
Happy reading..
“Kamu lapar tidak?....” Tanya Putra pada Gadis.
Putra dan Gadis yang ditemani Arthur dan Ray baru saja menyelesaikan transaksi mereka di sebuah Toko Makanan Manis.
“Sedikit....”
Mereka sudah sampai di salah satu kota yang berada di bagian barat pula Jawa. Kota dimana Villa milik Putra dan keluarganya berada, namun masih harus menempuh jarak beberapa kilometer lagi dari Pusat Kota untuk sampai ke Villa milik Putra dan keluarganya tersebut.
“Ar, kita ke Resto saja terlebih dahulu setelah dari sini”
Putra berbicara pada Arthur yang juga membeli coklat, untuk dirinya hadiahkan pada Anthony selain juga mainan yang dia sudah belikan di toko yang sama, tempat Putra membeli beragam mainan yang kemudian dibungkus kado untuk Anthony.
“Okay” Jawab Arthur seraya mengangguk pelan. Sementara Ray yang baru saja keluar dari Toko Makanan Manis
yang disambangi tiga majikannya itu langsung menghampiri ketiganya setelah semua barang yang dibeli Tuannya sudah dikemas rapih oleh para petugas Toko dan kemudian Ray yang membawakannya.
***
“Putra, aku ingin ke toliet dulu ya? ....” Ucap Gadis saat Ray sudah nampak keluar dari Toko Makanan Manis
dibelakang dirinya, Putra dan Arthur berdiri.
“Apakah sangat ingin? ....” Tanya Putra.
“Sangat ingin sih tidak, tapi daripada repot saat di tengah perjalanan nanti, ya lebih baik sekarang saja”
“Tapi memangnya ada toilet disini?” Tanya Putra lagi sembari celingukan.
“Pasti ada toilet umum disini....” Jawab Gadis.
“Toilet umum? ....” Potong Putra dan Gadis langsung mengangguk. “Berarti bebas digunakan oleh semua orang?”
“Iya ....”
“Ah, Tidak! Tidak! .... Jangan! Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan toilet seperti itu! Sudah pasti tidak
higienis!”
“Ih apa sih?! Ya namanya juga toilet!”
“Kamu belum sangat ingin bukan?” Sambar Putra.
“Ya memang belum....”
“Ya sudah nanti saja....” Sambar Putra lagi. “Aku yakin toilet disini sangat kotor .... Jadi lebih baik cari tempat lain saja”
Gadis geleng-geleng mendengar ucapan Putra.
“Tuan Putra benar, Nona Gadis....” Sela Arthur. “Lebih baik di toilet Resto yang akan kita singgahi saja setelah dari sini”
Gadis mendengus pelan.
“Ya sudah, ya sudah!....”
Lalu Gadis memutar bola matanya malas.
“Ayo kalau begitu!” Ajak Gadis dan Putra langsung mengangguk.
****
“Eh Putra ....”
“Ada apa?”
“Mampir kesitu sebentar, boleh?”
Gadis menunjuk sebuah Toko yang menjual jajanan pasar.
‘Bukankah dia ingin ke toilet tadi?’
“Boleh ya? Aku ingin membeli beberapa kue tradisional. Ya?”
“Bukankah kamu ingin segera ke toilet, Gadis?” Tukas Putra.
“Sebentar saja. Aku masih bisa tahan kok. Kan belum terlalu ingin tadi aku bilang.... Lagipula aku yakin kamu
belum mencoba banyak jenis kue tradisional disini, jadi kamu harus coba. Banyak yang enak kok!. Ya? Boleh ya?”
“Ya, ya terserah kamu sajalah” Putra mendengus sembari geleng-geleng pelan mendengar cerocosan Gadis itu lalu, lalu Putra mengiyakan. Dan Gadis langsung menunjukkan deretan giginya pada Putra yang nampak pasrah itu.
“Nah, begitu dong ....”
“Women! .... ( Dasar wanita ) ....”
Namun baru saja Gadis hendak melangkah menuju Toko Jajanan Tradisional yang ia tunjuk tadi, tiba-tiba tubuhnya terhuyung dengan keras, namun untungnya tubuh Gadis segera dipegang Putra.
