
Happy reading ..
“Putra is right, let Anthony with us if he wants it .. ( Putra benar, biar saja Anthony bersama kami jika memang dia ingin.. )”
“Hey, Prince. Want to know something secret? ...”
( Hey, Pangeran. Mau tahu sesuatu yang rahasia? .... )
Damian yang sudah berjongkok dihadapan Anthony itu bicara dengan berbisik di telinga bocah tampan tersebut, setelah Gadis berbicara.
“What is it Daddy? .... ( Apa itu Daddy? .... )” Anthony menjawab juga dengan berbisik pada Damian, karena salah satu ayah angkatnya itu barusan berbisik di telinganya.
“Your Papa and Mama Gadis have planning to give you a gift ... ( Papamu dan Mama Gadis merencanakan sebuah hadiah untukmu .... )” Bisik Damian pada Anthony lagi.
“Really ( Benarkah ), Daddy? ...”
Anthony bertanya dengan antusias dan berbinar pada Damian masih dengan berbisik dan kedua orang itu berbisik dengan cepat.
“Yes, that’s why you should let them alone for now ( Iya, itulah makanya kamu harus membiarkan mereka berduaan ) ...” Bisik Damian lagi dan Anthony pun segera mengangguk, serta nampak antusias.
“Shall we? ( Ayo masuk? ) ..”
Putra sudah membuka kunci pintu kamarnya, seraya mengajak Anthony untuk masuk ke kamar.
Disaat dimana Anthony dan Damian selesai saling berbisik.
“I change my mind Papa! .. ( Aku berubah pikiran Papa! .. ). I will go to have a rest in Daddy’s Dami room .. ( Aku akan beristirahat di kamar Daddy Dami .. )”
Lalu Anthony menyahut pada Putra yang mengajaknya untuk masuk ke kamar sang Papa dan Mama Gadisnya.
“Are you sure about it?.. ( Apa kamu yakin tentang itu? .. )”
“Yes Papa! Very sure! ( Iya Papa! Sangat yakin! )”
Anthony menyahut dan dengan antusias.
“See you at dinner ya ( Sampai bertemu saat makan malam nanti ya ), Papa, Mama.”
Anthony yang sudah menggandeng tangan Damian itu berpamitan pada Putra dan Gadis.
“Come Dads!” Ajak Anthony sembari menggandeng juga tangan Garret.
“You-owe-me! ( Kau-berhutang-padaku! )” Ucap Damian tanpa suara pada Putra dengan sedikit memiringkan tubuhnya sambil berjalan bersama Anthony yang menggandengnya.
Putra terkekeh dengan juga tanpa suara dan mengangkat jempolnya pada Damian, yang kemudian berjalan menuju ke kamarnya bersama Anthony dan Garret.
***
“Ah, aku rasa aku butuh pijatan,” Ucap Putra dengan wajah jahilnya. “Aku rasa kita bisa saling memijat.”
Putra mengedipkan satu matanya pada Gadis kemudian, setelah tiga orang yang bersamanya tadi sudah tidak terlihat.
Syut!.
Dan dengan cepat Putra sudah mengangkat tubuh Gadis ke udara.
“Putra!” Gadis spontan memekik. Putra hanya melirik dengan mengulas senyuman di bibirnya pada Gadis, sembari membawa Gadis masuk ke dalam kamar mereka.
***
“Bagaimana menurutmu?” Tanya Putra yang menggendong Gadis dengan gendongan Bridal Style saat mereka berdua sudah memasuki kamar mereka dalam Hotel.
Putra lalu menurunkan Gadis dengan perlahan dari gendongannya, lalu menutup pintu kamar sekaligus mengunci pintu kamar tersebut. Sementara Gadis mengedarkan pandangannya ke seisi kamar yang ada di hadapannya tersebut.
“Ini indah sekali ..” Ucap Gadis yang sedang mengedarkan pandangannya ke seisi kamar yang sudah didekorasi khusus untuk kedua mempelai, yang tentunya dibuat seromantis mungkin, seolah untuk mendukung pengantin baru yang akan mereguk madu sebagai sepasang suami istri.
