
Happy reading....
“.....”
“Aku tahu, Arthur. Kau sedang menyelidiki kami, sedikit lebih dalam”
Gluk!
“Benar seperti itu, bukan?”
“I... ( Aku ) ..” Arthur tergugu.
Arthur sedikit panik dan cemas sekarang, kala Putra mengajaknya melipir sedikit ke luar istal dan berbicara padanya itu.
Sementara Putra masih tersenyum tipis. Sambil tetap juga mata Putra tak beralih dari Arthur.
“Aku tahu Arthur, tentang rasa penasaranmu pada kami yang tidak sepenuhnya kau tunjukkan di hadapan kami. Hanya aku belum tahu betul apa tujuanmu lebih jauh”
Putra merogoh saku jaketnya. Membuat Arthur entah kenapa spontan mundur satu langkah. Arthur nampak waspada, mengingat Putra memiliki senjata api.
“Aku hanya ingin mengeluarkan rokokku .. tenang saja”
Putra berkata sembari menyungging tipis, setelah ia sempat melirik Arthur dan menyadari kewaspadaan pria itu saat Putra merogoh saku jaketnya.
“I’m sorry Sir.. I just... ( Maafkan aku Tuan ... Aku hanya )..”
“Just like what I have said to you ( Seperti yang pernah aku katakan padamu )” Sambar Putra. “Once me and my brothers put a trust in someone, better that person won’t dissapointed us ( Sekali aku dan saudara – saudaraku memberikan kepercayaan pada seseorang, sebaiknya orang itu tidak pernah mengecewakan kami )”
Putra memberikan penekanan pada ucapannya ke Arthur.
“Or you, will have the same fate with Baskoro ( Atau kau, akan mendapatkan nasib yang sama seperti Baskoro )”
“Once again I’m very sorry Sir.... ( Sekali lagi aku sungguh mohon maaf Tuan )....” Ucap Arthur.
Arthur nampak sedikit gugup saat ini. Tapi biar bagaimanapun ada hal yang harus dirinya luruskan pada Putra saat ini.
“If I become presumptuous in your eyes. I do, I get curious to all of you since the first time I met Danny and continue everything with him due all things about you, Mister Addison, Damian and Garret ....”
“( Jika dimatamu aku sepertinya lancang. Iya memang, aku penasaran pada kalian semua dari sejak pertama aku bertemu dengan Danny dan berlanjut berurusan dengannya karena ia banyak mengurus hal tentang anda, Tuan Addison, Damian dan Garret )....”
“.....”
“But really I don’t have any catch behind it. Except the things that we ever talk at first about mutualism symbiosis relation, out of it I’m just curious. You guys also make ‘new identity’, so I wonder ( Tetapi sungguh aku tidak memiliki maksud terselubung sama sekali. Selain tentang hubungan simbiosis mutualisme yang pernah kita bicarakan saat pertama, diluar itu hanya sekedar rasa penasaranku saja. Kalian juga kan membuat ‘identitas baru’, jadi aku hanya heran )”
Arthur memberikan penjelasan pada Putra yang ia anggap sedang menaruh curiga padanya itu.
“Heemm ..” Sahut Putra singkat.
“After I came and see you guys Mansion here, well I know, pretty sure that you guys are ‘something’.... especially after..... you know.. ( Setelah aku datang dan melihat Mansion kalian ini, yah aku tahu, setidaknya yakin jika kalian adalah ‘sesuatu’.. terutama setelah ... anda tahulah )..”
Maksud Arthur adalah dengan apa yang Putra dan tiga saudaranya lakukan pada pria bernama Baskoro dan Dalu berikut belasan anak buah dari dua pria tersebut serta pada tempat tinggal pria bernama Baskoro yang di bumi hanguskan berikut Baskoro dan belasan tukang pukul yang kesemuanya sudah dihabisi terlebih dahulu.
“Well, that if you trust to what I have just said to you ... ( Yah, itu jika anda percaya apa yang aku sudah katakan pada anda )..”
“If I don’t trust it? ( Jika aku tidak mempercayainya? )” Tanya Putra sembari menatap Arthur yang terdiam sejenak, dan menatap juga Putra.
Namun kemudian Arthur menarik sudut bibirnya. “Up to you, Sir ( Terserah pada anda, Tuan )” Jawab Arthur yang kini nampak tenang.
“Means? ( Maksudnya? )”
“Well, if you doubted me and think that I can become a threat for all of you, all I can say is feel free to do anything to me, even if you want to kill me.... ( Yah, jika anda memang meragukan ku dan berpikir jika aku bisa menjadi sebuah ancaman untuk kalian, aku hanya bisa katakan silahkan saja melakukan apapun padaku, meskipun kau ingin membunuhku ) ...”
