
Happy reading..
Putra memang menanyakan pendapat Gadis, terkait dugaan Gadis akan maksud ucapan Putra yang mengatakan,
“Karena dia tidak disini”
Untuk itu Gadis merasa ambigu.
Lalu Gadis melontarkan pertanyaan pada Putra,
“Maksudmu tadi jika Dokter Ilse tidak ada disini itu apa?”
Tapi Putra malah mengatakan, jika itu bukan hal yang penting untuk dibahas.
Kala Gadis melontarkan dugaannya lagi tentang apa Putra meminta pada kepala yayasan untuk mencabut ijin praktek bekerja Ilse sebagai dokter di rumah sakit tempat Gadis bekerja sebagai seorang perawat selama ini,
“Kamu tidak meminta pada Pak Kepala mencabut ijin praktek kerja Dokter Ilse disini bukan?”
Putra malah balik bertanya pada Gadis.
“Menurutmu?”
Begitu kata Putra.
Namun belum Gadis sempat membuka mulutnya, Putra sudah merengkuh posesif pinggang Gadis.
***
“Daripada kamu mengurusi Ilse, lebih baik kamu menyapa kawan-kawanmu dan mengobrol dengan mereka ..” Ucap Putra sebelum Gadis sempat menjawab pertanyaannya. “Karena mungkin lama kamu tidak akan berjumpa dengan rekan sejawatmu itu..” Sambung Putra. “Itu, mereka nampak senang sekali melihatmu..”
Putra mengkode dengan kepalanya dan Gadis sontak langsung menoleh ke arah dimana kepala Putra menunjuk dengan dagunya.
“Gadiiss!! ..” Didetik berikutnya suara sapaan yang antusias pun terdengar, bersamaan dengan beberapa wanita berseragam perawat yang menghampiri ke tempat Putra dan Gadis berdiri saat ini.
Gadis langsung saja tersenyum lebar menyambut pelukan dari para teman sejawatnya yang berada di dalam ruangan khusus perawat, dimana Gadis pernah bekerja juga di dalamnya. Putra juga menunjukkan senyum keramahannya pada rekan-rekan sejawat Gadis yang kesemuanya memperlakukan Gadis dengan baik selama ini.
Putra juga tak enggan menyambut uluran tangan para rekan sejawat Gadis itu untuk berjabat dengannya. Begitulah Putra. Dia akan berlaku baik pada mereka yang tak ada ‘cacat’ di mata Putra. Sebaliknya, Putra akan menjadi
sangat tidak bersahabat pada mereka yang membuat Putra merasa tak senang.
Pria berwajah malaikat meski nampak dingin pembawaannya itu bisa menjadi seorang iblis dalam satu waktu.
Setelahnya, Putra membiarkan Gadis dengan memberikannya ruang untuk menghabiskan waktu selama yang Gadis mau dengan para rekan sejawatnya yang per hari ini telah menjadi mantan rekan sejawat Gadis.
Putra juga ikut membiarkan Anthony berada bersama Gadis dan teman-temannya itu. Toh Anthony memang nampak merasa nyaman berada bersama para perawat wanita yang ramah-ramah dan lumayan ramai juga mulutnya itu.
***
“Tolong berikan pada Gadis dan teman-temannya didalam” Putra berkata pada anak buahnya yang menjadi supirnya hari ini, saat pria itu datang menghampiri Putra dengan membawa beberapa tas kertas di kedua tangannya.
Tas-tas tersebut berisikan makanan yang sudah disiapkan Putra melalui Arthur yang memesankan makanan
tersebut dari sebuah hotel ternama yang ada di Ibukota.
Anak buah Putra tersebut pun langsung menyahut sigap dan sopan pada Tuannya itu, lalu masuk ke dalam ruangan khusus para suster yang berada di belakang Putra, setelah sebelumnya anak buah Putra itu tak lupa untuk
memberikan hormat pada Putra dengan menganggukkan kepalanya.
Danny tak lama terlihat dalam pandangan Putra, setelah anak buahnya masuk ke dalam ruangan khusus para suster tersebut untuk memberikan makanan pada calon Nyonyanya, yang sudah ia bawakan. “Semua aman terkendali dengan mereka, Dan? ..”
Putra langsung bertanya pada Danny, kala pria itu sudah mendekat padanya. Putra kelepasan menggunakan bahasa Indonesia, saat ia berbicara pada Danny seraya bertanya barusan.
