LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 203


__ADS_3

Happy reading....


*************


Belanda, Eropa....


“Ad, I still go on with my plan ( Aku akan tetap pada rencanaku )” Ucap Putra dengan pasti.


Addison yang mendengar kalimat Putra yang merupakan penegasan itu, langsung menghela berat nafasnya.


‘I don’t think that’s a good idea, Putra ( Aku rasa itu bukan ide yang bagus, Putra )’ Sahut Addison dari seberang telepon.


Putra diam sejenak sebelum ia kembali berbicara pada Addison. “Good or not, I still have to do that Ad ( Baik atau tidak, aku tetap harus melakukannya Ad )”


‘.......’


“*If that mother*ker is coming to Ravenna, then it would be more easy for me to vanish him out of this world ( Jika b***ngan itu hendak datang ke Ravenna\, maka itu akan membuatku lebih mudah untuk melenyapkan nya dari dunia ini )” Sambung Putra.


‘I believe that you can do that Putra..... but remember, Jaeden would not be alone coming there. ( Aku percaya kau mampu melakukannya Putra...... tapi ingat, Jaeden tidak mungkin datang sendiri kesana )’ Ucap Addison mengingatkan.


Putra terdiam sejenak.


‘Remember what happened on that day.....no one of them who were in Rery’s Mansion are safe. ( Ingat apa yang terjadi dihari itu..... tak ada dari mereka yang berada di Kediaman Rery kala itu yang selamat ) .....’


‘‘.......’’


‘A lot of our men that day at Rery’s Mansion. Also our brothers..... but they lost, nor none survive.’


( Banyak orang kita di Mansion Rery hari itu. Termasuk juga para saudara kita..... tapi mereka kalah, pun tak ada yang selamat )


“And I make sure that won’t be happened again ( Dan akan aku pastikan itu tidak akan terjadi lagi ).....” Sambar Putra. “*I have enough men now, to send that motherf*ker’s men to fly over our late men’s place now ( Aku punya cukup orang sekarang, untuk mengirim anak buah ba**ngan itu terbang ke tempat dimana almarhum orang-orang kita berada saat ini ) .....”


Tak terdengar sahutan dari Addison.


“I’ll go call Hiz ( Aku akan menghubungi Hiz ).....”


Putra yang kemudian berbicara lagi.


“I’ll try to call you back later after I finished some mess here ( Aku akan mencoba menghubungimu lagi setelah aku menyelesaikan kekacauan disini ).....”


Putra menyambung ucapannya.


“But if I haven’t call after this for some times, then it could be that I already off to Italy.....”


( Tapi jika aku tidak menghubungi lagi setelah ini untuk beberapa waktu, maka kemungkinan aku sudah bertolak ke Italia..... )


Terdengar helaan nafas yang sedikit berat dari sebrang telepon. ‘Alright then ( Baiklah kalau begitu )’ Sahutan pun terdengar dari Addison, yang suaranya terdengar lesu.


“Take care, Ad. And take a good care of all of them at Villa ( Jaga dirimu, Ad. Dan jaga mereka yang berada di Villa dengan baik ) .....”


Putra berpesan.


“I left my two beloved to you, Dami, and Bruna. Please make sure they’re both are okay ‘till I come home.”


( Aku titipkan dua kesayanganku padamu, Dami, dan Bruna. Tolong pastikan mereka berdua baik-baik saja sampai aku pulang ke rumah ).


Putra berpesan lagi.


‘I will ( Pasti )’ Sahut Addison.


“I’ll be okay Ad ( Aku akan baik-baik saja Ad )”


‘Of course you have to! ( Tentu saja kau harus baik-baik saja! )’


Addison menyahut dengan antusias.


Dimana Putra menarik sedikit sudut bibirnya.


“Alright then, I’ll go off ( Baiklah kalau begitu, akan aku sudahi ) ----“


‘Putra .....’


“Yes, Ad? .....”


‘If it’s possible, just get back here first before you off to Italy. Anth always ask about you all the time, and he looks so worried  and sometimes look sad ( Jika memungkinkan, kembali dulu kesini sebelum kau pergi ke Italia. Anth selalu bertanya tentangmu setiap waktu, dan dia terlihat khawatir dan kadang terlihat sedih )’


‘‘.......’’


‘Gadis told us that Anth ever said, that he afraid if he loose you just like he lost Rery and Madelaine ..... and Gadis look kind of sustain worrying you’


( Gadis mengatakan pada kami bahwa Anth pernah bilang, jika ia takut kehilanganmu seperti ia kehilangan Rery dan Madelaine ..... dan Gadis juga sepertinya terlihat menderita karena mengkhawatirkanmu ).


Putra pun terdiam.


‘Mind to think about it ( Pikirkanlah ), Putra.’


*****

__ADS_1


“Hiz ...”


Putra tak menjeda kepentingannya dengan telepon aman dalam kamar Ramone yang sedang ia gunakan, selepas Putra selesai berbicara dengan Addison, dan sambungan teleponnya dengan Addison telah terputus.