Brug!.
“Ah!”
Gadis yang sedikit terkejut itupun langsung memekik kecil.
“Hey!”
Sementara Putra langsung berteriak pada orang yang menubruk tubuh bagian belakang Gadis, yang ternyata adalah seorang wanita.
“Eh, maaf, maaf”
Wanita yang menubruk Gadis itu segera meminta maaf, namun setelahnya ia nampak tertegun sembari memandang Putra dengan raut kekaguman serta ketertarikan.
“Anda tidak apa-apa, Nona?” Arthur ikut bertanya pada Gadis yang langsung mengangguk padanya.
“Dimana kau taruh matamu?!” Seru Putra pada wanita yang menabrak Gadis dengan cukup keras itu.
“Maaf, maaf. Saya buru-buru jadi kurang memperhatikan jalanan”
Deg!.
“Kamu tidak apa-apa?”
Gadis mengangguk pelan.
“Benar?”
Gadis pun mengangguk lagi, namun tak menyahut.
“Mba, engga apa-apa kan?....” Wanita yang menabrak Gadis itu kemudian berbicara pada Gadis, namun sembari
juga ia mencuri-curi pandang pada Putra.
Seperti halnya pada Putra, Gadis hanya menjawab dengan anggukan, dan masih dalam posisinya yang seolah membeku.
“Ya sudah....”
__ADS_1
Putra mengelus-elus pelan punggung Gadis.
“Istriku tidak apa-apa!....”
Putra kemudian beralih pada si wanita yang menabrak Gadis.
“Kau boleh pergi sekarang!”
Namun wanita itu masih nampak bergeming di tempatnya seraya memandangi Putra.
“Apa kau tuli?!”
Putra menegur wanita yang menubruk Gadis itu dengan sedikit sarkas, hingga wanita yang nampak tertegun
sembari memandangi wajah Putra itu kemudian langsung terkesiap.
“Eh! I-iya....”
Putra juga menampakkan raut wajahnya yang dingin pada wanita itu.
“Saya permisi kalau begitu”
Wanita itu melemparkan senyumnya pada Putra.
“Sekali lagi saya minta maaf” Ucap wanita itu lagi.
Namun Putra nampak acuh.
“Oh iya, sepertinya anda pendatang ya? Kenalkan, saya Madya”
Deg!.
Wanita itu mengulurkan tangannya pada Putra.
“Aku minta kau pergi bukan bertanya tentang namamu!” Sarkas Putra lagi.
Dan wajah wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Madya itu nampak kecewa.
Cantik memang orangnya, nampak terawat juga.
Namun di mata Putra tidak ada yang mengalahkan kecantikan Gadis-nya.
Dan memang seperti itu kenyataannya juga.
Meski wanita bernama Madya itu cantik, namun memang Gadis jauh lebih cantik daripada wanita itu yang wajahnya
terpoles riasan wajah.
Dibandingkan dengan Gadis yang saat ini tidak menggunakan riasan apapun di wajahnya, tetap wanita itu kalah
dari Gadis.
“Mengapa masih berdiri dihadapanku?!” Putra mendelik pada wanita bernama Madya itu. “Apa kakimu tiba-tiba lumpuh?!”
“I-iya, saya permisi” Pamit Madya yang langsung memundurkan kakinya dan menjauh dari hadapan Putra yang tidak menunjukkan keramahan sama sekali padanya.
“Apa kamu masih ingin ke Toko yang kamu tunjuk tadi?....”
Putra bertanya pada Gadis yang nampak sedikit tegang itu, bersamaan saat Madya sudah berbalik badan.
“Tidak usah....”
Sementara Putra dan Gadis sedang berbicara, wanita bernama Madya itu menghentikan langkahnya, lalu memiringkan tubuh serta wajahnya menatap ke arah Putra dan Gadis yang suaranya masih bisa ia dengar, karena dirinya juga berjalan pelan.