Semenjak Gadis sudah lebih dekat dengannya, rasanya lidah Putra lebih lihai untuk berbicara bahasa dari Negeri yang ditempatinya sekarang. Beruntung Danny juga memahami bahasa tersebut.
Pria itupun langsung manggut-manggut dengan raut wajah yang nampak percaya diri. “Tidak perlu khawatir soal itu..”
Putra pun manggut-manggut puas mendengar jawaban Danny.
“Se-..”
“Putra..”
Belum sampai Danny berbicara lagi, suara Gadis terdengar memanggil Putra bersamaan dengan sosoknya yang keluar dari dalam ruangan di belakang Putra dan Danny, diikuti anak buah Putra yang menjadi supir di belakangnya.
Putra spontan tersenyum pada Gadis dengan tangannya yang terulur agar Gadis lebih mendekat padanya. “Ada apa? ..”
Putra pun langsung bertanya pada Gadis, bersamaan dengan tangannya yang sudah merangkul pinggang wanita tercintanya itu. Untuk sikap Putra yang seperti ini, Gadis sudah mulai membiasakan diri.
__ADS_1
Untuk rangkulan di pinggang, atau Putra yang selalu menggandeng tangan Gadis saat berjalan, Gadis sudah mulai tidak merasa risih, meskipun di depan orang banyak. Hanya terkadang Gadis merasa malu saja, jika Putra tak segan menunjukkan kemesraan padanya dihadapan banyak orang.
Tapi selebihnya, Gadis bahagia jika Putra memperlakukannya dengan mesra dihadapan orang lain. Membuat Gadis seringkali merasa tersanjung, karena Putra seolah bangga sekali memiliki dirinya. Dan Gadis pun sama.
“Apa makanannya kurang?” Tanya Putra pada Gadis yang menghampirinya di luar ruangan.
Gadis menggeleng. “Tidak bukan itu .. aku hanya ingin memintamu masuk”
“Kenapa memangnya?..”
“Ya, aku kan didalam bersama teman-temanku, masa aku membiarkanmu berdiri menunggu disini? ..”
Dimana Putra menarik sudut bibirnya ke atas.
“Santai saja” Sahut Putra.
“Ayo, kamu lebih baik duduk didalam. Danny juga”
“Seperti yang Tuan Putra katakan, Nona Gadis..”
“Gadis! .. aku sudah memanggilmu dengan namamu saja ya, jadi panggil aku dengan cara yang sama”
“Baiklah” Kekeh Danny dan Putra mendengus geli saja.
“Ya sudah ayo, kalian berdua masuk ke dalam..”
Gadis kembali mengajak kedua pria tampan itu untuk masuk.
“Tak apa, kami disini saja..” Sahut Putra. “Kamu masuklah kembali kedalam, dan nikmati waktumu bersama teman-temanmu selama yang kamu mau..”
Tangan Putra kini terulur ke puncak kepala Gadis.
“Ya tidak enak juga jika aku berlama-lama disini, teman-temanku kan harus bekerja. Dan lagi ada Pak Kepala dan Wakilnya juga disini saat ini..”
“Tidak perlu khawatir soal itu.. aku sudah meminta Danny mengatakan pada dua orang itu agar membebaskanmu bercengkrama dengan teman-temanmu di dalam. Dua orang itu tidak akan protes..”
“Tuan Putra benar, Gadis. Mereka sudah memberikan ijin penuh pada anda dan teman-teman anda untuk menghabiskan waktu yang anda inginkan bersama teman-teman anda didalam” Timpal Danny. “Mereka tetap menjalankan tugasnya jika memang ada. Dan selebihnya mereka dibebaskan untuk bercengkrama bersama anda
selama yang anda mau ..”
“Wow sekali ya. Bisa memerintah kepala yayasan”
Putra dan Danny sontak mendengus geli mendengar celetukan Gadis.
“Kamu lupa siapa calon suamimu ini?” Tukas Putra. “Aku bukan public figure memang, dan aku tidak terkenal di negerimu ini. Tapi kekayaanku jauh melebihi mereka”
“Cih, sombong sekali..” Cebik Gadis.
“Sah-sah saja jika aku sombong!” Sahut Putra. “Buktinya uangku bisa membeli rasa hormat kepala yayasan rumah sakit ini dari donasiku yang sangat banyak itu, bukan begitu?”
