LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 142


__ADS_3

Happy reading....


****************


“I will, Padre. I will become a brave man just like all of you  (Pasti, Padre. Aku akan menjadi pria pemberani seperti kalian)...”


“Then I will find the bad guy who kill Daddy and Mommy... That’s why I want to raise a tiger ... because when I found that bad guy, I will give him to the tiger that I raise and saw that bad guy ripped by my tiger ...”


(Lalu aku akan mencari orang jahat yang telah membunuh Daddy dan Mommy... Itulah mengapa aku ingin memelihara seekor macan... karena saat nanti aku menemukan orang jahat itu, aku akan memberikannya pada macan peliharaanku dan melihatnya dicabik oleh macan milikku ...)


Apa yang diucapkan Anthony yang seolah menggumam di kebun binatang tadi, berkelebat dalam ingatan Putra.


Meski terdengar seperti sebuah gumaman saja yang keluar dari mulut mungil Anthony, tapi Putra tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Mungkin saja Anthony tidak bermaksud apa-apa saat mengatakannya. Namun ada luka yang tersirat disana, di wajah Anthony saat menggumamkan kalimat tentang orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya.


‘Just hang on for a while Anth, I promise you, I will send that bad guy to meet your parents in the very painful way to death (Sabar sebentar ya Anth, aku berjanji padamu, aku akan mengirim orang jahat itu untuk bertemu dengan kedua orang tuamu dengan kematian yang amat sangat menyakitkan) ..’


Jika Anthony terluka, maka Putra akan berkali lipat merasakan luka serta dukanya Anthony. Jadi tekad Putra semakin bulat untuk membalaskan dendamnya pada orang yang membunuh Rery dan Madelaine, dan rencana sedang Putra urutkan lagi di otak tampannya saat ini.


‘And I.. (Dan aku)..’


Hati Putra tak lanjut berkata, kala ada sepasang tangan yang merengkuhnya dari belakang.


Sudut bibir Putra kemudian tertarik keatas.


**


“Ada apa?”


Gadis langsung bertanya, kala kedua tangannya merengkuh dada Putra dari samping pria itu.


Dimana Putra yang sedang berdiri didekat jendela kamar, langsung meraih tangan Gadis dan membuat Gadis kini berada dihadapannya.


“Ada yang sedang menganggu pikiranmu?..”


Gadis bertanya lagi, pada Putra yang sedang mengunci matanya untuk memandangi Gadis.


Putra tersenyum tipis.


“Sedikit”


“Apa mau membahasnya denganku?” Gadis berucap sembari menyentuh garis rahang Putra.


“Membahas hadiahku maksudnya?..”


“Kamu ini..”


Gadis mendengus geli sembari memukul pelan dada Putra, atas guyonan Putra yang Gadis pahami kemana arahnya.


“Aku serius bertanya tahu” Cebik Gadis.


Putra pun mendengus geli. “Akupun serius soal meminta hadiahku tanpa dibungkus ...”


Putra kemudian membawa Gadis dalam dekapan.


Sesungguhnya perkataan Putra soal Gadis yang harus memberikannya hadiah, jika Putra berhasil mengulang dengan tepat perkataannya hanyalah sekedar guyonan Putra semata.


“Dasar Papa mesum!” Kembali Gadis memukul pelan dada Putra kala pria itu mendekapnya.


Putra mendengus geli saja, sembari mengeratkan dekapannya pada Gadis, yang kemudian mendekap balik Putra. Dan Putra menghirup aroma harum dari rambut Gadis.


“Apakah berhubungan dengan perkataan Anthony yang membuat wajah kamu dan yang lainnya berubah sekejap untuk sesaat?”


Gadis kembali bertanya pada Putra yang sedang mendekapnya dan juga ia dekap itu.


“Hu’um” Sahut Putra yang disertai anggukan kepalanya di puncak kepala Gadis.


“Aku juga sebenarnya ingin menanyakan hal itu padamu”


Putra mengurai dekapannya.


“Aku sepertinya menangkap jika Anthony bicara panjang lebar, tapi aku tidak terlalu jelas mendengarnya, selain ia mau memelihara seekor macan”


Gadis menyampaikan apa yang ingin ia tanyakan perihal sikap dan ucapan Anthony pada Putra saat di depan kandang macan pada kebun binatang yang mereka kunjungi tadi pagi.


