
Happy reading ...
“Ar, aku tidak ingin ada orang lain selain aku dan dia” Ucap Putra pada Arthur dengan bahasa Indonesia.
“Baik Tuan” Sahut Arthur pada Putra dengan bahasa yang sama, lalu Arthur menyuruh pelayan khusus dalam ruangan keluar dari sana dan Arthur juga ikut keluar dari sana.
“Bagaimana aku harus memanggilmu? Gadis .... atau Delima?”
“.............”
“Siapapun namamu, yang terpenting sekarang aku sudah membayar pada Bos Besarmu, agar kau bisa menghiburku saat ini”
“Silahkan masuk Nona Gadis....” Arthur mempersilahkan.
Namun Gadis tetap bergeming, seolah kakinya terpaku di tempatnya.
“Apa kau tuli?!” Seru Putra dengan nada suara yang meninggi.
Dimana wanita bergaun hijau yang memang adalah Gadis mengendikkan bahunya termasuk juga seorang wanita yang sejak tadi bersamanya.
“Masuklah Nona Gadis, demi ...”
“Nona !!!!”
“Putra....”
Dan seorang wanita berambut pirang yang Putra kenali siapa tahu – tahu sudah ada di hadapannya. Memberikan senyuman pada Putra setelah sebelumnya memandang sinis pada Gadis.
“Maafkan kami Tuan....”
“I don’t invite you here. ( Aku tidak mengundangmu datang kesini )” Sambar Putra pada satu dari dua orang pria yang tadi menyambut dan mengarahkannya ke ruangan tempat Putra berada, yang belum sempat menyelesaikan ucapannya.
“I.... ( Aku ) ....”
“I - said, I didn’t invite you here ( Aku – katakan, Aku tidak mengundangmu kesini ), Doctor Ilse” Putra berkata dengan penekanan sembari memandang menyorot tajam pada wanita berambut pirang yang adalah Ilse dan tahu – tahu muncul di hadapannya itu.
“I just say my greeting to you. I thought you’re not coming, because I haven’t see you downstair .... ( Aku hanya ingin menyapamu. Aku pikir kamu tidak datang, karena aku belum melihatmu sedari di bawah tadi ....)
“Arthur!” Seru Putra dingin.
“Ya Tuan”
“Apa aku mengundang orang lain?”
“Tidak” Sahut Arthur cepat.
Dan Arthur pun langsung menoleh seraya berbicara pada Ilse. “I beg your pardon, Doctor Ilse. But you may leave now .... ( Maafkan saya, Doctor Ilse. Tapi anda bisa pergi sekarang ) ....”
Arthur meminta Ilse segera pergi dari hadapan Putra dengan sopan, dimana Ilse nampak sedikit tidak terima karena lagi – lagi penolakan yang ia dapat dari Putra.
Namun Ilse menampakkan senyumnya pada Putra dan menjaga sikapnya.
“Okay I’ll go now .... I won’t disturb ( Baiklah aku akan pergi sekarang .... Aku tidak akan mengganggu )”
Ilse kemudian melirik Gadis dan tersenyum miring.
“For at least .... Now you know, what kind of a woman that she is ....”
“( Setidaknya.... Sekarang kamu tahu, wanita seperti apa dia.... )”
Ilse menyeringai saat sudah berbalik, sembari melemparkan pandangan sinis yang merendahkan pada Gadis yang ekspresi wajahnya sudah campur – campur lebih ke syok dengan matanya yang sudah nampak berkaca – kaca.
“I’ll be downstair, if you finish here, Putra.... ( Aku ada di bawah, jika kamu selesai disini, Putra ) ....”
Ilse menoleh lagi pada Putra dan menampakkan senyum terbaiknya seraya melemparkan tatapan pada Putra yang memang masih melihat ke arahnya, namun tanpa ekspresi.
***
“Mengapa hanya berdiri saja? .... duduklah....” Ucap Putra datar sembari membuka tutup dari botol kaca berdesain berlian tanpa menoleh pada Gadis yang masih berdiri di hadapannya, namun sudah masuk ke dalam ruangan tempat Putra berada setelah Ilse pergi dari sana, dan Arthur menutup pintunya.
Seperti yang Putra inginkan dan katakan pada Arthur, bahwa ia ingin berdua saja dengan Gadis dalam ruangan tersebut.
“Apa sekarang kau sudah tuli? .... hingga aku harus berkali – kali menyuruhmu? ... hem?” Ucap Putra sembari melirik Gadis yang memang tetap saja berdiri, dengan wajahnya yang tertunduk.
“Putra .... aku....”
“Duduk kubilang!”
Gadis memejamkan matanya dengan bahunya yang juga spontan terangkat karena suara Putra yang meninggi.
Dengan masih tertunduk, tak berani menatap wajah Putra, Gadis pun mengambil tempat di sofa bundar berbahan kulit eksklusif yang sama tempat Putra duduk, namun Gadis duduk berjarak dari Putra.
