LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 256


__ADS_3

Happy reading...


**************


London, England


“You asked what thing that my brother was injected to you right? (Kau tadi bertanya apa yang saudaraku suntikkan padamu tadi, bukan?)..” ucap Putra. “Tell him (Katakan padanya), Gar.”


Putra berucap sambil menatap pria yang beberapa saat lalu menyuntikkan suatu cairan pada salah satu pria yang selama ini mengawasi rekan Putra dan para saudaranya yang bernama Hiz. Cairan yang membuat kelumpuhan, namun tetap membuat orang yang mendapatkan suntikan itu tersadar dan tetap dapat merasakan jika ada kontak pada setiap bagian anggota tubuhnya.


Cairan yang merupakan racikan Bruna yang sengaja ia buat untuk dibawa Putra dan dua saudaranya yang lain, karena dirasa berguna untuk dipergunakan saat mereka akan membalas dendam pada Jaeden di Inggris.


Dan salah satunya baru saja dipergunakan oleh Putra melalui Garret yang menyuntikkan cairan tersebut pada pria yang sedari tadi begitu pongah dan meremehkan Putra serta melontarkan penghinaan juga pada Putra dan kawanannya.


“Well, in essence, you will keep consious to feel some pain without doing nothing, not even screaming (Yah, pada intinya, kau akan tetap sadar untuk merasakan kesakitan tanpa mampu berbuat apa-apa, sekalipun berteriak)”


“Open his mouth (Buka mulutnya)” titah Putra diujung ucapan Garret tadi. Dimana Devoss langsung memegangi kepala si pria pongah tersebut dan Richard membuka mulut pria pongah tersebut sampai benar-benar menganga.


“Oh, man ....”


Hiz menggumam ngeri.


Ketika melihat apa yang baru saja Putra lakukan pada salah satu pria yang ditugaskan untuk mengawasinya, dan juga sudah berencana untuk menghabisinya pada waktu yang akan ditentukan.


Dan ya, tak hanya Hiz yang merasa kaget juga ngeri melihat Putra sedang melakukan eksekusi yang begitu mengerikan pada pria yang sedari tadi merepet dengan pongahnya. Dimana pisau Putra yang begitu tajam itu, membelah dengan cepat indra perasa si pria pongah, bak sedang memotong daging untuk diolah.


Termasuk juga Devoss yang sampai mengangkat alisnya saat melihat Putra melakukan sebuah eksekusi mengerikan itu.


Para anak buah Accursio yang menyertai Putra juga kaget melihatnya.


Namun mereka memasang tampang datar di wajah mereka, meski dalam hati mereka sungguh benar-benar terkejut bahwasanya pria yang selama ini suaranya yang mendominasi perintah dan nampak begitu tenang dan kalem diluar, mampu melakukan eksekusi mengerikan yang ia lakukan barusan.


**


“Oh my..”


Putra bersuara, dengan ia yang merundukkan tubuhnya dan menghadapkan wajahnya tepat di hadapan pria pongah tersebut.


“Is that hurt? (Apa itu sakit?)...” ucap Putra lagi seraya bertanya dengan wajahnya yang dibuat seolah khawatir.


Namun se-per-sekian detik Putra menyunggingkan miring bibirnya.


“Boys don’t cry you know? (Anak laki-laki tidak menangis tahu?)” ucap Putra lagi.


Berucap dengan nada yang remeh berikut sorot matanya pada pria pongah itu, yang terlihat sedang menahan kesakitan yang teramat sangat.


Ucapan yang merupakan cibiran, karena tadi si pria pongah yang kini tidak bisa berbicara lagi itu dengan wajahnya yang merah padam berikut air yang keluar dari pelupuk matanya, sempat merendahkan Putra dan kawanannya, dengan menyebut mereka dengan ‘ladies’-wanita.


“Heh!”


Kemudian Putra menegakkan tubuhnya sambil berdecih sinis.


“You just feel by yourself by underestimated these ‘ladies’. And We’ll make you see what these ‘ladies’ can do to your organization, and everyone in it (Kau baru saja merasakan sendiri karena meremehkan para ‘wanita’ ini. Dan kami akan membuatmu melihat apa yang para ‘wanita’ ini dapat lakukan pada organisasimu, serta setiap orang yang berada di dalamnya)”


Putra berbicara sambil melemparkan pandangan pada Damian dan lainnya yang ikut juga menyeringai.


“Cause ’running’ it wasn’t our hobby actually (Karena ‘berlari’ bukan hobi kami sebenarnya)” sambung Putra. “We just like playing with our target before hunting, then killing (Kami hanya suka bermain terlebih dahulu dengan mangsa sebelum berburu, lalu membunuh)”


Kemudian Putra mendengus sinis.