“Hem, is that so? ( Seperti itukah? )” Tanya Putra.
“Ya, sure! ( Ya, tentu saja! )”
Arthur menjawab tanpa ragu.
“Well, Whoever all of you are, from your Mansion, and things that you all did in front my eyes, I can see now that you guys are ‘uncommon people’. People that should not be disturbed ...”
“( Yah, siapapun kalian, dari Mansion kalian ini, dan apa yang telah kalian lakukan di depan mata saya, saya bisa melihat jika kalian bukanlah ‘orang biasa’. Orang – orang yang tidak boleh diganggu ) ...”
“And now? ( Lalu sekarang? )”
“As I said, you may do anything to me if you think I’m harmful or maybe useless ... but if you still put your trust in me, then it would be a great honor for me to be around all of you... ( Seperti yang saya katakan, anda silahkan melakukan apapun pada saya jika kalian berpikir aku membahayakan atau mungkin tidak berguna... tetapi jika anda masih mau memberikan kepercayaan kalian pada saya, maka itu akan menjadi suatu kehormatan bagi saya untuk berada didekat kalian ) ..”
“Hem”
“I will make myself useful dan be someone that you guys can dependable ( Saya akan membuat diri saya berguna dan menjadi seseorang yang bisa kalian andalkan )”
Arthur berbicara dengan yakin dan serius.
__ADS_1
Putra menarik sudut bibirnya. “Prove it then! ( Buktikan kalau begitu! )”
Arthur sedang mencerna kalimat Putra barusan. “You mean.. You still to let me to be here around all of you? ( Maksud anda .. anda masih mengijinkan saya bersama dengan kalian? )”
“Hem”
“Really?! ( Benarkah?! )”
“Feel free to change your mind”
“( Bebas saja jika ingin berubah pikiran )”
“.....”
“Because if you still insist to stick with us, you might to make yourself get usual to see some kind of thing that you have seen ( Karena jika kau tetap bersikeras untuk bersama kami, kau mungkin saja harus membuat dirimu terbiasa untuk melihat hal seperti yang tadi kau lihat )”
“I will, Sir! ( Pasti, Tuan! )”
“Or maybe we will ask you to do the execute ( Atau mungkin juga kami akan memintamu yang melakukan eksekusi )”
Gluk!
**
“Te-terima kasih...”
Putra sudah kembali kedalam Istal dan pria bernama Dalu itu sudah selesai diobati oleh Bruna.
“Semua ini tidak gratis”
Jawaban Putra atas ucapan terima kasih Dalu padanya, yang merasakan dirinya jauh lebih baik kondisinya, meski sakit masih ia rasa.
Dalu mengangguk pelan. “Sa-saya paham ...”
Dalu juga menyahut dengan pelan dan memberanikan dirinya untuk menatap Putra yang kini sedang duduk dihadapannya.
“An-anda jangan khawatir, saya orang yang memegang janji saya” Ucap Dalu.
“Oh ya?” Sahut Putra datar. Dalu mengangguk yakin dan nampak pasti.
“Tentang apa yang anda, dan...”
Dalu menjeda kalimatnya sembari melirik sejenak pada Garret, Addison dan Damian.
Dalu kembali mengangguk.
“Jadi mereka setara denganku”
Lagi, Dalu mengangguk.
“Tentang apa yang anda dan tiga saudara lelaki anda lakukan pada Baskoro, seperti janji saya, saya akan menyimpan ini rapat-rapat” Sambung Dalu.
“Apa ada orang lain yang tahu kau menemuinya malam ini?”
“Kebetulan tidak” Sahut Dalu cepat. “Saya dan Baskoro menjalin kerjasama ...”
“Kotor?”
Dalu terdiam sejenak.
“Aku tidak perduli soal itu”
“.....”
“Bagaimana kau mencari uang aku tidak mau perduli ...”
“.....”
“Aku hanya perduli untuk apa yang menjadi tujuanku dan keluargaku”
Dalu mengangguk lagi. “Baiklah Tuan, saya hargai itu ...” Ucapnya kemudian.
“Sebelumnya saya minta maaf jika telah menyinggung anda ataupun saudara lelaki anda ini... itu untuk yang pertama dan terakhir kalinya”
“Sebaiknya kau pastikan itu”
“Pasti! Pasti Tuan!”
Dalu mengangguk cepat.
“Lalu bagaimana caramu membayarku karena aku mengampuni nyawamu, bahkan jari-jarimu?”
__ADS_1
“.....”