Putra menyungging miring, setelah menuangkan minuman dari dalam botol kaca yang tadi ia buka tutupnya, ke dalam sebuah gelas kaca berukuran kecil yang satu sama desainnya dengan wadah kaca yang besar dan berisikan cairan berwarna coklat yang sekilas nampak seperti air seduhan teh.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi....” Putra menjeda ucapannya, karena ia menyesap minuman yang tadi sudah ia tuang. “Bagaimana aku harus memanggilmu, hem? .... Gadis atau Delima?”
__ADS_1
Putra bertanya sembari menelisik Gadis yang masih tertunduk dan bungkam.
“Hem?”
Namun Gadis masih terdiam dan tetap saja menundukkan pandangan serta wajahnya.
“JAWAB!”
Praannggg....
Putra yang sudah mulai naik emosinya karena kebungkaman Gadis itu melempar gelas yang ia pegang itu ke arah daun pintu seraya berteriak dengan matanya yang menyorot tajam pada Gadis yang nampak lagi mengendikkan bahu dan spontan menutup telinganya, seiring tubuhnya yang nampak spontan sedikit miring untuk menghindari sesuatu kala Putra melemparkan gelas ke pintu, meski Gadis dan pintu tersebut cukup berjarak.
Putra geram, teringat tadi pemandangan yang membuat matanya sakit. Kala ia melihat Gadis tertawa riang di sebuah ruangan dan berdansa dengan seorang pria dengan posisi tubuh mereka yang rapat.
“Cih!”
Putra spontan berdecih setelah diraih dengan kasar wajah Gadis melalui dagunya, memaksa agar wajah itu menatapnya.
“Kau menangis di hadapanku?! .... Kulihat kau tertawa gembira dalam pelukan seorang laki – laki di lantai dansa tadi! .... Dan sepertinya kau sangat menikmati di dekap oleh laki – laki itu, heh?!”
“Bu – kan seperti itu....”
Gadis menggeleng dengan matanya yang basah dan memberanikan dirinya menatap mata Putra.
“Heh!”
Putra melepaskan cengkraman tangannya pada dagu Gadis dengan kasar.
“Aku hanya ingin tahu, siapa kau sebenarnya.... Gadis atau Delima?” Ucap Putra dengan masih berdiri di hadapan Gadis yang masih terduduk itu. “Jawab saja yang mana dirimu sebenarnya! Jangan uji kesabaranku!”
“Gadis ....”
“.............”
“Itu namaku yang sebenarnya .... Delima.... adalah nama panggungku” Ucap Gadis pelan.
“Heh! Nama panggung ...”
Putra terkekeh sinis.
“Cukup bagus!"
Putra berseru kemudian dengan suara yang terdengar datar namun sinis.
"Delima .... merah delima.... adalah sesuatu yang menggoda. Melihat penampilanmu malam ini, kurasa nama itu cocok denganmu. Seharusnya kau memakai gaun berwarna merah, kau akan semakin nampak begitu menggoda para laki-laki di luar sana untuk menjamahmu”
Sementara Putra memandang dingin pada Gadis.
“Sekarang katakan, berapa tarifmu semalam? ....”
“Aku tidak seperti yang kamu pikirkan Putra!”
Gadis langsung menyambar dan berseru pada Putra atas ucapan pria itu. Wajah Gadis nampak tidak terima, selain ia tidak percaya jika Putra baru saja mengajukan pertanyaan yang begitu merendahkannya.
Putra mendengus sinis, dengan tatapan yang seolah mengejek Gadis.
“Tidak seperti yang ku pikirkan ....”
Putra menggumam sinis.
“Memang kau berharap aku berpikir seperti apa melihatmu berpakaian seperti ini, lalu kau berdansa intim dibelakangku?.... Jika sampai detik ini aku tidak tahu siapa kau yang sebenarnya dan tidak datang kesini untuk membuatmu menemuiku, aku rasa sekarang kau sudah berada diranjang bersama laki-laki yang berdansa denganmu tadi! ....”
“Hentikan!”
Gadis berdiri dengan tiba-tiba, berseru dengan matanya yang mendelik tajam pada Putra.
“Hentikan....”
Gadis melirih.
“Aku bekerja disini sebagai penampil Putra, bukan sebagai wanita penghibur! .... Jadi tolong, jangan menuduhku, karena kamu, tidak tahu apa-apa tentang aku....”
Gadis berkata dengan tegas, lugas sembari menatap tanpa gentar pada Putra, seraya Gadis menekankan kalimatnya.
“Tentu saja aku tidak tahu apapun tentang dirimu sebelum malam ini ....”
Putra memajukan wajahnya dan melemparkan tatapan sinis tepat ke mata Gadis yang sedang menatapnya itu.
“Dan sekarang aku sudah tahu ....”
Putra meletakkan kedua tangannya di bahu Gadis. Sedikit menekannya.
“Kau adalah perempuan munafik!”
Kemudian Putra menjauhkan kedua tangannya dari bahu Gadis dengan sedikit kasar.
__ADS_1
Putrapun memalingkan wajahnya dan bergerak menjauhkan dirinya dari Gadis yang merasakan cekatan di tenggorokannya.
“Ini ...”
Putra mengeluarkan segepok uang yang ia keluarkan dari saku jasnya.