“Running (Berlari)... Heh!” sinis Putra.


****


“You...”


Putra kini sudah beralih pada rekan si pria pongah yang nampak ketakutan saat Putra telah mendekat padanya, lalu meletakkan bagian datar pisau miliknya yang masih berlumur darah dari lidah rekannya yang sudah ditebas setengahnya oleh Putra tanpa ampun.


“Want to feel the sensation that your friend was just felt? (Ingin merasakan sensasi seperti yang temanmu telah rasakan?)” kata Putra.


“.........”


Pria yang keadaan tubuhnya masih terikat dengan mulut tersumpal, serta dipegangi oleh Jules itu menggeleng cepat dan bersuara, namun tak jelas karena mulutnya yang tersumpal itu.


Wajahnya sudah pias, dengat gurat ketakutan sambil memandang pada Putra, dengan juga menunjukkan tatapan memohon teramat sangat pada Putra yang sedang menyeringai padanya itu.


Putra terkekeh kemudian.


Dimana ada nada remeh bercampur kepuasan dalam kekehan Putra tersebut.

__ADS_1


*


“Thom said, more men will come about twenty minutes (Thom mengatakan, orang-orang tambahan akan tiba sekitar dua puluh menit lagi)” ucap Devoss yang sebelumnya diminta Putra untuk menghubungi Thomas yang memang standby di Mansion pribadi Putra yang berada di Salisbury.


Dan Thomas memang sigap menunggu pada saluran telepon rahasia Putra dan kawanannya. Guna menunggu setiap perintah yang kemungkinan akan datang padanya dari Putra. Yang mana Thomas memang mendapat perintah langsung dari Putra untuk melakukan tugasnya, yang katakanlah sebagai perantara.


“Good.”


Putra menanggapi laporan Devoss barusan.


"Few will come here to bring some ancillary weapons, others will go directly to the place that he said. (Beberapa akan datang kesini untuk membawa senjata tambahan, lainnya akan langsung menuju tempat yang tadi ia katakan)"


Devoss kembali berbicara, lalu menunjuk pada satu pria penguntit Hiz yang masih dalam posisinya. Lalu Putra manggut-manggut.


“Hiz.” Putra beralih pada Hiz.


“Yes?”


“Did you finish what I’ve been ask you to do?...”


“(Apa kau sudah selesai dengan apa yang aku minta kau untuk lakukan?)...”


“Sure I am (Tentu saja sudah)” jawab Hiz mantap. Putra pun manggut-manggut dan nampak puas.


****


“Good Hiz. Keep it safety (Bagus Hiz. Simpan dengan aman)”


Putra memberikan kembali beberapa berkas yang sebelumnya Hiz ambilkan dari tempat penyimpanan rahasianya, lalu memberikan berkas-berkas tersebut yang langsung dibaca Putra, serta juga dibaca oleh Damian dan Garret.


“I will (Pasti)” jawab Hiz.


Putra mengangguk.


“Now better you guys eat. All of you need more energy to exercise after here, right?..”


“(Sekarang sebaiknya kalian makan. Kalian semua membutuhkan tambahan energy to berolahraga setelah dari sini, bukan?) ..”


“He’s right. I’m a little bit feel hungry (Dia benar. Aku merasa sedikit lapar) ..”


Garret menimpali ajakan Hiz padanya serta yang lain. Putra, Damian dan Devoss pun mengangguk.


Lima orang pria yang terdiri dari Putra, Damian, Garret, Devoss dan Hiz pun beranjak dari tempat mereka untuk pergi ke ruang makan dalam Kediaman pribadi Hiz tersebut.


“Thank you Sir. But we need to watch these two, even this one already look defenceless (Terima kasih Tuan. Tetapi kami tetap harus mengawasi dua orang ini, meski yang satunya terlihat sudah tidak berdaya) ..”


Richard menjawab ucapan Putra yang menyuruh dia dan para rekannya untuk juga makan seperti halnya Putra dan empat Tuan lainnya, sambil Richard menunjuk pada pria yang tadi mendapatkan eksekusi mengerikan dari Putra-dimana pria yang tadi begitu pongah dan sok itu kini sudah terkulai di atas lantai di ruangan tempat mereka sedari tadi berada.


“Don’t worry Putra, he won’t die soon (Jangan khawatir Putra, dia tidak akan mati dengan cepat)---“


Garret yang sudah berada di ambang pintu ruangan itu berucap.


