
Happy reading...
****
Author's POV
Leicester, England...
Apa yang terjadi pada sebuah Mansion mewah di sebuah kota yang terletak di Britania Raya bagian tengah, Inggris ini sebenarnya diluar rencana, bahkan tidak terduga.
Bahkan Damian, si pemilik Mansion tersebut-yang mana tempat itu adalah tempat tinggalnya sejak kecil bersama tiga anggota keluarganya yang lain, tidak berencana untuk datang ke kota tersebut dan mengunjungi tempat tinggalnya itu, walau hanya sekedar lewat.
Tidak untuk sekarang tepatnya, tapi nanti jika urusan dengan Jaeden telah selesai.
Nanti setelah Putra menghabisi laki-laki itu serta para sekutunya, yang akan ikut Damian lenyapkan bersama Garret, Devoss dan orang-orang mereka.
Barulah Damian berencana akan mengunjungi Mansion milik keluarganya itu, yang sejak Damian dewasa sudah jarang Damian kunjungi, karena dirinya memilih untuk tinggal di London sebagai domisili utamanya.
Menjalankan satu dari dua bisnis turun temurun keluarganya. Meski sering juga Damian tinggal di kota-kota yang berada di Inggris lainnya untuk berbisnis.
Jadi Damian sudah cukup jarang untuk tinggal di Mansion keluarganya itu.
Ditambah, Damian adalah seorang ‘Don Juan’. Yang waktunya tak hanya ia gunakan untuk berbisnis, tapi juga untuk berpetualang bersama wanita-wanita cantik dan seksi yang ia temui, untuk kemudian Damian giring untuk berbagi kehangatan dan peluh kenikmatan di atas ranjang.
Dan pada saat kekacauan di dalam keluarga Rery terjadi, Damian memang tidak berada dekat, jadi ia tidak tahu dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi kala itu.
Hingga pada suatu hari, ayah Damian memanggilnya untuk kembali ke Leicester, lalu menyuruhnya pergi ke Ravenna untuk menyusul Rery.
Itupun dilakukan secara diam-diam oleh Damian dan ayahnya, berikut kakak lelakinya.
Bahkan perintah sang ayah kala itu pada Damian untuk pergi menemui Rery di Ravenna dan memberikan titipan sang ayah untuk Rery itu, dijelaskan dalam sebuah surat.
Terakhir, setelahnya, Damian mendapat kabar jika ayahnya telah tewas. Yang sudah Damian terka jika sang ayah pasti tewas karena dibunuh. Mengingat almarhum ayahnya itu, sangat menyayangi Rery dan begitu setia pada keluarga Rery.
Lalu sang kakak lelaki Damian yang katanya menghilang saat ayahnya tewas, hingga dijadikan alibi sebagai pembunuh sang ayah, dan tak lama kemudian ditemukan tewas juga yang Damian dapat informasi dari rumor yang beredar, jika kakak lelakinya itulah yang membunuh ayah mereka.
Namun rumor itu tidak Damian percaya, karena ia kenal betul bagaimana sikap kakak lelakinya itu pada sang ayah.
Damian sudah menduga jika kakaknya hanya dijadikan kambing hitam saja. Walaupun kakak lelaki kandungnya itu, pada akhirnya dihabisi juga.
Yang informasi detailnya, telah Damian dengar dari mulut Locko dan ayahnya yang mana keduanya-termasuk tiga anggota keluarga kedua pria itu, sudah tewas ditangan Damian dan rombongannya.
Dan karena ketidak-sengajaan melihat Locko itulah, hingga akhirnya Damian tanpa rencana ‘mampir’ ke Mansion keluarganya tersebut.
Yang Damian pikir telah dikuasai Jaeden, dan kemungkinan telah dijual oleh pria itu. Karena hanya informasi kematian ayahnya, serta kakaknya yang menghilanglah, yang terakhir Damian tahu.
Sebelum Putra mengajaknya ke negeri yang menjadi tempat tinggal mereka sejak pergi dari Ravenna. Lalu kabar jika kakaknya ditemukan tewas-yang katanya bunuh diri, pada sebuah Hotel di sebuah Kota lain di Inggris, baru Damian dengar dari Hiz.
Selain, almarhum kakak kandung Damian itu telah dinyatakan sebagai tersangka pembunuh ayah mereka. Yang Damian duga dengan kuat, jika kakak lelakinya itu hanyalah dijadikan ‘kambing hitam’ saja oleh pelaku yang sebenarnya.
Damian bertambah geram memang, setelah tahu sang ayah dibunuh, lalu menyusul kakaknya yang juga tewas dan dijadikan ‘kambing hitam’ atas kematian ayah mereka.
Namun Damian harus menahan geram itu, sampai tujuan utama dirinya dan Putra serta mereka yang tersisa dari ‘keluarga’ mereka di Ravenna benar-benar selesai.
Setidaknya, Damian sudah tahu jika almarhum ayah dan kakak lelakinya, masih dimakamkan dengan layak, walaupun hanya sebagai sebuah alibi pencitraan didepan publik yang mengenal mereka.