“Bayaranmu karena sudah menemaniku!”
Kemudian Putra berpaling ke arah pintu.
“Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjelaskan Putra ....”
Gadis melirih memandangi Putra yang sudah membelakanginya setelah melempar segepok uang padanya.
Air mata Gadis sudah tumpah kini.
Disatu sisi Gadis merasa bersalah karena tidak sempat jujur pada Putra, disatu sisi Gadispun merasa terhina dengan perlakuan Putra yang melemparkan uang padanya.
“Aku bukan ingin membela diri, untuk membuat kamu tetap disisi aku hanya karena status sosial dan kekayaan kamu, Putra ....”
“.............”
“Percaya atau tidak .... aku tulus mencintai kamu ....”
“.............”
“Berikan aku sedikit saja waktu untuk menjelaskan.... dam setelah itu terserah, kamu mau bagaimana .... aku terima ....”
“Mulai sekarang, menjauhlah dariku dan anakku”
*****
“Putra ...”
Sebuah suara yang memanggil Putra ada dibelakang Putra yang hendak berjalan keluar dari Pub tempatnya berada.
“Putra, wait! ( tunggu! )”
Putra melirik ke arah lengannya dimana ada sebuah tangan putih yang sedang menahannya untuk melanjutkan langkah.
“Are you just leaving? ( Apa kamu sudah mau pergi? ) ..”
“None of your business ( Bukan urusanmu ). Ilse .....”
Putra menukas cepat pertanyaan wanita di depannya itu, dengan nada suaranya yang terdengar dingin. Namun wanita di depan Putra itu malah menampakkan senyumnya pada Putra, seolah tak sadar bahwa Putra berbicara dengan nada dingin dan ketus padanya.
“I know that you are upset now .... but why don’t you have a seat with me? Or maybe you want to go somewhere with me, if this place already make you feel uncomfortable?..... ( Aku tahu kamu pasti sedang kesal sekarang..... tapi kenapa tidak duduk – duduk dulu denganku? Atau mungkin kamu mau pergi ke suatu tempat denganku, jika tempat ini sudah membuatmu tidak nyaman? ) ....”
*****
Sementara itu di tempat dimana tadi Putra berada, Gadis masih tepekur disana untuk beberapa lama.
Ada sedih dan sakit yang menjalar di hari Gadis sepeninggal Putra.
Gadis tak mengejar Putra yang pergi setelah memperingatinya untuk menjauh dari pria itu, juga dari anak laki-lakinya, Anthony.
Bocah tampan yang selama ini dekat dengan Gadis, dan tulus Gadis sayangi bukan semata-mata untuk mencuri perhatian sang Papa.
Belum lagi tuduhan Putra yang secara tidak langsung menganggapnya sebagai wanita murahan, bahkan Putra melemparkan sejumlah uang padanya.
Ingin, Gadis mengejar Putra sebenarnya, bahkan ia sangat ingin menahan dan memaksa Putra untuk tinggal dan mendengarkan penjelasannya walau hanya sebentar saja.
Tapi sayang Gadis tak punya cukup keberanian. Ada takut yang terbersit, tapi lebih dari itu, sedikit banyak Gadis sudah memahami sifat Putra yang lumayan keras. Jika Putra sudah seperti tadi, mau menangis dengan air mata sederas apapun, Putra yang sudah menganggapnya rendah, pembohong bahkan mengatakan dirinya adalah seorang wanita munafik itu tidak akan merasa iba padanya.
Sikap Putra pada Ilse yang pernah Putra hardik dengan kerasnya, hingga Dokter cantik berambut pirang itu menangis tersedu-sedu, tidak membuat Putra bicara keras padanya.
Dan hal itu yang membuat Gadis patah arang, tak membuat dirinya mengejar Putra, karena merasa itu hanya akan sia-sia saja.
Gadis hanya bisa pasrah, ketakutannya sudah menjadi nyata.
Tak ada yang bisa Gadis lakukan rasanya selain pasrah saja sekarang ini. Gadispun tersenyum getir sembari menghapus sisa-sisa air matanya, serta memandangi cincin pemberian Putra yang tersemat disalah satu jari manisnya.
“Mungkin aku harus mengembalikan cincin ini.... dan uang-uang ini.....” Gumam Gadis menatap cincin pemberian Putra dan melirik uang yang berserakan dalam ruangan tempatnya berada sekarang.
Gadis menghela nafas panjang nan berat, kemudian memunguti uang yang berserakan tersebut, yang dilemparkan Putra padanya lalu mengumpulkan dan merapihkannya.
“Semoga saja Putra belum meninggalkan tempat ini ...”
Gadis menggumam lagi, sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dengan tergesa.
“Cukup kamu menganggap aku murahan, Putra ... tapi setidaknya, dengan mengembalikan ini semua, aku tidak ingin kamu anggap sebagai wanita pengejar harta.....”
Gadis melangkah tergesa, hendak turun ke lantai bawah, namun tiba-tiba langkahnya tertahan.
*****
__ADS_1
To be continue ....
Dua episode meluncur, semoga tetep enjoy, dan jangan lupa ama jempol.