Gadis kemudian berpaling dari seisi kamar dan menghadap Putra yang sedang melepas jas pengantinnya, yang ia letakkan begitu saja di atas sofa dan menyisakan kemeja rapih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam yang mengalung di kerah kemeja putih yang Putra pakai.
Putra langsung merengkuh pinggang Gadis, dan tangan Gadis mengalung secara otomatis di leher Putra. Lalu saling menatap mesra penuh cinta dan bahagia.
“Kamu jauh lebih indah dari dekorasi kamar ini, istriku ..”
“Untung saja aku sudah terbiasa dengan mulut manismu ini, suamiku ..” Balas Gadis atas pujian yang mengarah pada sebuah gombalan yang barusan keluar dari mulut Putra.
Putra pun tersenyum geli sembari menatap lekat wajah Gadis yang sedang bergelayut manja padanya saat ini.
“Terima kasih, sudah membuat Anth bahagia, dan aku terlebih lagi” Ucap Putra lembut.
Lalu sebuah ciuman kemudian Putra berikan pada Gadis yang disambut Gadis dengan bahagia.
“Ehem!” Putra berdehem kecil setelah mengurai ciumannya dengan Gadis.
‘Jika Putra berdehem seperti itu, rasanya aku sedikit merinding sekarang..’
Gadis membatin.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa ..”
“Kamu kelelahan ya?”
“Iya ..”
Gadis pun mengangguk.
‘Mungkin jika aku bersikap dengan menunjukkan betapa lelahnya aku, Putra mengurungkan niatnya untuk ‘menyerangku’ sekarang..’ Gadis dengan rencana dalam hatinya.
__ADS_1
“Kalau begitu lebih baik segera bersihkan dirimu dan beristirahatlah setelahnya, Gadis.”
Gadis mengangguk.
‘Sepertinya berhasil!’ Batin Gadis senang. Merasa jika Putra pasti merasa tidak tega untuk meminta haknya sebagai suami jika Gadis mengaku jika dirinya lelah.
Yah, meskipun hak mendapatkan kehangatan secara intim dengan Gadis telah beberapa kali dapatkan dari Gadis, sebelum mereka berstatus sebagai suami dan istri.
“Apa kamu merasa sangat lelah?” Putra bertanya lagi, sembari mengusap lembut pipi Gadis dengan punggung jarinya.
“Iya. Bahkan kakiku agak sakit karena terlalu lama berdiri dengan menggunakan sepatu tinggi ini.”
Gadis memperlihatkan wajah kelelahan, namun hatinya sedikit menyeringai.
‘Hehehe maaf ya suamiku, ini kan belum malam. Jadi ritual malam pengantin ditunda dulu ..’
Gadis membatin lagi.
‘Lagipula tidak ada ritual sore pengantin ..’
Gadis terkekeh dalam hatinya.
Putra pun tersenyum tipis. “Ya sudah jika begitu..”
Gadis juga menampakkan senyumnya yang ia buat wajar pada Putra.
“Kalau begitu.. Aku mandi duluan ya?..” Ucap Gadis.
Syut!.
Namun saat Gadis hendak mengayunkan langkahnya, Putra sekali lagi mengangkat tubuh Gadis ke udara.
“Put-Putra?????..” Gadis yang sempat terkejut itu pun tergugu saat Putra mengangkat tubuhnya.
“Katamu kakimu kan sakit, jadi aku membantumu agar cepat sampai kamar mandi.”
Putra berucap seraya tersenyum manis.
“Ah-iy-ya ..”
Gadis menyahut kikuk.
‘Senyum Putra sungguh mencurigakan!’
“Dan karena kamu kelelahan, jadi sebagai seorang suami yang baik, aku akan membantu istriku mandi.” Ucap Putra dengan masih tersenyum manis pada Gadis.
‘Aaaaa!!!’ Gadis langsung saja menjerit frustasi dalam hatinya. ‘Benar kan dugaanku?! Sudah kuduga dari senyumnya yang tak beres itu!’
Gadis merutuki Putra.