“Ya, ya..” Gadis memutar bola matanya malas dan Danny hanya mesam-mesem saja. “Lalu demi memberikanku banyak waktu bercengkrama dengan teman-temanku, kamu mengancam akan menarik donasimu itu jika mereka tak memberikanku ijin, atau membatasi waktuku disini? ..”
“Tidak” Jawab Putra cepat.
“Baguslah jika kamu tidak mengeluarkan ancaman!”
“Aku tidak mengancam akan menarik donasiku saja, tapi akan aku ratakan rumah sakit ini dengan tanah, jika mereka tidak mau menurutiku” Ucap Putra dengan entengnya.
Gadis pun sontak saja membulatkan matanya.
***
“Apa yang tadi ingin kau katakan padaku sebelum Gadis menginterupsi?”
Putra sudah mengajak Danny untuk pergi ke sebuah kedai kopi yang berada tak jauh dari rumah sakit tempat mereka berada tadi.
Selepas meyakinkan Gadis untuk menggunakan waktu bercengkrama sepuasnya dengan teman-temannya sesama perawat, Putra memilih untuk menunggu di sebuah kedai kopi sembari mengobrol dengan Danny.
“Bukan apa-apa.. aku hanya ingin mengatakan, jika selama ini apa aku pernah mengecewakan dalam menjalankan tugas-tugas yang kalian berikan padaku, meskipun aku belum lama bergabung? Well, walau aku masih belajar dan
menyesuaikan cara berpikir kalian yang terkadang sulit kubaca..”
Putra spontan mendengus geli setelah mendengar penuturan Danny barusan.
Keduanya entah sadar atau tidak, masih menggunakan bahasa Indonesia dalam bercakap.
Dan Danny juga terdengar cukup fasih berbicara dengan menggunakan bahasa tersebut, untuk ukuran orang yang belum lama tinggal di sebuah negeri. Tapi seperti yang pernah Addison katakan pada Putra, jika Danny itu cukup pintar dan cepat belajar.
__ADS_1
“Aku yakin kau tidak membutuhkan waktu lama untuk mempelajari segala hal tentang kami Dan..”
“Ya aku harap seperti itu..”
Danny manggut-manggut kemudian.
“Yang harus kau camkan baik-baik adalah jangan sampai kau mengkhianati kepercayaan kami padamu”
“Sepertinya aku tidak punya nyali untuk itu..”
Putra dan Danny pun sama-sama terkekeh kecil.
“Mengingat intuisi mu begitu tajam. Bahkan hal kecil seperti yang tadi kau tanyakan saja, tidak terlewat. Aku saja sempat lupa”
“Aku bahkan mengingat suara nafas dan langkah kakimu .. dan aku dapat menebak apa yang ada dalam otak dan hatimu meskipun kau mencoba menutupinya di wajahmu”
“Kalau begitu aku akan giat belajar untuk melatih ekspresi wajahku agar dapat mengelabui mu”
“Haha. Kau coba saja. Jika ada kebusukan dihatimu dan niat tak baik padaku atau keluargaku, cepat atau lambat aku akan tahu..”
“.....”
“Dan disaat itu, akan aku pisahkan kepala dari tubuhmu dengan sangat perlahan..” Ucap Putra dengan santainya.
Danny berdecih geli saja mendengar ucapan Putra barusan.
“Cobalah jika kau tidak percaya akan kemampuanku..”
“Aku masih sayang kepalaku, jadi aku percaya” Ujar Danny. Dan Putra pun terkekeh kecil sekali lagi lalu menyesap kopi yang sudah ia pesan. ‘Ad pernah mengatakan padaku, jika Putra yang paling kejam diantara mereka berempat..’
Danny yang juga menyesap kopinya itu membatin.
‘Wajahnya memang paling tampan, berikut pembawaannya yang nampak tenang. Tapi Ad Katakan jika Putra yang paling tidak kenal ampun. Setelah aku melihat sebuah foto yang Ad tunjukkan saat Putra mengeluarkan ginjal seorang musuh saat orang itu masih hidup, Jelas saja aku percaya jika pria didepanku ini akan tanpa beban menebas kepalaku jika aku macam-macam. Aku sampai merinding membayangkannya ..’
***
“Putra, may say, he’s the strongest of us.. like, he’s invulnerable of any kind wound on his skin. Me and our brothers sometimes thought that Putra is a devil in human shape.. (Putra, dapat dikatakan, dia yang paling kuat diantara kami.. dia itu seperti, kebal atas segala luka yang ada di tubuhnya. Aku dan para saudaraku terkadang berpikir jika Putra itu iblis dalam wujud manusia..)”