“Jadi aku mau menanyakan padamu, apa yang Anthony bilang, hingga wajahnya berubah sendu seperti tadi..”


“Kemarilah.....” Putra menautkan jemarinya dengan jemari Gadis, dan membawa Gadis untuk duduk disisi ranjang.


Malam ini, Anthony ternyata benar-benar tidur bersama dua ayah angkatnya. Damian dan Garret, di kamar mereka.


Jadi Putra dan Gadis dapat mengobrol dengan nada suara yang normal.


***


“Kamu yakin siap menikah denganku Gadis?”


Putra membuka omongan sembari duduk berhadapan dengan Gadis disisi ranjang.


Dimana decakan pelan lidah Gadis kemudian terdengar, sembari ia memandang Putra dengan malas.


Putra menarik sudut bibirnya keatas dengan tipis, lalu meraih tangan Gadis dan mendekatkan Gadis padanya dan juga membuat tubuh Gadis menjadi rapat pada dadanya. “Jangan marah...” Ucap Putra sembari membelai pelan surai Gadis. “Aku hanya bertanya saja..”

__ADS_1


Kembali Putra mendekap Gadis dan menghirup lagi aroma dari kepala Gadis yang dirasa Putra mampu menenangkannya.


“Sekaligus memastikan jika memang keputusanmu tidak berubah” Sambung Putra.


“Aku malas menjawab pertanyaanmu itu. Dan seingatku kita sedang membahas ucapan Anthony di kebun binatang tadi. Tapi jika kamu tetap bersikeras kembali menanyakan soal keputusan dan kesediaanku tentang menikah denganmu, lebih baik aku tidur saja...” Cerocos Gadis. “Dan besok lebih baik aku kembali saja tinggal di rumah kontrakanku.. karena aku malas dekat-dekat dengan orang yang seolah meragukan keputusanku ...”


Gadis nampak merajuk. Hendak menarik tubuhnya dari dekapan Putra, namun tak berhasil karena Putra tahan.


“Iya, maaf” Putra mengurai dekapannya kemudian, lalu menghadapkan wajah Gadis dengan wajahnya.


“Seingatku juga, aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menanyakan keputusanku lagi soal kesediaanku untuk menikah denganmu”


Putra manggut-manggut sembari melipat bibirnya.


“Baiklah” Tukas Putra. “Aku tidak akan bertanya lagi soal itu”


“Awas ya, jika bertanya atau membahas lagi soal kesediaanku menikah denganmu, aku merajuk nanti! ..”


Sembari Gadis mengerucutkan bibirnya.


Cup!.


“Kebiasaan ...”


Gadis mencebik pada Putra yang baru saja mengecup singkat bibirnya itu.


“Jika kamu membentuk bibirmu seperti tadi, aku anggap itu undangan untukku agar menciummu...” Tutur Putra.


“Dasar!”


Putra terkekeh kecil.


“Kemarilah, aku belum puas memelukmu....”


Putra kembali membawa Gadis dalam dekapannya.


**


“Kamu, ingin pernikahan yang seperti apa? ....”


Putra menundukkan sedikit kepalanya untuk melihat wajah Gadis yang tadi ia bawa dalam dekapan, dan kini sedang bersandar mesra di dadanya.


“Nanti aku pikirkan. Sekarang katakan dulu, tentang ucapan Anthony saat di kebun binatang tadi...” Jawab Gadis yang sedikit mendongak menatap Putra.


“Akan aku katakan soal itu. Tapi jawab dulu pertanyaanku itu. Kamu ingin pernikahan yang seperti apa? ...” Tukas Putra.


“Memang kenapa?”


“Karena aku ingin mewujudkannya”


“Aku ingin kamu benar-benar merasa bahagia saat menikah denganku nanti ..”


“Sekarang ini pun aku sudah cukup merasa bahagia Putra”


Gadis menegakkan tubuhnya.


“Aku mencintai seorang pria, dan sepertinya pria itu lebih mencintaiku. Benar kan?..”


Gadis berceloteh dan Putra sontak menarik tinggi sudut bibirnya sembari mendengus geli.