‘Kenapalah Putra selalu punya celah untuk hal satu ini sih?!..’
‘Tidak mungkin Putra hanya akan membantuku mandi! Pasti ujung-ujungnya ‘kesitu’!’
Gadis merasa sebal dan frustasi disaat yang bersamaan.
‘Aku kan mau tidur dahulu. Tapi kalau Putra sudah menjurus, pasti aku sulit melepaskan diri darinya! Aaa!!!!’
Sementara Putra menyeringai dalam hatinya. Sudah bisa membaca gelagat Gadis yang sedang mencoba untuk sedikit mengelabui dirinya.
***
“Biar aku saja ..”
Gadis berucap pada Putra yang sudah mendudukkannya di keramik wastafel saat Putra hendak melepaskan sepatunya.
“Tidak apa, aku ingin melayani istriku.”
‘Iya, tapi aku yakin imbalannya aku harus ‘melayani’ dirinya!’
Gadis pun segera membatin.
‘Seperti aku tidak tahu saja kadar kemesumannya!’
“Kamu tidak sedang merutukiku dalam hatimu bukan, Istriku. Hem? ..”
Putra kemudian mensejajarkan wajahnya dan wajah Gadis setelah selesai membantu melepaskan sepatu yang Gadis kenakan.
Gadis pun tersenyum kikuk.
“Ti-tidak. Tentu saja tidak! ..” Tukas Gadis.
Putra pun mengulas senyuman tampannya di hadapan Gadis.
“Y-ya sudah kalau begitu. Aku mau mandi sekarang saja. Tubuhku sudah terasa lengket sekali ..”
Walaupun Putra tahu jika Gadis baru saja mengusirnya secara halus, namun ia bergeming dari posisinya.
“Iya, kan aku yang akan membantumu mandi.”
Putra menatap lekat wajah Gadis yang sangat dekat dengan wajahnya.
“Engggg .. Aku sepertinya bisa kok mandi sendiri.” Ucap Gadis.
Gadis masih berusaha agar Putra segera hengkang dari kamar mandi, dan ia bisa bebas dari ancaman berada dalam kukungan Putra yang tak berhenti menampakkan senyum mencurigakan bagi Gadis.
Didetik berikutnya Putra menggeleng pelan dengan masih menampakkan senyumnya pada Gadis. “Aku orang yang menepati janjiku Nyonya Putra .. Apalagi Nyonya Putra kan katanya lelah dan sakit kakinya?..”
__ADS_1
Tapi seperti yang Gadis bilang, Putra selalu punya celah, selalu punya banyak kata untuk menjawab ucapan Gadis.
“Eum, sepertinya aku tidak selelah itu untuk mandi. Dan kakiku juga tidak terasa sakit lagi setelah sepatunya kamu lepas ..” Kilah Gadis.
“Oh ya?”
“Iya.” Gadis mengangguk pasti dengan polosnya. “Jadi ..”
“Kalau begitu, tak ada masalah jika kamu memandikan ku.”
Sayangnya Gadis terlalu polos untuk bermain kata-kata dengan Putra .
“Kamu mengatakan jika kamu sudah tidak lelah dan kakimu sudah tidak sakit lagi bukan? .. jadi tidak ada masalah jika harus berdiri di bawah guyuran shower bersamaku ..”
‘Aaa aku selalu saja dibuat kecele oleh Putra!!!!!’
‘Haha, aku rasa dia menyadari jika dia termakan ucapannya sendiri..’ Batin Putra geli sendiri melihat wajah pasrah Gadis. ’Polosnya istriku ini!’
***
Tubuh Gadis sontak menegang, kala tangan Putra sudah berada di punggungnya, untuk menarik turun resleting gaun pengantin Gadis.
Meskipun sudah beberapa kali melakukan keintiman bersama Putra, tetap saja Gadis masih rasanya gugup, jika Putra sudah menampakkan gelagat untuk kembali mengajaknya bersatu dalam momen keintiman.