Putra pun bercakap mengenai apa yang sudah Addison sampaikan padanya dengan orang yang bernama Hiz yang sedang Putra hubungi saat ini, dan pria bernama Hiz ini merupakan satu dari sedikit orang yang setia pada Rery yang ada di Inggris.


“And have you found when it exactly, he’ll go there? ( Dan apa kau sudah tahu kapan pastinya dia akan pergi kesana? ) ...”


Putra terdengar bertanya kemudian.


“Heemm...”


Lalu Putra nampak manggut-manggut.


“Tell me the condition.... Do you know any information if that motherfcker will bring a lot of men just like the day when he slaughtered Rery, Madelaine and our brothers also all of our men at Ravenna? ....”*


( Katakan padaku kondisinya ... Apa kau dapat informasi tentang si keparat itu akan membawa banyak orangnya seperti hari dimana dia membantai Rery, Madelaine dan saudara-saudara berikut orang-orang kita di Ravenna?...... ).


Putra terdiam sejenak kemudian, selepas ia mengajukan pertanyaan panjang pada pria bernama Hiz di seberang telepon.


“I need to know the numbers exactly, so I can bring twice men than he has, then I will make those men get slaughtered just like what they did at Rery’s mansion ( Aku perlu tahu angka pasti, jadi aku dapat membawa dua kali lipat orang dari yang ia bawa, lalu akan aku bantai mereka seperti halnya yang mereka lakukan di kediaman Rery )”


Rahang Putra sedikit mengeras.


“Ya, I will go to Ravenna to face him.”


( Iya, aku akan pergi ke Ravenna untuk menghadapinya ).


Putra menjawab dengan pasti pertanyaan dari Hiz.


“Don’t worry Hiz, when I said I’m ready, means that I’m really ready.”


( Jangan khawatir Hiz, saat aku katakan bahwa aku telah siap, maka itu berarti aku sudah benar-benar siap ).


Putra lalu terdiam, dan nampak manggut-manggut lagi tak berapa lama.


“I’ll make myself arrived at Ravenna before him ( Aku akan membuat diriku sampai di Ravenna terlebih dahulu sebelum dia )”


Putra berbicara lagi.


“Beside, I want to find out, if he got another ‘Yanni’ at Italy.”


( Lagipula, aku ingin mencari tahu, apa dia punya ‘Yanni’ yang lain di Italia ).


Putra lalu menyandarkan dirinya di sandaran sofa yang sedang ia duduki itu.


( Dan apa kau sudah menemukan orang yang bekerjasama dengannya di tempatmu? ).


Putra nampak manggut-manggut lagi.


“I see  ( Aku mengerti ) ....” Ucap Putra.


Putra terdiam sesaat lagi, mendengarkan pria bernama Hiz berbicara, baru setelahnya Putra berucap lagi.


“Alright Hiz, I’ll call you after I arrived at Ravenna ( Baiklah Hiz, aku akan menghubungimu saat aku sudah sampai di Ravenna )”


‘‘.......’’


“Just hold on to do something to the person at your place who cooperate with that motherfcker, ‘till I tell you to. Meanwhile, I trust what mine, Rery’s and Kingsley’s at yours, on you Hiz* ( Tunda untuk melakukan sesuati pada orang yang ada di tempatmu, yang bekerja sama dengan si keparat itu, sampai aku yang menyuruhmu. Dan sementara itu, aku percayakan milikku, Rery dan Kingsley yang ada dalam pengawasan mu, padamu Hiz )”


Putra berkata panjang lebar.


“And try to make you and your family alive ‘till I come there ( Dan jaga diri serta keluargamu untuk tetap hidup sampai aku datang kesana )”


Setelahnya Putra pun memutuskan sambungan teleponnya dengan pria yang ia panggil Hiz tersebut.


‘I will ( Iya pasti ) ....’


Terdengar jawaban dari pria bernama Hiz yang sedang berbicara dengan Putra saat ini.


‘But have you already think carefully about your decision for going to Ravenna to face Jaeden this time, Putra? ....’


( Tapi apa sudah kau pikirkan dengan matang tentang keputusanmu untuk pergi ke Ravenna dan menghadapi Jaeden kali ini, Putra? .... ).


****


Indonesia ....


“Mind to think about it ( Pikirkanlah ), Putra.” Addison kemudian meletakkan gagang telepon yang sedang ia pegang dan ia gunakan untuk berbicara dengan Putra yang berada di Belanda, setelah Putra memutuskan panggilan.


Addison mendenguskan nafas frustasinya kemudian.


Merasa jika bujukannya tak mempan pada Putra yang sulit untuk diajak kompromi jika sudah berkenaan dengan dendam kesumat Putra pada Jaeden.


Addison kemudian mengayunkan langkahnya untuk keluar dari ruang kerja dalam Villa, setelah menutup kembali ruang rahasia dalam ruang kerja tersebut seperti semula, apabila sedang tidak digunakan. Ada Bruna, Damian dan Danny yang sedang menunggunya selesai berbicara dengan Putra di telepon ber saluran aman mereka di ruang santai lantai dua, dekat dengan ruang kerja.