“Putra has no mercy to our every enemy, especially if those are close to harm Rery, Anth and Madelaine .. Putra will have no hesitation to vanish them in a very painful way (Putra tidak kenal ampun pada setiap musuh kami, terutama mereka yang dekat sekali membahayakan bagi Rery, Anth dan Madelaine .. Putra tidak akan segan untuk menghabisi mereka dengan cara yang paling menyakitkan)”
“Putra has a sharp instinct, smart brain, and will planning everything that he wants to do with so careful and prim .. But, when he decided to lose someone’s life, the beast inside him will appear on the surface .. (Putra memiliki insting yang tajam, otak yang pintar, dan akan merencanakan segala sesuatunya dengan sangat hati-hati dan rapih.. Tetapi, saat dia memutuskan untuk menghilangkan nyawa seseorang, monster dalam dirinya akan muncul ke permukaan)..”
“Used to be, there’s Rery who can hold the beast inside Putra (Dulu, ada Rery yang mampu menahan monster dalam diri Putra)”
“Then what happen to this guy just happen to this one. This picture was took, for a ‘warn’ to everyone who try to disturb Rery and his family when all of us were in Italy .. Putra himself who took out that person kidney, while that man is conscious..”
(Lalu apa yang terjadi pada pria ini hanya terjadi pada dia saja. Gambar ini diambil, sebagai bentuk ‘peringatan’ untuk setiap orang yang mencoba mengganggu Rery dan keluarganya saat kami semua tinggal di Italia.. Putra sendiri yang mengeluarkan ginjal orang ini, dengan kondisi orang ini yang tetap dibuat sadar)
Danny sampai meneguk salivanya saat teringat kembali beberapa ucapan Addison kala bercerita padanya, termasuk mengingat gambar dalam sebuah foto yang Addison pernah tunjukkan padanya.
“Putra is bloody-cold-hearted-mean-guy (Putra itu pria berhati dingin dan kejam). To whom that he consider as a ‘threat’ .. Rery’s weapon killer .. (Pada sesiapa yang dianggapnya sebagai ‘ancaman’.. Senjata pembunuhnya Rery ..)”
“But thanks God, Rery is a wise person and not greedy (Tapi untungnya, Rery itu pria yang bijak dan tidak serakah)..”
“So Putra stand in his portion (Jadi Putra tetap pada porsinya)”
“Putra was no longer ‘easy in fire’ now. Rery success to made him more calm.. (Putra memang sudah tidak lagi ‘berapi-api’ sekarang. Rery berhasil membuatnya menjadi orang yang lebih tenang) ..”
“But it doesn’t mean the beast inside Putra was gone. That black fire, I Nero Fuoco, is still him. I believe that, the rest of my brother also believe that. So, when Putra put his trust on you, don’t ever dissapointed him, if you don’t want feel every slice in your body while your eyes see, how your skin off from you ..”
(Tetapi itu bukan berarti monster dalam diri Putra menghilang. Api hitam itu, I Nero Fuoco, masih dirinya. Aku percaya itu, dan para saudaraku yang tersisa juga sama percaya. Jadi, saat Putra memberikan kepercayaannya padamu, jangan pernah mengecewakannya, jika kau tidak ingin merasakan setiap sayatan di tubuhmu dengan mata terbuka, dan melihat bagaimana kulitmu terlepas dari tubuhmu) ..
‘Membayangkannya saja sudah sangat mengerikan’
Danny sampai mengusap-usap lengannya. Sembari melirik pria dihadapannya, yang sedang fokus membaca surat kabar
“Used to be there’s Rery, but now Anth is the reason for Putra to be more careful in ‘stepping’. And also, Anth is the key. He also has sharp instinct as Putra. If Anth like you, then Putra will be very kind to you ..”
(Dulu ada Rery, tetapi sekarang Anth adalah alasan Putra lebih berhati-hati dalam ‘melangkah’. Dan juga, Anth itu kunci. Dia juga memiliki insting yang tajam seperti Putra. Jika Anth menyukaimu, maka Putra akan sangat baik padamu)..
‘Okay Anthony, Uncle Danny will baste you will a lot of loves and cares which is very sincere that comes from the deep of my heart.. (Paman Danny akan menyirami mu dengan kasih sayang yang melimpah yang pastinya tulus dari dasar hatiku yang paling dalam)..’
Tekad Danny dalam hati.
***
To be continue....
__ADS_1