“Benar tidak? ..” Tuntut Gadis pada Putra, sembari mengarahkan telunjuknya pada pria yang sedang tersenyum tampan itu.


“Iya, ya.....” Putra menyahut sembari mesam-mesem dan cengengesan, serta memposisikan dirinya untuk duduk bersandar di sandaran ranjang pribadinya itu.


“Benar seperti itu kan? ... Kalau anda Tuan Putra, sangat mencintaiku ...”


Gadis masih berceloteh.


“Benar apa benar?..”


Syut!.


“Benar sekali!”


Putra menjawab seiring kedua tangannya mengangkat tubuh Gadis hingga Gadis kini berada dipangkuannya.


“Aku rasa salah jika kamu menuduhku menggunakan mantra-mantra yang kamu bilang itu untuk menaklukkanmu ... karena kenyataannya aku yang nampak jelas tergila-gila sekali padamu bukan?”


Gadis yang sempat terkejut saat Putra membawanya keatas pangkuan pria itu seperti semalam, kemudian terkekeh kecil atas celotehan Putra.


“Jadi aku rasa kamu yang sudah memantraiku” Sambung Putra.


“Ih enak saja!” Gadis pun mencebik.


Putra tersenyum sembari menyusuri surai Gadis dengan satu tangannya.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku Gadis. Tentang pernikahan seperti apa yang kamu inginkan? ...”


Gadis menarik sudut bibirnya, kemudian entah sadar atau tidak, Gadis melingkarkan kedua tangannya di leher Putra.


“Seperti yang aku katakan tadi....”


Gadis berujar dengan menatap Putra lekat.

__ADS_1


“Aku mencintai seorang pria, yang lebih mencintaiku”


Kemudian satu tangan Gadis membingkai wajah Putra, yang orangnya tak putus memandangi Gadis.


“Bisa menikah dengan orang yang kucintai dan mencintaiku itu saja rasanya sudah cukup membuatku sangat bahagia, Putra”


“.......”


“Asal bisa mengucap janji setia bersama dihadapan Tuhan, itu sudah cukup bagiku. Pesta atau apapun itu, aku tidak butuh. Cukup dengan mengatakan bersedia untuk saling menerima dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, hingga ajal memisahkan. Itu sudah lebih dari cukup untukku”


Gadis menatap dalam netra Amber milik Putra.


“Karena aku mencintaimu ..”


Dimana Putra langsung saja menarik tengkuk Gadis, hingga bibir Gadis bersentuhan dengan bibirnya.


“Aku lebih mencintaimu...”


Putra berucap setelah mengecup singkat dan lembut bibir Gadis.


“Nah, benar kan ucapanku tadi??? ...”


Gadis berkelakar.


“Tuan Putra lebih mencintaiku daripada aku sendiri” Sambung Gadis.


Putra pun terkekeh kecil.


“Untuk itu aku tidak akan menyangkal...”


Putra yang kini menatap dalam netra coklat milik Gadis.


“Aku sangat mencintaimu Gadis....” Ucap Putra. “Dan aku beruntung karena kamu juga mencintaiku..”


“Terima kasih Putra ..”


Untuk sesaat, dua pasang netra berbeda warna itu saling menatap dalam.


Dan diwaktu berikutnya dua pasang benda kenyal itu saling bersentuhan kembali.


“Eeuhh ..” Sampai sebuah lenguhan samar keluar dari mulut Gadis, kala sepasang benda kenyal milik Putra sudah menyentuh lehernya. Memberikan gigitan kecil disana.


***


Lenguhan dari bibir Gadis meskipun samar dan tipis, namun tetap dapat tertangkap oleh kedua telinga Putra.


Tapi sukses membuat darah kelakian Putra cukup berdesir. Namun rasanya Putra harus tahan. Putra ingat ucapan Gadis yang pernah menyinggung soal tubuhnya yang sudah dengan lancang Putra gagahi sebelum mereka terikat tali pernikahan.


Dan agar Gadis tidak berpikir jika dirinya mengatakan jika Putra mencintai wanita itu atas dasar kemolekan atau merasai tubuhnya saja, jadi Putra menahan hasratnya sekarang. Meski tak dipungkiri, tubuh Gadis yang sudah dua kali ia rajai itu sungguh membuat Putra tak jarang sering mendambakannya.


