun ada rasa senang lebih ke bahagia sepertinya dalam hati Putra, karena Gadis nampak tidak keberatan dengan ciumannya barusan yang meski singkat.
‘Sayang sekali tapi, aku hanya bisa mengecup bibirnya sebentar saja’ Batin Putra. “Apa rumahmu masih jauh dari sini?” Tanya Putra. “Gadis? .....”
“Ah! Eum...” Gadis terhenyak saat Putra menyentuh garis pipinya. “A – pa?”
Gadis tergagap.
“Apa rumahmu masih jauh?”
Gadis menggeleng kikuk.
“Be – belokan di depan. Sebelah kanan. Tidak jauh setelah itu”
Putra terkekeh kecil menyadari kegugupan Gadis yang kini nampak berusaha menghindar untuk bertatapan dengannya. “Kamu menggemaskan sekali”
‘Oh Tuhan .. jantungku’
__ADS_1
Gadis mencoba mengatur nafasnya yang terasa mulai sesak akibat syok atas ciuman dan pernyataan Putra barusan. Dan kini pria yang tadi dinilai Gadis begitu menyebalkan, malah membuat Gadis merasa malu dan berbunga – bunga disaat yang bersamaan.
Tadi bibir Putra menyentuh bibirnya. Lalu berkata kalau pria itu menganggap dirinya sebagai seorang kekasih, sembari menatap dan berkata dengan lembut di jarak wajah mereka yang tadi cukup dekat hingga Gadis dapat merasakan hembusan nafas Putra yang menguarkan juga aroma spearmint yang kiranya masih Gadis rasa juga ter - cecap masuk kemulutnya meski Putra hanya memberikan ciuman yang terbilang singkat namun begitu lembutnya Gadis rasakan.
Dan sekarang, yang membuat jantung Gadis semakin tak karuan, Putra mengatakan kalau dirinya begitu menggemaskan dan tangan Putra terulur sembari mengusap garis pipinya dengan senyuman tampan milik Putra, membuat Gadis makin merona.
**
“Bukankah ini tempat yang sama saat aku dan Danny serta Anthony mengantarkanmu ke rumah temanmu?”
‘Aduh!. Ingatannya kuat juga’
“Benar kan?”
“I – iyaa .....” Jawab Gadis dengan pelan sembari mengangguk takut – takut dengan melirik pada Putra.
Putra mendengus pelan. “Jadi sebenarnya ini adalah daerah rumahmu?”
“I – ya .....”
Putra kemudian memiringkan tubuhnya setelah ia mematikan mesin mobil dan melepas seatbelt yang mengikat tubuh bagian atasnya.
“Mengapa berbohong?”
“A – aku ..”
“Jadi sebenarnya ini daerah rumah temanmu, atau daerah rumahmu?”
“Rumahku ...” Sahut Gadis dengan suaranya yang masih terdengar pelan.
Putra menelisik Gadis yang masih duduk menghadap lurus dan belum membuka seatbelt yang masih mengikat tubuh bagian atasnya.
“Apa wajahku ini nampak jahat?”
“Tidak, bukan. Sama sekali tidak. Aku hanya ...”
“Sudahlah. Aku tanya sekali lagi, benar ini daerah rumahmu?”
Gadis mengangguk.
“Lihat aku jika aku sedang berbicara padamu”
Gadis menoleh ragu – ragu pada Putra sembari menggigit bibir bawahnya.
Lalu dengan cepat memundurkan tubuhnya kala Gadis melihat Putra bergerak untuk lebih mendekat.
“Ma – mau apa?...” Gadis tergagap karena kembali gugup. “Ja – jangan ...” Namun Putra terkekeh kecil melihat Gadis yang kini menutup mulut dengan satu punggung tangannya.
“Apa kamu tidak mau turun? ...”
“Eh? ...” Gadis terkesiap, karena ternyata Putra membukakan kaitan seatbelt Gadis.
“Atau memang kamu menginginkannya lagi, hem?” Goda Putra.
“Ti – tidak!...” Gadis menyanggah dengan cepat.
“Benarkah? ...”
“Be – benar!”
Gadis mendorong pelan agar Putra yang begitu dekatnya itu menjauh dengan menyentuh dada si Papa tampan yang nampak sedang tersenyum jahil itu.
“Kini sudah berani menyentuhku, hem?”
‘Oh Ya ampun!’ Gadis membatin gugup saat ia menyadari kalau tangannya kini sedang menempel di dada Putra.
“As I told you before, don’t ever impudently touch me without my permission ( Seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya, jangan pernah lancang menyentuhku tanpa seijinku )”
Gadis teringat ucapan Putra pada Dokter Ilse saat di Rumah Sakit tadi. “Ma – maaf .....”
Gadis hendak menarik tangannya dari dada Putra, namun Putra menahannya.
“Aku mengijinkannya”
“A – pa?.....” Tanya Gadis dengan tatapan bingung juga polos.
“Aku mengijinkanmu menyentuhku. Tidak hanya disini, tapi diseluruh tubuhku”
Deg!
‘Astaga aku serasa ingin loncat ke pangkuannya saat ini juga!’
**
Mengabaikan otak mesumnya yang tadi sempat membayangkan sesuatu yang nakal akibat ucapan Putra yang membuat hatinya tak menentu, kini Gadis sudah keluar dari mobil Putra dengan tergesa meninggalkan Putra yang terkekeh melihat tingkah Gadis yang nampak kikuk itu.
“Te – terima kasih! ...” Ucap Gadis setelah dia keluar dari Putra dari memposisikan dirinya di samping mobil Putra dimana Putra masih duduk di belakang kemudi sembari menatap Gadis dengan masih tersenyum. “Aku pergi dulu
....”
“Yang mana rumahmu?”
“Didalam sana”
“Heemm”
“Kan waktu itu pernah aku bilang, kalau mobil tidak bisa masuk karena jalanannya hanya bisa untuk lalu lalang orang dan motor saja”
“Heemm”
“Ya sudah kalau begitu, aku permisi dulu. Dan terima kasih sekali lagi”
“Hanya itu?”
“Maksudnya?”
“Tidakkah kamu seharusnya mencium kekasihmu ini sebelum pergi?”
**
To be continue.....
Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu update Novel receh emak ini.
Jangan lupa dukungannya ya ....
Loph Loph
__ADS_1