“That’s what Bru said to me (Itu yang Bru katakan padaku)” sambung Garret. “The fluid injection that Bru made will push him to keep alive for a while (Cairan suntikan yang dibuat oleh Bru akan memaksanya tetap hidup untuk sementara waktu)”


“I see.” Putra manggut-manggut. “For how long? (Untuk berapa lama?)”


Putra lalu bertanya.


“Because I want to make this stupid pompously jerk see with his own eyes what we will and can do to his thug friends also their Boss, before he dead (Karena aku ingin membuat si brengsek bodoh dan sok ini melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang akan dan bisa kita lakukan pada teman-teman preman serta pimpinan mereka, sebelum pria ini mati)”


“Few hours (Beberapa jam)” tukas Garret. “I think enough until we arrive to his place and he’s still alive then (Aku rasa cukup sampai kita tiba di tempatnya nanti dan dia akan masih tetap hidup sampai saat itu) ..”


Putra pun berdehem.


“Will he get conscious at that time? (Apa dia akan sadar nanti?)”


“I will make him even he doesn’t get conscious by himself later (Aku akan membuatnya sadar nanti jika dia tidak sadar dengan sendirinya)”


Garret menyahut santai.


“Alright then (Baiklah jika begitu)” sahut Putra.


Lalu Putra kembali beralih ke Richard dan dua anak buah lainnya yang berada di ruangan tersebut, sementara dua lagi sudah kembali berjaga di luar.


“You guys eat by turn, also the two outside (Kalian makan bergantian, termasuk dua yang didepan)”


Richard pun mengiyakan ucapan Putra padanya barusan, sebelum Putra mengayunkan langkahnya menyusul empat lainnya yang sudah lebih dulu pergi ke ruang makan pada Kediaman pribadi Hiz tersebut.


****

__ADS_1


Putra memasang sebuah tali sandang ditubuhnya, setelah ia dan empat lainnya selesai makan. Tali sandang yang sedang Putra kenakan ini adalah tali sandang untuk mengaitkan satu pistol miliknya, serta juga sebuah pisau yang sebelumnya Putra kaitkan di salah satu kakinya. Ada dua orang yang datang ke Kediaman Hiz, setelah Devoss diminta Putra untuk menghubungi Thomas yang berada di Mansion milik Putra dan orang tuanya yang berada di Salisbury.


Dua orang anak buah yang dikirimkan Thomas – yang mana adalah bagian dari anak buah Accursio yang memang telah dipersiapkan oleh pria itu untuk mendampingi Putra selama ia berurusan di Inggris. Dan beberapa anak buah terbaik seperti yang diminta Putra pada Accursio itu telah berada dan bersiap lebih dulu di Inggris sebelum Putra dan rombongannya tiba di negara tersebut.


Yang mana beberapa orang anak buah yang Accursio kirimkan pada Putra adalah mereka yang berada langsung dalam naungan Accursio di Sisilia. Dan sebagian besar dari beberapa orang pilihannya itu, Accursio berikan pada Putra.


Termasuk, Accursio menyerahkan keputusan pada Putra, apabila kepentingan saudara angkatnya itu telah selesai di Inggris dan Putra menginginkan para anak buah pilihan itu tetap berada bersamanya. Accursio akan dengan senang hati memberikannya.


Karena mudah saja mendapatkan anak buah bagi Accursio yang menjalankan beberapa bisnis ilegal di Sisilia dan beberapa tempat pada beberapa negara Eropa yang berada di sekitar Italia, termasuk Inggris. Selain memang Accursio sudah mempunyai cukup banyak anak buah yang ia punya saat ini.


Lagipula, anak buah yang Accursio miliki sebenarnya juga adalah anak buah Putra secara harfiah.


Karena Putra secara tidak langsung telah menjadi pengganti Ramone, yang notabene adalah ayah angkatnya dan Accursio, yang mana dapat dikatakan, jika Putra adalah atasannya Accursio, dimana setengah dari bisnis yang Accursio jalankan adalah milik Ramone.


Dan Putra yang ia tahu sudah tinggal jauh dari Eropa itu, sudah terbatas baik akses dan waktunya saat ini, untuk benar-benar merekrut orang sebagai anak buahnya dan para saudara angkatnya yang masih tersisa.


Walaupun Putra kini telah menggantikan Ramone menjadi pemimpin dalam ‘Kerajaan’ Ramone yang meliputi beberapa bisnis, baik di dunia ‘atas’ ataupun ‘bawah’.


Namun Putra belum fokus kesana, sebelum ia selesai membalaskan dendamnya pada seorang yang bernama Jaeden.