Addison lekas mendekati ketiga orang yang tampak sedang menunggunya itu, terutama Damian dan Danny yang barus saja mengetahui hal yang sedang dipusingkan Addison dan Bruna dari mulut Bruna.

__ADS_1


Dan kini, Damian dan Danny, termasuk juga Bruna, ingin tahu hasil pembicaraan Addison dengan Putra beberapa waktu yang lalu. Addison pun mengambil tempat di ruang santai tersebut, dan mengatakan semua yang ia bicarakan dengan Putra sambil menunggu Anthony dan Gadis untuk sarapan bersama.


Hingga Damian kemudian bertanya, “And can you persuade him to comeback here first? ( Dan apa kau berhasil membujuknya untuk kembali kesini terlebih dahulu? ) ....”


Addison menggeleng.


“Putra is calling Hiz, and I hope Hiz can persuade him to think once more for going to Ravenna to face Jaeden this time ( Putra sedang menghubungi Hiz dan aku harap Hiz dapat membujuknya untuk berpikir sekali lagi pergi ke Ravenna dan menghadapi Jaeden kali ini ) ....”


“Ya, hope so  ( semoga saja begitu ) ....”


“Let’s talk about this again after breakfast  ( Mari bicarakan ini lagi setelah sarapan ) ....”


Bruna menyarankan pada tiga pria yang bersamanya.


“Ya, you’re right  ( kau benar ) ....”


Addison yang menyahut mengiyakan, namun Damian dan Danny menganggukkan kepala mereka untuk juga mengiyakan ajakan Bruna untuk sarapan.


“Putra give you number of Ramone’s line right? ( Putra memberikanmu nomor salurannya Ramone kan? ) ....”


Damian lalu bertanya pada Addison yang langsung mengangguk.


“Then I’ll try to call him after we taking breakfast  ( Maka aku akan coba menghubunginya selepas sarapan ) ....”


“Ya, try to –“ Addison hendak berbicara, namun suara dering telepon dalam ruang rahasia terdengar di telinganya.


“Maybe that’s Putra, and he change his plan  ( Mungkin itu Putra, dan dia merubah rencananya ) ....” Ucap Damian yang mendengar dering telepon seperti tiga lainnya, yang memang terdengar dari tempat mereka sekarang, yang berada di ruang santai dekat ruang kerja.


“Ya, hopefully  ( semoga saja ) ....” Bruna yang menyahut.


“Let me get it  ( Biar aku yang terima ) ....” Ucap Damian.


****


Hanya sebentar saja Damian berbicara di telepon ber-saluran aman yang berada pada satu ruang rahasia dalam ruang kerja Villa.


“Is that Putra? ( Apa itu Putra? )....” Danny spontan bertanya, saat Damian telah keluar dari ruang rahasia, dan ruang kerja.


Danny, berikut Bruna dan Addison tetap tinggal di tempat mereka pada ruang santai, saat Damian masuk ke ruang kerja untuk menerima panggilan telepon di saluran aman mereka.


Damian menggeleng.


“It was Hiz. ( Itu Hiz )”


“What did he say? ( Apa yang dia katakan? ) ...”


“He said that he just talked with Putra ( Dia mengatakan jika dia sudah berbicara dengan Putra ) .....” Jawab Damian lagi.


“And then? ( Lalu? ) ...”


Addison dan Bruna ikutan bertanya seperti Danny.


“Putra said to Hiz just like what he said to Add  ( Putra mengatakan pada Hiz apa yang ia katakan pada Ad ) ..”


Damian pun menjawab.


“And what Hiz response? ( Lalu apa tanggapan Hiz? ) ...” Tanya Addison.


“Well, Hiz also asked Putra to re-consider his decision for going to Ravenna after Netherlands..”


( Yah, Hiz juga meminta Putra untuk mempertimbangkan kembali keputusannya untuk pergi langsung ke Ravenna setelah dari Belanda.. )


“And Putra answer? ( Dan jawaban Putra? ) ..”


****


‘Semoga saja Ad berhasil membujuk Putra untuk pulang kesini ...’


Itu batin Gadis yang berharap, saat ia yang baru saja keluar dari kamar Anthony, berpapasan dengan Addison yang sudah bersama Bruna, Damian dan Danny.


****


“What did Putra said ( Putra bilang apa ), Ad?...”


Gadis segera bertanya pada Addison, yang ia ketahui terakhir berbicara dengan Putra, karena memang Putra meminta untuk memberikan telepon pada Addison kembali, ditengah Gadis yang sedang coba membujuk sang suami agar merubah keputusannya.


“Will he comeback here and not going to Italy? ( Apakah dia bersedia untuk kembali kesini dan tidak pergi ke Italia? )....”


Ada harap yang besar pada hati Gadis.


‘Semoga saja Ad menganggukan kepalanya dan menjawab iya.’


Harap Gadis dalam hatinya.


“Sorry for dissapointing you, Gadis. But Putra said, that he keep on going there  ( Maaf jika mengecewakanmu, Gadis. Tapi Putra mengatakan, bahwa dia akan tetap pergi kesana ) ....”


*

__ADS_1


To be continue ....*


__ADS_2