Mungkin Madya berpikir disela harapnya jika Putra akan berubah pikiran lalu mau berkenalan dengannya.
“Tunggu!” Terdengar suara yang sepertinya tertuju pada Putra dan rombongan.
*Deg!. **Deg!.*
Jantung Gadis yang seolah tadi berhenti sejenak kini mulai berdegup kencang.
‘Jangan sampai dia mengenaliku Tuhan....’ Batin Gadis.
“Tunggu sebentar!”
Wanita yang bernama Madya itu mulai terdengar mendekat lagi.
“Hei!”
“Bosku sudah menyuruhmu pergi, bukan?”
Arthur menahan wanita yang bernama Madya itu.
‘Syukurlah ...’
Hati Gadis merasa lega, karena Putra mengabaikan wanita yang bernama Madya itu yang sepertinya ingin mendekat lagi.
“Iya, itu aku ....”
“Jika Bosku sudah memintamu pergi, maka menjauhlah”
“Itu aku hanya ingin bertanya saja ....”
“Bosku tidak mengenalmu, jadi simpan pertanyaanmu itu”
“Itu wanita yang bersama Bos anda itu ....” Wanita bernama Madya itu hendak bertanya.
“Bukan urusanmu”
Arthur langsung memotong ucapan wanita bernama Madya.
“Menjauhlah!”
*****
Mobil yang ditumpangi Putra dan Gadis berikut Arthur, serta seorang anak buah yang menyetir sudah melaju untuk
keluar dari area parkir tempat yang mereka sambangi itu.
“Benar kamu tidak apa-apa Gadis?..” Ucap Putra seraya bertanya.
‘Ah ya Tuhan! Mengapa aku sampai lupa kota ini sih?! Memang benar jika Putra bilang kamu ini bodoh! Masa lupa
dengan daerah yang bertahun-tahun kamu tinggali sejak lahir?! Meskipun kampung halamanmu letaknya puluhan kilometer letaknya dari sini!’
“Gadis? ..” Panggil Putra, karena Gadis nampak sedang melamun hingga tidak menjawab pertanyaan Putra sebelumnya. “Gadis..”
Barulah Gadis yang nampak melamun itu terkesiap saat Putra menyentuh pelan pipinya. “Ah, iya? ..” Gadis sontak
menoleh pada Putra.
“Ada apa?”
Putra memperhatikan wajah Gadis.
__ADS_1
“Kamu nampak aneh”
Gluk!.
“Benar, tidak ada yang kamu rasa sakit?..”
“Ti-dak kok. Benar aku tidak apa-apa..”
“Coba aku periksa punggungmu” Ucap Putra.
Gadis segera mendelik pada Putra. ‘Apa dia sudah gila?!..’
Gadis pun membatin.
“Aa .... tidak perlu!”
Gadis dengan segera tangan Putra yang hendak terulur ke arah punggungnya.
“Aku perlu memeriksa punggungmu Gadis. Wanita itu tadi menabrak mu cukup keras”
“Iya tapi..”
“Sudah, biarkan aku memeriksa punggungmu”
“Putra!”
Gadis berseru namun menekan suaranya sembari memberikan tatapan yang Putra kurang paham maksudnya.
“Kenapa?” Tanya Putra.
“Apa kamu sudah gila?. Ada Tuan Arthur dan Pak Ray di mobil ini. Masa kamu mau membuka bajuku dan memeriksa punggungku?!..” Seru Gadis seraya melayangkan protes.
“Hahahahaha!!!! ..”
Tawa Putra seketika pecah selepas Gadis menyelesaikan cerocosannya dengan berbisik tajam pada Putra itu.
“Malah tertawa!”
“Tentu saja aku tertawa!”
Putra melanjutkan tawanya, sementara Gadis sudah mencebik.
“Hei, Gadis m*sum!”
Gadis sontak kembali mendelikkan matanya pada Putra.
“Enak saja mengatai aku m*sum. Kamu itu yang m*sum Tuan Putra!”
“Memang kamu m*sum” Tukas Putra.
Putra masih terkekeh.
“Otakmu ini kemana berpikirnya, hem? ..”