“Others straight to the place that have been told Sir (Lainnya telah langsung mengarah ke tempat yang telah diberitahukan Tuan)” ucap salah seorang pria - satu dari anak buah yang baru saja tiba membawakan beberapa senjata tambahan untuk Putra dan mereka yang bersamanya saat ini dari sejak di Salisbury.


“Alright (Baiklah)” sahut Putra.


Putra memakai mantel tebal dan sarung tangan kulitnya kembali setelah ia selesai mengenakan tali sandang yang terpasang dengan tersambung di bagian dada dan punggung luar atasan yang Putra kenakan.


Dan sebuah pistol serta satu pisau dalam sarung yang ia kaitkan di tali sandang tersebut.


“Hiz ..” panggil Putra seraya melihat pada pria itu yang langsung menyahut pada Putra. "Bring all your important stuffs and go with them (Bawa semua barang-barang penting milikmu dan pergilah bersama mereka)”


“Okay.” Sahut Hiz.


“And make your place here, empty for a while (Dan kosongkan tempatmu ini, untuk sementara waktu)---”


Hiz mengangguk.


“Do it before you leave (Lakukan sebelum kau pergi)”


“Okay.” Sahut Hiz yang paham maksud Putra tersebut.


“Make sure he’s safe to Salisbury (Pastikan ia selamat sampai Salisbury)” ucap Putra pada anak buah yang ditugaskan untuk mengawal Hiz.


“Yes Sir.” Jawab salah seorang anak buah sebagai perwakilan. Lalu setelahnya, Putra berikut mereka yang akan pergi bersamanya itupun lekas bersiap untuk pergi menuju sebuah tempat yang berada di pinggiran kota London.


“You.”


Putra beralih pada salah seorang penguntit Hiz yang tidak ia berikan eksekusi.


“Do not try to mess up, or I’ll make you death with a very horrible way that you could never imagine (Jangan macam-macam, atau aku akan membuatmu mati dengan cara yang paling menyakitkan yang tidak pernah kau bayangkan)”


Lalu Putra melayangkan ancaman dengan tatapan tajam pada pria tersebut, yang langsung menelan ketat salivanya.


“Y-yes S-Sir (I-iya T-Tuan)..”


Pria tersebut menyahut dengan sangat terbata pada Putra, yang ia rasa sedang menatapnya dengan tatapan bengis.


“Let’s move now ‘ladies’ (Ayo bergerak sekarang ‘para wanita’)”


Putra berkelakar pada mereka yang juga sudah bersiap untuk pergi bersamanya.


“One thing Hiz (Satu hal Hiz)—“


Putra menjeda langkahnya sejenak.


“If something bad happened to us, destroy all things that could lead to our new place, and of course, Anth. Then go away from England as soon as possible.”


“(Jika sesuatu yang buruk menimpa pada kami, hancurkan segala hal yang dapat membimbing kepada tempat tinggal kami yang baru, dan tentu saja, Anth. Lalu pergilah dari Inggris secepatnya)”


“Got that (Aku paham)” sahut Hiz.


Putra pun mengangguk dan pergi dari hadapan Hiz, setelah menepuk pelan salah satu pundak rekan setianya itu.


Kemudian memasuki bagian kursi penumpang depan, dimana salah seorang penguntit Hiz telah berada di balik kemudi, dengan kepalanya yang ditodongkan pistol oleh Garret dari arah belakang, yang duduk mengapit satu orang rekan dari si penguntit bersama Damian.


“If I read you want to do something stupid, my knife will ripped your stomach very fast and take out your kidney while you’re still breathing (Jika aku membaca gelagat kau hendak melakukan sesuatu yang bodoh, pisauku akan dengan cepat merobek perutmu lalu mengeluarkan ginjalmu saat kau masih bernafas)”


Satu lagi ancaman keluar dari mulut Putra yang duduk dengan santai di kursi penumpang depan samping salah satu pria penguntit Hiz tersebut, dengan tangan kirinya yang telah memegang pisau miliknya yang tadi sempat ia kaitkan pada tali sandang yang Putra kenakan di balik mantel tebalnya. Dan pria penguntit itupun mengangguk patuh, dengan gurat ketakutan yang nampak jelas di wajahnya saat ini.


Dimana pria penguntit itu kini telah berpikir seribu kali untuk tidak menuruti pria yang duduk di sebelahnya itu, yang sudah ia lihat sendiri bahwasanya pria yang namanya terdengar asing di telinganya itu, adalah pria yang tak hanya sekedar berdarah dingin.

__ADS_1


****


To be continue..


__ADS_2