Putra cinta pada Gadis, itu tidak akan Putra sanggah.


Tapi tubuh Gadis yang sudah pernah ia rajai sampai dua kali dalam semalam itu pun nikmatnya tidak akan juga Putra sanggah.


Toh Putra pria normal, sebelum bertemu dan bersama Gadis pun kadang hasrat untuk bercinta dengan lawan jenis pastilah ada.


Hanya saja, Putra sangat membentengi dirinya atas makhluk yang bernama wanita. Padahal Putra tidak pernah punya pengalaman buruk dengan seorang wanita.


Ditinggal saat sedang sayang-sayang, misalnya?. Atau dikhianati oleh kekasihnya. Tidak juga. Ayah Putra juga laki-laki yang setia pada ibunya. Jadi kenapa Putra begitu dingin pada wanita, hingga ia bertemu Gadis?.


Jawaban Putra hanya satu.


Rery.


Putra sangat mengagumi, bahkan mengidolai ayah kandungnya Anthony itu.


Rery seorang Tuan Muda yang punya paket super lengkap dalam dirinya. Kaya raya dengan harta yang tak ternilai jumlahnya, dipadu dengan keindahan paras dan postur tubuhnya.


Namun semua itu, tidak menjadikan Rery seorang pria yang liar.


Bahkan Rery jatuh cinta hanya pada satu orang wanita dalam hidupnya. Dan cinta Rery pada seorang wanita yang bernama Madelaine dan telah dinikahinya itu, kekal hingga ke alam baka.


Menikahi wanita yang dicintainya itu, hingga lahirlah seorang anak lelaki pelengkap cinta dan kebahagiaan mereka. Hanya mirisnya, Rery dan wanita yang dicintainya itu tidak dapat merasakan kebahagiaan bersama buah hatinya lebih lama.


Jadi, katakanlah bahwa sifat Putra yang tidak ingin dekat dengan wanita sebelum ia merasakan suatu gelenyar aneh di hatinya itu, Putra ambil dari Rery. Dan gelenyar aneh tersebut Putra rasakan saat ia bertemu dengan Gadis.


Sebenarnya, jujur, gelenyar aneh dalam hati Putra yang berkali-kali ia abaikan itu sudah terasa dari sejak Putra melihat Gadis menggendong Anthony untuk yang pertama kalinya. Tapi ya itu, Putra tepiskan.


Merasa gelenyar aneh yang selalu muncul jika bertemu Gadis, Putra anggap hanya sekedar rasa kekaguman saja. Gadis itu cantik, sangat. Lekuk tubuhnya sempurna, meski ia tutupi dengan seragam perawat.


Putra laki-laki normal, wajar jika ia tertarik. Lagipula Gadis tidak nampak seperti wanita yang suka menebar pesona. Makanya Putra senang padanya. Awalnya. Hingga senang itu berangsur menjadi nyaman, dengan melihat ketulusan Gadis saat berinteraksi dengan Anthony.


Dimana nyaman itu kemudian membentuk sebuah pola wajah Gadis di ingatan Putra, yang kadang meledeknya saat Putra sedang melamun atau saat ia ingin mengistirahatkan dirinya. Hingga kemudian, perlahan namun pasti, ada gejolak perasaan yang membuat Putra sedikit uring-uringan jika lama tidak melihat Gadis.


Yah, hingga akhirnya Putra memutuskan untuk mengejar Gadis. Oh tidak, Putra putuskan untuk memiliki Gadis. Tanpa mau perduli perasaan wanita itu dulu. Bagi Putra, ya didapatkan saja dulu orangnya.


Dan memang, Putra melakukan banyak hal untuk membuat Gadis menjadi miliknya. Pemaksaan sih yang mendominasi. Tapi biar begitu, toh membuahkan hasil.


Meski Putra terkadang merasa geli sendiri pada dirinya jika sudah menyangkut beragam hal mengenai si perawat bernama Gadis ini.


Dimana orangnya baru saja melenguh samar diatas pangkuan Putra, dengan tangannya yang mengusap lembut tengkuk Putra, dan membuat Putra sedikit.


Pusing?.

__ADS_1


***


To be continue......


__ADS_2