Putra mengusap-usap kepala Gadis dengan gemas sembari dirinya masih terkekeh kecil.
Gadis melirik dengan tatapan sebal pada Putra.
“Memangnya aku gila membuka bajumu di dalam mobil terlebih ada dua pria lain bersama kita saat ini? ..”
Dan Gadis pun seketika menoleh. “Tadi kamu bilang mau memeriksa punggungku kan?” Tukas Gadis dan Putra masih saja terkekeh kecil.
“Memang..”
“Nah, berarti memang kamu berniat untuk membuka bajuku kan?!”
“Hah Gadis .. Gadis ..” Putra geleng-geleng sembari perlahan menghentikan kekehehannya.
“.......”
“Aku ini hanya ingin mengusap punggungmu saja. Jika punggungmu terasa sakit saat aku sentuh, aku akan
membawamu ke Rumah Sakit. Tidak perlu sampai aku harus membuka bajumu saat ini”
“Oh.. itu maksudmu..” Gadis jadi malu karena sudah berpikir macam-macam itu. Putra terdengar terkekeh kecil lagi.
“Jadi, siapa yang m*sum, hem? ..”
Putra melempar tatapan jahil pada Gadis yang wajahnya mulai memerah karena malu.
“Sejak ‘lorong bersegel’ mu aku tembus, sepertinya kamu menjadi seorang Gadis m*sum..”
Dan Gadis sontak melongo mendengar ucapan Putra barusan, yang orangnya nampak santai saja itu.
Sementara dua orang didepan, menahan diri untuk tidak terbatuk mendengar ucapan Putra yang tanpa tedeng
aling-aling itu.
“Ta-han-su-a-ra-mu..”
Begitu mulut Arthur bergerak sembari ia bersandar miring menatap pada Ray tanpa suara.
Hanya gerakan bibirnya saja untuk memperingatkan Ray agar tidak terbatuk apalagi tertawa.
Ray mengangguk pelan pada Arthur yang sedang bersandar miring di pintu mobil disisinya.
Padahal Arthur sudah merasakan rasa yang menggelitik di dalam perutnya. Meskipun andai ia tertawa, itu bukan
karena mentertawakan orang yang mempekerjakan nya, tetap saja Arthur merasa tak enak jika tertawa.
Selain merasa sungkan pada calon istri salah satu Bos besarnya, dimana wajah calon istri salah satu Bos besarnya
itu sudah kian memerah bak kepiting rebus akibat ucapan Bos Putra soal lorong bersegel milik sang calon istri, Arthur pun masih sedikit sungkan untuk menimpali candaan Putra jika tidak diminta.
Seyogyanya, Arthur masih menjaga jaraknya dengan Putra. Tahu dimana posisinya yang belum lama bergabung bersama Putra dan saudara-saudaranya.
Belum bisa seperti Danny yang nampak sudah sangat akrab dengan empat pria dalam klan keluarga Putra. Meskipun Putra sendiri, di mata Arthur, tidak semenyeramkan dari kesan saat melihatnya di rumah pria bernama Baskoro.
Dan meski wajah Putra nampak dingin dan datar selalunya, Putra tidak se-angkuh yang Arthur kira sebelumnya.
Jadi saat ini, Arthur sedang menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara atas candaan Putra pada calon istrinya tersebut yang dirasa sangat gamblang dan cukup menggelikan.
‘Lorong bersegel ...’ Batin Arthur sembari meluruskan lagi duduknya. ‘Pfft.. Ada-ada saja Tuan Putra ini..’ Iapun geleng-geleng sembari sedikit mesam-mesem.
“Ada apa Ar?”
Arthur seketika terkesiap, karena Putra ternyata sudah memajukan duduknya dan menatap Arthur.
“Kenapa kau geleng-geleng?”
“Ah! My neck! A little bit crick!. ( Itu leherku! Sedikit pegal! )”
*****
To be continue ....
__ADS_1
Hola reader othor ter blaem-blaem.
Othor cuma mo bilang ma kasih buat kalian yang masih setia membaca karya ini.