“Tanganmu yang kupatahkan anggap saja sebagai bayaran karena kau berani dengan sembarangan menyentuhku. Sementara peluru yang tadi ku tanamkan di kakimu adalah salam perkenalanku”
“Ti-tidak masalah. Memang salah saya. Tapi anda telah menyuruh orang untuk mengobati tangan dan kaki saya. Maaf, wanita ini, dia ...”
“Dia saudariku” Ucap Putra.
Kembali, Dalu mengangguk.
“Jadi bagaimana kau akan membayarku? Meyakinkanku agar tak menyesal jika aku tidak menghabisimu?” Tanya Putra. “Aku memang memberikanmu kesempatan, tapi jika jawabanmu tidak memuaskanku, meskipun tidak ada untungnya bagiku, aku akan menghabisimu. Tidak perduli siapapun diri dan statusmu di luar sana. Karena di mataku kau bukan siapa-siapa”
“Sa-saya mengerti”
“Jadi katakan penawaranmu”
Putra mengeluarkan senjata apinya.
“Masih ada satu peluru”
Putra membuka dan mengecek selongsong dalam senjata api miliknya.
“Tapi cukup untuk membuatmu bergabung dengan Baskoro dan anak buah kalian, jika satu peluru ini aku tanamkan di kepalamu”
Dalu meneguk kasar salivanya. Meski Putra berbicara dengan nada suara yang biasa, dan senjata api itu hanya dipegangnya saja tanpa diacungkan kearah Dalu, tetap saja Dalu merasa was-was dan takut.
“Jawab dengan cepat, karena aku sudah merasa lapar, dan aku yakin para saudara lelakiku ini pun sama”
Dalu berpikir cepat. Ia pun ingat apa yang tadi ia janjikan pada Putra.
“Dan jangan memalingkan wajahmu jika sedang berbicara padaku”
“Se-seperti yang tadi saya katakan, anggap saja saya ini sekarang bekerja untuk Tuan dan saudara-saudara Tuan ini. Saya akan senantiasa membantu setiap urusan anda dan keluarga anda kedepannya”
Dalu berbicara dengan menatap pada Putra, seperti apa yang Putra perintahkan barusan.
Dan Putra memperhatikan raut wajah Dalu baik-baik, karena Putra bisa membaca gelagat seseorang dari cara seseorang berbicara padanya juga dari sorot mata orang tersebut.
Satu kelebihan lain, dari beberapa kelebihan yang Putra punya. “Jaminanmu?”
Pertanyaan Putra membuat Dalu sedikit terhenyak.
“Apa jaminanmu, untuk penawaran yang kau berikan padaku itu?”
“Ah itu ...” Dalu hendak memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya.
Namun terhenti karena Damian menodongkan senjata api padanya yang langsung diturunkan oleh Addison.
“He’s clean ( Dia bersih )” Ucap Addison.
Dalu mengangkat tangannya. “Aku hanya ingin mengambil dompetku”
Dalu berkata dengan gugup sembari menoleh pada Damian dan Addison, lalu menoleh pada Putra. Putra menggerakkan dagunya. Dalu meneruskan untuk merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan sebuah dompet dari sana.
“Ini... kartu nama saya”
Putra menerima sebuah kartu nama yang disodorkan Dalu padanya.
“Ini jaminan saya” Ucap Dalu saat Putra langsung membaca setiap tulisan dalam kartu nama tersebut.
“Bagaimana ini menjadi jaminan jika aku membiarkanmu melenggang dari sini tanpa ragu dan kau memegang kata-katamu?”
“Disitu tertulis nama instansi tempat saya bernaung berikut alamatnya. Anggaplah jika saya macam-macam dan berkhianat pada kalian, kalian bisa mencari saya disana”
Putra manggut-manggut. “Arthur” Panggil Putra pada pria tersebut yang langsung mendekati Putra.
Putra menyodorkan kartu nama milik Dalu yang pria itu berikan padanya.
“Find out the validity of this name card ( Cari tahu keabsahan tentang kartu nama ini )”
“Okay” Sahut Arthur cepat.
“Find out now, using our phone at our workroom ( Cari tahu sekarang, gunakan telepon di ruang kerja kami )”
Arthur mengangguk.
“Sekaligus cari informasi tempat tinggal, berikut keluarganya”
Putra berbicara sembari melemparkan tatapan dingin pada Dalu menyampaikan satu arti dari kata-kata dan tatapannya itu.
“Karena jika dia macam-macam, tidak hanya dirinya, tetapi juga keluarganya yang harus membayar”
__ADS_1
**
To be continue ........