Well, mungkin Damian harus berterima kasih pada Putra, sampai pada akhirnya dia ‘mampir’ ke Mansion keluarganya lalu mengetahui semua detail yang terjadi pada keluarganya itu, yang tetap berhubungan dengan Jaeden.
Karena atas firasat secara tidak langsung salah seorang saudaranya itu, yang dia dan lainnya anggap sebagai pemimpin-karena memang Putra sangat layak dijadikan sebagai seorang pemimpin, mengingat betapa kuat instingnya, walau hanya samar saja.
Dalam hal ini, Putra yang tadinya berencana untuk menemui rekan mereka yang juga setia pada Rery di London, meminta untuk melipir dulu ke Newcastle.
Yang pada akhirnya, membawa mereka melihat Locko-seorang pria yang Damian kenal dengan cukup baik sebagai orang kepercayaan keluarganya, sedang menggunakan mobil kesayangan almarhum ayah Damian.
__ADS_1
Yang semasa ayahnya itu hidup tidak memperbolehkan siapapun menggunakannya kecuali dirinya dan almarhum sang istri yang telah lebih dulu meninggalkan dunia, kala Damian masih remaja. Hingga rentetan fakta yang membuat Damian begitu geram, ia temukan dan ketahui.
Berakhir, dengan sang Casanova yang biasanya flamboyan dan humble itu, pada akhirnya membantai satu keluarga yang mengkhianati keluarganya tersebut tanpa belas kasihan.
Author's POV off
****
“Burn this place ( Bakar tempat ini )”
Damian bersuara, memberi titah pada siapa saja yang bersamanya untuk membakar tempat tinggal keluarganya itu, sebelum mereka keluar dari sana.
Setelah sebelumnya, Damian dan rombongan menggeledah setiap ruangan dalam mansion tersebut tanpa terkecuali. Guna menemukan sesuatu yang kiranya dianggap perlu dan penting, terutama bagi Damian sendiri.
Sehubungan karena mansion tersebut adalah mansion milik keluarganya, dan Damian sendiri memang pernah lama tinggal disana - dan masih sesekali datang menginap saat kondisi masih dirasa baik-baik saja, jadi Damian menggeledah ruangan-ruangan yang dirasa penting untuk dirinya.
Dimana ada juga jejak dan bukti kenangan yang ingin ia bawa dari sana.
Yang kemudian sebagian Damian pilah-pilih untuk ia ambil dan bawa sebagai kenang-kenangan, sebelum mansion milik keluarganya itu dibakar sesuai keinginan Damian yang rasanya tidak sudi lagi menempati mansion tersebut setelah ditempati oleh satu keluarga yang berkhianat pada keluarganya tersebut, meskipun Damian memiliki banyak sekali kenangan di mansion keluarganya itu.
Tiga orang anak buah menggeledah lantai bawah, sementara ke empat Tuan memeriksa lantai atas.
Sementara dua orang anak buah lainnya, berjaga di bagian depan mansion, sebagai kamuflase seandainya ada yang melintas, agar kedua orang tersebut adalah penjaga bangunan yang didalamnya, katakanlah baru saja terjadi pembantaian satu keluarga yang sebenarnya telah merampas mansion tersebut dari pemilik aslinya.
Sementara itu, Putra, Garret dan Devoss, memeriksa beberapa ruangan lain, terutama kamar-kamar yang ditempati oleh Locko dan keluarganya, serta menggeledahnya. Pemeriksaan dan penggeledahan Damian di mansionnya sendiri beserta rombongannya itu serta merta juga sambil menunggu hari lebih gelap untuk keluar dan meninggalkan mansion milik keluarga Damian tersebut.
Karena dimusim dingin seperti sekarang ini, orang-orang akan memilih untuk tinggal di rumah mereka jika hari telah gelap.
Jadi Damian dan rombongan lebih leluasa untuk keluar dari mansion tersebut, tanpa ada resiko berpapasan dengan orang lain yang mungkin mengenali Damian.
Atau juga, mewaspadai agar tidak ada yang melihat bahkan tahu, jika Damian dan rombongan telah mengunjungi mansion tersebut.
Meskipun juga, daerah tempat mansion milik keluarga Damian itu berdiri, adalah daerah yang minim penghuni.
Dalam artian tidak banyak tempat tinggal yang ada di lingkungan tersebut.
Namun tetap saja, Damian dan rombongan merasa harus tetap waspada.
Jadi hal sekecil apapun mengenai resiko yang kiranya dapat menghambat pergerakan mereka ke depannya, tetap harus diperhatikan.
***
“Burn this place ( Bakar tempat ini )”
Damian memberi titah pada siapa saja yang bersamanya untuk membakar tempat tinggal keluarganya itu, sebelum mereka keluar dari sana dan langsung masuk mobil untuk meninggalkan tempat tersebut.
“Are you sure ( Apa kau yakin ), Dam? ....” Putra sontak bertanya pada Damian.
Damian mengangguk.
“Yes I’m sure ( Iya aku yakin )”
Samar Damian menjawab Putra.
“Beside, we need to clear all risk right? ( Lagipula, kita harus membersihkan segala resiko bukan? )”
Damian berucap lagi dengan suara yang datar, meski ia tersenyum tipis pada Putra.