Hati Gadis mulai berdebar kencang, saat Putra telah berhasil menurunkan resleting gaun pengantinnya, hingga Gadis merasakan jika gaun tersebut sudah terasa longgar dari tubuhnya. Lalu dengan perlahan, Putra menarik turun gaun pengantin yang Gadis kenakan hingga gaun tersebut lolos dari tubuh Gadis dan menyisakan sepasang kain berwarna putih, sewarna dengan gaun pengantinnya.
Gadis secara spontan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Sementara Putra menatap Gadis dengan nakal sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.
“Untuk apa kamu tutupi? Aku sudah hafal setiap lekuk tubuhmu walaupun baru beberapa kali saja melihatnya, Nyonya Putra..”
“Iya aku tahu ..” Sahut Gadis dengan masih menyilangkan tangannya di depan dada dengan rapat. “Tapi bisa tidak jangan memasang tampang seperti itu?! ..”
Putra terkekeh geli selepas mendengar ucapan Gadis.
“Memang bagaimana wajahku?.. Biasa saja .. Tampan seperti selalunya.”
Gadis mendengus pendek.
“Iya tampan memang,” Sambar Gadis. “Tapi mesum juga iya!”
“Ah, padahal aku benar-benar ingin membantumu mandi saja..”
Putra juga langsung menyambar ucapan Gadis.
“Tapi karena Nyonya Putra mengingatkan soal kemesuman, ya sudah, ayo!”
‘Aaaa.. Aku kecele lagi kan?! ..’
“Terima kasih sudah mengingatkan untuk menjalankan kewajiban pertamaku sebagai seorang suami padamu, Istriku..”
Seringai pun nampak di wajah Putra dengan jelasnya sembari berbisik di telinga Gadis.
Membuat Gadis seketika meremang dan tangan lihai sang suami sudah lagi berada di punggungnya untuk melepaskan kaitan dari kain berwarna putih berhiaskan renda dan bordir yang sedang Gadis tutupi saat ini.
“Baik kan suamimu ini? Aku juga membantu melepaskan kaitan kain penyanggamu ..” Bisik Putra lagi seraya menggoda Gadis yang masih nampak gugup.
‘Baik kepalamu!’
Gadis merutuki Putra dalam hatinya.
“Jangan merutuki suamimu sendiri .. Nanti bisa-bisa kakimu aku buat cramp, bahkan sulit bangun sampai esok hari ..”
Gluk!.
Gadis menelan salivanya.
“Mau?”
Putra tersenyum pada Gadis yang semakin gugup.
“Ti-tidak..” Sahut Gadis sedikit tergagap. “A-aku juga tidak merutuki mu ..”
“Benarkah?..” Kata Putra yang masih senang menggoda Gadis, meski sebenarnya dia sudah mulai gelisah saat gaun pengantin Gadis telah ia loloskan dan kemolekan tubuh istrinya itu kian nampak nyata, meskipun tidak secara keseluruhan.
Karena posisi Gadis masih terduduk di keramik samping wastafel dan ada dua kain penyangga yang masih menempel di tubuh istri dari Putra itu.
“Kalau begitu, segera singkirkan tanganmu, dan lepaskan apa yang sudah aku longgarkan..”
Putra menggerakkan kepalanya ke arah tangan Gadis yang sedang menyilang, sambil tetap menyeringai.
“Karena sepertinya, suamimu ini sudah merasa sedikit ‘haus’, Nyonya Putra.”
‘Hah! Tidak hanya haus aku rasa! Bahkan wajahnya sudah seperti singa mesum yang kelaparan!’
“Lama sekali..”
Grep!
Putra sudah dengan cepat membebaskan dada Gadis dari tangan pemiliknya.
Sekaligus menahan kedua tangan Gadis di tiap sisinya.
Bersamaan dengan bibir Putra yang juga dengan cepat menyambar bibir Gadis.
Gadis pun, pasrah. Terlebih saat Putra juga sudah dengan cepat meloloskan kain penyangga bagian atas yang sudah longgar sedari tadi, akibat tangan jahil nan piawai suaminya itu dalam membuka kaitannya.
Dan malam pengantin Putra dan Gadis pun dipercepat.
__ADS_1
***
To be continue..