“If you say so then ( Jika kau berkata begitu )”
Putra pun langsung merespon keinginan Damian itu, tanpa lagi mengulang untuk lagi mempertanyakan keinginan Damian untuk membakar mansion milik keluarganya tersebut.
“I’ll buy you a new one\, after that m*therfuck*r is dead ( Akan aku belikan kau yang baru, setelah si keparat itu mati )----“
__ADS_1
Putra menepuk-nepuk punggung Damian.
“Don’t be sad hem? ( Jangan bersedih ya? ) –“
Putra mengulum senyumnya.
Dan Damian pun akhirnya terkekeh, setelah tadi wajahnya begitu ketat dan dingin.
Putra, Garret dan Devoss juga ikut terkekeh akhirnya melihat kini wajah Damian sudah nampak hampir kembali seperti biasa.
“You all may wait inside the car Sir. Let me, Stan and Jules will do as Mister Damian said ( Kalian semua silahkan tunggu di mobil saja Tuan. biar aku, Stan dan Jules yang melakukan seperti apa yang Tuan Damian katakan )”
Richard bersuara.
“If it’s still there, there’s fuel drum at the store house behind ( Jika memang masih di tempatnya, ada tong bahan bakar di gudang belakang )” ucap Damian.
“Yes Sir.”
“If not, just blow this place through the gas at kitchen ( Jika tidak ada, ledakkan saja tempat ini melalui gas yang ada di dapur )”
Richard, Stan dan Jules kemudian mengangguk setelah mendengar arahan Damian barusan. “Alright Sir.” Sahut ketiganya pada Damian. "We get it ( Kami mengerti )"
“How about them Sir? ( Bagaimana dengan mereka Tuan? )” tanya Jules.
“Let them in their place ( Biarkan saja mereka di tempatnya )” jawab Damian.
“Yes Sir.”
Jules kembali mengangguk, begitu juga Richard dan Stan.
Setelahnya mereka bergegas pergi dari hadapan ke empat Tuan.
Lalu Damian, Putra, Garret dan Devoss, berjalan menuju mobil masing-masing yang mereka tumpangi saat datang, sambil menunggu ketiga anak buah mereka itu menyelesaikan tugasnya.
****
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, saat masing-masing anak buah Putra dan tiga lainnya kembali memasuki mobil masing-masing dengan sangat cepat, lalu melesatkan mobil juga dengan cepatnya untuk segera menjauh dari Mansion milik keluarga Damian itu tanpa lagi memperdulikan untuk menutup kembali gerbangnya. Anak buah dari Putra, Damian, Garret dan Devoss yang bertugas mengemudikan mobil hanya memikirkan untuk segera menjauh dari mansion tersebut.
“We can’t find any fuel at the back store house Sir ( Kami tidak dapat menemukan bahan bakar apapun di gudang belakang Tuan )---“ ucap Jules pada Damian dan Putra. “So we go on with the gas at the kitchen ( Jadi kami menggunakan gas di dapur )”
Jules melanjutkan ucapannya.
Dan dua Tuan Jules yang berparas tampan itu hanya manggut-manggut.
Pasalnya sejak Jules dan tiga lainnya melesat dengan cepat dari dalam mansion-lalu bergegas juga membawa mobil yang ditumpangi para Tuan dan satu mobil yang ditumpangi oleh dua rekan Jules yang lain, Putra dan Damian telah menduga hal tersebut.
Bahwasanya ke empat anak buah mereka itu melesat cepat dari mansion dan juga segera membawa mobil keluar dari pekarangan depan mansion milik keluarga Damian tersebut, pastilah anak buah mereka itu akan menghancurkan mansion tersebut menggunakan gas pada tabung yang berada di dapur, seperti yang Damian katakan tadi.
BOOM!!!.
Tak berapa lama, suara ledakan terdengar begitu keras di belakang ketiga mobil yang sudah dilajukan menjauh dari mansion milik keluarga Damian tersebut.
Bersamaan dengan bumbungan besar dan tebal berwarna oranye bercampur kemerahan, serta kepulan asap hitam yang menghiasinya yang muncul setelah suara ledakan yang cukup menggelegar itu terdengar.
Damian dan Putra menengok sebentar ke arah belakang jendela mobil untuk melihat, walau dari kejauhan, di dalam mobil yang dilajukan oleh Jules.
“Now let’s continue to ‘hunt’ ( Sekarang mari kita lanjutkan untuk ‘berburu’ )”
Putra berucap penuh arti.
“Ya, but before that, I think we need to sit and get some drink ( Iya, tapi sebelum itu, aku rasa kita perlu bersantai sejenak saja untuk sekedar minum )...” cetus Damian.
“Let’s meet Hiz then ( Ayo kita temui Hiz kalau begitu )” tukas Putra dan Damian pun mengangguk. “And let’s go to the Casino after to make it bankrupt before we blow it away too ( Lalu setelahnya kita pergi ke Kasino untuk membuatnya bangkrut sebelum kita meledakkannya juga )”
__ADS_1
****
To be continue....